
Beberapa pasangan yang berada di lantai dansa bergerak sesuai dengan alunan musik yang mengayun romantis. Tidak terkecuali Aurelie yang kini berada di dalam dekapan seorang pria asing. Sedari tadi pria itu menuntun lembut gerakan ke kanan dan ke kiri, hingga pada saat tubuh Aurelie berputar nyaris terpleset jika saja tangan besar itu tidak segera merengkuhnya.
Aurelie yang begitu terkejut masih bersikap tenang di dalam dekapan pria asing itu. Sehingga aroma maskulin dari tubuh pria yang tengah di dekapnya menguar di indera penciumannya. Sungguh untuk sesaat Aurelie terbuai akan aroma dan tubuh atletis di balik jas dan kemeja pria itu. Tanpa disadari oleh Aurelie, Mikel menarik sudut bibirnya, ia membiarkan wanita itu berada di dalam dekapannya lebih lama lagi. Setelah 10 tahun lamanya hanya memimpikan wanitanya itu, akhirnya malam ini impiannya menjadi kenyataan, meski impian sederhananya memeluk wanita itu.
Nyaris saja Mikel hendak mengecup puncak kepala wanita itu, jika saja ia tidak menahan sekuat tenaga. Tidak, Mikel harus bisa menahan diri, ia tidak ingin buruannya melarikan diri sebelum ia memasang perangkap cintanya. Tubuh Mikel terdorong ke belakang ketika kesadaran Aurelie sudah kembali menguasai. Wanita itu ternyata reflek mendorong tubuh kekar Mikel.
"Maaf, aku tidak bisa melanjutkan dansa kita. Aku permisi dulu Tuan." Aurelie tidak membiarkan pria itu menjawab ucapannya, karena ia tidak perlu jawaban dari pria itu. Lantas dengan tergesa-gesa Aurelie berlalu meninggalkan pria yang masih mematung di tempatnya.
"Malam ini kau bisa lari dariku sweetheart, tapi tidak untuk lain kali." Senyum manis terus terpatri di sudut bibir Mikel. Ia memperhatikan sekitar, beberapa pasangan masih fokus berdansa. Kemudian Mikel memilih pergi dari sana, tujuannya tentu saja mengikuti kemana arah wanita itu pergi.
Tanpa Aurelie ketahui, apa yang baru saja terjadi dilihat oleh Brandon. Sebagai kekasih dari wanita itu tentu saja Brandon merasa marah dan cemburu. Ia benar-benar tidak rela jika sang kekasih di dekap oleh pria lain meskipun ia sendiri juga berdansa dengan wanita lain. Lantas Brandon segera menyusul Aurelie, ia ingin menegaskan, jika wanita itu hanya miliknya.
***
Aurelie yang baru saja keluar dari toilet di kejutkan dengan sosok wanita cantik dan seksi. Hembusan napas kasar terbuang begitu saja kala melihat siapa sosok wanita itu. Karena acara dansa topeng sudah selesai, sehingga mereka sudah melepaskan topeng masing-masing.
"Ada apa Carmela? Jika kau ingin ke toilet? Masuklah, jangan menghalangi jalanku!" seru Aurelie kesal. Sebenarnya ia sudah tidak heran lagi dengan Carmela yang selalu mengganggu dirinya. Tapi come on, saat ini mereka berada di tempat pesta, apa wanita itu ingin mempermalukan dirinya sendiri? pikirnya.
"Ck, lihatlah wajahmu yang menggoda banyak pria." Carmela tidak menggubris perkataan Aurelie. Ia meneliti penampilan serta wajah wanita di hadapannya. Wanita yang menurutnya menggoda banyak pria dengan wajah polos serta tubuhnya, termasuk menggoda Tuan Arthur pewaris Keluarga Romanov. "Apa yang kau lakukan kepada Tuan Arthur sehingga dia mau membantumu? Bahkan dengan mudahnya dia membatalkan kerja sama dengan Perusahaan Born." Nampaknya Carmela masih tidak terima akan kejadian beberapa hari yang lalu. Ia begitu dendam ingin membalas Aurelie, karena wanita itu ia harus menerima amarah dari Sang Daddy, bahkan ia harus rela kartu kreditnya di bekukan oleh Daddy-nya.
Aurelie diam mendengarkan hingga wanita itu menyelesaikan ucapannya. "Apa sudah selesai Nona Carmela? Jika sudah, maka aku pergi dulu," ucapnya tersenyum tipis. Ia terlalu malas menanggapi wanita ular berbulu itu, karena tidak akan ada habisnya jika mengurusi setiap ucapan Carmela yang tidak berbobot.
"Hei, aku belum selesai bicara!" Carmela yang tidak terima jika Aurelie pergi begitu saja, padahal ia belum puas memaki dan mencela wanita itu, tangannya menarik kasar lengan Aurelie. "Dasar wanita jalaang. Sudah berapa banyak pria yang menyentuhmu?!" Dan akhirnya perkataan menyakitkan untuk Aurelie itu dilontarkan dengan begitu gamblang oleh Carmela. "Apa selama ini seperti itu caramu menggoda pria? Apa Tuan Arthur puas dengan pelayananmu, sehingga dia membantumu bahkan menolak bertemu denganku?! Katakan hah? Kenapa dia begitu membantumu?!" Carmela meluapkan rasa kesal di dadanya. Dua hari yang lalu ia sempat mengunjungi Perusahaan Romanov hanya sekedar untuk meminta maaf dan memohon agar pria itu mau menarik kerja sama perusahaan Romanov Group dengan Perusahaan Born. Akan tetapi jangankan melihat wajah Tuan Arthur, ia bahkan sudah diusir terlebih dahulu sebelum berhasil masuk ke dalam ruangan Tuan Arthur.
Brug
Aurelie yang tidak terima dikatakan jalaang oleh Carmela, mendorong tubuh wanita itu hingga terbentur dinding. "Jaga bicaramu Nona Carmela. Selama ini aku diam bukan berarti aku takut padamu. Aku ingin melihat sejauh mana kau ingin menyingkirkanku dari agensi dan sejauh mana usahamu merebut Brandon dariku." Kini Aurelie bergantian memandang remeh Carmela. "Jangan samakan aku denganmu, aku menjaga tubuhku dengan baik, tidak sepertimu yang mudah memberikan tubuh kepada pria yang kau incar. Ah, apa kau berhasil menggoda Brandon dengan tubuhmu Nona Carmela?" Sebenarnya Aurelie tidak sanggup mengatakan hal demikian, ia tidak ingin menerima kenyataan jika memang Brandon telah terbuai dengan bujuk rayu Carmela. Aurelie tau benar, bagaimana cara Carmela setiap menggoda pria yang diincarnya.
Entah apa yang dipikirkan oleh Carmela, wanita itu justru tersenyum. "Memang kenapa jika aku berhasil menggoda Brandon dengan tubuhku? Apa kau ingin meninggalkannya dan memberikannya kepadaku?"
Tidak habis pikir dengan wanita di hadapannya yang justru merasa bangga, Aurelie mendecakan lidahnya. "Kalau begitu ambil saja pria bodoh itu untukmu. Asal kau tau, aku tidak pernah mengemis cinta kepadanya. Selama ini dia yang mengemis padaku." Jujur saja, Aurelie mulai ingin membuka hatinya untuk Brandon, mengingat jika selama ini pria itu yang selalu mengejar dirinya. Namun entah sudah beberapa bulan terakhir Brandon nampak berubah dan tidak lagi mengejar dirinya seperti sedia kala. "Dan satu hal lagi, aku tidak pernah menggoda Tuan Arthur. Lagi pula untuk apa aku melelahkan diriku untuk menggoda pria jika mereka sudah tergoda tanpa aku yang harus menggoda terlebih dulu. Lagi pula tuan Arthur tidak bodoh, dia bisa menilai mana wanita yang benar-benar cantik dan mana yang wanita rubah. Karena itu, jika dia harus memilih di antara kita, sudah pasti dia akan memilihku. Jadi godalah dia jika kau bisa, Nona Carmela!" Aurelie tersenyum kepuasan melihat wajah Carmela yang mendadak membeku. Ia tidak membenarkan ucapan Aurelie, juga tidak bisa membantah. Namun ia benar-benar tersinggung akan perkataan Aurelie. Melihat tidak ada perlawanan lagi dari wanita itu, Aurelie memilih pergi dari sana. Rambutnya yang sengaja disibak itu mengenai wajah Carmela.
"Sialan! Sejak kapan dia mulai berani padaku?!" desis Carmela. Selama ini jika ia mengganggunya, Aurelie selalu mengalah dan selalu diam. Entah bagaimana sebenarnya wajah asli wanita itu, Carmela bertekad akan membuat Aurelie merasa malu, hingga tidak berani menampakkan dirinya lagi di dunia permodelan.
Di sepanjang langkahnya, Aurelie menggerutu kesal, akan tetapi ia tersenyum puas ketika ucapannya mampu membuat wanita ular berbulu itu tidak dapat membalas ucapannya. "Goda saja jika kau bisa Carmela, lagi pula Kak Ar membenci wanita sepertimu. Kau pasti akan di tendang olehnya sebelum berhasil menggodanya." Jika Aurelie tidak mengingat dimana dirinya berada, mungkin ia sudah tertawa terbahak-bahak.
Aurelie harus menghentikan paksa langkahnya ketika mendapati sosok Brandon yang sudah berdiri di hadapannya. "Menyingkirlah Brandon!" ujarnya.
"Tidak, sebelum kau menjelaskan apa yang kau lakukan dengan pria lain?" ujarnya dengan tatapan penuh kecemburuan. "Kau memeluknya Elie, bahkan kau menikmati pelukan kalian," serunya menjelaskan apa yang ia lihat dengan mata kepala sendiri.
"Jika kau saja marah saat melihatku memeluk pria lain, lalu bagaimana denganmu yang lebih memilih bersama wanita lain disaat kekasihnya juga berada disana? Kau bahkan diam saja ketika mereka memujimu dan Carmela sebagai pasangan yang sangat serasi."
Brandon diam seribu bahasa, niat hati ingin menegaskan wanita itu, justru ia yang ditegaskan akan perbuatannya yang mengabaikan kekasih demi permintaan kedua orang tuanya. "Baby maaf... kau tau bukan, aku terpaksa datang bersamanya?" Wajah Brandon melunak. Ia memang salah, akan tetapi tidak bermaksud ingin melukai hati wanitanya.
Brandon menjadi gelagapan. Ia tau arah percakapan mereka selanjutnya. "Tidak baby, kita pasti bisa melewatinya. Aku akan meyakinkan mereka jika kau adalah wanita yang pantas untukku." Kedua tangan Brandon menyentuh bahu Aurelie, untuk menyalurkan rasa tenang melalui tangannya. Agar kekasihnya itu tidak melontarkan kalimat yang tidak ingin ia dengar.
Ingin rasanya Aurelie mentertawakan ucapan Brandon. Hingga ia menghempaskan kedua tangan Brandon dari pundaknya. "Bagaimana bisa kita melewatinya, jika kau saja tidak pernah bisa menolak wanita-wanita yang berusaha mendekatimu, termasuk Carmela."
"Dengar baby, aku tidak mungkin menolak Carmela. Dia adalah putri pemilik agensi. Dan kau tau apa yang akan aku terima jika aku menyinggungnya." Brandon masih saja membela dirinya tanpa ingin mengerti apa yang dirasakan oleh Aurelie.
Entahlah, Aurelie benar-benar malas menghadapi pria seperti Brandon. "Kalau begitu berkencanlah dengannya. Kau tidak hanya akan membuat wanita itu senang, kau pasti akan mendapatkan separuh harta kekayaan Keluarga Born jika kau berhasil menikahnya." Setelah dengan tenang memberikan pendapat yang sebenarnya membuat dadanya sesak, Aurelie berlalu meninggalkan Brandon yang masih mematung akibat ucapan wanita itu.
Brug
Tubuh Brandon limbung karena seseorang dengan sengaja menabrak dirinya
"Hei, ballroom hotel ini sangat luas, kenapa kau tidak berjalan dengan benar!" hardik Brandon kesal.
"Menurutmu kenapa aku bisa menabrakmu?" Yang menabrak justru melayangkan pertanyaan dengan menyunggingkan senyum remeh.
"Mana kutau!" sahut Brandon bersungut kesal.
"Karena kau seperti kerikil yang dengan mudah kuinjak dan kusingkirkan!"
Dan Brandon dibuat tercengang akan perkataan pria yang baru saja melenggang pergi dengan meninggalkan kalimat tajam untuknya. Pria bermulut tajam itu tidak lain dan tidak bukan adalah Mikel. Mikel begitu geram karena Brandon kembali mendekati wanitanya. Beruntung Aurelie tidak tergila-gila kepada pria bodoh itu sehingga ia tidak perlu bersusah payah untuk menjerat wanitanya. Hanya perlu berkeliaran di sekitar wanitanya itu seperti hantu yang bergentayangan.
To be continue
Mikel / Michael
Brandon Sandler
Carmela Born
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...