The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Memilih Gaun Pengantin



Keesokan harinya, Kediaman Tertua Romanov nampak di selimuti kebahagiaan berlipat. Mansion yang sudah berdiri kokoh selama puluhan tahun dihuni oleh Jennifer bersama Nico berserta Elden dan Kimberly putra putri mereka. Granpa Jhony dan Granny Marry sudah mewariskan Mansion atas nama Jhony Romanov sudah lama berpindah menjadi atas nama Jennifer Alexandra Romanov. Keluarga Besar itu tengah berkumpul setelah sekian lama dan mereka berencana akan berada di sana hingga pesta pernikahan di gelar.


Kabar pernikahan Elie serta Mike disambut dengan baik. Mereka tentu saja setuju, terlebih indentitas Mikel yang tidak lain ialah Mike sudah tidak asing bagi mereka. Keluarga Jhonson sudah mereka anggap seperti keluarga sejak dulu. Dan mereka bersyukur baik Arthur maupun Elie sudah menemukan pasangan masing-masing.


Jika Keluarga Besar tengah bertukar cerita di halaman, berbeda dengan Elie dan Helena yang tengah sibuk memilih gaun pengantin untuk mereka. Dan sejak tadi keduanya tidak berhenti berdebat, ada saja yang menjadi alasan mereka untuk berdebat.


"Tidak Elie, kau lebih cocok dengan gaun pengantin yang ini." Helena menggeleng dengan pilihan Elie, tanda tidak setujui. Ia lebih menyukai gaun pengantin yang menampakkan punggung telanjang dan setiap lekukannya di penuhi oleh butiran berlian. Di tambah dengan aksen mahkota yang akan menyulap Elie menjadi seorang princess. Sebagai seorang designer tentu ia sangat tahu hanya dengan melihatnya saja.


Elie diam nampak berpikir, ia pun sudah jatuh cinta dengan gaun yang dipilihkan oleh Helena. Dengan panjang gaun yang menjuntai ke lantai, bagian dari pinggul ke bawah melebar, menambah kesan mewah dan anggun.


"Baiklah, aku juga merasa gaun pengantin ini lebih cocok denganku." Tanpa ragu Elie memilih gaun pengantin tersebut. Lalu ia memeluk wanita yang dahulu sempat bersitegang dengannya memperebutkan pria yang sama. "Terima kasih banyak. Aku benar-benar tidak mengira kau menjadi kakak iparku. Jika di pikir-pikir saat itu kau sangat menyebalkan dan jujur saja aku sangat membencimu," ucapnya mengurai pelukannya.


Helena terkekeh, ia pun berpikir demikian. Saat itu ia memang sangat menyebalkan. Elie pantas membenci dirinya. "Aku sungguh minta maaf, saat itu aku memang bodoh," sahutnya merasa bersalah. Ia berusaha meredam rasa malu kala mengingat perbuatannya di masa lalu yang ingin memberi pelajaran kepada wanita yang di cintai oleh Mikel.


"Tidak, kau tidak bodoh!" sergah Elie. "Kau pintar dan hebat karena sudah berhasil meluluhkan gunung es seperti Kak Ar." Elie melebarkan senyumnya. Meski saat itu ia memang sempat membenci Helena, tetapi ia sudah melupakan semuanya. "Aku sempat khawatir tidak ada wanita yang akan di nikahi Kak Ar, karena selama ini dia selalu menghindar setiap kali Daddy ingin mengenalkan seorang wanita padanya dan dia juga sangat tidak menyukai seorang wanita."


Wajah Helena serius mendengarkan, sepertinya ia begitu tertarik untuk mendengar cerita mengenai Arthur lebih dalam lagi. "Ceritakan apapun mengenai kakakmu, aku ingin mendengarnya." Helena menuntun lengan tangan Elie menuju tepi ranjang. Saat ini memang mereka berada di satu ruangan yang di tempati oleh Elie, nampak dipenuhi gaun pengantin yang berjajar dengan rapi. Ruangan yang begitu luas dan mampu menampung puluhan orang di dalamnya.


"Kami semua tidak tau alasan Kak Ar membenci wanita, karena setau kami Kak Ar sangat baik dan menghormatiku dan Mommy, hanya saja Kak Ar memang tidak begitu dekat dan terkesan menghindari sepupu-sepupu wanita." Elie mulai menceritakan segalanya mengenai sikap Arthur dan sesekali di tanggapi oleh Helena. Entahlah, ada rasa hangat dan bangga menelusup hatinya karena ia menjadi wanita pertama yang begitu diinginkan dan dijadikan istri oleh Arthur.


Ingatannya melayang pada masa lalu yang begitu miris. Meski cantik, seksi dan menawan tetapi tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya. "Kau tau Elie, sejak dulu tidak ada pria yang tulus mendekatiku, mereka hanya bermain-main saja denganku dan menginginkan tubuhku hanya karena pakaianku yang selalu terbuka. Aku bertemu Mikel, dia menyelamatkanku ketika aku ingin mengakhiri hidupku. Sejak saat itu aku selalu bertekad menjadikannya kekasihku dan tidak akan membiarkan wanita lain mendekatinya." Mendengar penuturan Helena, Elie tidak terkejut lagi sebab ia sudah mendengar segalanya dari Mike. "Dia sangat baik, satu-satunya pria yang selalu menolongku, dia membelaku di saat mereka berusaha menjatuhkanku. Karena itu aku membantunya dengan berinvestasi di perusahaannya, aku tidak memiliki banyak uang saat itu, sehingga aku meminta bantuan Jorge dengan syarat aku tidak boleh mencampuri urusan perusahaan. Aku menyanggupinya karena aku tidak tertarik dengan perusahaan dan lebih memilih menjalani bisnisku di paris. Semenjak saat itu Mikel terpaksa terikat padaku dan membiarkan gosip kedekatan kami menyebar. Kupikir dia mencintaiku, tetapi ternyata hanya kesalahanpahamanku saja." Helena kemudian menoleh menatap Elie yang juga tengah menatapnya. "Aku senang karena kau wanita yang dicintai oleh Mikel. Dia sangat setia padamu dan tidak tergoda dengan wanita lain, termasuk diriku."


Elie tersenyum. Ia bukan tipe wanita yang cemburu buta. Ia akan mencari bukti terlebih dahulu dan terbukti kedekatan Mike dengan Helena di masa lalu tidak mengganggu dirinya.


"Aku juga senang wanita yang dipilih oleh kakakku adalah dirimu. Kau wanita baik Helen, berbahagialah dengan Kak Ar." Wajah Elie mendadak sendu, ia beserta keluarganya sudah mengetahui masa lalu menyedihkan yang dialami oleh Helena. Menyelipkan sebait doa untuk kebahagiaan kakak iparnya.


"Terima kasih Elie." Helena yang sungguh terharu memeluk Elie begitu erat. Seperti sebuah mimpi jika ia memiliki adik ipar dan seorang teman seperti Elie. Dengan Caroline ia tidak memiliki kedekatan dan terkesan saling memusuhi.


"Nona, maaf menganggu, saya ingin menyampaikan jika semua pakaian sudah saya letakkan di lantai bawah." Perkataan Christy yang baru saja masuk ke dalam ruangan menyita perhatian keduanya, hingga Helena melepaskan pelukannya.


"Hm, baiklah. Mereka bisa memilih gaun mana yang ingin dikenakan," sahut Helena ramah.


"Baik Nona, kalau begitu saya permisi." Christy, sang asisten pamit undur diri.


"Helen, kau terlalu berlebihan." Sungguh Elie menjadi tidak enak hati karena Keluarganya mendapatkan gaun pesta secara cuma-cuma dengan harga yang tentu tidak murah.


"Tidak masalah, ini adalah hadiah dariku untuk kalian." Hanya hadiah kecil itu yang bisa ia berikan untuk keluarga barunya.


Keduanya saling melemparkan senyum. Merasa beruntung karena telah menjadi bagian keluarga.


"Apa kalian sudah selesai, hm?" Suara bariton berat yang memasuki kamar mengalihkan perhatian kedua wanita cantik itu dan menoleh ke asal suara.


"Kak Ar kemarilah. Semua gaun rancangan Helen sangat cantik. Aku benar-benar bingung memilihnya." Elie gitu antuasias memberitahukan rancangan Helena.


Arthur mengitari pandangannya, menatap satu persatu gaun pengantin rancangan istrinya. Ia mengagumi sulapan tangan sang istri yang benar-benar cantik dan indah. Langkahnya kemudian mendekati Helena.


"Sudah." Keduanya menjawab serentak. "Tapi aku dan Helen tidak akan memberitahu Kak Ar dan Mike, karena akan menjadi kejutan untuk kalian," lanjut Elie kemudian.


Arthur mengangguk. Lagi pula ia tidak akan memaksa jika kedua wanita yang dicintai itu tidak ingin memberitahu gaun yang mana yang dipilih. Kemudian Arthur mencuri kecupan di bibir Helena di hadapan Elie tanpa tahu malu, tidak lupa tangannya mengusap lembut kepala Helena.


"Astaga, apa matahari akan terbit dari barat? Apa kita salah ruangan Frey?" Kimberly, gadis cantik berdiri di ambang pintu bersama dengan Freya berseru terkejut.


Freya hanya tersenyum menanggapi meskipun ia nampak canggung. Sedangkan Elie terkekeh, ia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Berbeda dengan Freya dan Kimberly yang begitu terkejut, sebab untuk pertama kalinya melihat Arthur bersikap begitu hangat dengan seorang wanita. Mereka berpikir meskipun wanita itu adalah istrinya, Arthur akan tetap bersikap datar dan dingin.


"Ada apa Kim... Frey?" tanya Elie kepada adik-adik sepupunya. (Note: Freya putri dari Edward Olivia dan Kimberly putri dari Nico Jennifer).


Helena menyematkan senyum kepada kedua adik sepupu itu. Berbeda dengan Arthur yang memasang wajah datar seperti biasa.


"Mom Elle memanggil kalian," jawab Freya tersenyum.


Elie mengangguk mengerti. "Kami akan ke bawah."


"Baiklah, kalau begitu kami ke bawah lebih dulu." Kimberly menarik lengan Freya agar segera pergi dari sana. Bukan apa-apa, ia terkadang merasa bergidik melihat tatapan dingin kakak sepupunya.


"Kau sudah lihat sendiri bagaimana Kak Ar," bisik Elie kepada Helena.


"Hm....." Helena menjawab dengan deheman. Ia melihat sendiri bagaimana sikap Arthur yang terkesan dingin. Bahkan tidak menunjukkan senyuman ramah kepada mereka.


"Ada apa?" Arthur yang mengerti menatap istri serta adiknya.


"Tidak ada. Ayo kita ke bawah." Helena menyambar lengan Arthur keluar dari ruangan, disusul oleh Elie. Mereka bergabung dengan yang lainnya di halaman yang luas.


To be continue


Mansion Babang Nico dan Jennifer




Mohon maaf ya pasti kalian nungguin Yoona up 🀧Gini lho Yoona kan nulis di hp jadi ini jempol sakit, laptop rusak wkwk jadinya istirahatkan dulu jarinya, untung gak potek jempol Yoona πŸ€—πŸ˜‚


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian πŸ’• Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian πŸ’œ...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...