
Sejak pagi Veronica berusaha menghindari Darren. Setiap kali ia berpapasan dengan pria itu, Veronica berpura-pura tidak melihat. Ia tidak memiliki wajah untuk bersitatap dengan pria dingin itu. Karena selain berada di dalam satu kabin yang sama, pria itu pun sudah pasti melihat tubuhnya yang hanya terbungkus pakaian dalam saja.
"Vero, ada apa denganmu? Kenapa sejak tadi kau melihat kesana?" tanya Elie heran. Ia menoleh, mengikuti arah pandang temannya itu. Tetapi ia hanya menemukan segelintir orang-orang yang juga tengah makan siang.
Veronica tersenyum kuda. "Aku pikir, aku melihat Cade tapi sepertinya bukan," sahutnya berdusta. Mana mungkin memberitahu Elie jika dirinya tengah menghindari Darren.
"Ah Cade. Sejak pagi aku belum melihatnya menempel padamu." Bukan tanpa alasan, Elie berkata demikian, sebab sejak pertama kali Veronica memperkenalkan Cade, pria itu hanya menempeli Veronica.
Veronica menyembunyikan kegetiran di hatinya. Apa jika dirinya mengatakan yang dilakukan pria bajingan itu dengan wanita lain, Elie akan membantunya menendang pria itu ke tengah laut? Ah, tidak-tidak. Veronica tidak setega itu. Jika Cade berselingkuh, maka yang harus ia lakukan adalah untuk tidak peduli dan mencari pria lain yang lebih baik. Terlalu larut dalam patah hati hanya akan membuat dirinya tersiksa seorang diri, sedangkan pria itu saja tidak memikirkan dirinya. Ia adalah satu dari seribu banyaknya wanita yang tidak memusingkan jika ia disakiti. Tidak akan meratapi, tetapi membalas rasa sakit hati dengan mendekati pria lainnya.
"Vero, kenapa diam saja?" Melihat Veronica yang hanya diam saja, Elie mengguncang bahu temannya itu. "Kau terlihat aneh sejak pagi. Apa kau baik-baik saja?" Elie mendelik curiga, karena tidak biasanya Veronica lebih banyak diam. Biasanya wanita itu akan cerewet sepanjang hari.
Veronica tersadar dari lamunannya, ia kemudian mengangkat kedua bahu. "Aku tidak tau dimana Cade, sejak semalem dia hanya mengatakan jika sedang sakit kepala."
"Oh...." Elie mengangguk paham. "Kenapa kau tidak menemaninya? Mungkin dia membutuhkan obat sakit kepala."
Cih, yang dia butuhkan hanya jalaang itu, bukan obat sakit kepala. Veronica hanya membantin. Lagi pula ia benar-benar berharap jika pria itu benar-benar sakit kepala atau mungkin yang terparahnya milik pria itu tidak akan bisa bangun agar tidak celap-celup sana sini.
"Biarkan saja. Dia bisa mengurus dirinya sendiri." Veronica tidak ingin peduli dengan pria itu lagi. Anggaplah ia tengah berbaik hati, membebaskan pria itu bersama dengan Barbara.
Elie tidak menyahut kembali. Sejak tadi ia sudah curiga jika hubungan Veronica dengan Cade sedang tidak baik-baik saja. Dan ia tidak akan memaksa Veronica untuk bercerita padanya, sebab temannya itu akan bercerita jika sudah saatnya.
"Vero sebentar, aku akan menemui suamiku," kata Elie tiba-tiba begitu melihat suaminya bersama dengan Arthur dan Helena.
Veronica hanya mengangguk saja. Ia kembali menyelesaikan makannya, lalu bergegas pergi dari Restauran. Ia berencana untuk mengelilingi kapal pesiar seorang diri, setidaknya agar ia tidak terlihat menyedihkan pasca di selingkuhi di kapal mewah dan besar.
Langkahnya mengayun menuju beranda, dimana ia bisa melihat hamparan laut yang akan menghubungkan dengan sebuah pulau pribadi milik Keluarga Romanov. Elie mengatakan jika mereka akan tiba sekitar satu jam dan akan menghabiskan malam di Pulau Mustique, pulau yang berada di Hindia Barat.
Kekaguman Veronica terhadap lautan lepas harus berhenti seketika, pada saat mendapati kekasihnya Cade sudah berada di hadapannya.
"Ada apa?" tanyanya malas. Setelah melihat pria itu bercinta dengan Barbara, wanita itu sudah tidak sudi menatap kekasihnya lagi.
"Vero, sejak pagi aku mencarimu. Ponselmu juga sulit di hubungi." Tatapan Cade seolah memancarkan kecemasan. Entahlah, Veronica tidak dapat membaca raut wajah seseorang. Entah pria itu benar-benar mencari dirinya atau tidak, ia pun tidak peduli.
"Ponselku kehabisan baterai dan aku lupa meletakkannya." Veronica berdusta, ia sengaja membiarkan ponselnya dalam keadaan tidak aktif.
"Tapi seharusnya kau mencariku sayang. Kita bisa sarapan dan makan siang bersama." Cade menjangkau pergelangan tangan Veronica, wanita itu tidak menepisnya, membiarkan Cade berbicara panjang lebar hanya untuk melihat bagaimana pria itu akan merayunya.
Namun sejujurnya ia jengah, Veronica tidak pandai berpura-pura. Jika ia sudah tidak menyukai seseorang, maka akan menunjukkan secara terang-terangan.
"Aku sudah sarapan dan makan siang bersama Elie dan Helena," jawabnya ketus lalu menghempaskan tangan Cade. "Dan kau juga bukankah sajak pagi bersama Barbara?" tanyanya kemudian dengan sinis.
"Barbara?" Cade tertegun, tetapi ia berusaha untuk bersikap biasa saja. Apa Veronica melihat dirinya bersama dengan Barbara? pikirnya.
"Benar, Barbara. Kau dan dia sangat dekat. Kalian sangat serasi."
"Tidak sayang, aku dan Barbara tidak sengaja bersama saat aku mencarimu." Cade mencari alasan senatural mungkin. "Dan dia membantuku mencarimu," lanjutnya. Jika saja Veronica benar-benar mencintai pria itu, mungkin ia akan percaya begitu saja dengan perkataan Cade. Sayangnya, Veronica tidak sebodoh dan bukan budak cinta yang dibutakan oleh cinta palsu milik Cade.
Veronica mendengkus di dalam hati, lalu melipat kedua tangan di bawah dada. "Apa kau pikir aku akan percaya?"
"Kau harus percaya sayang, karena aku tidak pernah berbohong padamu." Cade masih berusaha merayu Veronica. Ia tidak ingin kehilangan kekasihnya yang sangat cantik dan seksi itu karena kebohongannya serta hubungannya dengan Barbara.
Wanita itu mengangguk seolah mengerti. Ingin sekali ia memaki dan membongkar pengkhianatan Cade. Tetapi ia harus bersabar ketika sudah kembali ke Kota London. Sungguh, ia hanya tidak ingin merusak momen kebahagiaan Elie. Ia cukup tahu diri, selama ini Elie sudah baik kepadanya dengan membiarkan dirinya bekerja di bawah naungan Romanov Ent.
"Baiklah, anggap saja aku percaya," sahutnya pada akhirnya membuat Cade mengulas senyum senang. Meskipun ia sedikit ragu jika Veronica benar-benar percaya padanya atau tidak, tetapi tidak ia pusingkan. Sebab ia akan merayu Veronica dengan caranya.
"Kalau begitu, kau tunggu disini. Aku akan kembali mengambil ponselku yang tertinggal, kita akan mengabadikan foto kita di ponselku." Cade mengusap bahu Veronica. Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu, Cade berlalu pergi entah kemana.
Berdecih, hanya itu yang di lakukan Veronica ketika Cade berlalu dari pandangannya. Untuk apa mengabadikan kebersamaan mereka, jika ia saja sebenarnya malas berlama-lama dengan pria itu.
"Ck, pria bajingan! Berengsek! Apa dia pikir aku mudah di bodohi, huh?!" Veronica menghembus napas kasar. Ia kembali menikmati hamparan laut. Angin yang berhembus menerpa wajah, sehingga mengibaskan rambutnya yang menjadi tidak beraturan.
"Tuan Darren, sedang apa kau disana?" pekiknya terkejut ketika pandangannya terusik mendapati Darren bersandar pada pilar pembatas yang terhubung dengan Restauran. "Apa kau mengikutiku?" tanyanya menelisik curiga.
"Astaga, apa kau benar-benar sudah tidak bisa berbicara lagi?" Sungguh Veronica gemas dengan sisi Darren yang menyebalkan dan dingin.
"Jaga bicara Nona." Darren menyahut tidak terima.
"Ck, jika tidak ingin di anggap tidak bisa bicara, kau harus menjawab pertanyaanku."
Darren menghela napas panjang. "Aku berada disini sudah lebih dari tiga puluh menit. Jadi siapa yang mengikuti siapa?"
Hah? Veronica tercengang tidak percaya. Apa pria itu menuduhnya mengikuti pria itu?
"Aku tidak mengikutimu. Aku hanya ingin melihat pemandangan!" serunya memberitahu agar Darren tidak berpikiran yang tidak-tidak.
"Begitupun denganku Nona. Aku hanya ingin menikmati pemandangan dan tidak sengaja melihat kebodohan seseorang."
Veronica mendelik, ia merasa perkataan Darren tertuju padanya. "Siapa yang kau bilang bodoh, heh? Apa kau menganggapku wanita bodoh?"
Darren yang malas menanggapi Veronica segera melangkah menjauh menghindari wanita menyebalkan itu.
"Hei tunggu, kau belum menjawab pertanyaanku!" Wanita itu mengikuti langkah Darren. Tentu tidak terima karena pria itu baru saja menganggapnya bodoh.
Malas, hingga Darren menulikan telinganya. Memang ia baru saja menyaksikan sendiri kebodohan wanita itu. Tidak hanya menyebalkan, tetapi juga bodoh.
Bertepatan dengan Veronica yang mengejar langkah Darren, Cade kembali mencari keberadaan wanita itu.
"Vero?" Cade menghela napas lesu. Ia harus mengitari kapal pesiar yang begitu besar untuk mencari kekasihnya.
Yang dicari justru tidak peduli dengan kekasihnya dan tengah sibuk mengejar pria lain yang kaku dan dingin. Hingga melupakan jika sejak tadi pagi ia berusaha menghindari pria itu.
"Tunggu Tuan Darren. Kau harus menjawab pertanyaanku?!" Veronica berteriak, tidak pedulikan penghuni kapal lainnya yang berlalu lalang.
Acuh. Darren membiarkan wanita itu mengikuti dirinya. Hingga tubuhnya lenyap di antara tamu yang lainnya.
Bruk
Veronica kehilangan keseimbangan ketika seseorang menyenggolnya. Dan lagi-lagi ia berada di dalam dekapan seseorang yang menangkapnya. Aroma parfum yang tidak asing, wanita itu yakin jika ia mendekap tubuh pria itu.
"Apa memeluk pria adalah kebiasaanmu Nona?"
"Astaga...." Veronica terkesiap. Benar saja, tanpa ia melihat wajah pria itu, ia sudah dapat menebak hanya dari suara jika pria yang di peluknya adalah Darren. Ia segera berangsur menjauh, ditatapnya wajah Darren dengan alis yang menukik tajam ke arahnya.
"Maaf, aku tidak sengaja," cicitnya memberanikan mengangkat wajahnya. Padahal tadi ia melihat Darren di antara kerumunan orang-orang. Entah kenapa pria itu bisa menangkapnya yang nyaris terjatuh.
Darren tidak menyahuti. Ia kembali mengabaikan Veronica dengan melangkah pergi.
"Ck, dia seperti hantu yang bisa berada dimana-mana," cebiknya kesal. Ia melangkah entah kemana, langkah kakinya seperti mengikuti jejak langkah pria menyebalkan itu. Senyum samar terpulas di wajah cantik Veronica. Entahlah, ia sendiri tidak tahu kenapa merasa begitu senang.
To be continue
Darren
Veronica
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...