The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Tidak Suka Disentuh



Setelah berlibur selama empat hari, Darren sudah kembali bekerja. Pagi ini pria itu sudah sibuk dengan setumpukan dokumen. Baru beberapa hari tidak bekerja, ia sudah disuguhkan dengan banyak dokumen. Lalu bagaimana jika ia tidak bekerja selama satu bulan? Mungkin ia akan menginap di perusahaan, pikirnya.


Ponsel yang bergetar di atas meja mengalihkan perhatian Darren. Ia melihat terdapat notifikasi pesan masuk dan ia segera memeriksanya.


Wajahnya menatap datar pada video berdurasi 20 menit yang dikirimkan oleh anak buah.


"Bagaimana ini Jorge, apa kita benar-benar tidak bisa mempertahankan posisi kita di perusahaan?" Margareth nampak terpukul dan sulit mempercayai. Selama ini mereka sudah berusaha keras untuk meyakinkan para dewan direksi untuk membiarkan suaminya menjadi pemilik saham, meskipun hanya memiliki 10% saja. Tetapi pagi ini mereka justru mendapatkan kabar jika Helena sudah mengakuisisi saham Jorge yang hanya sebesar 10% itu. Lebih tepatnya Arthur yang melakukannya atas nama Helena. Kini benar-benar kehilangan perusahaan dan harus ditendang dari perusahaan.


Di dalam rekaman video tersebut, Jorge nampak mengusap wajahnya dengan gusar. "Aku tidak tau. Aku sudah tidak peduli lagi dengan perusahaan yang sudah jatuh ke tangan Helen!"


"Ck, seharusnya kau kirimkan pada Helen rekaman video saat wanita itu memberikan minuman setiap hari pada ibunya. Dengan begitu dia akan syok dan kembali depresi ketika mengetahui bahwa selama ini dia yang memberikan racun kepada ibunya sendiri." Margareth mendesak suaminya agar segera melakukan tindakan tersebut. Sungguh ia tidak terima jika wanita itu bahagia di atas penderitaan mereka.


"Kau pikir aku tidak melakukan, heh?! Aku sudah mencoba mengirimkan video itu, tetapi Arthur selalu bisa menghapusnya. Selama ini ponsel Helen diretas dan bahkan aku mendapatkan ancaman dari pria itu!"


Mendengar perkataan suaminya, Margareth mendengkus kesal. Ia benar-benar tidak pernah menduga jika ada pria yang begitu melindungi wanita itu.


"Aarrghh, dasar wanita sialan! Tidak ibunya tidak putrinya, mereka selalu menyusahkan!" Wanita paruh baya itu mengerang frustasi. "Aku tidak tahan tinggal di tempat kecil seperti ini Jorge. Lakukan sesuatu!"


"DIAM!!!" Jorge membentak istrinya. Terlihat wajahnya yang sudah tersulut emosi. "Sebaiknya kau diam saja dan jangan menambah sakit kepalaku!"


Margareth tidak berani berbicara jika Jorge sudah diliputi oleh amarah seperti itu. "Sebaiknya aku menyusun rencana." Dan ia nampak berpikir.


"Apa maksudmu?"


"Jika Helen bisa mendapatkan Tuan Arthur, Carol juga bisa mendapatkan pria itu. Carol harus bisa menjebaknya!"


Rekaman video berakhir sampai disana. Darren tersenyum kecut ketika mendengar rencana yang akan disusun oleh wanita ular itu. Ternyata mereka tidak pernah jera. Untung saja atas perintah Arthur, ia meletakkan kamera tersembunyi di kediaman mereka. Arthur sudah memprediksikannya terlebih dulu dan meminta agar dirinya mengawasi mereka.


Darren segera menghubungi salah satu anak buah. Ketika anak buah menjawab panggilannya, ia segera memberikan perintah. "Awasi putri Jorge yang bernama Caroline. Jika Jorge dan istrinya itu bertindak, maka kalian bisa menculik putrinya!"


"Baik."


Dan Darren memutuskan sambungan teleponnya. Kemudian ia mengirimkan rekaman video tersebut kepada Arthur. Pesan yang baru saja dikirim olehnya sudah di baca oleh Arthur, tatapi pria itu belum membalas pesannya. Hingga layarnya menampilkan nama Arthur yang melakukan panggilan.


"Awasi mereka Der. Jika dia menargetkanku aku tidak masalah, tapi jika mereka menargetkan istriku. Kau bisa melakukan hal yang sama dengan putri mereka!" Suara Arthur terdengar dingin dan menahan geram begitu Darren menjawab panggilan tersebut.


"Aku sudah memberikan perintah kepada anak buah kita untuk mengawasi Caroline."


"Hmmm.... kabari aku apapun yang mereka rencanakan. Aku akan.... Kau sudah bangun, Love?" Perkataan Arthur sudah pasti bukan untuk Darren, sehingga pria itu hanya terdiam. "Jangan duduk disana, kemarilah."


"Tidak mau. Kau sudah membuatku sulit berjalan. Lihat ini, tubuh dan dadaku penuh dengan tanda merah kau buat!" pekik Helena di seberang sana.


Merasa percakapan mereka begitu intim, Arthur memutuskan sambungan telepon begitu saja. Dan Darren meletakkan ponselnya di atas meja, ia terlihat linglung setelah telinganya merasa tercemari.


Tanda merah? Sulit berjalan?


Ah, ia tidak heran dengan percakapan mereka, mengingat mereka masih honeymoon. Dan teori seperti itu, ia sudah paham meskipun belum pernah mempraktekkannya.


Darren segera mengenyahkan pikirannya. Ia kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Namun seseorang memasuki ruangannya dan menjatuhkan diri di atas sofa.


"Apa yang terjadi As?" Darren memperhatikan wajah Austin yang nampak kusut.


"Aku baru tahu jika wanita disini begitu pintar menggoda. Apa mereka melakukan pekerjaan sampingan menjadi wanita penghibur?!" Austin nampak memijat pangkal hidungnya. Ia baru saja mulai bekerja di perusahaan hari ini. Tetapi beberapa wanita berusaha mencari perhatian padanya.


Darren menipiskan bibirnya. "Mungkin diantara mereka ada yang membuatmu tertarik, As." Ia menggoda Austin.


"Mereka bukan seleraku!" seru Austin menegaskan.


Darren nampak acuh dan tidak menanggapi kembali. Ia melanjutkan pekerjannya, tetapi detik kemudian ia teringat sesuatu. "Nanti malam kau temani aku bertemu klien di Ministry Of Sound," ucapnya.


Darren mengangguk. "Hanya beberapa kali saja." Mereka memiliki banyak kolega dari berbagai kalangan. Tentu tidak akan heran jika melakukan pertemuan di club malam. Hanya saja Arthur serta dirinya tidak ditemani oleh wanita-wanita penghibur.


Austin terlihat mengangguk-anggukkan kepala berulang kali. Ya, setidaknya ia bisa menghilangkan penat dengan minuman. Ia belum terbiasa mengurus perusahaan, berbeda dengan kakaknya yang langsung bisa menguasai perusahaan begitu lulus sarjana.


***


Dentuman musik yang begitu kuat menyambut kedatangan Darren serta Austin. Kedatangan mereka sudah disambut dengan tatapan penuh damba oleh para wanita. Tetapi keduanya nampak acuh dan mengayunkan langkah menuju lantai khusus pelanggan VIP.


Seorang penjaga pintu menyapa kedatangan mereka. "Selamat malam Tuan Darren dan Tuan Muda Austin."


Austin cukup terkejut, ternyata pria bertubuh besar dan bertatto itu mengenali dirinya. Padahal ia baru pertama kali datang ke club malam tersebut, tetapi Austin tidak terlalu memusingkannya.


Darren mengangguk disertai deheman. Langkah kaki mereka menuju tempat duduk yang melingkar dan disana sudah terdapat seseorang yang menunggu kedatangan mereka.


"Selamat datang Tuan Darren dan Tuan Austin." Pria itu segera mempersilahkan mereka untuk duduk. "Mari kita mulai pembicaraan bisnisnya," tambahnya


Dan mereka memulai membahas topik mengenai beberapa lahan dan properti yang akan menjadi proyek kerjasama perusahaan mereka. Hingga pembahasan bisnis berjalan dengan lancar. Darren dan Austin menikmati minuman mereka dan sesekali melihat ke lantai dasar, dimana pengunjung meliuk-liukkan tubuh mereka sesuai irama musik.


Dari jarak sepuluh meter lebih sorot mata Darren menangkap sosok wanita yang tidak asing. Wanita itu begitu menikmati musik, menggoyangkan tubuhnya dengan begitu sensual. Sehingga membuat para pria lapar menghampiri wanita itu.


Siapa yang akan menolak kesempatan berdekatan dengan wanita cantik dan seksi itu.


BRUK


"Dasar jalaang sialan! Jangan pernah menyentuhku!"


Darren segera mengalihkan pandangannya dari lantai tari. Ia mendapati seorang wanita berpakaian seksi tersungkur di lantai. Tentu saja pelaku yang mendorong wanita itu tidak lain ialah Austin.


"Tuan Muda Austin, maafkan aku. Aku-" wanita itu mencoba beranjak berdiri. Ia merinding mendapati tatapan tajam dari pria muda di hadapannya.


"Kau pergilah!" Darren menyela perkataan wanita penghibur itu. Meski Austin lebih santai dari Arthur. Akan tetapi Austin pun tidak suka disentuh oleh wanita penghibur.


Dengan tertakut-takut, wanita penghibur itu segera berlalu pergi karena tidak ingin berurusan dengan keluarga terpengaruh itu.


Austin kembali menjatuhkan dirinya di atas sofa. Seketika suasana berubah menjadi mencekam. Rekan bisnis mereka yang duduk diapit oleh dua wanita penghibur sempat tercengang selama beberapa saat.


"Hahaha sudahlah, sebaiknya kita minum sampai mabuk." Rekan bisnis itu mencoba mencairkan ketegangan.


Baik Austin dan Darren tidak menanggapi. Tetapi mereka tetap menikmati minuman yang disuguhkan. Pandangan Darren kembali jatuh pada lantai dasar. Wajahnya nampak datar tetapi menyimpan kekesalan disana.


To be continue


Darren



Austin



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...