The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Menantu Idaman



Satu bulan kemudian


Pagi ini Arthur baru saja kembali dari pulau pribadinya yang berada di Ibiza Spanyol. Wajahnya tidak menampakkan kelelahan ketika harus menempuh perjalanan selama empat jam lamanya. Kedatangannya sudah di sambut oleh Darren di dalam ruangan. Teman sekaligus asisten serta kaki tangan kepercayaannya meneliti penampilan Arthur yang hari ini sangat berbeda. Tetapi ia mengatupkan rapat bibirnya untuk tidak perlu berkomentar. Seseorang yang jatuh cinta memang memiliki aura yang tidak biasa, pikirnya.


"Der, bawakan semua dokumen-dokumen yang harus aku tanda tangani sekarang juga!" ujarnya sembari membenamkan tubuhnya di kursi.


Darren mengangguk, ia sudah menyiapkan beberapa dokumen penting yang harus segera di tanda tangani setelah satu minggu tidak datang ke perusahaan dan harus melakukan perjalanan ke Paris, lalu menuju Ibiza Spanyol menggunakan jet pribadi.


Kini setumpukan dokumen sudah berada di atas meja, dan di tatap sejenak oleh Arthur.


"Aku meninggalkan perusahaan hanya satu minggu dan sebanyak ini yang harus aku tanda tangani?" Sebenarnya sudah biasa dengan pekerjaan yang menumpuk, akan tetapi hari ini Arthur begitu jengah berkutat dengan setumpukan dokumen.


"Ehm, ini hanya sebagian saja Ar. Aku sudah mengurus sisanya." Ketika Darren kembali, ia pun harus menyelesaikan pekerjaan yang tertunda untuk membantu mempersiapkan segalanya dan akhirnya berjalan dengan lancar meskipun banyak terjadi hambatan kecil.


Arthur hanya mengangguk saja, ia harus mengapresiasi kerja keras Darren. Mengikuti kemana pun dirinya pergi tentu tidak mudah.


"Bulan ini kau bisa mengajukan cuti selama yang kau inginkan Der," katanya menundukkan pandangan kepada dokumen-dokumen di hadapannya. Satu persatu-satu mulai mempelajari dokumen tersebut dan segera menandatanganinya.


Darren terperangah selama beberapa saat, tetapi seperkian detik kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu Ar. Jika aku cuti tidak ada kegiatan yang bisa aku lakukan."


Arthur berdecak, ia menyukai Darren yang work holic, tetap temannya itu tetap butuh liburan atau sekedar menyenangkan diri sendiri.


"Aku tidak ingin mendengar berita miring mengenai diriku yang memperkerjakan asistennya tanpa henti," ujarnya sedikit menorehkan candaan, namun tetap memasang wajah datar. "Kau bisa mengambil liburmu kapanpun jika memang tidak ingin kau gunakan dalam waktu dekat ini," imbuhnya.


Arthur bukan pria yang kejam kepada seseorang yang bekerja dengannya. Ia hanya ingin Darren merasa nyaman bekerja bersamanya dan tidak mengalami tekanan, meskipun sering kali ia memberikan tekanan kepada Darren serta karyawan-karyawan yang lain.


"Baiklah. Akan aku pikirkan nanti." Hanya pasrah yang bisa dilakukan oleh Darren, sebab ditolak pun percuma. Arthur akan tetap memaksa dirinya.


Arthur melanjutkan pekerjaannya di temani oleh Darren di dalam ruangan. Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Darren, menduga jika yang mengetuk pintu adalah Gabriela, sehingga segera memerintahkan sekretaris mereka untuk masuk, agar suara ketukan yang berlanjut itu tidak memecahkan fokus Arthur.


"Tuan Arthur, di depan ada seorang teman yang ingin bertemu dengan anda. Dia menyebut namanya Chris," ucap Gabriela sopan.


Lantas Arthur mengangkat wajahnya begitu mendengar nama yang sedari tadi sudah ia tunggu kedatangannya. "Suruh dia masuk!" sahutnya.


Gabriela mengangguk. Ia pamit undur diri untuk mempersilahkan teman dari atasannya itu untuk segera masuk ke dalam ruangan. Tidak lama Gabriela keluar dari ruangan, sosok Chris memasuki ruangan dengan senyum yang sumringah.


"Aku memiliki kabar baik untukmu Ar," kata Chris tanpa berbasi-basi. Bahkan pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa bersisian dengan Darren.


"Cepat katakan!" Arthur mengalihkan perhatiannya dari beberapa dokumen dan memusatkan fokusnya kepada Chris.


"Ini dokumen yang kau inginkan. Aku sudah berhasil mendapatkan tanda tangan Jorge." Sembari meletakkan dokumen penting tersebut.


"Benarkah?" Arthur nyaris tidak percaya. Ternyata semudah itu membuat Jorge menandatanganinya. Arthur beranjak dari kursi kebesarannya, melangkah menuju sofa dan membenamkan tubuhnya di atas sofa single, sebelum kemudian meraih dokumen tersebut. Seketika senyumnya melengkung sempurna, kali ini tidak ada alasan lagi untuk pria tua itu mempertahankan perusahaan yang memang bukan miliknya. "Kerja bagus!" serunya bangga dengan cara kerja Chris.


"Dia saja yang terlalu bodoh Ar. Dia terlalu tamak dengan harta yang seharusnya menjadi milik Nona Helena. Sehingga pada saat aku memberikan penawaran yang sangat menguntungkan, dia tidak ragu untuk menandatanganinya." Chris menyelipkan tawa pada perkataanya. Jika mengingat ketamakan Jorge membuatnya tidak bisa berhenti mengumpati pria tua itu.


Arthur menyunggingkan senyum. Ia di kelilingi orang-orang yang cekatan dan hebat seperti Darren serta Chris, sehingga memudahkan rencananya untuk menyingkirkan Jorge, Margareth beserta putri mereka.


"Der, gantikan aku rapat siang ini. Aku akan menemuinya!"


"Tidak perlu Der. Aku akan menemuinya seorang diri." Karena hanya cukup dirinya saja yang menghadapi pria tua itu. Darren mengangguk mengerti, jika Arthur sudah berkata demikian, maka ia pun tidak bisa memaksa.


"Kalau begitu aku juga tidak bisa berlama-lama disini disini." Chris berpamitan, ia masih harus mengerjakan pekerjaannya yang lain. Berpindah-pindah tempat memang menjadi hal yang biasa karena ia adalah penyamar yang handal.


"Tunggu Chris!" Arthur menghentikan Chris yang hendak beranjak dari sofa, membuat pria itu menolehkan kepala kepada Arthur.


"Ada apa Ar? Apa kau masih membutuhkan bantuanku?" Chris bertanya memastikan.


"Hmm, aku ingin kau menyamar menjadi mahasiswa di Oxford University."


"What? Kenapa aku harus menyamar sebagai mahasiswa?" Seumur hidupnya, Chris tidak pernah menyamar menjadi seorang mahasiswa.


"Lakukan saja. Jangan banyak bertanya!" seru Arthur mendengkus kesal.


"Apa ini berhubungan dengan wisuda As yang di tunda menjadi minggu ini?" Chris menebak. Karena berita tersebut sudah menyebar luas. Di tundanya wisuda karena salah satu mahasiswi terbunuh dan beberapa pihak menuduh kelompok teman-teman Austin adalah dalangnya.


"Hmm, aku khawatir seseorang memanfaatkan kesempatan ini dan melemparkan perbuatannya kepada As dan yang lain." Yang dicemaskan Arthur adalah jika seseorang dapat membuat bukti palsu yang akan melibatkan Austin bersama teman-temannya.


"Baiklah, aku akan mengawasi mereka!" sahut Chris menyanggupi.


***


Mobil yang ditumpangi Arthur sudah tiba di kediaman Jorge. Mewah dan besar, itulah yang terpampang nyata di hadapannya.


"Kita lihat seberapa lagi kau bisa mempertahankan semua ini!" Arthur menyematkan senyum penuh arti. Ia kemudian melangkah masuk begitu penjaga disana mempersilahkan dirinya.


Kehadiran Arthur membuat para pekerja di kediaman Bonham terperangah tidak percaya dan ditumbuhi banyak pertanyaan dalam benak mereka akan tujuan kedatangan pria berpengaruh itu.


Salah satu maid segera melaporkan kedatangan Arthur kepada majikan mereka. Sontak saja membuat Margareth serta Caroline yang tengah bercengkrama di ruangan keluarga nampak terkesiap lantaran terkejut. Mereka segera melangkah keluar, dimana Jorge sudah lebih dulu menemui Arthur di halaman.


"Mom, untuk apa Tuan Arthur datang kemari?" bisik Caroline menyenggol lengan Mommy-nya. "Apa dia datang untuk menemuiku?"


"Entahlah, Mom juga tidak tau." Margareth pernah mendengar cerita dari putrinya jika beberapa kali mereka pernah bertemu dan membuat Margareth yakin jika Arthur adalah jodoh putrinya. "Tapi Mom akan mendukung jika kalian bersama," lanjutnya antusias. Siapa yang tidak ingin memiliki menantu seperti Arthur? Pria itu sosok menantu idaman, selain berasal dari Keluarga terpengaruh, pria itu juga sangat tampan.


Keduanya memperhatikan Arthur dan Jorge berbicara di halaman. Senyum di bibir Caroline tiada henti terpatri, ia benar-benar tidak sabar untuk menjadikan pria itu miliknya.


To be continue


...Jangan bosan ya dan tetap dukung Yoona 🤗...


...like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...