
Dari dalam mobil, Mikel memperhatikan sekitarnya, mobil dirinya serta beberapa anak buahnya sudah di kepung oleh Pablo beserta segerombolan anak buah Loz Zetas yang sudah mengambil posisi masing-masing dan mengepung untuk menyerang. Mikel mendesaah frustasi, namun alih-alih dilanda ketakutan, Mikel justru menyunggingkan senyum. Menyugar rambutnya ke belakang, sebelum kemudian turun dari mobil.
Posisi Mikel sudah berhadapan dengan Pablo disertai tatapan mereka yang saling menajam. Para anak buah Loz Zetas yang sebelumnya berada jauh di belakang, kemudian bergerombol mendekati Pablo. Berdiri di belakang dengan senjata yang sedari tadi menodong ke arah Mikel dan lima anak buah yang berdiri di belakang Mikel.
Ekor mata Mikel melirik tajam ke arah dua anak buah yang ternyata tertangkap oleh Pablo. Wajah keduanya nampak babak belur namun mereka tersenyum kepada Mikel, mengisyaratkan jika mereka baik-baik saja. Mikel hanya mampu mengusap wajahnya, ternyata Pablo bergerak lebih cepat dari dugaannya.
"Pengkhianat! Seharusnya sudah sejak awal aku membunuhmu!" seru Pablo dengan luapan amarah yang sebentar lagi akan meledak.
Mikel terkekeh. "Terserah apa yang ingin kau katakan. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan!"
"Dengan melindungi putri dari Black, hah?!" Pancaran mata Pablo kian dipenuhi kilatan api amarah. Terlebih Mikel terlihat tidak takut kepada dirinya, sekalipun sudah tertangkap basah mengkhianati dirinya serta Loz Zetas.
Mikel tidak menyahut, tanpa menjawab pun Pablo sudah tau jawaban dirinya.
"Keparat!! Pengkhianat!" Wajah murka Pablo kental kentara, selama ini ia sudah salah besar telah menyia-nyiakan kesempatan memelihara pengkhianat seperti Mikel. "Kau akan menyesal karena sudah berani mempermainkanku." Satu tangan Pablo mengayun, mengisyaratkan kepada anak buahnya untuk bertindak.
Krek
Dua anak buah Pablo menodongkan senjata ke leher dua anak buah Mikel. Seketika membuat keduanya bergidik dan sontak menunduk. Mikel hanya diam memperhatikan, ia sudah menduga jika Pablo akan menggunakan dua anak buahnya itu sebagai umpan.
"Hahaha kau lihat bukan? Dua pengkhianatan sama sepertimu ini akan mati saat ini juga!" serunya tertawa gamang. "Apa yang bisa kau lakukan dengan anak buahmu yang tidak seberapa itu!" Kedua mata Pablo kemudian bergulir ke arah lima anak buah Mikel yang berdiri di belakang pria pengkhianat itu dengan congaknya.
Wajah datar Nikel perlahan menyematkan seringai senyum tipis, tentu sangat disadari oleh Pablo hingga dahinya nampak mengernyit dalam. "Kau salah jika berpikir seperti itu. Aku akan menunjukkan diriku yang sebenarnya!" Masih dengan seringai senyum yang nampak semakin kentara dan hal itu mengusik rasa penasaran Pablo.
Apa yang dia rencanakan? batinnya bertanya heran.
Namun pertanyaannya terjawab sudah ketika melihat segerombolan pria-pria datang dan mengambil posisi masing-masing tepat di samping dan di belakangan tubuh tegap Mikel. Sehingga membuat kedua mata Pablo membelalak kaget. Bagaimana tidak, di belakangnya ternyata Mikel beserta sebagian anak buah membentuk sebuah kelompok baru untuk berhadapan dengan dirinya.
Sama halnya seperti para anak buah Loz Zetas yang berada di kubu Pablo, sebagai anak buah Loz Zetas yang berada di kubu Mikel menodongkan senjata mereka. Hingga kini kedua kubu yang saling berseberangan itu, saling menyilang tatapan tajam dan siap untuk memuntahkan peluru.
"Aku tidak menyangka jika diriku terlalu bodoh!" Pablo tersenyum kecut, sorot matanya tidak beralih dari Mikel beserta sebagian anak buah yang telah mengkhianati dirinya dan lebih memilih pria itu. Kepalanya menggeleng dengan mata memerah, menahan geram. "Aku yang terlalu meremehkanmu. Kau benar-benar licik, mengambil sebagian anak buahku untuk berpihak padamu!"
Merasa tersanjung dengan ucapan Pablo yang secara tidak langsung memuji dirinya, Mikel berdecak dengan bibir yang tersemat senyuman tipis. "Aku belajar darimu, menggunakan cara licik agar aku menuruti perintahmu. Tapi aku tidak sebodoh itu untuk menuruti keinginanmu. Masalahmu dengan Black Lion adalah urusanmu. Aku tidak ingin melibatkan diri tapi kau yang membuatku terpaksa untuk menyetujuinya. Jadi jangan salahkan aku jika memakai cara seperti ini!"
"Waahh..... waahhh.... Waahh...." Pablo menggeleng dengan decakan lidah yang terselip kekesalan. Kemudian bertepuk tangan, mengakui strategi Mikel untuk melakukan pemberontakan kepada dirinya. "Aku akui kau cukup pintar dan licik. Selama ini aku sudah salah menilaimu, kau sama sepertiku tapi sayangnya kau malah ingin melawanku. Jika saja kau menuruti perintahku, aku akan menjadikanmu orang kepercayaanku tapi sepertinya kau lebih memilih untuk mati. Karena itu aku akan mengabulkan keinginanmu!" Pablo yang sudah tidak bisa lagi menahan amarah yang membara, menodongkan senjatanya tepat di hadapan Mikel yang tidak memegang senjata apapun. "Adik tercintamu beserta asisten andalan sialan itu akan menerima akibatnya karena ulahmu! Kau akan melihat adikmu mati di tangan anak buahku, tapi sebelum itu mereka akan mencicipi tubuh adikmu!" ujarnya kembali penuh dengan ancaman. "KAU AKAN MENYESAL KARENA SUDAH BERANI BERKHIANAT PADAKU!"
Dor!
Sapuan mata Pablo mengedar mencari sumber ledakan itu, namun ia tidak mendapati siapapun. Dan serangan susulan kembali memborbardir sekitar mereka. Gatling Gun nampak bergerak cepat memuntahkan peluru dari dalam bagasi mobil. Dan pelakunya tidak lain ialah Sid. Sebelumnya Mikel dan Sid memang menyusun rencana cadangan jika Pablo dan Loz Zetas menyerang.
"SID!!" Sosok Sid memenuhi penglihatan Pablo. Ia tidak terkejut dan sudah menduga jika sejak awal Sid akan lebih berpihak kepada Mikel ketimbang berpihak kepada dirinya. "KALIAN BERDUA PENGKHIANAT SIALAN!" Pablo meradang, ia pun membalas serangan. Kini kedua kubu itu saling menghantamkan peluru.
Mikel hendak menyerang Pablo, akan tetapi bahunya ditahan oleh Sid lebih dulu. "Sebaiknya kau segera pergi dari sini. Biar aku dan yang lainnya menghadapi Pablo. Ingat, jangan berurusan lagi dengan Loz Zetas, fokuslah pada tujuanmu. Aku akan membantumu jika kau butuh bantuan." Telapak tangan Sid menepuk-nepuk bahu Mikel berulang kali, tatapannya begitu lembut dan dalam. Menyiratkan jika Mikel harus baik-baik saja, sebab ada dendam yang belum terbalaskan.
Kepala Mikel mengangguk dengan ragu. Ia tidak bisa meninggalkan Sid beserta yang lainnya menyerang Pablo. Akan tetapi Meisha lebih membutuhkan dirinya disaat keadaan Nathan yang terluka.
"Kau harus baik-baik saja Sid. Aku akan kembali dan membawamu ikut bersamaku!" Mikel menyingkirkan tangan Pablo dari bahunya. Setelah urusannya selesai, tentu ia akan menyematkan Sid dan membebaskan temannya itu dari Pablo.
Sid terkekeh. "Baiklah, dengan senang hati!"
Tidak kembali menyahut, Mikel berlalu dengan langkah setengah berlari menjauh. Kepalanya menoleh sejenak, dimana Sid sudah terlibat baku tembak dengan beberapa anak buah Loz Zetas. Lalu kembali melanjutkan langkah menuju mobilnya yang terparkir di bawah puncak bukit.
Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan bertebing curam. Mikel harus cepat sampai untuk memastikan keadaan Meisha. Hingga berkendara selama satu jam, mobilnya memasuki pelataran Mansion di Kota Wales.
Ya, malam itu setelah mencurahkan rahasianya dengan Elie, ia berhasil menemukan keberadaan Meisha dan Nathan. Menerobos disaat dirinya dan Sid memberikan jalaang untuk mengalihkan perhatian Pablo. Dengan hasratnya yang tinggi itu, tentu Pablo tidak akan menolak jalaang-jalaang bertubuh seksi dan menggairahkan itu. Rencananya berjalan mulus, Meisha dan Nathan berhasil diselamatkan tanpa sepengetahuan Pablo dan para anak buah Loz Zetas lainnya.
To be continue
Babang Mikel
Sid
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...