
Saat ini Jolicia tengah berada di balkon, menghirup udara di sore hari. Selepas membersihkan diri, ia memilih untuk berdiam diri di balkon. Sungguh pikirannya tidak tenang, seperti merasa bersalah pada seseorang tapi kenapa? Bukankah ia tidak salah.
Satu jam yang lalu pandangannya tidak sengaja menangkap mobil Austin tidak jauh dari Charlie's Cafe & Bakery. Tetapi beberapa menit kemudian mobilnya melaju kembali. Padahal ia yakin jika Austin melihatnya karena mereka sempat bertemu pandang sesaat. Namun pria itu justru mengalihkan pandangan darinya. Jika dahulu saat Austin tidak sengaja melihatnya di suatu tempat, pria itu akan selalu mendatanginya. Tidak peduli dimana pria itu akan memarkirkan mobilnya.
"Haahhhh...." Wanita cantik itu menghembus napas panjang. Kapan permasalahan mereka akan berakhir? pikirnya.
"Ah, kau disini rupanya. Pantas saja tidak ada di dalam kamar." Suara bariton pria membuatnya menoleh dan mendapati Daddy Zayn berjalan mendekat ke arahnya.
Sudut bibir Jolicia membentuk senyuman tipis. "Ada apa, Daddy?" Ia tahu kebiasaan Daddy-nya. Jika mencarinya kesana-kemari pasti ada suatu hal yang harus disampaikan.
"Kenapa aku baru tau jika aku benar-benar kaya?" Alih-alih menjawab pertanyaan sang putri, Daddy Zayn justru merasa takjub dengan pemandangan dibawah sana. Salah satu kekayaan yang ia miliki adalah memiliki halaman yang begitu luas. Salah satunya terdapat landasan helikopter
"Seharusnya aku membuat stadion sepak bola disini," gumamnya berpikir. "Ah benar, jika aku membangun stadion, mereka bisa menyewa dengan harga dua kali lipat." Kapanpun dan di manapun jika menyangkut masalah uang, Daddy Zayn akan menggebu-gebu dengan semangat yang membara.
Jolicia memutar bola matanya dengan malas. Daddy-nya itu mulai lagi, suka sekali membicarakan bisnis dengan keuntungan yang fantastis. Mungkin lebih tepatnya bukan berbisnis, tetapi menodong uang orang lain dengan berkedok bisnis atau investasi. Tapi mau bagaimana lagi, memang seperti inilah Daddy tercintanya. Entah kenapa Mommy Angela bisa jatuh cinta pada Daddy-nya. Selain wajah tampannya, tidak ada hal yang bisa dibanggakan dari Daddy Zayn. Uppsss. Menyadari kesalahannya dalam menilai Sang Daddy, Jolicia berhenti berpikir, ia tertakut-takut jika Daddy Zayn bisa membaca pikiran. Sebab terkadang Daddy-nya itu bisa berubah menjadi cenayang.
Pletak
Daddy Zayn menyentil kening Jolicia, membuat putrinya itu mengaduh.
"Kau pasti menjelek-jelekkan Daddy, bukan?" See, Daddy Zayn seperti cenayang. "Jangan suka menggerutu di dalam hati seperti Mommy-mu," sungutnya kesal.
"Tidak Daddy. Aku tidak menggerutu." Ia berkilah, mana mungkin berani mengakui. "Daddy ini selalu saja bicara sembarangan. Jika Mommy tau, Daddy pasti akan tidur diluar."
"Berani kau mengadu pada istriku, aku akan mengurungmu di kandang ular." Daddy Zayn tidak terima, ia memberikan ancaman pada sang putri.
Apapun jenis ancamannya, Jolicia sudah terbiasa. Bahkan Jacob saja mendapatkan ancaman akan di gantung di atas Patung Liberti. Namun alih-alih takut dengan berbagai ancaman, keduanya justru menantang. Sebab itu Daddy Zayn mengherankan sikap putra dan putrinya yang menyebalkan menurutnya.
"Iish, istri Daddy juga Mommy-ku." Jolicia memprotes. Heran dengan Daddy-nya yang selalu menyebut istriku, istriku dan istriku. Padahal istri yang dimaksud Daddy Zayn adalah Mommy mereka.
"Ya... Ya..." Daddy Zayn malas menanggapi hanya mengiyakan saja. "Lalu bagaimana?" tanyanya ambigu. Entah bertanya mengenai apa, Jolicia gagal mencerna.
"Bagaimana apanya, Daddy?" Ternyata tidak hanya orang lain yang akan merasa kesal jika berhadapan dengan Daddy Zayn, Jolicia pun sebenarnya gemas pada Daddy-nya itu.
"Membangun stadion?" katanya meminta pendapat dengan kedua alis yang dinaik-turunkan.
"Astaga, tidak perlu membangun stadion." Jolicia menggeleng, ternyata permasalahan stadion berbuntut panjang. "Daddy sudah kaya, memangnya ingin kaya seperti apalagi?"
"Benar. Daddy-mu ini memang sudah kaya, bahkan sangat kaya, hahaha." Ia yang membanggakan diri, ia pula yang tertawa.
"Lalu kenapa Daddy ingin membangun stadion di halaman Mansion?" Heran, itu yang dirasakan oleh Jolicia. Membangun stadion hanya akan buang-buang uang, pikirnya.
"Karena ingin. Memangnya tidak boleh? Daddy-mu memiliki banyak uang, apapun bisa di lakukan dengan uang. Bahkan aku berencana membeli satu negara untuk Mommy-mu." Sungguh Daddy Zayn yang polos, bicaranya begitu lancar dengan segala keinginannya.
Hah?
Tuhan, tolong selamatkan Licia dari pembicaraan absurd dengan Daddy Zayn.
"Dad, please. Jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Mommy bisa marah." Jolicia harus bisa memperingati Daddy Zayn sebelum Mommy Angela mendengarnya.
"Ah, kau benar. Karena itu kau harus merahasiakannya dari Mommy." Daddy Zayn mengacak rambut Jolicia.
"Apa? Merahasiakan apa dariku?"
Sebuah suara membuat Daddy Zayn serta Jolicia menoleh ke arah pintu. Mommy Angela melangkah mendekati suami serta putrinya.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku, hm?" Mommy Angela menyorot tajam pada suami dan putrinya secara bersamaan.
Jolicia tersenyum canggung. Ia menatap Daddy-nya yang nampak biasa saja, padahal mungkin saja di dalam hatinya menciut ketika berhadapan dengan Mommy Angela.
"Hm, Daddy ingin membangun stadion di halaman Mansion Mom," cicitnya mengadu. Berharap membangun stadion adalah rencana yang tidak akan pernah terealisasi.
"Apa?" Mommy Angela terkejut tidak percaya. Kedua matanya melebar penuh.
"Jangan melihatku seperti itu Sayang. Matamu bisa keluar," ucap Daddy Zayn tersenyum manis.
"Tidak! Aku tidak setuju," serunya menolak tegas keinginan suaminya. "Untuk apa membangun stadion di halaman, hm?" imbuhnya. Biar bagaimanapun Mommy Angela penasaran dengan tujuan suaminya ingin membangun stadion yang pastinya mengeluarkan biasa fantastis.
"Untuk mendapatkan uang dan keuntungan yang besar, Sayang. Apalagi?!" Sahutannya itu di akhiri dengan seulas senyum.
"Astaga Zayn." Mommy Angela gemas. Jadi karena itu suaminya ingin membangun stadion? Benar-benar sulit dipercaya. "Tidak. Aku tidak setuju, halaman Mansion sudah sangat indah seperti ini, aku tidak ingin ada yang merusak tanaman-tanamanku." Ya, selama ini yang mengurus Mansion dengan segala isinya adalah Mommy Angela. Halaman luas yang dipenuhi oleh tanaman-tanaman indah itu pun adalah atas keinginannya.
"Zayn, aku sedang serius!" Percuma saja suaminya tersenyum manis seperti itu, Mommy Angela tidak akan tersentuh.
"Iya, aku tau. Aku juga serius padamu Sayang, karena itu aku menikahimu." Bukan Zayn namanya jika tidak berhasil membuat Mommy Angela gemas sekaligus kesal.
"Astaga, Zayn. Kau ini benar-benar." Namun ternyata perkataan suaminya membuat wajah Mommy Angela memerah lantaran malu.
Sedangkan Jolicia yang menyaksikan hanya cekikikan geli. Pantas saja Mommy Angela bersedia menikah dengan Daddy-nya. Keduanya bisa saling melengkapi satu sama lain. Dan ia memiliki mimpi membangun keluarga bahagia bersama pasangannya kelak, seperti kedua orang tuanya. Terdengar keinginan yang sederhana, tetapi bermakna.
"Sudahlah, sebaiknya kita turun." Mommy Angela mengalihkan pembicaraan. "Dan kau pasti lupa memberitahu tujuanmu mencari Licia 'kan?" tanyanya menduga.
Tebakan yang benar. Daddy Zayn menampilkan deretan giginya. "Aku tidak lupa Sayang." Tetapi ia berkilah. Mana mungkin mengakui jika dirinya benar-benar lupa. Hingga kemudian menatap Jolicia yang terkesiap karena mendapati perubahan Daddy Zayn yang begitu cepat, Daddy Zayn akan berubah menjadi lebih seram hanya dalam sekejap saja. "Mommy dan Daddy mengundang Paman Vier dan Bibi Elle untuk makan malam."
"Benarkah?" Apa yang disampaikan oleh Daddy Zayn membuat Jolicia lebih terkesiap lagi.
"Hm, karena itu kau harus berada di Mansion. Bukankah, beberapa hari ini kau juga tidak mengunjungi mereka?" kata Daddy Zayn lagi.
Jolicia mengangguk. "Baik Dad." Namun di dalam hati ia tersenyum kecut. Bagaimana bisa ia mengunjungi Mansion Bibi Elle dan Paman Vier jika dirinya dan Austin saja sudah lama saling mendiamkan.
"Yasudah, ayo kita kebawah." Mommy Angela merangkul lengan Daddy Zayn, karena suaminya itu sudah memberitahu Jolicia. Seharusnya sudah disampaikan sejak tadi, akan tetapi Daddy Zayn benar-benar lupa. Mungkin faktor usia.
Keduanya meninggalkan Jolicia yang masih mematung ditempat. Saat menuruni tangga, nampak Jacob yang bersiap-siap akan pergi.
"Mau kemana, heh?!" seru Daddy Zayn dengan suara lantang, menegur.
"Aku akan pergi sebentar, Dad. Temanku sudah menunggu," sahut Jacob sembari memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Jac, bukankah Mommy sudah mengatakan jika Paman Vier dan Bibi Elle akan makan malam di Mansion?" Suara Mommy Angela selalu lembut seperti biasa.
"Hanya sebentar Mom. Lagi pula masih ada waktu tiga jam lagi." Jacob melihat arloji di pergelangan tangannya.
"Tapi kebiasaanmu selalu lupa waktu, Jac," kata Mommy Angela sangat tahu jelas kebiasaan sang putra.
Daddy Zayn menatap penuh cibiran. "Dengar bukan kata istriku?! Kau itu selalu lupa waktu."
"Iish, kau diam saja, Zayn." Mommy Angela menepuk bokong Daddy Zayn.
Astaga, seorang Zayn ditepuk bokongnya. Tentu saja membuatnya hanya bisa pasrah, ingin marah tetapi istrinya sendiri. Bisa-bisa ia tidak akan mendapatkan jatah bercinta nanti malam.
Sebenarnya Jacob ingin sekali tertawa terbahak-bahak, tetapi tatapan tajam Daddy Zayn padanya seperti sedang menguliti tubuhnya.
"Hanya sebentar, Mom. Aku janji akan pulang sebelum makan malam." Tatapan Jacob mengiba, berharap Mommy Angela mengizinkan dirinya untuk pergi.
Menarik napas dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan. "Baiklah, tapi hanya sebentar saja. Jika kau tidak pulang, maka Mommy akan menyita semua fasilitas yang kau gunakan."
Jacob gelagapan. Tidak Daddy-nya, tidak Mommy-nya suka sekali mengancam. Tetapi detik kemudian ia mengangguk pasrah. "Baik Mom, terima kasih," sahutnya. "Kalau begitu aku pergi dulu." Tidak melakukan cium pipi dan cium kanan pada Sang Mommy, Jacob melesat pergi. Lagi pula ia tidak diizinkan mencium Mommy-nya, sehingga tidak masalah jika langsung pergi begitu saja.
Setelah memastikan kepergian Jacob, lantas Daddy Zayn membopong istrinya itu di bahunya.
"Kyaaaa....." Mommy Angela sontak berteriak. "Zayn, apa yang kau lakukan?!"
"Menghangatkan tubuh." Daddy Zayn menyahut santai sembari berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka. Inilah hukuman untuk sang istri karena sudah mempermalukan dirinya dengan menepuk bokongnya di hadapan putra mereka.
"Tapi, aku harus memasak."
"Ada banyak pelayan!" Ia tahu jika istrinya itu hanya sedang mencari alasan.
"Zayn...." cicit Mommy Angela memprotes.
"Diam sayang, jika kau tidak ingin aku melakukannya disini."
Ancaman Daddy Zayn membuat Mommy Angela mengatupkan rapat bibirnya. Bisa-bisa suaminya itu benar-benar melakukan penyatuan tubuh di tangga. Oh tidak, itu sangat memalukan.
To be continue
Siapa yang rindu dengan Daddy Zayn? 😊