
Melihat wanita pujaan hatinya berada di hadapannya, kedua mata Mikel melebar tidak percaya. Padahal ia tidak memberikan perintah kepada Nathan untuk membawa wanita itu ke ruangannya.
"Elie?" Dan Mikel spontan memanggil Aurelie dengan namanya saja tanpa embel Nona. "Ah, maksudku Nona Elie, apa yang kau lakukan disini?" Bibir Mikel menyungging sempurna. Dan yang menyadari perubahan mimik Mikel hanya Nathan serta Laura, mengingat biasanya mereka berdua hanya disuguhi wajah datar tanpa senyum. Tentu saja Laura dibuat tidak berkedip melihat senyum Presdirnya yang baru pertama kali ia lihat.
"Astaga, aku mendapatkan jackpot hari ini," batinnya masih memperhatikan sosok Presdir mereka, sebelum kemudian Nathan menyenggol lengannya. Laura hanya melayangkan senyum kikuk kepada Nathan yang tengah memelototi dirinya.
"Hm, begini Tuan....." Entah kenapa keberanian Aurelie seketika lenyap. Ia meneliti penampilan Presdir dari MJ Corp dengan seksama. Sejak tadi ia memang terkesima akan wajah tampan yang disertai bulu-bulu halus di sekitar rahang pria itu. "Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Tuan," lanjutnya. Memberanikan diri menatap wajah Mikel yang lebih tampan dari kekasihnya itu. Ah kekasih? Bahkan saat ini hubungannya dengan Brandon tidak ada kejelasan, mengingat pria itu hanya berusaha membujuk dirinya satu hari saja dan setelahnya menyerah tanpa melakukan apapun.
"Baiklah, masuk saja." Dan tanggapan Mikel justru jauh dari bayangan Aurelie. Alih-alih pria itu merasa tergganggu dengan kedatangan Aurelie, justru dengan santai mempersilahkan wanita itu untuk masuk.
"Tapi bukankah Tuan sedang tidak bisa di ganggu? Jika memang sedang sibuk, aku bisa datang di lain hari," ucapnya tersenyum. Senyum yang selalu membuat jantung Mikel bergetar hebat layaknya tersengat aliran listrik.
"Tidak. Siapa yang mengatakannya?!" sahut Mikel cepat. Ia tidak ingin Aurelie pergi jika ia mengiyakan perkataan wanita itu.
Glek
Nathan mencoba menelan salivanya dengan berat. Dirinyalah yang berkata demikian, lalu apakah dirinya akan terkena makian dari Tuannya itu?
"Emm...." Aurelie nampak berpikir ulang, jika ia memberitahukan apa yang diucapkan oleh asisten Mikel, mungkin asisten malang itu akan terkena masalah. "Em, itu hanya perkiraan ku saja karena aku datang tanpa membuat janji terlebih dahulu. Itu karena kebetulan aku baru menyelesaikan pemotretan disini, jadi sekalian aku menemui Tuan." Tutur kata lembut itu hampir memporak-porandakan hati Mikel yang sebelumnya sempat gelisah tidak menentu. Karena banyak beban yang harus ia pikul seorang diri. Tapi lihatlah, hanya dengan melihat senyum serta wajah cantik Aurelie, beban itu seolah lenyap dan pundaknya serasa lebih ringan dari sebelumnya.
"Baiklah, kau bisa katakan apapun di dalam." Mikel berkata lembut yang tentu saja membuat Nathan serta Laura dibuat lebih tercengang.
Ini benar-benar Tuan Mikel, bukan? Bahkan Nathan berperang dengan batinnya kala melihat sosok lain di dalam Tuannya yang hanya ditampakkan kepada model wanita yang ia ketahui bernama Elie Cassandra.
Kemudian Mikel mempersilahkan Aurelie untuk masuk ke ruangannya terlebih dahulu. Ia mengabaikan tatapan kedua bawahannya yang penuh dengan tanda tanya itu. Tiada hentinya Mikel menyematkan senyum setipis mungkin agar tidak ada yang menyadarinya, termasuk Nathan yang memang lebih banyak tau mengenai dirinya.
Aurelie tersenyum kepada Laura serta Nathan, sebelum kemudian melesat masuk setelah sang pemilik ruangan mempersilahkan dirinya. Dan Mikel mengalihkan pandangan dari punggung Aurelie, lalu mengarahkan anak panah matanya kepada Nathan.
"Lain kali jika Elie datang ingin menemuiku, kau bisa langsung menyuruhnya masuk Nath!" ucapannya menegaskan. Karena sebelumnya ia sempat mendengar seruan Nathan yang tidak memperbolehkan wanitanya itu untuk masuk ke dalam ruangannya.
Nathan mengangguk paham. "Baik Tuan. Maafkan saya karena sebelumnya Tuan mengatakan jika tidak ingin di ganggu oleh siapapun, sehingga-"
"Jadi salahku heh?!" Mikel menyela ucapan Nathan.
"Tidak Tuan, salah saya karena tidak mengerti maksud anda. Untuk kedepannya saya tidak akan menghalangi Nona Elie jika ingin bertemu dengan anda." Dan Nathan hanya tertunduk pasrah. Lebih baik mengalah ketimbang Tuannya larut dalam kemarahan.
"Bagus..." Mikel nampak mengangguk. Lalu pandangannya beralih kepada Laura, wanita itu menundukkan pandangan dan meremass jemarinya. "Dan kau Laura, jangan menghalangi Elie jika ingin bertemu denganku. Mengerti?!"
"Me-mengerti tuan," sahut Laura tergagap takut.
Saat dirasa sudah puas memberikan ultimatum kepada Nathan serta Laura, Mikel berbalik badan memunggungi keduanya. Lalu mulai melangkah masuk namun langkahnya justru kembali terhenti karena Nathan hendak mengekorinya.
"Kenapa mengikutiku Nath?!" Kedua alis Mikel nampak mengernyit dalam.
"Tentu saja masuk ke dalam menemani Tuan", jawab Nathan bingung.
"Tidak perlu," sergah Mikel dengan cepat. "Kau dan Laura kembali saja bekerja!" Bagaimana mungkin Mikel akan membiarkan mereka mengganggu waktunya bersama dengan wanitanya.
"Baiklah...." Dan akhirnya Nathan hanya bisa pasrah. Ia menatap nanar pintu ruangan yang sudah tertutup rapat begitu Tuan Mikel melesat masuk.
Setelah sosok Mikel sudah lenyap dari pandangan mereka, Laura kemudian mendekati Nathan. "Tuan Nathan, ada hubungan apa Nona Model itu dengan Tuan Mikel?" Jiwa penasaran Laura meronta ingin tahu. Wajar saja karena ia melihat dengan kepala matanya sendiri, bagaimana Presdir mereka yang bersikap lembut kepada seorang wanita. Bahkan Laura sedikit heran karena tuannya itu tidak memperlakukan Nona Helena sama seperti model itu.
"Sebaiknya kau tidak perlu mengetahui apapun, Laura. Diam dan cukup melihat saja, jangan banyak bertanya. Jika tidak, Tuan Mikel akan memecat siapa saja yang ingin ikut campur dengan urusannya." Perkataan dingin Nathan sangat menohok bagi Laura, dan dengan santainya pergi begitu saja setelah berucap kata yang cukup menusuk.
***
"Apa yang ingin dibicarakan oleh Nona Elie?" Selepas merasa puas mengagumi kecantikan Aurelie, Mikel langsung melayangkan pertanyaan demikian.
"Em, begini Tuan..." Aurelie merogoh sesuatu di dalam tasnya. "Aku hanya ingin mengembalikan ini, rasanya tidak pantas menerima hadiah semewah ini." Lalu tangannya meletakkan kotak berwarna soft pink itu di atas meja kaca.
Mata Mikel menyorot benda yang tidak asing itu, sebab benda mewah dan mahal tersebut memang darinya. "Kenapa dikembalikan? Itu adalah hak-mu, semua teman-temanmu juga mendapatkan satu set perhiasan," katanya menjelaskan. Tidak lupa menyelipkan senyuman di sudut bibirnya.
"Tapi Tuan-"
"Mikel!" selanya dengan suara yang sedikit meninggi. Ia begitu panas setiap kali Aurelie memanggil dirinya dengan Tuan. Padahal sebelumnya ia sudah pernah mengatakan jika wanita itu harus memanggilnya Mikel saja tanpa ada kata Tuan. "Sudah pernah kukatakan, kau boleh memanggilku Mikel." Dan tentu saja tanpa ingin dibantah.
"Baiklah," sahutnya. "Aku merasa tidak pantas menerimanya. Karena aku pikir kau salah memberikan perhiasan. Seharusnya perhiasannya sama seperti yang lain, tapi yang kau berikan justru satu set berlian." Aurelie tidaklah bodoh, ia yang terlahir dari Keluarga Billionare tentunya mengetahui berbagai jenis berlian.
Mikel tersenyum menanggapi. "Aku tidak salah memberikan hadiah. Itu memang untukmu," sahutnya santai, berbeda dengan Aurelie yang tertegun sejenak.
"Tapi, yang kau berikan berbeda dengan yang lain," serunya. Kenapa ia harus berputar-putar menjelaskan. Dan kenapa pula Mikel tidak bisa mengerti alasannya mengembalikan hadiah itu.
"Aku tidak peduli dengan yang lain. Aku hanya peduli padamu!" ujar Mikel tegas.
Deg
Aurelie terkesiap mendengar sebuah ungkapan yang entah hanya sekedar gurauan semata atau bersungguh-sungguh.
"Kau jangan bercanda." Dan Aurelie terkekeh, ia lebih memilih untuk tidak menanggapi serius ucapan yang keluar dari bibir Mikel. "Kita hanya baru bertemu beberapa kali dan kau sudah peduli padaku," cetusnya sinis dan tidak habis pikir, semudah itukah seorang pria peduli pada wanita yang baru dikenalnya?
Mendengar hal itu, Mikel kembali mengulas senyum. Ia tidak peduli jika hanya kata makian yang akan dilontarkan wanita itu. "Jatuh cinta tidak mengenal waktu," serunya. "Dan aku sudah jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama."
"Ck, omong kosong. Bagaimana mungkin kau jatuh cinta padaku?!" Aurelie memutar bola matanya malas. Kenapa kata cinta itu selalu dengan mudah diucapkan oleh setiap kaum pria? pikirnya.
"Tidak ada yang tidak mungkin." Mikel mengulum senyum melihat ekspresi wanitanya yang kesal terhadap dirinya. "Bahkan aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku." Dengan penuh percaya diri Mikel mengatakan kalimat yang membuat Aurelie terperangah.
Apa-apaan pria ini. Apa dia sudah gila?
Aurelie memberanikan diri untuk membalas tatapan Mikel. Ia ingin menemukan sesuatu yang sedang direncanakan oleh pria itu. Namun nihil, ia tidak menemukan apapun. Bahkan sorot matanya menyiratkan keseriusan. Tanpa sadar pandangan mereka saling mengunci seolah menggali sesuatu di yang ada di dalam manik mata keduanya. Sebelum kemudian Aurelie memutuskan kontak mata terlebih dahulu karena matanya mulai memanas akan tatapan tajam Mikel namun nampak begitu hangat.
"A-aku menemuimu hanya ingin mengembalikan ini saja. Jadi aku permisi dulu," ucapnya mendadak gugup. Aurelie tidak ingin lebih lama berada di ruangan dengan seorang pria yang membuatnya merasakan sesak. Buru-buru Aurelie melampirkan tali tas di pundaknya, sebelum kemudian beranjak berdiri.
Namun belum sempat melangkah menuju arah pintu, tangannya lebih dulu dijangkau oleh Mikel. Dan dalam sekali tarikan saja, Aurelie sudah berada di dalam dekapannya, hingga menjatuhkan kacamata hitam yang sedari tadi bertengger di kepala wanita itu.
"Apa yang kau lakukan..... mmmpphh." Belum hilang keterkejutannya disaat pria itu sengaja menarik tangannya. Kalimatnya juga harus terputus lantaran Mikel menyerang bibirnya dan segera melummat bibir merah ranumnya dengan begitu lembut.
To be continue
Babang Mikel
Elie
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...