
Kedua mata Mikel yang mengkilat itu menebarkan kebencian yang luar biasa kepada Franco Reus saat kilasan masa lalu terlintas di ingatannya dan tidak akan pernah bisa dilupakan sampai kapanpun. Kejadian mengerikan itu telah mengubahnya menjadi pria yang keji dan tidak memiliki rasa iba ketika melihat sepupunya yang terlihat terkapar tidak berdaya. Baginya apa yang ia lakukan belum seberapa, pria itu harus merasakan kematian yang begitu menyakitkan.
"Lihatlah dirimu yang seperti ini Franco. Tentu kau tidak pernah membayangkan hidupmu akan berakhir malam ini." Mikel menyunggingkan senyum meremehkan. "Saat itu aku memang tidak bisa melakukan apapun ketika ayahmu membuatku harus kehilangan kedua orang tuaku dan kau merenggut paksa kesucian Mei. Pria sepertimu memang tidak pantas hidup lebih lama, karena itu...." Mikel menyimpan senjata api di saku jaketnya dan merogoh saku jaket yang lain hingga sesuatu yang runcing nampak mengkilat, membuat Franco menggeleng lemah. Mikel berjongkok, menumpu satu lututnya di lantai. "Aku akan menunjukkan bagaimana saat itu ayahmu membunuh my dad. Jadi....." Dengan sengaja Mikel menggantungkan ucapannya, membuat Franco bergidik penuh ketakutan.
Jleb
Pisau runcing yang nampak sangat tajam itu menembus tepat di leher Franco, sehingga membuat kedua mata Franco membelalak tetapi tidak bisa berteriak. "Ya, seperti inilah ayahmu menikam Daddy. Jadi nikmati kematianmu dan selamat tinggal." Mikel kemudian semakin menekan pisau itu hingga semakin menusuk ke dalam.
Mata Franco yang semula membelalak perlahan tertutup rapat. Mikel terkekeh getir, ia sudah membalaskan satu dendamnya. Menyingkirkan pria yang membuat adiknya menderita selama bertahun-tahun. Dan Sid merasakan sedikit kelegaan karena bisa membantu temannya itu membalaskan dendamnya. Berbeda dengan Nathan, pria itu harus menutup mata saat Mikel menusuk leher Franco, ia belum terbiasa melihat kekejaman di hadapannya, namun sepertinya untuk ke depannya ia harus membiasakan diri. Sebab ia sudah mengetahui sisi kejam tuannya yang selama ini selalu menjadi pertanyaan dalam benaknya.
Anak buah Franco yang tersisa mencoba untuk melarikan diri dari sana. Akan tetapi Sid lebih dulu menghantamkan peluru ke tubuh mereka masing-masing. Tidak ada yang tersisa, mereka berhasil mengeksekusi Franco beserta orang-orangnya.
Terdengar suara ponsel yang membuat Mikel bangkit berdiri. Ia merogoh ponselnya di dalam saku celananya dan melihat nama yang tertera di layar ponsel. Keningnya menonjolkan kerutan ketika panggilan itu dari seseorang yang ia tugaskan untuk menjaga adiknya. Dengan segera menggulir tombol hijau dan menempelkan ponsel pada daun telinga.
"Ada apa?" tanyanya mendesak. Jika seseorang kepercayaannya itu menghubunginya sudah pasti ada sesuatu yang tidak beres. Benar saja wajah Mikel menegang begitu mendengar penuturan di seberang sana. "Aku akan pulang sekarang!" Dan memutuskan sambungan teleponnya. Mikel kemudian menghampiri Sid dan juga Nathan dalam raut wajah yang panik.
"Sid, aku harus pulang."
"Apa terjadi sesuatu dengan Mei?" Sid dapat menebak penyebab kepanikan pada wajah Mikel.
"Ya, dia melakukannya lagi," sahut Mikel parau.
"Kalau begitu cepatlah pulang. Aku akan mengurus sisanya disini."
"Thanks. Lakukan seperti biasanya," ujarnya dan kemudian berlari keluar dari bangunan mewah itu. Mikel bahkan melupakan Nathan, sehingga membuat Nathan buru-buru mengekori tuannya.
"Bereskan mayat mereka tapi sisakan Franco, kita akan membawanya ke Markas," seru Sid ketika Mikel dan Nathan berlalu. Ia harus melakukan sesuatu kepada mayat Franco. Ia harus mengidentifikasi tubuh Franco, setidaknya ia harus tau kenapa selama ini mereka sulit menemukan keberadaan Franco dan selalu ada yang melindungi pria itu.
***
Meski dari jarak yang begitu jauh, Mikel berhasil tiba di Wales dengan menggunakan helikopter sehingga tiba lebih cepat. Mansion yang ia beli enam tahun lalu itu memiliki landasan helikopter dengan halaman yang begitu luas. Sehingga ia bisa kapan saja melihat keadaan adiknya di Kota Wales yang berjarak 4 jam dari Kota London jika menggunakan mobil.
Mikel memasuki Mansion mewahnya, ia membiarkan Nathan mengekor di belakangnya dan Nathan yang sudah paham akan sikap dan sifat tuannya, tidak banyak bertanya, ia hanya diam mengikuti, karena ia sendiri pun akan mengetahui jawabannya sebentar lagi.
"Bagaimana keadaan Mei?!" tanya Mikel kepada dua orang kepercayaannya, satu wanita dan satu pria.
"Nona berteriak histeris dan tiba-tiba saja berusaha menggores nadinya lagi," sahut Amber memberitahu.
Mikel langsung berlari ke lantai dua, dimana kamar Meisha berada di sana. Dan Nathan kembali mengekor hingga membuat tanda tanya Amber beserta rekannya Jared. Mereka hendak bertanya siapa pria itu, tetapi keadaan Nona Meisha lebih penting.
Mikel membuka pintu kamar dengan kasar, kepanikan masih terpatri di wajahnya. Ia berlari menuju tempat tidur, adiknya terlihat duduk bersandar pada headboard dengan pandangan yang kosong.
"Mei..." Mikel menatap pilu pergelangan tangan adiknya yang lagi-lagi di perban. Lantas Mikel memeluk Meisha dan berulang kali mengecup kepala sang adik. "Jangan takut, Kak Mike sudah disini." Semakin erat Mikel mendekap adiknya, bahkan kedua matanya mengembun. Tetapi ia selalu berusaha tidak menunjukkan kesedihan di hadapan sang adik.
Meisha terdiam, ia tidak membalas dekapan kakaknya seolah mereka adalah orang asing. Seperti biasa, Meisha tidak merespons siapapun, sekalipun adalah kakak kandungnya. Mikel selalu berusaha mengingatkan akan dirinya kepada Meisha, sekalipun harus disambut dengan teriakan karena adiknya selalu merasa ketakutan sejak peristiwa Franco Reus merenggut kesuciannya.
Tubuh Nathan terpekur dengan apa yang disaksikannya. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan adik tuannya itu. Tetapi jika dirangkum dari kejadian malam ini bahwa peristiwa pemerkosaan itu telah membuat adik tuannya meninggalkan trauma yang begitu mendalam.
Mikel menjadi panik kembali, ia berusaha mendekat. "Mei, tenanglah. Jangan seperti ini, Kak Mike mohon."
"PERGI! AAKKHH PERGI!" Ketakutan luar biasa selalu tertanam sehingga yang ada di pikiran wanita itu jika siapapun yang berada di sekitarnya akan menyakiti dirinya. "PERGI HUWAAA..." Meisha turun dari tempat tidur, ia melemparkan barang-barang yang berada di jangkauannya tepat ke arah Mikel.
"PERGI! JANGAN MENYENTUHKU! PERGI!!" Semakin histeris disertai isakan tangis.
Mikel mengusap wajahnya frustasi, ia bahkan meloloskan air mata disudut matanya sembari menenangkan Meisha.
Meisha berlari ke arah pintu tepat menuju Nathan yang berdiri disana. Sontak saja membuat Nathan spontan menangkap adik dari tuannya.
"Nona, tenanglah." Sama seperti yang Mikel lakukan sebelumnya, Nathan mendekap Meisha untuk menenangkannya.
Namun tetap saja Meisha memberontak dan ingin pria yang tengah memeluknya itu segera melepaskannya. "LEPASKAN AKU! LEPAS! AAAKHHH KALIAN JANGAN SAKITI MOMMY DAN DADDY!"
"Nona berada di tempat yang aman. Tenanglah, kami bukan orang jahat. Dia kakak kandung Nona." Mendengar penuturan Nathan yang lembut membuat Meisha sedikit tenang, tetapi tidak menyurutkan isak tangisnya.
Mikel mencoba lebih mendekat tetapi tidak memisahkan keduanya. Ia justru membiarkan Nathan mencoba menenangkan adiknya itu. Dengan mata kepalanya sendiri, Mikel bisa melihat Meisha yang perlahan berhenti histeris meskipun masih menangis pilu.
"Tuan...." Amber dan Jared nampak berdiri di depan pintu. Mereka mendengar teriakkan dari lantai bawah sehingga mereka ragu-ragu untuk naik ke lantai atas. Tetapi mereka berpikir jika tuannya akan membutuhkan bantuan mereka.
Tangan Mikel terangkat, menginterupsikan kepada Amber serta Jared untuk tidak mendekat. Memberikan kesempatan Nathan untuk menenangkan adiknya. Keduanya mengangguk lalu segera berlalu dari sana.
Melihat Meisha yang sudah lebih tenang, Mikel memerintahkan Nathan untuk menuntun adiknya ke atas tempat tidur. Dengan perlahan Nathan membantu Meisha berjalan, begitu lembut memperlakukan wanita yang baru ditemuinya itu.
"Terima kasih Nath," ucap Mikel tulus. Pandangannya sendu menatap sang adik yang kembali dengan tatapan kosong.
Nathan hanya mengangguk, lalu segera menyingkir dari sisi ranjang. Pandangannya juga tidak ia alihkan dari Meisha. Cantik. Itulah yang membuat Nathan betah memandangi wajah Meisha tanpa make up dan kelopak mata yang sembab.
"Mei menjadi seperti ini sejak pria bajingan itu memperkosanya. Dia berulang kali mencoba untuk menghilangkan nyawanya," ujarnya membelah keheningan selama beberapa saat. "Kau tau Nath, aku tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Mei. Dia adalah segalanya bagiku," lanjutnya dengan suara yang bergetar.
Hati Nathan berdenyut, memahami apa yang dirasakan oleh tuannya. "Tuan, saya hanya bisa mendoakan agar Nona Meisha segera kembali pulih."
Mikel tidak menyahut namun ia mengamini perkataan Nathan di dalam hatinya. Berharap adiknya akan kembali seperti sedia kala, tidak peduli harus menunggu berapa lama. Tawa Meisha selalu ia rindukan selama bertahun-tahun lamanya dan berharap akan melihat senyum sang adik di usianya yang menginjak 27 tahun.
To be continue
Meisha
...Yoona minta dukungan kalian ya.. untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...