The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Lion Boys & Dragon Boys



The Cavern Club


Suara dentuman musik keras menggema ke seluruh ruangan yang berada di dalam club malam disertai lampu-lampu bermacam warna berkelap-kelip di dalam sana mengikuti hentakan musik. Sebagian pengunjung disana meliuk-liukkan tubuh dan saling menempel satu sama lain. Berbeda dengan beberapa pengunjung lainnya yang memilih menikmati minuman diiringi anggukan kepala karena terbawa suasana akan dentuman musik disana.


Dragon boys sudah datang lebih dulu dan tidak berselang lama Lion boys menempati tempat duduk mereka. Pandangan mereka mengedar ke setiap penjuru dimana orang-orang di bawah sana, baik wanita maupun pria menari dengan sensual.


"Dimana Jacob?" tanya Austin berteriak ketika tidak mendapati Jacob di tempatnya.


"Dia ke toilet." Dan dibalas teriak oleh Albern karena lengkingan musik yang begitu keras, sehingga suara mereka nyaris tenggelam.


"Sudah hampir satu jam dia berada di toilet," sambar Beryl, teringat ketika Jacob pamit kepada mereka sebelum Lion Boys bergabung.


"Ck, dia pasti sedang bersenang-senang disana," ujar Austin berdecak. Mereka sangat mengetahui kebiasaan Jacob yang tidak pernah berubah, yaitu bermain wanita.


Mereka terkekeh disertai kepala yang menggeleng karena sudah tidak heran dengan kelakuan temannya yang satu itu.


"Apa Lim tidak ikut bersama dengan kalian?" tanya Albern usai meneguk minumannya hingga tidak tersisa.


"Entahlah, dia bilang ingin ke toilet." Elden menyahut seadanya karena memang Liam pergi ke arah toilet. Entah benar atau tidak, Elden tidak ingin mengambil pusing.


Gavin baru saja meneguk segelas minumannya, meletakkan gelas kosong itu di atas meja dengan sedikit hentakan. "Biar aku yang mencarinya." Nampaknya Gavin tidak percaya begitu saja jika temannya Liam pergi ke toilet. Karena sejak tiba di Club, Liam seperti sudah memburu mangsanya. Gavin kemudian meninggalkan meja mereka dan menuruni tangga menuju arah yang dituju oleh Liam sebelumnya.


"Lihatlah, Gavin sudah seperti seorang Daddy yang mencemaskan putranya," seloroh Maxwell hingga mengundang gelak tawa mereka.


"Dan kau juga Al. Setelah 10 menit Jacob tidak kembali, kau sudah pasti akan mencarinya." Dan di balas ejekan oleh Devano.


Albern terdiam sesaat, kemudian mengangguk. Ia memang selalu mencemaskan Jacob jika temannya itu membuat masalah. "Kalau begitu aku akan mencarinya sekarang!" Lantas Albern melangkah meninggalkan meja, menyisakan kekehan teman-temannya saat ia berlalu. Sikap Albern sangat menyerupai Roy yang selalu mencemaskan Zayn, dan kini putranya Albern berlaku sama kepada Jacob.


Gavin lebih dulu tiba di toilet, ia mencari ke sudut ruangan namun tidak menemukan Liam disana. Hingga membuat penjaga yang memang mengenal Gavin segera menghampiri. "Ada apa bos Gavin?" tanya pria bertubuh kekar tinggi itu ketika melihat Gavin yang pandangannya kesana-kemari.


"Aku mencari Lim. Apa kau melihatnya?"


Dilayangkan pertanyaan seperti itu, penjaga tersebut menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hm, itu bos..."


"Itu apa? Katakan yang jelas!" seru Gavin kesal.


"Di VIP room."


"Oke, aku akan kesana," sahut Gavin kembali melangkah.


"Ta-tapi bos Gavin-" Baru saja penjaga itu ingin berbicara, tetapi Gavin lebih dulu berlalu. "Gawat jika bos Lim sampai marah." Penjaga itu semakin serba salah karena sebelumnya bos Liam telah mewanti-wanti dirinya agar diam saja ketika salah satu dari teman-temannya menanyakan keberadaannya.


Langkah Gavin dipercepat begitu berada di lorong VIP room. Entah di ruangan VIP mana Liam berada, Gavin hanya mengikuti instingnya. Gavin menarik handle pintu lalu sedikit mendorongnya, hingga pemandangan erotis terpampang di hadapannya.


"Uupps sorry, aku salah ruangan," seloroh Gavin tanpa rasa bersalah ketika sudah mengganggu pasangan yang tengah bermain kuda-kuda. Pasangan itu sempat mengumpat ketika Gavin sudah berlalu dan kembali menutup rapat pintunya. "Bukan salahku, mereka saja yang bodoh tidak mengunci pintunya," gerutunya di tengah ia melangkah.


Kemudian langkah kakinya berhenti di ruangan terakhir, sudah pasti Liam berada di dalam.


Brak


Gavin mendobrak pintu dengan kasar karena tidak memiliki batas kesabaran lebih lagi. Ia merasa sedang dipermainkan. Karena Liam, dirinya harus mencari kesana-kemari.


"What the fuckk!!" umpatnya seketika mendapati Liam di sana bersama dengan wanita-wanita seksi yang bergelayut manja. Bahkan Gavin dapat melihat jelas bagaimana Liam mencium rakus bibir salah satu wanita itu. Dan yang lebih membuatnya tercengang adalah keberadaan Jacob yang juga berada di ruangan yang sama dengan Liam.


"LIM!! JACOB!!!!" teriak Gavin penuh amarah. Bayangkan saja, tujuan mereka datang ke The Cavern Club untuk merayakan keberhasilan Devano, tetapi lihatlah justru kedua temannya itu bercumbu dengan wanita-wanita bayaran yang bekerja di Club.


"Astaga Gav, apa kau tidak bisa kecilkan suaramu?!!" protes Liam kesal. Suara Gavin yang mengejutkan itu membuat kegiatan panas yang terjadi di dalam terhenti ketika. Bahkan Liam dan Jacob kompak mendorong wanita-wanita yang bergelayut kepada mereka.


"Ck, bedebah kalian!" Namun Gavin kembali melontarkan kekesalannya.


"Sudah kuduga kau juga disini, Jac!" seru Albern berdiri di ambang pintu.


Gavin menolehkan kepalanya ke belakang. "Kenapa kau juga berada disini?!" tanyanya kepada Albern.


"Aku mengikutimu." Albern menjawab acuh. Ia tidak sengaja melihat Gavin yang pergi menuju sebuah lorong, karena penasaran ia pun mengikuti Gavin.


Gavin tidak menyahut kembali, perhatiannya kembali kepada sosok Liam yang masih dengan santainya duduk di antara wanita-wanita seksi itu.


"Hooamm, aku sudah mengisi tenagaku. Sebaiknya kita kesana." Berbeda dengan Jacob yang sudah berdiri merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku, ia berjalan melangkah menuju pintu, bahkan melewati Albern dan Gavin begitu saja.


Mereka berdua hanya menggelengkan kepala melihat kepergian Jacob tanpa beban karena sudah membuat mereka menunggu. Sebelum kemudian Albern mengikuti langkah Jacob meninggalkan VIP room.


"Lim, kau ingin ikut denganku atau ku kunci kau disini bersama dengan mereka?!" kata Gavin dengan kesal lalu melirik ke arah wanita-wanita bayaran seksi itu.


"Iya.... iyaa...." Dengan malas, Liam bangkit dan melangkah. Untuk menghilangkan kekesalan Gavin, ia merangkul bahu Gavin keluar dari ruangan.


"Kau sangat manis saat marah, Gav." Begitulah cara Liam membujuk Gavin.


"Sialan bittchhh!!" Dan Gavin mendorong tubuh Liam yang sedang merangkulnya. Ia merasa jijik setiap kali Liam menggodanya seperti itu. Hingga Liam tergelak dengan aksi candaannya yang selalu sukses membuat Gavin kesal.


***


Kini mereka sudah kembali ke tempat duduk. Gavin baru saja bercerita mengenai dirinya yang tanpa sengaja memasuki ruangan pasangan yang tengah bergumul di atas ranjang. Tentu reaksi mereka tergelak geli.


"Apa kepala dan adik kecilmu tidak berdenyut Gav?" tanya Beryl menggoda Gavin.


"Sialan!" pekiknya. "Aku akan melampiaskannya nanti!""


"Dengan siapa? Bermain solo?" Kali ini Austin menimpali pertanyaan.


"Tentu saja dengan Kim," seloroh Gavin asal.


"Pfffttt...." Elden yang baru saja meneguk minumannya gagal meluncurkan air beralkohol itu ke dalam tenggorokannya ketika mendengar nama sang adik disebut oleh temannya. "Kubunuh kau jika berani menyentuh Kim!!" serunya bahkan sudah bersiap melayangkan gelas yang di genggamnya tepat ke arah Gavin.


Kekesalan Elden membuat tawa Gavin menggelegar. "C'mon El. Aku hanya bercanda, lagi pula aku sudah menganggap Kim seperti adikku sendiri," katanya mengoreksi ucapannya. Kemudian tidak sengaja bersitatap dengan Liam yang menghunuskan sorot tajam kepadanya. "Slow bro, Livy juga sudah kuanggap seperti adikku." Gavin paham dengan tatapan Liam, tidak mungkin ia mendekati dua gadis yang sudah benar-benar ia anggap sebagai adik.


"Hahahaha...." Sungguh mereka tidak bisa menahan gelak tawa mereka. Hingga pada saat bersamaan Bene adik dari Beryl dan Aiden adik dari Albern baru saja datang.


"Kenapa baru datang?" tanya Maxwell kepada keduanya.


"Hahaha, Uncle Roy memang luar biasa." Jacob mentertawakan sikap Uncle Roy yang berubah menjadi lebih posesif. Berbeda dengan Uncle Jeff yang lebih santai.


Devano tidak mempedulikan tawa Jacob yang masih bertahan itu. Ia berbisik kepada Austin.


"Aku akan memanggil mereka," ujar Austin ketika Devano selesai berbisik. Satu tangannya mengayun memanggil penjaga yang berjaga tidak jauh dari tempat duduk mereka.


"Ada apa bos As?" tanya salah satu penjaga itu.


"Gratiskan semua pesanan pengunjung disini, karena Dev yang akan membayarnya."


Penjaga tersebut mengangguk, lalu segera pamit undur diri. Sedangkan yang lainnya hanya mampu termangu.


"Kau serius ingin membayar semua pesanan pengunjung, Dev?" Elden yang tidak percaya tentu memastikan secara langsung.


"Hm, apa ada masalah?" kata Devano menyahut.


"Oh God. Uncle Ed pasti akan terkena serangan jantung," seru Liam tertawa.


"Tapi Uncle Ed tidak akan jatuh miskin jika hanya mengeluarkan uang 1 Milyar dalam semalam." Dean yang sejak tadi diam dengan tenang mengeluarkan suaranya.


"Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi, Dev" ujar Jacob.


"Aku juga," timpal Maxwell.


"Sialan kalian!!" desis Devano menggeleng heran.


Dan setelah mengejek satu sama lain, mereka menikmati musik dan minuman masing-masing. Semua yang disana merasa senang karena mendapatkan minuman mahal gratis dan turut mengucapkan terima kasih dan selamat untuk Devano.


Mereka beramai-ramai turun ke bawah, menari dengan gila. Sehingga membuat para wanita terkesima akan ketampanan mereka masing-masing. Namun beberapa pengunjung pria menatap tidak suka kepada Lion Boys dan Dragon Boys yang menjadi pusat perhatian.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 malam, Arthur serta Darren masih berada di perusahaan. Malam ini mereka lembur menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan dua hari kedepan. Sejenak Arthur menyadarkan punggung tegapnya pada sandaran kursi, matanya terpejam dan jemarinya memijat pelipis yang dirasa sangat penat. Bagaimana tidak, sejak pagi mereka tidak keluar dari perusahaan, bahkan makan siang dan makan malam pun harus di antar oleh Gabriela di ruangannya.


"Der?" panggil Arthur masih dengan mata yang terpejam. Berharap rasa penat itu segera sirna meski sejenak.


"Hm?" Dan Darren menjawab dengan deheman, ia masih fokus dengan barisan angka di layar laptopnya.


"Kau sudah mengetahui posisi As dan yang lainnya?" tanyanya. Dua jam yang lalu Arthur mendapatkan pesan dari Sang Mommy jika adik bungsunya itu tidak kembali ke Mansion. Austin serta teman-temannya memiliki penthouse yang mereka singgahi ketika tidak sempat kembali ke Mansion, karena jarak penthouse lebih dekat dari kampus mereka.


"Mereka berada di The Cavern Club untuk merayakan keberhasilan sidang Dev," sahut Darren tanpa menoleh. Satu jam yang lalu, Elden baru saja bertukar pesan padanya jika mereka sedang bersenang-senang karena Devano mendapatkan nilai yang memuaskan.


Arthur mengangguk, tentu ia tidak akan melarang pemuda-pemuda itu untuk bersenang-senang. Terlebih mereka berada di Club milik sendiri, sehingga semua akan aman meskipun mereka membuat keributan.


Mendengar ponselnya berdering, Darren segera menjawabnya. Begitu menempelkan ponsel pada daun telinga, ia berkata, "Pastikan tidak akan ada yang tewas ditempat!" Lalu segera memutuskan sambungan telepon.


Arthur dapat mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Darren. Tatapannya menuntut jawaban kepada asisten sekaligus temannya itu.


"As dan teman-temannya memukuli enam pengunjung pria yang ingin membuat keributan di club," jawab Darren. Hanya dari sorot mata Arthur, ia sudah paham.


Arthur tidak terkejut, tanggapannya terkesan biasa saja. Terlebih adik beserta teman-temannya itu berada di ruang lingkup daerah kekuasaan Black Lion. "Pastikan saja mereka tutup mulut!"


Darren mengangguk, lalu mulai mengetik pesan kepada anak buah di club. Tentu saja untuk memberikan sejumlah uang kepada korban yang sudah dihajar habis oleh Austin dan teman-temannya.


To be continue


Lion Boys


Austin : Xavier


Elden : Nico


Gavin : Keil


Liam : Daniel


Dean : Jack


Devano : Edward




Dragon Boys


Jacob : Zayn


Albern & Aiden : Roy


Beryl & Bene : Jeff


Maxwell : Anthony


Devano : Edward





...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...