
Beberapa pria mengenakan penutup wajah, duduk menunggu di dalam mobil hingga target mereka keluar dari gedung berlantai delapan itu. Pada saat sebuah mobil yang tentunya sudah mereka selidiki terlebih dahulu nampak keluar dan berlalu dari area gedung. Mereka bergegas mengekor dalam jarak aman, hingga pada saat di jalanan yang benar-benar sepi mereka mulai beraksi dengan menghantamkan mobil mereka dengan mobil yang berada di depan.
Brak
Mobil Brandon berhasil terhantam, sehingga membuat mobil di depan mereka kehilangan keseimbangan. Tidak sampai disana saja, menambah kecepatan untuk menghadang mobil Brandon, sebelum kemudian berhenti secara mendadak.
"Hei kau!" Brandon membuka kaca mobil dan berteriak tidak terima. Sementara mata Carmela dibuat membulat penuh ketika empat pria terlihat keluar dari mobil dengan penutup kepala hingga menutupi wajah mereka, menyisakan kedua mata mereka saja.
"Brandon, bagaimana ini. Siapa mereka?" Carmela tiba-tiba menjadi panik, ia ketakutan jika akan terjadi hal yang buruk dengan mereka.
"Aku juga tidak tau siapa mereka. Aku merasa tidak mencari masalah dengan siapapun," sahut Brandon mengingat-ingat sejauh ini yang ia lakukan, karena ia merasa tidak pernah menyinggung siapapun.
"Keluar!!" Salah satu dari mereka menggedor-gedor kaca mobil. Hingga kian membuat Carmela bergidik ketakutan.
"Jangan Brandon, jangan keluar!" ucapnya menahan tangan tunangannya yang hendak membuka pintu.
"Tapi Carmel-"
"Aku takut Brandon. Bagaimana jika mereka menginginkan barang berharga kita?" Carmela mencegah, tentunya ia tidak ingin jika keempat pria itu merampas barang-barang berharga miliknya.
"Buka atau kami akan membakar kalian hidup-hidup di dalam mobil ini!" seru pria yang lainnya.
Deg
Sontak Carmela serta Brandon terkesiap. Di bakar hidup-hidup? Tidak. Carmela menggeleng, ia tidak ingin sampai mereka membakar mobil, dirinya dan Brandon bisa mati konyol jika memilih berlindung di dalam mobil. Jika sebelumnya wanita itu menahan tangan Brandon, mencegah agar tidak keluar dari mobil, kini Carmela justru mendorong tubuh Brandon.
"Cepatlah kau keluar. Kau tidak ingin kita dibakar hidup-hidup di dalam mobil, bukan?" Setidaknya mereka akan aman, jika menuruti keempat pria tersebut. Ia yakin jika Brandon bisa mengurus keempat pria itu.
Mau tidak mau, Brandon keluar dari mobil, wajahnya sedikit kebingungan sekaligus merasa bergidik ngeri karena harus menghadapi empat pria sekaligus.
"Kenapa kalian menabrak mobilku?!"
BUGH!
Namun alih-alih sebuah jawaban yang Brandon dapatkan, ia justru mendapatkan bogeman tepat di wajahnya.
"Pria pengecut sepertimu tidak pantas mengendarai mobil semewah ini!!" seru seseorang yang baru saja melayangkan tinjunya.
Brandon mengusap sudut bibirnya yang berdarah, kebingungan kian bertambah mendengar penuturan pria tersebut. Apa hubungannya dengan sebuah mobil dengan dirinya yang pengecut? pikirnya.
"Apa maksudmu?!" tanya Brandon kemudian, berharap memudarkan rasa kebingungannya.
"Tidak perlu banyak bertanya!"
BUGH
BUGH
Satu di antara mereka sudah tidak dapat bersabar lebih lama lagi, sehingga turut melayangkan tinjunya berulang kali tepat di wajah serta perut Brandon. Di dalam mobil, Carmela menyaksikan tunangannya dipukuli secara bertubi-tubi, wanita itu hanya bisa berteriak histeris. Ingin rasanya menghampiri mereka, akan tetapi nyalinya begitu menciut.
Terbesit pikiran untuk menghubungi seseorang, namun baru saja memegang ponselnya, salah satu pria bertopeng itu mengetuk-ngetuk kaca mobilnya, hingga membuatnya tersentak.
"Keluar!" perintahnya kepada Carmela hingga membuat wanita itu menjadi panik. Alih-alih keluar dari mobil, ia justru mengunci pintu mobil dari dalam.
Pria itu berdecak sinis. "Tidak masalah jika kau tidak ingin keluar, tapi kau akan melihat mayat kekasihmu itu!"
Carmela terhenyak, itu artinya mereka benar-benar ingin melenyapkan Brandon. Kepala Carmela menggeleng berulang kali. Ia tidak ingin sesuatu terjadi kepada Brandon.
"Arrrghhhh....." Suara Brandon yang penuh kesakitan itu semakin membuat Carmela tidak berdaya. Sehingga akhirnya wanita itu tidak memiliki pilihan lain, selain mengikuti perintah pria tersebut. Carmela segera keluar dari mobil dengan wajah yang pucat pasi.
"A-aku sudah keluar, tolong lepaskan tunanganku," pintanya tergagap. Merasakan aura pria tersebut tubuhnya merinding seketika.
"Seharusnya kau menurut sejak awal, jadi aku tidak perlu membuang tenagaku!" seru pria itu berdecak kesal.
"Tolong lepaskan dia." Carmela menangkupkan kedua tangannya, tidak pedulikan penuturan pria tersebut.
"Biarkan teman-temanku puas menghajarnya. Lagi pula dia tidak akan tewas," ujarnya tersenyum smirk. Terlebih ketika melihat pria itu sudah tersungkur tidak berdaya. Lalu pandangannya kembali beralih pada Carmela "Sekarang giliranmu," sambungnya kemudian.
Carmela terkesiap, ia sontak mundur beberapa langkah. "Apa maksudmu?"
Carmela bersedekap, berusaha melindungi dirinya sendiri. Ekor matanya melirik ke kanan dan ke kiri, berharap akan ada pengendara lain yang melesat dan ia bisa meminta pertolongan.
"Ck, apa kau menunggu pengendara lain melewati jalan ini?" tanya pria itu menduga dan diamnya Carmela menjadi jawaban atas pertanyaannya. "Kami sudah memblokir tempat ini, jadi jangan berharap orang lain akan membantu kalian!"
Tidak menghiraukan wajah ketakutan Carmela, pria itu perlahan mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya. Hingga kedua mata Carmela dibuat membeliak penuh saat ia melihat sebuah gunting berukuran cukup besar menampakkan ketajaman benda tersebut.
"U-untuk apa gunting itu?" Carmela semakin menjauhkan dirinya dari pria gila tersebut.
"Menurutmu apa yang bisa kulakukan dengan gunting ini?" Lalu menjulurkan gunting itu kepada Carmela.
Ketakutan Carmela semakin menjadi, tangannya berusaha menjangkau handle pintu mobil. Namun lebih dulu disadari oleh pria bertopeng itu, sehingga tangannya menggebrak mobil.
Carmela terperanjat kaget, pria itu sukses membuat jantungnya berhenti berdetak. Tangannya yang baru saja menggapai handle mobil itu ditarik kembali. Kini lebih baik ia berusaha untuk melarikan diri, menghindari pria gila itu.
Carmela memang berhasil berlari akan tetapi hanya sesaat saja. Tangan besar pria itu menarik rambut panjang Carmela, hingga detik kemudian,
Krek
Rambut indah milik Carmela digunting begitu saja dengan asal. Tidak hanya sehelai, hampir seluruh rambut yang berhasil di gunting.
"AARGHH... TIDAAKK...!!" Carmela menyentuh rambutnya tatkala merasakan keanehan pada rambutnya. Benar saja, rambut panjang terurainya itu di gunting dengan asal, bahkan bentuk rambut wanita itu tidak beraturan seperti sebelumnya. "Apa yang kau lakukan dengan rambutku?!" pekiknya kemudian histeris. Ia bahkan dapat melihat pantulan dirinya dari kaca mobil, rambut pirang lurus miliknya kini nampak pendek sebahu tidak beraturan panjang dan pendeknya.
"Tidak! Keparat! Bajingan! Kembalikan rambutku!" teriaknya kemudian.
Pria tersebut terkekeh puas. "Kau ingin ini?" Menunjukkan rambut panjang yang sudah terpisah dari kepala wanita itu. "Ambil saja, aku tidak membutuhkannya." Lalu melemparkan potongan rambut pirang itu kepada pemiliknya.
Carmela berusaha menjaga kesadarannya ketika rambut pirangnya berhamburan di aspal. Menatap nanar pada helaian demi helaian di bawah kakinya. "Tidak, rambutku...." Seolah kehilangan kewarasannya, Carmela berusaha memunguti satu persatu potongan rambut miliknya. Rambut yang menjadi kebanggaan dirinya selama ini, yang selalu menambah kecantikan wajahnya. Sejak dulu ia selalu merawat dan membiarkan tumbuh panjang. Tetapi kini rambut berharganya telah digunting oleh pria asing gila.
Sementara sang pelaku sudah melangkah menjauh dari Carmela. Membiarkan wanita itu dengan gilanya memungut rambut-rambut yang tidak mungkin dapat tersambung seperti semula. Pria tersebut hanya melirik ke arah Brandon yang sudah tidak sadarkan diri, lalu menyusul ketiga teman-temannya yang sudah menaiki mobil kap terbuka dengan baper depan yang nyaris ringsek tidak berbentuk sempurna seperti sebelum dihantamkan kepada mobil kedua pasangan menjijikan itu.
"Kita pergi dari sini!" katanya setelah tubuhnya sudah masuk ke dalam mobil.
Mobil tersebut segera berlalu meninggalkan Carmela serta Brandon. Wanita itu terlalu meratapi rambutnya hingga mengabaikan keberadaan Brandon yang tergeletak di atas aspal dengan memar di sekujur tubuhnya.
"Hahahaha aku puas sudah menghajar pria pengecut itu." Salah satu dari mereka membuka penutup kepala serta wajah itu, disusul oleh ketiga lainnya. Wajah tampannya terekspos sempurna, menampakkan lesung pipitnya. Pemuda tampan itu tidak lain ialah Elden.
"Dia pantas menerimanya karena keluarganya sudah menghina Kak Elie dan menghina keluargamu," sambung Gavin.
"Dan aku hampir tertawa saat kau berhasil menggunting rambut wanita itu, As." Liam tergelak, sungguh ia ingin turut bergabung jika saja sebelumnya Austin tidak memperingati dirinya untuk tidak ikut campur.
Nampak seringai di sudut bibir Austin, tangannya mengusap-usap dagunya. "Pelajaran itu belum seberapa, tapi pantas diterima mereka karena sudah berani menghina Kak Elie dan keluargaku."
"Dan aku yakin setelah kembali dari Istanbul, Bos Ar akan memberikan pelajaran kepada keluarga bodoh itu," seru Liam masih mempertahankan tawanya. Perkataannya di angguki oleh Elden serta Gavin, berbeda dengan Austin yang hanya tersenyum tipis. Sudah pasti kakaknya itu tidak akan tinggal diam ketika keluarga mereka dihina.
To be continue
Austin (As) -- Putra dari Xavier
Elden (El) -- Putra dari Babang Nico
Gavin (Gav) -- Putra dari Babang Keil
Liam (Lim) -- Putra dari Babang Daniel
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...