
Beberapa hari berlalu setelah pernikahan, Darren serta Veronica berbulan madu ke Paris. Sudah terhitung dua hari mereka berada di Kota Cinta itu. Keduanya adalah pasangan suami istri yang tengah dimabuk cinta, sehingga mereka banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Dan malam ini mereka memutuskan akan mengunjungi Menara Eiffel. Wanita itu begitu bersemangat, sebab tidak ingin melewatkan momen romantis. Begitu selesai membersihkan diri usai bercinta, wanita itu keluar dari kamar mandi hanya dengan bathrobe.
Lantas ia segera membangunkan Darren yang masih bertelungkup diatas ranjang.
"Sayang, cepatlah mandi." Veronica mengguncang bahu suaminya itu.
"Hmm...." Namun yang didapatkan hanya deheman saja.
"Ck...." Wanita itu berdecak sembari berkacak pinggang. Sebelumnya Darren begitu bersemangat menggempurnya hingga beberapa ronde. Tetapi justru pria itu juga yang kelelahan.
Diguncangnya kembali punggung Darren dan lagi-lagi pria itu hanya berdehem tanpa berniat ingin beranjak.
"Baiklah, jika kau tidak ingat bangun juga. Aku akan pergi ke Menara Eiffel sendirian saja." Veronica berbalik badan, ia menunggu reaksi sang suami saat dirinya mengatakan hal demikian.
"Jangan!" Seketika Darren segera bangun dari tidurnya. Pria itu beranjak duduk dan menyipitkan tatapan pada sang istri. "Jangan pergi kemana pun tanpaku. Mengerti?!" Ditekankan perkataanya itu agar istrinya mengingatnya sampai kapanpun.
Veronica mengangguk pelan. Ia memasang wajahnya dengan sendu.
"Aku akan mandi. Tidak akan lama, hanya 10 menit saja," ujarnya beranjak dari ranjang. Ternyata Darren sudah mengenakan boxer, pria itu berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Saat pintu kamar mandi tertutup, wajah sendu Veronica memudar dan tergantikan dengan senyum mengembang di wajahnya. Ia hanya berpura-pura saja mengatakan akan pergi seorang diri dan ia sangat puas dengan respons suaminya yang begitu peduli dan ingin selalu melindunginya.
"Ah, dia benar-benar suami idaman." Menangkup wajahnya, Veronica tidak bisa untuk tidak mengagumi sosok suaminya yang sempurna itu.
Sudah cukup mengagumi suaminya. Saat ini ia harus berpakaian sebelum Darren menyelesaikan mandinya dan pada akhirnya akan menerkam dirinya kembali.
Tak lama setelah Veronica mengambil pakaiannya di dalam lemari, Darren keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Pandangannya tertuju pada sang istri yang sudah berpakaian dan sedang merias diri. Bibir Darren membetuk lengkungan tipis saat mendapati pakaiannya sudah disiapkan diatas ranjang. Pakaian hitam yang senada dengan istrinya itu. Dan ia tidak mempermasalahkan pakaian mereka yang bisa dikatakan couple.
Darren segera berpakaian, ia mengenakan celana jeans hitam terlebih dulu, lalu t-shirt hitam dan setelahnya menyemburkan parfum sekitar lehernya.
"Sudah selesai, hm?" tanyanya kemudian mendekati Veronica.
Melalui pantulan cermin, Veronica mengangguk. Dan Darren menyentuh bahu sang istri yang terbuka. "Pakailah jaket."
Kembali mengangguki perkataan Darren, wanita itu segera berdiri dari tempat duduk rias. Ia ingin mengambil jaket miliknya yang berada di atas ranjang, akan tetapi Darren lebih dulu mengambilkan untuknya dan segera memasangkannya ke tubuhnya.
"Terima kasih." Veronica mengapit rahang Darren, lalu memberikan kecupan disana.
Darren mengangguk. Lantas ia segera mengenakan jaket kulit miliknya. Ia segera mengenakan topi berwarna hitam, sebelum kemudian keduanya segera berlalu dari hotel tempat mereka menginap.
***
Setibanya di Menara Eiffel, banyak sekali sekerumunan pengunjung yang memenuhi tempat tersebut. Beberapa dari mereka terlihat mengabadikan keindahan Menara Eiffel di dalam ponsel mereka masing-masing. Pun dengan Veronica, wanita itu ingin membuat status di sosial media miliknya. Ia memotret dirinya dengan Darren. Meskipun Darren memalingkan wajahnya, akan tetapi masih terlihat sangat tampan, memperlihatkan rahang tegas yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu tipis.
Sebelum mempostingnya, Veronica tersenyum tipis menatap foto mereka kembali. Lalu mempostingnya dan menuliskan caption 'Honeymoon with my hubby'. Dalam beberapa menit saja sosial media milik Veronica dibanjiri like dan komentar. Komentar-komentar iri dari mereka membuat Veronica terkekeh-kekeh.
"Suamiku memang tampan. Awas aja jika kalian benriai menggoda suamiku." Meski bergumam, tetapi Darren dapat mendengarnya. Ia hanya menipiskan senyumnya. Membiarkan sang istri membalas komentar-komentar para fansnya.
Pandangan Darren diedarkan kesegala arah, meskipun ia dan Arthur sering kali mengunjungi Paris, akan tetapi mereka jarang sekali datang ke Menara Eiffel.
Pusat pandangannya terhenti pada sosok pria yang tiba-tiba saja berhenti melangkah tidak jauh dari posisi mereka. Pria berpakaian hitam itu berjalan kesana-kemari dan sesekali mengangkat kepalanya untuk menatap ujung Menara Eiffel. Kemudian bersiul dan kembali berjalan kesana-kemari. Dan pria itu sudah berada tepat di hadapan Veronica yang masih fokus pada ponselnya.
Grep
Pergelangan tangan pria itu ditangkap oleh Darren ketika berusaha menjangkau ponsel istrinya. Sedari tadi ia mencurigai pria itu sebagai pencopet dan terbukti benar. Pencopet di kota-kota besar Eropa berpenampilan layaknya pengunjung dengan pakaian yang terlihat serba mewah, sehingga tidak mudah untuk dicurigai.
Apa yang dilakukan Darren, tentu saja membuat Veronica terkejut. Ia melangkah mundur dan berlindung di belakang suaminya itu.
"Lepaskan tanganku, berengsek!!" hardik pencopet itu, berusaha menarik tangannya yang dicengkeram kuat oleh Darren.
"Tidak akan!" sahut Darren disertai tatapan tajam. "Jika perlu akan kupatahkan tanganmu saat ini juga!" Dan ia semakin mencengkram kuat tahan pencopet tersebut.
Glek. Pencopet tersebut menelan saliva dengan berat. Sepertinya kali ini ia salah menargetkan korban, biasanya saat bereaksi tidak ada yang menyadarinya. Tetapi pria itu sungguh jeli sehingga dapat menggagalkan aksinya.
"Sialan!" desisnya tersulut emosi. Ia mencoba menendang Darren, akan tetapi gagal.
BUGH
Darren meninju wajah pencopet itu hingga menyemburkan percikan darah. Dan pria itu terlihat meludahkan darah dari sudut bibirnya. "Cih, rupanya kau mencari mati!" sungutnya. Sebelum kemudian bersiul entah untuk apa. Namun tak lama setelahnya, tiga pria datang menghampiri. Mereka menatap nyalang pada Darren.
"Kita berikan dia pelajaran karena sudah memukulku!"
Darren menanggapi dengan santai. Mereka hanya sekumpulan lalat yang tidak berguna. Mengambil milik orang lain, lalu jika sudah tersudut mencoba untuk mengintimidasi korbannya. Sialnya mereka bertemu dengan dirinya, jika orang lain maka sang korban sudah pasti akan dihajar habis-habisan.
Veronica meremass ujung jaket suaminya, lantas Darren menundukan kepala untuk menatap wajah sang istri.
"Tidak apa. Mereka harus diberikan pelajaran agar tidak berulah lagi." Darren mencoba memberikan pengertian.
"Tapi-"
Sebelum Veronica melanjutkan kalimatnya, Darren lebih dulu meminta sang istri untuk berlindung di belakangnya. Karena mereka sudah bersiap untuk menyerangnya. Ketiganya melayangkan pukulan, akan tetapi mampu ditepis oleh Darren secara bergantian.
"Sialan!" Mereka mengeram tidak terima.
Alih-alih memisahkan, para pengunjung yang melihat perkelahian Darren dengan beberapa pria, berbondong-bondong menjauh. Mereka tidak ingin terlibat yang bukan urusan mereka.
BUGH
BUGH
BUGH
Empat lawan satu? Pada akhirnya Darren-lah pemenangnya. Pria itu menghajar mereka dengan sikapnya yang tenang dan tidak membiarkan mereka melayangkan pukulan padanya. Bahkan beberapa dari mereka sudah dibuat patah tulang.
KREK
"Aarrgghh...!!!" Teriakan dari komplotan yang merupakan bos mereka terdengar memekakkan telinga. Bagaimana tidak teriak jika satu tangannya diinjak kuat oleh Darren.
"Kalian sedang sial bertemu denganku!" ujarnya sinis. Sebelum kemudian menghampiri Veronica yang menatapnya tanpa berkedip.
"Ada apa, hm?" Kesadaran Veronica tidak akan kembali dengan cepat jika saja suara Darren tidak menyadarkannya.
Wanita itu mengerjapkan mata berulang kali. "Kau keren sekali. Mereka memang pantas mendapatkan ganjarannya." Veronica bukannya tidak tahu apapun mengenai para pencopet yang meresahkan di kota cinta itu. Karena banyaknya papan peringatan yang terpampang dimana-mana. Hanya saja tadi ia tidak begitu memperhatikan sekitar lantaran terlalu terfokus pada ponsel.
Darren melepaskan topinya, lalu memakaikannya dikepala sang istri. "Ayo, kita pergi dari sini." Merangkul pundak istrinya itu sebelum memprotes perkataannya.
Mood Darren sudah dibuat rusak oleh mereka, sehingga ia ingin segera pergi dari sana. Veronica menurut saja, ia mengerti mood suaminya yang menjadi buruk setelah perkelahian mereka.
Langkah wanita itu tiba-tiba terhenti lantaran Darren melepaskan rangkulannya. Pria itu menepi di bawah pohon-pohon rindang dan terlihat menahan rasa mual.
"Sayang, kau baik-baik saja?" Veronica berjalan mendekati dan wajah wanita itu menampakkan kepanikan. Bagaimana tidak panik jika tiba-tiba saja suaminya mual-mual seperti itu.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja sejak kemarin aku selalu merasa mual dan tubuhku sedikit lemah." Darren sebenarnya tidak memiliki maksud untuk menyembunyikan keluhan yang ia rasakan pada tubuhnya. Dan sebelumnya ia memang sudah muntah-muntah saat istrinya itu sedang tidur.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" Veronica menjadi kesal. Jika saja ia tahu jika suaminya sedang tidak dalam kondisi sehat, ia tidak akan memaksa untuk pergi keluar.
"Sudah kukatakan aku baik-baik saja, sayang." Meski mengucapakan kalimat untuk menenangkan Veronica, wajah Darren tidak dapat membohongi. Wajah pria itu nampak pucat.
"Kalau begitu kita kembali ke hotel saja." Ya, Veronica tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada suami tercintanya.
Darren hanya mengangguk kecil. Kemudian kembali melanjutkan langkah menuju taksi dan kembali ke hotel. Namun setibanya di hotel, Veronica justru dibuat bingung lantaran wajah Darren sudah segar kembali dan tidak pucat seperti sebelumnya.
Begitu tiba di kamar hotel, Darren memerangkap Veronica ke dinding dan mencumbu bibir istrinya itu. Meskipun terkejut, tetapi Veronica membalas ciuman Darren. Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa jika gairah suaminya semakin besar saja. Tetapi ia tidak dapat menolak dan bahkan selalu menikmati sentuhan-sentuhan dan kenikmatan yang diberikan suaminya untuk menggapai pelepasan bersama.
See you next bonus chapter
Nah lho, ada apa dengan bang Darren? 😅 Maaf guys lagi-lagi Yoona mendadak polos ðŸ¤
Cuss mampir ke novel teman Yoona yang kece ini yaaa.....
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...