The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Pertemuan Kembali




Mobil yang dikendarai oleh Austin sudah tiba di pelataran Mansion. Keempatnya segera turun dari mobil serempak. Langkah mereka untuk memasuki Mansion terurungkan ketika sebuah mobil mewah melintasi gerbang dan memasuki pelataran dan terpakir tidak jauh dari mobil milik Austin.


Kedua mata Austin mendelik, ia sangat yakin jika yang di dalam mobil itu adalah tamu penting yang dikatakan oleh Sang Kakak. Tidak ingin banyak bertanya, Austin menunggu mereka turun dan memastikan siapa tamu itu. Dan ketika melihat empat penumpang di dalam mobil tersebut, kedua mata Austin dibuat terkejut.


"Kak Ar, mereka benar-benar Paman Matt dan Bibi Aprille?" Sungguh lidah Austin mendadak kelu, ia tidak percaya apa yang dilihatnya. Sebab setau dirinya serta keluarganya, Keluarga Jhonson sudah tiada.


"Hmm...." Dan Arthur menjawab dengan deheman. Ia merengkuh pinggul Helena, menunggu keluarga itu menghampiri dirinya.


"Ar...?" Sebuah suara yang sangat lembut seperti Mommy Elleana mendayu di telinga Arthur. Dan setelah sekian lama Arthur serta Austin kembali mendengar suara Bibi Aprille.


"Selamat datang Paman.... Bibi...." sapa Arthur tersenyum simpul. Yang di balas senyum oleh Matthew dan juga Aprille.


"Kau tau kami akan datang dan kau tidak terkejut dengan kedatangan kami yang tiba-tiba?" Pertanyaan Aprille cukup mewakili pertanyaan yang tidak bisa dilontarkan oleh Matthew.


"Mike sudah memberitahu sebelumnya," sahut Arthur. Memang sebelumnya Mike sudah menghubungi dirinya dan menceritakan segalanya mengenai kunjungan mereka.


Matthew dan Aprille mengangguk. Pantas saja Arthur tidak terkejut. Berbeda dengan Austin yang masih terpaku di tempatnya.


"Sebaiknya kalian segera masuk." Sembari mengulas senyum tipis kepada Matthew dan Aprille. Pandangan Arthur bergulir kepada sosok wanita yang sebaya dengannya serta Elie. Ia sudah bisa menebak jika wanita itu adalah Meisha, karena parasnya tidak berubah. Dan ia mengenal pria yang berdiri di sisi Meisha, yang tidak lain ialah Nathan. Tetapi kemana si bodoh itu? Tidak mungkin jika pria itu benar-benar melakukan rencananya, pikirnya.


Tidak ingin mengambil pusing, Arthur segera melangkah bersama dengan Helena. Austin ingin sekali menyapa Aprille dan Matthew, tetapi ia sudah di panggil oleh Arthur untuk segera menyusulnya.


Keluarga Jhonson dan Nathan memasuki Mansion. Tubuh Matthew dan Aprille mendadak gemetar seketika, sudah lama sekali mereka tidak menginjakan kaki di Mansion mewah milik sahabat mereka. Rasanya benar-benar seperti mimpi, mereka masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan sahabat-sahabat mereka.


"Ar, kau sudah disini?" Elleana tertegun melihat Arthur sudah pulang. Pasalnya putranya itu hanya mengatakan akan kembali sore hari ketika tamu penting akan datang. "Helen sayang, kemarilah. Kau pasti lelah, Mommy sudah membuatkan minuman kesukaanmu." Elleana menggandeng tangan Helena, lalu memberikan minuman buatannya kepada sang menantu. Helena tersenyum sembari mengambil gelas yang disodorkan padanya, lalu meneguk secara perlahan. Sungguh perlakuan Mommy mertuanya itu selalu saja membuat kedua mata Helena mengembun. Wanita itu selalu menerima kasih sayang yang berlimpah semenjak menjadi bagian dari Keluarga Romanov.


"Terima kasih Mom. Ini segar sekali. Maaf merepotkan Mommy," cicit Helena merasa tidak enak hati. Semenjak masuki keluarga ini, ia tidak pernah di perbolehkan membantu melakukan pekerjaan di dapur.


"Kau ini bicara apa. Aku merasa tidak direpotkan karena aku suka melakukannya. Membuat makanan dan minuman kesukaan kalian adalah kesenangan untukku." Mommy Elleana tersenyum tulus. Wanita paruh baya itu begitu mencintai keluarganya.


"Mom, dimana Dad?" Arthur menyela. Ia mengitari pandangannya ke sekitar dan tidak menemukan Sang Daddy yang selalu menempel pada Mommy-nya.


"Mungkin di ruangan latihan. Belakangan ini Daddy-mu senang sekali berlatih seorang diri. Mungkin dia merindukan masa-masa ketika muda dulu." Mengingat masa muda mereka membuat Mommy Elleana terkekeh dan hal itu membuat Helena yang berjarak begitu dekat dengan Mommy mertuanya hanya bisa terpana.


Benar-benar cantik, pantas saja melahirkan anak-anak yang tampan dan cantik, batinnya.


Arthur mengangguk mengerti. "Mom, tamu yang kukatakan sudah datang. Mereka menunggu di ruang tamu."


"Astaga Ar." Mommy Elleana menepuk keningnya. "Kenapa tidak kau katakan sejak tadi? Kasihan sekali mereka diabaikan." Buru-buru Elleana meninggalkan dapur untuk menemui tamu penting yang dikatakan oleh Arthur.


"Sweety mau kemana?" Dan kebetulan sekali berpapasan dengan Daddy Xavier dengan penampilan yang sudah nampak lebih segar.


"Ah Hubby, tamu yang dikatakan Ar sudah datang. Kita harus menemui mereka." Mommy Elleana kemudian merangkul lengan suaminya. Ia sangat penasaran tamu penting yang dikatakan putranya. Arthur tidak mengatakan apa-apa, hanya mengatakan jika keluarga temannya akan datang berkunjung.


Xavier mengikuti langkah istrinya saja, sejujurnya ia sangat malas menemui tamu yang tidak diketahui itu. Senyum Elleana mengembang ketika melihat tamu-tamu itu sedang berbicara dengan Austin di temani oleh Jolicia. Yang menjadi pusat perhatian Elleana adalah sosok wanita seusia dirinya yang duduk di kursi roda.


"Ah maaf, aku dan suamiku baru menemui kalian, Ar baru-" Kalimat Elleana terputus, ia terkejut bukan main ketika melihat ketiga sosok yang tidak asing menoleh bersamaan.


Tidak hanya Elleana saja, bahkan Xavier pun membulatkan matanya. Keduanya berusaha mengerjapkan mata, mengira jika mereka telah salah melihat.


"Aprille... Matt.... benarkah ini kalian?" tutur Elleana lirih. Menatap kedua sahabatnya yang di ketahui telah tewas. Bahkan saat suaminya mengatakan hal demikian membuat Elleana sulit untuk menerima dan meraung di dalam pelukan Xavier. Selama dua hari dirundung kabar duka, Elleana baru beraktivitas kembali dan mulai menerima takdir yang menimpa Matthew serta Aprille.


"Aku benar-benar Aprille dan ini suamiku Matt." Aprille tidak dapat membendung air matanya. Sejak tadi ia sudah menahan air matanya agar tidak lolos, tetapi begitu melihat Elleana dan Xavier, pertahanannya luntur sudah, Aprille membiarkan air matanya menggenangi sudut mata dan wajahnya.


"Astaga, Aprille." Air mata Elleana sudah terlihat membanjiri wajahnya. Jika kedua wanita itu melemparkan wajah sendu dan menumpahkan air mata, berbeda dengan Xavier dan Matthew yang saling melayangkan tatapan entah, hanya mereka yang tahu.


Elleana hendak melangkah mendekati Aprille, namun langkah Xavier lebih dulu melintasi sang istri dan melangkah tegas yang terselip kemarahan.


BUGH


Satu pukulan yang dilayangkan Xavier tepat mengenai sudut bibir Matthew. Meski pukulan Xavier tidak begitu keras, tetapi cukup membuat Matthew merasakan nyeri.


"Hubby?!!" Elleana berteriak tidak percaya ketika suaminya itu tiba-tiba saja memberikan pukulan di wajah Matthew.


"Vier...." Dan Aprille hanya bisa menatap lirih suaminya di pukul seperti itu. Ia ingin protes tetapi tidak bisa bertindak apapun. Sedangkan Nathan yang sedari tadi diam menyaksikan menggenggam tangan Meisha untuk menenangkan wanita yang tengah terkejut itu.


Dan Austin hanya menikmati suguhan secara live, melirik ke arah Jolicia yang meringis melihat pertengkaran di hadapannya.


"Kenapa kau baru datang?! Kemana saja kau selama ini, hah?!" Xavier menyahut kerah kemeja Matthew. Dan pria itu hanya bisa tertunduk tanpa membalas tatapan tajam Xavier. "Apa kau tau, aku dan Ar mencari kalian hingga ke ujung dunia. Istriku sangat terpukul mengetahui kalian sudah tewas!" Dan Matthew tidak melakukan perlawanan, membiarkan sahabatnya itu memaki sepuasnya.


"Ar, Honey... bagaimana ini. Apa kau tidak ingin menghentikan Daddy?" Helena yang menyaksikan hal itu merasa cemas. Ia meremmas lengan kemeja suaminya yang digelung hingga ke sikut.


"Biarkan saja. Dad memiliki caranya sendiri untuk melampiaskan kekesalannya." Arthur lebih paham Daddy-nya itu. Kurang lebih sifat Daddy Xavier menurun padanya, hingga ia pun selalu melakukan hal yang tidak terduga.


Melihat reaksi Matthew yang hanya diam saja, membuat emosi Xavier kian menjadi. Ia mendorong Matthew hingga pria itu terhempas. "Kenapa kau bodoh sekali! Kau menghadapi pria keparat itu tanpa meminta bantuanku. Apa kau berpikir jika kau sudah cukup hebat, heh?!" Teriakan Xavier menggema dan memenuhi ruang tamu luas kediamannya. Ia begitu marah kepada Matthew, sebab selama yang ia tahu jika Matthew selalu menghindari pertikaian dengan siapapun itu dan lebih memilih mengalah alih-alih harus terlibat pertengkaran ataupun baku hantam. "Arrghhh....siaall! Keparat!!" Xavier mengusap wajahnya, kedua matanya terasa sangat panas seperti sesuatu hendak tumpah dari sana.


"Kemarilah sialan! Kau benar-benar membuatku kesal!" Xavier kemudian memeluk Matthew dan sialnya air matanya mengalir begitu saja, lolos dari penampungannya. Xavier hanya pernah menangis tiga kali dalam hidupnya, yaitu pada saat istrinya terbaring koma, Jennifer menikah dan kali ini ketika sahabatnya Matthew kembali dalam keadaan hidup.


Matthew pun tak kuasa menahan air matanya. Sedari tadi ia tidak melakukan perlawanan karena membiarkan Xavier melampiaskan kekesalan sekaligus kegundahannya selama ini. Ia tahu jika Xavier tidak bersungguh-sungguh memukul dirinya.


Tangan Matthew membalas pelukan Xavier dan menepuk punggung Xavier berulang kali. Ia baru tahu ternyata sosok yang selama dikenal tegas dan dingin bisa rapuh ketika kembali bertemu dengannya.


Para wanita yang menyaksikan tak kuasa menahan linangan air mata mereka. Elleana kemudian melangkah mendekati Aprille.


"Aku juga senang bisa bertemu lagi denganmu dan kalian semua. Aku sangat takut jika saat itu benar-benar tiada dan tidak dapat bertemu dengan kalian lagi, aku... hiks..." Aprille sesegukan. Rasa sesak yang menghimpitnya kini seperti menguap dan ia bisa merasakan kelegaan di dalam rongga dadanya.


Elleana mengurai pelukan mereka. "Sudah jangan menangis lagi," katanya sembari menyeka air mata yang berlinangan di wajah Aprille.


"Aku menangis bahagia," sahut Aprille menyelipkan senyuman.


"Nona, jangan menangis." Nathan mencoba menenangkan Meisha yang terisak.


"Ba-bagaimana aku tidak menangis, aku benar-benar bahagia bisa melihat Mommy dan Daddy berkumpul bersama teman-teman mereka agi."


Nathan menanggapi dengan senyuman. Merogoh sapu tangan di dalam saku jasnya, lalu memberikannya kepada Meisha. "Pakailah dan bersihkan air mata Nona."


Meisha meraih sapu tangan milik Nathan. Aroma parfum dari sapu yang pria itu menyeruak di indera penciumannya. "Kenapa harum sekali?" cicitnya polos sembari mengusap air mata mengunakan sapu tangan itu.


Dahi Nathan mengernyit, ia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Meisha.


"Sudahlah jangan menangis lagi. Wajahmu semakin jelek saat menangis."


Bibir Jolicia mencebik ketika Austin justru meledeknya alih-alih menghibur dirinya. "Tapi ini mengharukan sekali. Setelah sekian lama tidak bertemu, akhirnya mereka dipertemukan lagi. Ini seperti kisah yang kubaca di dalam novel."


"Ck, kau terlalu banyak membaca buku membosankan itu." Tangan Austin terlipat di depan dada, memperhatikan Daddy Xavier dan Paman Matthew yang sudah saling mengurai pelukan.


Jolicia tidak menyahut, ia sibuk membersihkan sisa-sisa air mata di wajahnya.


***


"Katakan padaku, kemana saja kalian selama ini? Kenapa tidak memberitahuku? Dan kenapa baru datang sekarang?!" Xavier memberondong banyak pertanyaan kepada Matthew dan Aprille setelah membiarkan Meisha, Nathan, Austin dan Jolicia menyingkir dari sana. Aprille tidak ingin menceritakan masa lalu di depan Meisha. Karena tidak ingin mengingatkan putri mereka akan peristiwa yang mengguncang psikis Meisha.


"Maafkan kami, semua itu bukan keinginanku dan Matt." Kemudian Aprille mulai memberitahu segalanya. Yang disana nampak tenang mendengarkan sekaligus tidak percaya dengan peristiwa mengerikan itu. Termasuk kejadian yang menimpa Meisha.


"Jadi kau tidak bisa bicara Matt? Pantas saja sejak tadi kau hanya diam saja." Xavier menangkup wajahnya, nampak gusar. Ternyata diamnya Matthew kerena pria itu tidak bisa bicara seperti sebelumnya.


"Benar, aku dan Matt saling melengkapi." Aprille menyahut sembari menggenggam tangan suaminya yang tersenyum padanya. "Matt bisa menjadi kaki untukku dan aku bisa menjadi juru bicaranya."


"Kalian benar-benar membuat kami cemas." Elleana menatap iba kepada keduanya. "Dan Mei, kasihan sekali dia. Aku benar-benar tidak tau yang terjadi dengan Mei, aku mengira jika Mei dan Mike tewas seperti kalian."


Aprille hanya tersenyum, kemudian matanya memindai sosok wanita yang duduk di samping Arthur. "Jadi Ar sudah menikah?" Ia ingin mengalihkan pembicaraan. Rasanya begitu menyesakkan mengingat kejadian kelam itu.


"Sudah, dari dua bulan yang lalu," sahut Elleana.


"Ah, begitu." Aprille mengangguk. Ia tersenyum kepada Helena. "Kau cantik sekali, sangat cocok berdampingan dengan Ar."


"Terima kasih Nyonya. Anda terlalu berlebihan memujiku." Helena tersipu malu namun tetap menyahut dengan sopan.


"Jangan memanggilku Nyonya. Panggil saja Bibi dan panggil Paman kepada suamiku."


"Baik Bibi..." Sekali lagi hati Helena menghangat, ia benar-benar berada di antara keluarga yang hangat dan harmonis. Sangat jauh berbeda dengan keluarganya saat itu. Hanya Mommy Anna yang bersikap hangat padanya. Bahkan kakek neneknya saja tidak sehangat mereka.


Terdengar suara tapak kaki yang mengetuk-ngetuk lantai dan memenuhi pendengaran mereka.


"Maaf, kami terlambat." Suara Zayn menyita perhatian mereka semua. Mata Zayn seketika membeliak lantaran melihat sosok yang tidak asing. "Ada apa ini? Kenapa ramai sekali? Dan aku seperti mengenali mereka?"


"Angel... Zayn... kemarilah." Elleana beranjak berdiri, ia mempersilahkan kedua teman baiknya itu untuk duduk bergabung.


Begitu Zayn dan Angel sudah duduk di sofa, tatapan keduanya menuntun penjelasan.


"Ini Aprille dan Matthew. Apa kalian masih ingat?" kata Elleana memastikan.


"Masih, bukankah yang kudengar mereka sudah tewas," sahut Zayn masih meraba ingatannya.


"Benar, tapi ternyata mereka masih hidup dan diselamatkan oleh Mateo." Kali ini Xavier menimpali. Dan ia mulai menceritakan ulang kejadian yang menimpa Keluarga Jhonson, sehingga membuat Zayn yang mudah emosi itu menjadi geram.


"Pria itu benar-benar keparat!" umpat Zayn melontarkan sumpah serapah untuk adik tiri dari Matthew itu.


"Lalu dimana putra kalian? Aku tidak melihatnya." Pertanyaan Angela membuat Matthew dan Aprille terkesiap.


"Benar, dimana Mike? Kenapa dia tidak datang bersama kalian? Apa dia tidak merindukan Paman dan Bibinya?" sambar Elleana memperhatikan Matthew dan Aprille bergantian, menunggu jawaban dari keduanya.


Astaga Mike, kau membuat Mommy dan Daddy-mu dalam masalah kali ini.


"Hmmm, Mike... dia sedang memiliki pekerjaan. Dia bilang akan menyusul." Aprille menunjukkan senyuman. Senyum yang begitu terlihat gelisah dan diam-diam tangannya menggenggam erat tangan suaminya yang dibalas genggaman erat pula oleh Matthew.


To be continue


Nggak dilampirkan visual dulu ya biar cepat lolos review


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...