
Keesokan harinya, langkah Arthur yang tegas menjadi pusat perhatian seluruh karyawan yang berada di loby perusahaan. Terlebih kini penampilannya lebih menawan dan maskulin dengan rambut yang dibiarkan sedikit panjang. Darren yang juga melangkah bersisian dengan Arthur turut menjadi pusat perhatian karyawan wanita. Meskipun wajahnya tanpa tunas janggut, tidak mengurangi kadar ketampanan dan ketegasan wajah seorang Darren.
Bagi Arthur dan Darren sudah terbiasa akan tatapan memuja setiap wanita. Karena itu keduanya selalu menanggapi biasa saja selama tidak merugikan.
"Der, bawakan semua dokumen yang harus dikerjakan untuk dua hari kedepan, aku ingin memeriksanya sekarang. Karena kita tidak akan tau berapa lama beranda di Amsterdam." Arthur yang baru saja memasuki ruangan berkata demikian. Ia kemudian membenamkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Baiklah, aku akan membawakan yang urgent lebih dulu," jawabnya cepat. "Tapi jangan lupakan jika pagi ini kau kedatangan tamu Ar."
Kening Arthur mengernyit dalam. "Tamu? Siapa?"
"Apa kau lupa jika pagi ini Tuan Alan Born akan datang menemuimu?" kata Darren mengingatkan.
"Oh, pria tua itu. Untuk apa aku mengingatnya?!" serunya. "Tapi aku penasaran, apa yang ingin dia bicarakan."
"Hm, jika bukan masalah yang serius, Tuan Alan tidak mungkin sampai mendatangimu," ujar Darren.
"Sudahlah, jangan merusak moodku dengan membahasnya Der. Bawakan saja dokumen yang kuminta sekarang juga!" perintahnya sedikit kesal karena Darren sudah membicarakan pria yang sama sekali tidak penting menurutnya dan hanya akan merusak mood pagi ini.
"Baiklah, aku akan mengambilnya." Dan kemudian Darren segera berlalu dari ruangan untuk mengambil dokumen yang berada di ruangannya. Tidak membutuhkan waktu lama, Darren sudah kembali ke ruangan Arthur.
"Dokumen ini yang lebih urgent, karena kita perlu memprosesnya lebih cepat." Darren menyodorkan dokumen yang berisi tentang pembangunan Cluster di Istanbul yang bekerja sama dengan Perusahaan Roderick.
Arthur meraih dokumen tersebut dari tangan Darren. "Kalau begitu buatlah jadwal keberangkatan kita ke Istanbul setelah kembali dari Amsterdam," ujar Arthur tidak mengalihkan pandangannya dari dokumen tersebut. Ia terus saja membaca dan mempelajari pembangunan itu, meskipun ia sudah sangat paham mengenai struktur-struktur pembangunan di negara timur tengah itu.
"Aku sudah menyiapkannya. Kita bisa berangkat menggunakan jet pribadi setelah dari Amsterdam."
"Hem..." Arthur tetap fokus pada halaman demi halaman yang sedang dipelajari. "Jangan lupa buatkan jadwal pertemuanku dengan pemilik MJ Corp," katanya mengingatkan Darren.
Darren diam, ia tidak menyangka jika Arthur benar-benar serius ingin bertemu dengan pemilik perusahaan MJ Corp. Pasti ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh Arthur, pikirnya.
"Baiklah...." jawabnya pasrah. Ditolak pun percuma karena perintah atasan sekaligus temannya itu adalah mutlak.
"Satu lagi." Arthur mendongak, ia baru mengingat sesuatu. "Apa orang itu masih mengikuti Elie?" tanyanya.
"Dua hari ini tidak ada laporan apapun. Sudah pasti orang itu tidak berada di sekitar Elie."
Arthur mengangguk. "Tapi pastikan Elie baik-baik saja. Dia keras kepala dan tetap ingin tinggal di penthousenya. Bahkan dia tidak menyadari jika ada seseorang yang mengincarnya," keluh Arthur mengingat adik kembarnya yang terkadang tidak memiliki kewaspadaan. Sehingga ia yang harus ekstra mengawasi Aurelie serta Austin yang bisa saja membuat masalah diluar sana.
Semula wajah datar Darren tiba-tiba membentuk lengkungan tipis mendengar nama Aurelie dan membayangkan ke keraskepalaan wanita itu. "Tenang saja Ar, anak buah kita akan menjaga Nona Elie dari kejauhan." Masih membentuk garis tipis tanpa disadari oleh Arthur.
"Hem." Lagi, Arthur mengangguk saja. Fokusnya kembali pada lembaran dokumen di hadapannya.
Darren pun turut mengerjakan pekerjaan di ruangan Presdir. Karena akan lebih mudah jika Arthur membutuhkan sesuatu darinya. Dua jam mereka berkutat dengan pekerjaan masing-masing hingga suara ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya.
"Masuk." Darren membiarkan siapapun itu untuk masuk, meskipun ia mengetahui jika yang mengetuk sudah pasti adalah Sekretaris Gabriela.
Dan benar saja, Gabriela melangkah masuk dengan sopan. "Maaf Tuan Arthur, Tuan Alan Born sudah datang, tapi beliau datang bersama dengan putrinya."
Arthur mendongak lalu diam sejenak, untuk apa pria tua itu membawa putrinya? pikirnya.
"Biarkan mereka masuk," katanya kemudian kepada Gabriela yang langsung di angguki oleh sekretarisnya itu.
"Baik." Gabriela kembali keluar ruangan untuk mempersilahkan tamu atasannya itu untuk masuk. "Silahkan masuk Tuan... Nona, kalian sudah ditunggu oleh Tuan Arthur," katanya mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Cih, benar bukan kataku jika kedatangan kami sudah di tunggu. Seharusnya sejak tadi kau mempersilahkan kami untuk masuk!" sembur Carmela dengan angkuh. Ia tidak menyukai sekretaris itu dan akan menunjukkan siapa dirinya kepada wanita yang kurang ajar kepadanya. Padahal Gabriela hanya melakukan tugasnya, siapapun tamu yang datang ia harus melapor terlebih dahulu.
"Sudahlah Carmel, kita masuk saja," ujar Tuan Alan Born menengahi putrinya yang bisa-bisa membuat masalah.
Carmela mengangguk, lalu menatap sinis Gabriela sebelum kemudian melesat masuk. Kepergian Tuan Alan Born beserta putrinya menyisakan kekesalan di hati Gabriela.
"Ck, angkuh sekali. Dia pasti akan menangis semalaman jika Tuan Arthur menolaknya mentah-mentah." Gabriela mencibir dan menatap pintu ruangan yang sudah tertutup, siapapun bisa membaca gerak tubuh wanita itu yang mengenakan pakaian seksinya, apalagi jika bukan ingin menggoda tuannya. Tidak ingin mengambil pusing, Gabriela mendudukkan kembali dirinya di sofa kerjanya.
***
"Ada urusan apa kau ingin menemuiku?" tanya Arthur dingin dan terkesan tidak suka.
Tanpa sadar Arthur menatap tajam kepada sosok wanita seksi itu, hingga disalahartikan oleh Carmela yang menduga jika Arthur terpesona dengan penampilannya. Tidak sia-sia dirinya berdandan secantik mungkin dan berpakaian seksi untuk menarik perhatian billionare muda seperti Arthur.
"Begini tuan, kedatanganku datang kemari karena benar-benar ingin meminta maaf atas perbuatan tidak sopan putriku kepada Tuan Arthur," katanya menjelaskan perihal kedatangannya sembari melirik ke arah sang putri yang terus mengembangkan senyum kepada pria muda di hadapannya.
Arthur mengusap dagunya dengan sikut yang bertumpu pada sandaran tangan sofa. "Hanya itu saja?" tanyanya jengah. Ia pikir pria tua itu ingin membicarakan sesuatu yang lebih penting.
"Tuan, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud menghina tuan. Aku tidak menyadari siapa tuan saat itu," tutur Carmela mendayu-dayu dengan manja. "Sebelumnya aku sudah pernah datang ke perusahaan Romanov Group untuk bertemu langsung dengan tuan, tapi tuan tidak mengizinkanku masuk," imbuhnya dengan mimik wajah yang memelas namun tetap menyelipkan senyuman menggoda. Berharap Arthur dapat luluh dengan wajah cantiknya yang memelas.
Namun sepertinya dugaan Carmela salah, alih-alih luluh, Arthur nampak malas dengan raut wajah menjijikan itu. "Kenapa kau meminta maaf padaku? Bukankah seharusnya Nona Carmela meminta maaf kepada Nona yang sudah Nona Carmela hina di taman saat itu? Aku melupakan namanya, siapa nama wanita itu Der?" tanyanya kemudian kepada Darren yang sejak tadi menjadi penonton. Arthur benar-benar pandai memainkan peran, terbukti pria itu masih bersikap tenang meskipun jujur saja ia ingin sekali mencekik Carmela.
"Elie Cassandra." Baru saja Darren ingin menjawabnya, Carmela sudah mendahului. "Dia adalah model yang bekerja di naungan perusahaan keluargaku. Tentu saja aku sudah minta maaf kepadanya, ini hanya kesalahpahamanku karena aku percaya begitu saja kepadanya. Dia menggoda model di agensiku yang bernama Brandon, karena itu aku marah kepadanya setiap kali dia ingin mendekati Brandon. Aku dan Brandon sebelumnya adalah sepasang kekasih tetapi hubungan kami harus berakhir karena wanita itu," imbuhnya dengan mata yang berkaca-kaca, Carmela menciptakan sebuah drama, dimana ia yang menjadi korbannya.
"Benarkah? Aku tidak menyangka jika wajah cantik wanita itu digunakan untuk menggoda seorang pria yang sudah memiliki kekasih," sahut Arthur mencela. Sebenarnya kalimat itu ditujukan untuk Carmela.
Carmela nampak sumringah, ia mendapatkan satu poin, yaitu mendapatkan simpatik Tuan Arthur. "Benar, aku sudah percaya kepadanya, tapi dia secara terang-terangan menunjukkan taringnya. Aku benar-benar tertipu dengan wajah cantiknya itu." Dan Carmela semakin menciptakan image buruk mengenai wanita yang bernama Elie.
Arthur mengangguk saja, ia ingin mendengar kalimat selanjutnya. Dan Tuan Alan Born nampak senang karena putrinya bisa menarik simpatik Tuan Arthur, tidak sia-sia ia membawa putrinya turut serta.
"Karena itu tuan, jangan batalkan kerjasama perusahaan Tuan dengan Perusahaan Born. Semua murni kesalahanku, aku tidak bisa mengendalikan emosiku sehingga tanpa sengaja ingin menyakiti wanita yang sudah menyakitiku lebih dulu." Carmela menyeka sudut matanya yang basah, ia benar-benar sedih jika memang sumber uangnya dicabut oleh Sang Daddy jika ia gagal membujuk Tuan Arthur. Sungguh Carmela adalah seorang aktris yang handal, jika Arthur tidak mengetahui betapa belangnya Carmela, mungkin ia akan termakan oleh ucapan wanita itu.
"Baiklah, aku akan melanjutkan kerjasama Perusahaan Romanov dengan Perusahaan Born," ujar Arthur memutuskan selama ia terdiam dan mencerna.
Sontak saja keputusan Arthur membuat Carmela mendongak tidak percaya. Pun dengan Tuan Alan Born yang mengembangkan senyum karena perusahaannya tidak benar-benar mengalami kerugian.
"Benarkah tuan? Tuan benar-benar serius dengan keputusan tuan?" Carmela bertanya memastikan dengan binar di matanya.
"Aku tidak mengulangi perkataanku untuk yang kedua kalinya," katanya kembali dingin.
Carmela serta Tuan Alan Born kompak tersenyum, mereka benar-benar senang karena perusahaan keluarga mereka tetap terjalin kerjasama dengan perusahaan besar.
"Jika tidak ada hal lain lagi, silahkan pergi. Aku masih memiliki pekerjaan!"
Carmela mengangguk. "Tuan Arthur, bagaimana jika siang ini tuan makan siang denganku?" Dan Carmela memberanikan diri mengajak Tuan Arthur. Jika ia bisa menarik simpatik pria di hadapannya, ia juga pasti bisa mengajak pria itu untuk makan siang bersama, pikirnya.
"Jangan berlebihan Nona. Aku memutuskan kerjasama tetap berlanjut hanya demi kepentingan perusahaan. Aku tidak pernah menerima ajakan makan bersama wanita sembarangan!"
Dan senyum Carmela yang mengembang itu perlahan menyurut ketika mendapatkan penolakan. "B-baiklah kalau begitu Tuan," katanya kecewa.
"Hem, tuan. Kalau begitu kami permisi dulu." Tuan Alan Born angkat bicara dan pamit undur diri. Ia tidak ingin membuat pria muda itu kembali membatalkan kerjasama mereka jika membuatnya kesal. "Ayo Carmel." Lalu menarik tangan putrinya dengan paksa. Keduanya berlalu dari ruangan begitu diiyakan oleh Arthur dan Darren.
"Kau yakin tetap ingin melanjutkan kerjasama perusahaan kita dengan Perusahaan Born, Ar?" tanya Darren setelah pintu ruangan tertutup rapat.
"Hem, aku akan memberi mereka pelajaran karena berani menghina dan menjelekan nama Elie," jawabnya. Tentu Arthur tidaklah bodoh, mungkin awalnya ia memang mengambil keputusan untuk membatalkan kerjasama mereka, tapi melihat bagaimana sikap Carmela, ia ingin memberikan mereka pelajaran. "Biarkan Perusahaan Born berjalan seperti biasanya, setelah perusahaannya kembali di atas angin, kita akan meretas data-data perusahaannya, lalu mengambil alih satu persatu sahamnya. Dengan begitu pria tua itu akan kehilangan perusahannya dan akan merangkak di bawah kakiku!" Gigi Arthur bergemeletuk disertai rahangnya yang mengeras. Sejak tadi ia sudah menahan rasa geram. Tetapi ia harus bermain dengan menggunakan otak.
"Baiklah, sesuai rencana." Dan Darren turut setuju. Memang menghadapi mereka harus dengan otak yang cerdik, bukan dengan emosi.
To be continue
Note : Ceritanya bertahap ya, memang lagi fokus ke kisah Arthur, Mikel, Aurelie. Tapi Austin, Jacob, Jolicia, dll pasti juga ada kok cuma bertahap 🤗
Babang Arthur
Carmela Born
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...