
Tidak berbeda jauh dengan Austin, pria itu pun merasakan jantungnya bertalu-talu. Padahal wajah Licia seperti biasa, tidak ada yang berubah. Tetapi kali ini Licia nampak terlihat sangat cantik. Tanpa sadar keduanya mendekatkan wajah, hidung nyaris bersentuhan dan bibir mereka sudah tanpa jarak dan beberapa senti lagi saling menempel dan pintu tiba-tiba saja terbuka. Dua orang yang baru saja ingin memasuki ruangan terkejut bukan main ketika mendapati suguhan yang mendebarkan. Sontak saja membuat Licia dan Austin berangsur saling menjauhi.
Suasana menjadi sangat awkward. Austin beranjak dari ranjang dan berjalan mendekati jendela sembari mengusap wajahnya. Nyaris saja ia mencium bibir Licia untuk yang kedua kalinya dan jujur saja ia merasa sangat malu kali ini. Terlebih, lagi-lagi disaksikan oleh Jacob dan Elden.
Jacob dan Elden turut merasa canggung, bahkan mereka saling melemparkan pandangan dan bahkan saling melemparkan kode melalui isyarat mata. Sedangkan Licia, tidak perlu ditanyakan lagi, wajah gadis itu sangat merah bagaikan kepiting rebus. Malu, sungguh malu. Ia baru saja berpikiran untuk mencium bibir Austin dan sangat ingin sekali merasakan bibir teman masa sejak kecilnya itu.
"As, ternyata kau datang hari ini." Elden sengaja memecah kecanggungan. Ia berjalan ke sisi nakas dan meletakkan satu kantung plastik penuh berisi makanan dan minuman kaleng.
Merasa diajak bicara, Austin menoleh ke arah Elden. Ia mengulas senyum tipis. "Ya, aku baru bisa datang hari ini setelah menyelesaikan pekerjaanku."
Elden mengangguk saja. Ekor matanya melirik pada Licia yang nampak canggung dengan wajah yang merona. Mungkin jika dirinya dan Jacob belum kembali, bibir mereka akan saling menempel. Tiba-tiba saja Elden terkekeh geli seorang diri membayangkan jika hubungan Austin dan Licia berubah dalam sekejap. Menyimpulkan jika benih-benih cinta mulai tumbuh di hati mereka. Terlebih beberapa hari yang lalu ia melihat sendiri bagaimana Austin mencium Licia. Siapapun pasti akan menyadari jika terselip rasa cinta di hati sepupunya itu. Ia saja dapat menyadarinya, akan tetapi sepupunya itu justru tidak menyadari perasaanya sendiri. Bodoh!
Jacob berdehem. "Aku sudah belikan pesananmu," ujarnya pada Licia. Ia sengaja berdehem untuk menetralisir keterkejutannya. Lalu memberikan hotdog yang diinginkan adiknya itu. Jujur saja ia merasa bingung, menurutnya atmosfer yang ia lihat dari Austin dan sang adik nampak berbeda.
"Terima kasih, kak." Sembari menerima hotdog yang disodorkan padanya. Hotdog itu tidak lagi menarik, sehingga Licia meletakkannya di atas nakas. Lalu tidak sengaja gadis itu bertemu pandang dengan Austin. Selama beberapa saat mereka hanya melemparkan pandangan tanpa bersuara.
Kedua mata Jacob menyipit tajam seakan penuh selidiki. Memergoki Austin dan Licia yang bermain mata. Astaga, sebenarnya bagaimana hubungan mereka? Dan dimulai sejak kapan? Apa pada saat Austin mencium Licia, sehingga keduanya terlihat berbeda.
"Uhuk... uuhukk...." Elden terbatuk-batuk lantaran tersedak minuman kaleng bersoda yang baru saja diteguknya. Membuat Austin dan Licia terjingkat kaget dan reflek membuang pandangan mereka. "Sialan. Airnya masuk ke dalam hidungku!" dengkusnya kesal. Bagaimana tidak, ia tersedak dan itu sangat menusuk hidungnya.
Saat Austin membuang pandangannya ke arah lain, ia mendapati Jacob yang menatap tajam padanya. Ujung alisnya mengerut, ia merasa sedang diintrogasi oleh tatapan Jacob.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Jujur saja Austin merasa risih ditatap demikian. Sehingga ia menegur Jacob.
Jacob berdecak. "Apa? Aku hanya tidak sengaja sedang melihatmu." Lalu beranjak berdiri menuju nakas untuk mengambil salah satu minuman kaleng bersoda. Membuka penutup kaleng dan meneguknya hingga tandas. "Segarnya," ucapnya sembari membuang napas lega karena ia tidak lagi merasa kehausan. "Apa kau juga ingin cola, As?" tanyanya kepada Austin sekedar untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
Sedangkan Licia memilih tidak terlibat dalam percakapan kakaknya dengan Austin. Ia mengambil segelas juice strawberry dan meminumnya dengan perlahan.
Austin menolak. "Tidak. Aku sedang tidak ingin minum cola. Aku baru saja menitip pada Gav untuk membelikanku coffee juga."
"Oh...." Jacob mengangguk saja. "Tapi Bukankah lebih segar minum yang manis. Cuaca diluar sangat panas, lebih segar jika minum minuman dengan rasa yang manis seperti strawberry."
"Uhuk....!" Kali ini bergantian Licia yang tersedak. Apa kakaknya itu sedang menyindirnya?
"Minum yang benar." Jacob menegur adiknya. Padahal salah siapa yang dengan sengaja menyindir.
"Kau benar, Jac. Di cuaca panas seperti ini memang lebih segar jika minum minuman yang manis." Elden membenarkan. Pria itu tidak peka dengan sindiran Jacob yang memang ditujukan pada Austin. Tatapannya tertuju pada juice strawberry milik Licia. "Ah Licia, juice milikmu sepertinya sangat segar. Apa aku boleh mencobanya sedikit?"
Hah? Licia tercengang. Jelas tidak boleh. Ia tidak akan rela berbagi juice kesukaannya. "Tidak boleh!" sahutnya tegas sembari memeluk gelas juice strawberry miliknya itu.
"Ck, pelit sekali." Elden mencibir. Padahal ia hanya akan mencoba juice strawberry milik Licia sedikit saja.
Bibir Licia mencebik maju, masih melindungi juice miliknya itu. "Biarkan saja."
Sekembalinya Liam dan Gavin membuat suasana di dalam ruangan semakin ricuh. Terlebih saat ada perawat yang datang untuk mengganti infus Licia, tak hentinya Liam menggoda perawat cantik itu. Meski terpesona dan tergoda dengan Liam, perawat itu hanya mengulas senyum. Tentunya ia harus bersikap profesional sebagai perawat yang sedang bekerja.
Ketika perawat tersebut sudah menyelesaikan tugasnya dan pergi dari sana. Liam terlihat bangkit berdiri dari sofa.
"Kau mau kemana?" tanya Gavin menyadari jika Liam akan keluar dari ruangan.
"Aku ada urusan sebentar," sahut Liam acuh.
"Ck, bilang saja jika kau ingin mengejar perawat itu." Sindiran Elden tepat sasaran. Bagi mereka yang sudah mengenal Liam, akan dengan mudah membaca niat terselubung pria itu.
Liam hanya terkekeh, tetapi tidak mengelak, tidak juga mengiyakan. Lalu segera melangkah keluar ruangan.
"Lim tidak akan melewatkan wanita cantik yang melintas di depannya." Jacob pun tahu benar tabiat Liam. Wanita cantik siapapun akan disikat atau mungkin akan dijadikan kekasih.
"Haha, kau benar." Elden tertawa membenarkan.
Licia menggelengkan kepala berulang kali. Ia sudah terbiasa mendengar percakapan para pria yang begitu terang-terangan. Tiba-tiba saja tangannya seolah tersengat aliran listrik ketika tidak sengaja bersentuhan dengan kulit tangan Austin.
"Ada apa?" Ujung Alis Austin mengerut, ia merasa heran mendapati reaksi Licia. "Ini, dihabiskan," ucapnya sembari memberikan potongan buah apel kembali.
Sedari tadi Austin memang tengah mengupas dan memotong buah apel menjadi bagian kecil. Sesekali menyeruput cup coffee miliknya saat menunggu Licia selesai menguyah, karena ia akan memberikan potongan apel berikutnya kepada gadis itu. Padahal Licia bisa saja mengambil apel itu sendiri, tetapi gadis itu membiarkan Austin melayaninya. Entah kenapa ia merasa sangat senang.
Bak seolah dunia milik berdua. Austin dan Licia tidak pedulikan percakapan yang lain. Licia pun tak masalah berbagi apel dengan Austin. Diselipkan percakapan kecil, gadis itu terkekeh ringan. Austin dan Licia terlihat melemparkan senyum saat pandangan mereka bertemu.
Namun ternyata bagi Gavin hal itu sangat menyebalkan. Meskipun raut wajahnya datar, akan tetapi telapak tangannya mencengkram kuat cup coffee miliknya. Menyeruput coffee pahit dan disuguhkan pemandangan yang tidak kalah pahit. Benar-benar nikmat bukan?
"Ehemmm...." Deheman seseorang yang berdiri diambang pintu membuat tawa mereka menyurut sejenak dan kompak menoleh ke ambang pintu.
"Paman...." sapa mereka bersamaan. Namun yang disapa justru menatap Austin dan sang putri. Aishhh..... Belum saja dimulai, tetapi kepalanya sudah terasa pening.
To be continue
Btw Yoona jarang tampilkan foto lagi, karena kalau pake foto kadang lama direview. Jadi kalian bisa liat di instagram Yoona ya. Visual mereka ada di instagram.
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...