The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bonus Chapter (Lamaran Diterima?)



"Tidak!" Jawaban singkat Zayn membuat Xavier terpekur sejenak.


"Apa maksudmu dengan 'tidak', heh? Apa kau menolak lamaran putraku?!" Benar saja, jawaban singkat Zayn sukses menyulutkan emosi Xavier. Bukankah sebelumnya ia mengatakan jika tidak menerima penolakan? Lalu pria tua itu sengaja mengatakan 'tidak'.


Zayn mendengkus kesal. "Kau pikir siapa yang akan menerima lamaran seperti ini, heh? Yang baru saja kau lakukan bukan melamar tapi memaksa!"


Yang dikatakan oleh Zayn dibenarkan oleh Bastian dan bahkan Austin yang sedari tadi sudah merasa gelisah. Dan benar saja, Paman Zayn menolak lamarannya lantaran Daddy-nya yang seperti memaksakan kehendak. Meskipun ia sendiri tidak membiarkan jika dirinya ditolak. Dengan kata lain ia akan membuat Paman Zayn menerima dirinya.


"Kau--"


"Hm Paman, maafkan Daddy sebelumnya." Tiba-tiba Austin menyela Daddy Xavier yang ingin kembali menyerukan suara. "Daddy tidak bermaksud seperti itu. Dan lagi pula Paman sudah mengetahui bagaimana sikap Daddy selama ini."


Mendengar perkataan Austin, Xavier menyelipkan dengkusan kesal. Bahkan membuang pandangannya ke arah lain agar tidak bertemu pandang dengan Zayn.


Sedangkan Zayn sedikit membenarkan. Jika dilihat bagaimana kesungguhan Austin dan kerja keras pemuda itu, tentu ia merasa tergoyahkan. Ada sentilan kecil yang berkecamuk di dalam dadanya mendapati perjuangan yang tentu tidaklah mudah. Dan untuk mengambil keputusan, Zayn menarik napas dalam.


"Aku terkesan dengan kerja kerasmu, karena itu tidak ada alasan untukku menolakmu meski sikap ayahmu sudah menyebalkan sejak dulu." Dalam pandangan lurusnya, ekor mata Zayn sempat melirik Xavier yang tengah disindirnya. Sontak saja membuat Xavier menoleh ke arahnya dan melotot tajam lantaran tidak terima.


Austin tertegun sejenak, ia sungguh tidak percaya apa yang dikatakan oleh Paman Zayn. "Benarkah Paman? Paman menerima lamaranku?"


Zayn mengangguk. "Aku bukan ayah kejam yang mengorbankan kebahagiaan putriku sendiri. Yang kuperhatikan jika Licia juga memiliki perasaan yang sama denganmu."


Austin bangkit dari tempat duduknya, lalu segera menghambur kepelukan Zayn sehingga terhuyung ke belakang dalam posisi duduk.


"Terima kasih, Paman. Terima kasih," ucapnya penuh haru.


"Woow, santai As. Kau bisa membuatku sesak napas." Zayn berujar demikian lantaran Austin memeluknya begitu erat.


"Ah, maaf." Lantas Austin melepaskan pelukannya. Tatapannya kemudian beralih pada Daddy Xavier.


"Dad...."


Xavier segera beranjak dari tempat duduk dan memeluk putranya itu. "Selamat untukmu, Son." Menepuk-nepuk punggung Austin karena merasa begitu bangga dengan keberhasilan sang putra bungsu.


Melihat ayah dan anak itu saling berpelukan, Zayn beranjak berdiri dan menyelipkan kedua tangannya di dalam saku celana.


"Terima kasih," sahut Austin saat mereka saling mengurai pelukan.


Bastian pun bangkit berdiri. "Selamat Tuan Muda." Dan ia turut mengucapkan selamat. Tentu ia sangat senang menyaksikan lamaran Tuan Mudanya diterima, meskipun harus ada drama sebelumnya. Tetapi pada akhirnya perjuangan Tuan Mudanya tidaklah sia-sia.


"Kalau begitu, bolehkah aku menemui Licia, Paman?" Tentu Austin tidak ingin membuang kesempatan. Karena Paman Zayn sudah berhasil dijinakkan sehingga kini ia harus menjinakkan putrinya.


Sebagai jawabannya, Zayn hanya mengangguk saja. Tidak mungkin ia melarang Austin untuk menemui putrinya, mengingat ia sudah menerima lamaran pemuda itu.


Saat tidak sengaja saling bersitatap dengan Xavier. Baik Zayn dan Xavier saling membuang muka, seolah keduanya tidak sudi untuk melihat satu sama lain. Bastian, pria itu lagi-lagi berada di situasi yang tidak mengenakan. Ia merasa dilema antara tetap ditempat atau pergi dari sana.


Berbeda dengan Austin yang tidak pedulikan suasana yang kembali bersitegang. Lantas ia segera berlari untuk menemui Licia. Belum sampai menapaki tangga, suara Jacob yang memanggil mengintrupsi langkahnya.


"Selamat untukmu As," ujar Jacob berdiri di sisi tangga. "Aku mendengar semuanya dan jujur saja aku tidak menyangka kau sehebat itu."


"Ya, terima kasih," jawab Austin diselingi senyuman tipis. "Aku akan menemui Licia." Lalu hendak mengayunkan langkah.


"Tunggu dulu." Namun suara Jacob kembali menahan langkah Austin. "Licia tidak berada di dalam kamarnya. Dia menunggumu di taman."


Mendengar penuturan Jacob, Austin mengangguk mengerti. Lalu ia segera melangkahkan kakinya dengan lebar menuju taman. Sosok Licia yang sedang duduk di atas kursi kayu memenuhi pandangannya. Lantas segera menghampiri gadis itu.


Licia yang duduk tercenung mendapati seseorang berdiri menjulang di hadapannya. Segera mengangkat wajahnya dan wajah Austin yang tertimpa akan sinar matahari berada tapat di depan mata karena pria itu tiba-tiba saja membukukan tubuhnya.


Cup


Tanpa banyak kata dan tanpa banyak bicara, Austin mengecup singkat bibir Licia.


"As, kau...." Tentu gadis itu terkesiap. Ia tidak dapat mengelak lantaran serangan itu begitu tiba-tiba.


Austin hanya tersenyum jahil. Ia berhasil membuat wajah gadis itu merona.


"Maaf, aku terlalu merindukanmu. Dan salahkan saja dirimu yang tidak ingin menemuiku." Austin kembali menegakkan tubuhnya. Tanpa rasa bersalah karena telah mencium gadis itu disaat lengah.


Mata Licia memicing tajam. Sebelumnya ia sudah melupakan kekesalannya terhadap Austin, tetapi saat pria itu baru saja menyalahkan dirinya, ia merasa tidak terima.


Gadis itu beranjak berdiri. "Kenapa kau menyalahkanku? Apa gunanya kau meminta maaf berulang kali padaku?!"


Melihat gadis yang dicintainya kembali marah, Austin mengusap tengkuk lehernya. Kenapa gadis itu begitu sensitif? pikirnya.


"Baiklah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu, hanya saja aku sangat merindukanmu dan tidak bisa berpikir apapun selain ingin segera menemuimu." Austin mencoba membujuk Licia, ia tidak ingin hubungan mereka kembali memanas.


Licia berdecak, ia kemudian memunggungi Austin. "Katakan hal seperti itu untuk gadis lain saja. Bukankah kau juga disana selalu bersamanya?" Ya, Licia ingat jelas, kedekatan Austin dengan gadis itu selalu diabdikan di kamera ponsel hingga tersebar di grup.


Austin tercengang. Kenapa lagi-lagi membahas gadis lain. Sedangkan ia tidak bersama dengan siapapun saat di Indonesia maupun negara yang ia kunjungi.


"Licia dengar...." Austin menyentuh bahu Licia dan menariknya dengan pelan untuk memposisikan menghadap dirinya. "Aku tidak bersama siapapun selama di Indonesia atau di negara lainnya. Aku sibuk menghadiri pertemuan dan mengikuti tender. Jadi tidak sempat menemui siapapun." Bahkan seingat dirinya, ia hanya berkunjung satu kali ke kediaman Paman Adam selama berada di Indonesia.


"Benarkah?" Tentu Licia tidak percaya begitu saja. Jelas-jelas beberapa foto menampilkan kebersamaan Austin dengan gadis itu. "Lalu kenapa banyak sekali foto dan video dirimu bersamanya. Dan bahkan saat Kak Elie melahirkan, kau juga tidak bisa pulang ke London tetapi malah bersama gadis itu!" serunya mencerca.


Austin menghembuskan napas dalam. Apa sebenarnya gadis ini sedang cemburu padanya?


See you next bonus chapter


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...