
Mike berlari menghampiri wanita yang tidak sadarkan diri di lantai dan bersandar pada tepi ranjang. Lalu segera menopang kepala wanita yang tidak lain adalah istrinya. Ya, Elie. Hati Mike seperti tersayat ribuan belati melihat sang istri yang ia cintai dan selalu diperlakukan bagaikan ratu nampak sangat tidak berdaya dengan luka memar di sudut bibirnya.
"Sweetheart sadarlah. Aku sudah datang, kau dan bayi kita harus baik-baik saja, hm." Wajah Mike melukiskan kegusaran, bahkan kedua matanya mengembun. Berulang kali ia menepuk-nepuk lembut wajah Elie, akan tetapi istrinya itu tidak kunjung sadar.
Arthur tidak kalah panik, ia segera menghampiri Elie. Menekuk satu lututnya pada lantai, lalu mengambil Elie dari dekapan Mike.
"Elie, sadarlah. Jangan seperti ini, hm?" Wajah Arthur begitu semakin gusar lantaran Elie tak kunjung merespons. Kedua pria itu masih berusaha mengguncang tubuh Elie berulang kali.
"Mike, sebaiknya kau membawa Nona Elie ke rumah sakit." Darren membuka suara dengan langkah yang mendekat.
Tanpa menyahuti perkataan Darren, Mike mengangkat tubuh Elie dan menggendongnya. Ia segera berlalu begitu saja melintasi Darren.
Arthur membiarkan Mike membawa Elie karena ia harus menyelamatkan Helena. Melihat keadaan adiknya yang tidak berdaya, sungguh ia sangat mencemaskan sang istri dan berharap istri serta kedua calon bayinya dalam keadaan baik-baik saja. Lantas Arthur segera pergi menuju pelataran dan menaiki mobil. Sebelum menginjak pedal gas, Arthur melihat ponsel milik Darren yang mendapatkan notifikasi group Black Lion. Lalu usai membacanya ia membuang asal ponsel Darren ke belakang kursi. Tanpa menunggu Darren, mobil yang dikemudikan Arthur melesat pergi begitu saja.
Menghembuskan napas ke udara, Darren terlihat kesal karena di tinggal oleh Arthur.
Satu anak buah berjalan mendekat ke arah Darren. "Bos Der, kita baru saja mendapatkan titik lokasi yang dicurigai Markas Kartel Sinaloa." Mendengar perkataan anak buah, Darren menyambar ponsel milik anak buahnya itu, lalu segera mengembalikannya. Ah, mungkin saja Arthur sudah melihat isi ponselnya dan tidak sabar ingin menyerang Markas Kartel Sinaloa, sehingga pergi begitu saja.
"Perintahkan semua anak buah yang tersisa ke Guiseley!" ujar Darren kepada mereka yang sudah berbaris. Tentu ia tidak akan membiarkan Arthur menyerang seorang diri.
"BAIK!" Mereka menjawab serentak. Lalu mengikuti Darren yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil dan berlalu menuju Guiseley yang berada di West Yorkshire.
Rupanya Vasco Escobar sangat pintar menyusun strategi, hingga mengecoh Black Lion dan Loz Zetas. Menempatkan dua titik yang salah sebagai pengalihan.
***
Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di Markas Kartel Sinaloa, Alan Born mengerang marah saat mendapatkan telepon dari seseorang.
"Bagaimana bisa kau membatalkan perjanjian begitu saja?!" serunya marah. "Kau sudah berjanji akan membayar tiga kali lipat jika aku memberimu wanita Eropa untuk kau bawa ke negaramu. Lalu sekarang apa? Apa kau sudah gila mempermainkan kami, hah?!"
"Kau yang gila!" Alan Born spontan menjauhkan ponsel dari daun telinganya lantaran seseorang di seberang sana balas membentak dirinya. "Kalian yang gila karena hampir membuatku terkena masalah!" serunya membuat Alan Born semakin tidak mengerti.
"Katakan dengan jelas, ada apa sebenarnya?" tanya Alan Born kemudian.
"Kau memberikan wanita keturunan Romanov. Apa kau tidak tau jika mereka adalah keluarga berbahaya. Bahkan Klan Shogun Young dan Klan Oda berpihak pada Romanov. Dan karena kau, saat ini Klan Shogun Young dan Klan Oda bersatu menyerang wilayah Tachibana!" serunya terdengar menggebu-gebu. "Dan karena kau juga, Samurai terbaikku tewas di Markas North Yorkshire!"
Alan Born tertegun mendengarnya. Ia tidak tahu jika saat ini Klan Tachibana mendapatkan serangan di wilayahnya yang berada di Kota Osaka, Jepang. Dan apa yang baru saja ia dengar? Anak buah terbaik Tachibana yang lebih dikenal dengan Samurai terbaik tewas dengan mudahnya? Sungguh sulit dipercaya.
"Sialan! Sekarang aku sudah berada di pesawat dan akan segera kembali ke Osaka. Aku tidak akan meminta uang yang sudah kuberikan padamu. Jadi jangan menghubungiku lagi!" Tut. Setelah menyerukan amarahnya pada Alan Born, pria yang berasal dari Klan Tachibana dan berasal dari Jepang itu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Halo? Genji, hei? Apa kau mendengarku?!" Namun percuma saja Alan berteriak, sebab telepon sudah terputus. "Aarghh, sialan!" Ia membanting ponselnya di atas kursi.
"Hei Alan. Ada apa? Apa yang terjadi?" Jorge menghampiri dan terlihat bingung saat mendapati Alan Born yang terlihat sangat kesal.
"Mr. Genji membatalkan perjanjian kita. Saat ini dia sudah di dalam perjalanan kembali ke Osaka!"
"Apa? Bagaimana mungkin? Lalu bagaimana dengan wanita itu? Apa Mr. Genji membawanya?" Tentu Jorge tidak terima jika Mr. Genji membawa Elie dan mereka harus kehilangan setengah uang.
Alan Born menggeleng. "Tidak. Dia tidak akan berani membawa Elie." Lalu ia mulai menceritakan alasan Mr. Genji meninggalkan Britania Raya dan kembali ke negeranya.
"Kalau begitu bawa wanita itu kemari sebelum Black Lion menemukannya lebih dulu!" seru Jorge gusar.
"Ah, kau benar." Kemudian Alan Born mengambil ponselnya kembali untuk menghubungi anak buah, ia tidak bisa berpikir sebelumnya lantaran terlalu kesal. Namun mencoba beberapa kali, tidak ada satupun anak buah yang menjawab panggilannya. Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya Elie sudah berhasil diselamatkan dan para anak buah mereka sudah ditumbangkan.
Benjamin berjalan tergesa-gesa menghampiri keduanya. "Jorge, Helen sudah sadar. Apa sebaiknya kita berikan obat tidur lagi saja?"
"Tidak!" Jorge menjawab cepat. "Tuan Vasco sudah melarang kita untuk tidak melakukan sesuatu padanya."
Benjamin berdecih, lalu berkata, "Apa dia sudah mulai tertarik dengan wanita hamil itu, Jorge?" Jorge yang mendengarnya hanya menggeleng acuh. "Jika begitu, maka akan sangat gawat. Bagaimana dengan Carol? Keponakanku dicampakkan begitu saja oleh Tuan Vasco," sambungnya tidak terima.
"Sebaiknya kau diam saja, Ben!" seru Jorge menyahut. "Bagaimana jika Tuan Vasco mendengar ucapanmu, heh?! Tidak hanya lidahmu yang akan dipotong olehnya, tapi nasibku juga akan sama denganmu!
"Tapi Jorge...."
"Sudahlah, aku akan melihat Helen." Jorge yang tidak ingin mendengar apapun lagi, melenggang pergi menuju ruangan, dimana Helena berada.
Benjamin meminta dukungan dari Alan Born, tetapi pria tua di hadapannya itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Jorge saja tidak pedulikan putrinya sendiri, lalu untuk apa ia mempedulikan putri dari orang lain? pikir Alan sambil berlalu pergi.
Jorge membuka lebar pintu ruangan. Putri tirinya itu memiliki nasib yang sangat beruntung. Lihat saja, meskipun disekap tetapi Vasco memperlakukannya dengan sangat baik, dengan memberikan tempat yang nyaman.
"Kau sudah sadar, Helen?" Mendengar suara yang tidak asing, kedua mata Helena membeliak sempurna.
"Ya, lama tidak bertemu. Apa kau tidak merindukan Daddy-mu ini, hm?"
Cih, rasanya Helena ingin meludah mendengar perkataan Jorge.
"Kenapa kau menculikku, hah?!" serunya tidak mengindahkan perkataan Jorge sebelumnya. "Kembalikan aku pada suamiku?!"
Salah satu alis Jorge terangkat satu. "Suami?" Lalu terkekeh diakhir kata. "Apa aku perlu memberitahumu jika suamimu yang menyebalkan itu sudah kubuat... boomm," ujarnya sambil menirukan suara ledakan. "Ya, mobilnya kubuat terguling dan meledak, menurutmu apa suami dan adik iparmu itu bisa selamat, hm?!"
Kepala Helena menggeleng seiring lelehan air mata yang keluar. "Tidak! Tidak mungkin! Suamiku pasti baik-baik saja. Arthur masih hidup!"
"Hahahaha....." Tawa Jorge menggelegar. "Jika dia memang masih hidup, bukankah seharusnya dia sudah menyelamatkanmu. Lalu dimana dia? Bahkan dia tidak tau jika istri tercintanya diculik seseorang. Hahahaha!"
"Tidak!" Helena menutupi kedua telinganya dengan menggunakan kedua tangannya. Ia tidak ingin mendengar omong kosong dari Jorge. Ia sangat yakin jika suaminya masih hidup.
"Jangan berteriak seperti itu, Helen. Kasihanilah bayi yang ada di dalam perutmu," ujar Jorge mengingatkan. Seolah ia peduli akan bayi yang dikandung oleh Helena. Padahal ia hanya mengejek saja.
Tangan Helena spontan melindungi perutnya yang besar. Bukan ia mendengarkan perkataan Jorge, ia hanya ingin melindungi kedua bayinya dari Daddy biadab di hadapannya itu.
"Jika kau menyakiti kedua calon bayiku. Kau akan sangat menyesal!"
"Kau mengancamku, Helen? Kau mengancam Daddy-mu, hah?!" Jorge berseru tidak terima. Ia bergerak maju untuk mendekati Helena, membuat wanita itu melangkah mundur.
"Pergi! Jangan mendekat!" Demi apapun, Helena tidak ingin Jorge menyakiti kedua bayinya seperti pria itu menyakiti Mommy Anna.
"Kenapa? aku hanya ingin menyentuh cucu-cucuku?" Jorge tersenyum menyeringai. Ia selalu menikmati wajah ketakutan Helena.
"Tidak! Menjauhlah. Jangan membunuh bayi-bayiku, seperti kau membunuh Mommy!" teriaknya dalam isakan tangis yang tertahan.
Langkah Jorge terhenti seketika. Membunuh? Jadi Helena sudah mengetahuinya?
"Baguslah jika kau sudah mengetahuinya." Alih-alih merasa bersalah, Jorge justru dengan bangga mengakuinya. "Tapi sebenarnya aku memiliki rahasia. Apa kau mau tau, Helen?" Mungkin Jorge tidak bisa menyakiti fisik Helena, tetapi ia bisa menyerang mental putri tirinya seperti beberapa tahun yang lalu.
Helena menggeleng. Ia semakin meringsut menjauh hingga tersudut pada dinding.
"Bukan aku yang membunuh Anna. Tapi kau, Helen."
Helena mendongak seketika saat mendengar perkataan Jorge. Omong kosong apa lagi yang dikatakan oleh Daddy-nya itu? pikirnya.
Jorge tersenyum tipis melihat Helena yang sepertinya tertarik mendengar perkataannya. "Kau ingat saat setiap malam memberikan susu untuk Anna? Kau juga yang selalu memberikannya obat, bukan?"
Helena mulai menggali ingatannya. Sejak dulu ia memang selalu membuatku Mommy Anna susu dan ia sendiri yang menyiapkan obat. Lalu artinya selama ini Mommy-nya mengkonsumsi obat yang tidak seharusnya dikonsumsi?
"Tidak. Tidak mungkin," gumamnya tidak percaya. Bagaimana mungkin ia tidak pernah menyadarinya selama ini. Jadi Mommy-nya meninggal karena dirinya? Benarkah begitu?
"Kau sudah ingat? Jadi siapa yang membunuh, hm?" Perkataan Jorge semakin membuat Helena tersudut dan merasa sangat bersalah.
"Tidak. Mom.... Maafkan aku." Hingga ia terisak-isak saat mengingat Mommy Anna yang tidak berdaya di atas ranjang selama beberapa bulan. Saat ini a Helena bahkan menangis histeris lantaran merasa sangat bersalah.
"Jorge, sebaiknya kau segera keluar dari kamar ini. Tuan Vasco sudah kembali." Tiba-tiba saja Benjamin masuk ke dalam ruangan untuk memberikan informasi jika Vasco sudah kembali. Vasco memang tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam ruangan yang ditempati oleh Helena.
Mendengar suara yang tidak asing, membuat Helena mendongakkan wajah. Matanya mendelik dengan sisa air mata yang masih berlinangan. Sebelum kemudian membola penuh saat menyadari siapa pria paruh baya itu.
"Paman Ben?" gumamnya mengenali adik dari istri Daddy-nya, yang tidak lain ialah Margareth. Dan Helena baru mengingatnya. Malam itu ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Paman Benjamin mencekik Mommy Anna. Apa itu artinya Paman Benjamin yang sudah membunuh Mommy Anna pada malam itu?
"Kau?? Kau yang sudah membunuh Mommy. Kau membunuh Mommy!" Helena melangkah maju untuk menyerang Benjamin, tetapi gerakannya ditahan oleh Benjamin.
"Apa yang kau lakukan, hah?!" Benjamin yang tidak terima, mendorong Helena. Membuat wanita itu nyaris saja tersungkur ke lantai.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADANYA, HAH?!" Sebuah teriakan menggema di dalam ruangan, bertepatan dengan Helena yang kehilangan kesadaran.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...