The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Hanya Terpikirkan Satu Wanita



Beberapa jam sebelumnya.



Mansion mewah yang dihuni oleh Keluarga Hamilton menjadi tujuan mobil mewah berhenti tepat di pelataran yang luas itu. Keempatnya mendongak menatap bangunan bernuansa putih yang berdiri begitu kokoh dengan halaman yang begitu luas dan bahkan terdapat landasan parkir helikopter.


"Jadi mereka benar-benar kaya?" Hiroki berdecak tidak percaya. Sebelumnya ia sudah tahu dari Brian, tetapi melihat secara langsung membuatnya menjadi sangat yakin jika Keluarga Hamilton setara dengan Keluarga Oda.


"Kenapa kau masih saja ragu? Bukankah sudah kukatakan jika suami adikku benar-benar setara dengan Klan Young dan Oda?" Brian tidak habis pikir dengan teman baiknya itu. Ia pikir Hiroki percaya padanya mengenai suami dari adiknya, Millie.


Berbeda dengan kedua pria setengah baya itu. Seorang wanita cantik yang berdiri disisi ibunya, ia nampak menyentuh dadanya yang berdebar. Ia sungguh tidak sabar ingin bertemu dengan pria yang berhasil membuatnya merasakan yang namanya kerinduan. Memang terdengar gila, sebab ia jatuh cinta di saat waktu yang terbilang singkat.


"Kau jatuh cinta dengan pria yang memiliki keluarga luar biasa, sayang." Wanita paruh baya yang bernam Michiko berbisik tepat di telinga Keiko. Namun Keiko tidak menanggapi, ia lebih memilih menetralkan detak jantung yang berirama tidak karuan.


Derap langkah kaki lebih dari satu berjalan mendekati mereka. Sontak mereka mengarahkan pandangan pada sumber suara.


"Silahkan masuk, kalian sudah ditunggu oleh Bos Jack dan Nyonya Millie." Salah satu di antara mereka membuka suara dan mempersilahkan keempatnya itu untuk segera masuk.


"Baiklah." Brian mengangguk. Lalu memimpin jalan untuk memasuki Mansion keluarga adiknya. Sejak Millie hidup bersama dengan Jack, Brian tidak pernah mengunjungi Millie. Sehingga ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di Mansion pria yang dulu sempat menjadi rivalnya.


Langkah keempatnya terhenti sejajar ketika melihat Millie dan Jack sudah menyambut kedatangan mereka.


"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya Oda, Nona Keiko dan juga Tuan Brian." Dengan ramah, Millie mempersilahkan ketiganya untuk duduk.


Alis Brian mengernyit, ia merasa aneh mendengar Millie begitu formal padanya. "Kenapa memanggilku Tuan?" Dan ia memprotes perkataan Millie ketika sudah berhasil membenamkan tubuhnya di sofa.


Millie terkekeh mendapati kakaknya memasang raut wajah kesal. "Aku hanya bercanda saja," sahutnya sembari mendudukkan kembali tubuhnya di sofa bersamaan dengan Jack.


Berbeda dengan Millie yang nampak ramah. Jack begitu datar menyambut kedatangan mereka.


"Ada apa kalian datang jauh-jauh dari Jepang menemuiku dan istriku?" See. Jack benar-benar serupa dengan bosnya, ia langsung bertanya tanpa berbasa-basi.


Hiroki dan Brian saling menatap satu sama lain. Pantas saja Brian tidak begitu dekat dan tidak akur dengan suami dari adiknya, sebab pria itu nampak begitu menyebalkan.


"Hm, mungkin kedatanganku dan putriku sudah diketahui oleh kalian berdua." Hiroki mencoba bicara seramah mungkin.


"Benar, Brian sudah mengatakannya. Lalu?" Jack menyela dengan cepat, hingga Hiroki harus menahan kekesalannya di hati saja. Ternyata selain dirinya masih banyak orang lain yang begitu menyebalkan.


Hiroki menarik napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. "Kedatanganku dan istriku kemari karena ingin mengajukan perjodohan dengan putra kalian yang bernama Darren. Dan kami berharap kalian bisa mempertimbangkannya terlebih dahulu."


Jack dan Millie tidak terkejut mendengarnya. Keduanya saling bersitatap hingga kemudian Jack menghela napas kasar. "Aku menghargai niat baik kalian, meskipun begitu aku tidak bisa memutuskannya. Biar bagaimanapun Darren berhak memutuskan."


"Tuan, alangkah baiknya kau meyakinkan putramu." Kali ini Michiko turut berbicara, ia menggenggam erat telapak tangan sang putri, untuk memberikan ketenangan pada putrinya itu. "Lagi pula, Darren dan Kei bisa saling mengenal terlebih dulu." Dan ia berusaha untuk menyakinkan, biar bagaimanapun kebahagiaan putrinya paling penting.


"Kau...." Suara kegeraman Jack tertahan, ia nyaris saja mengumpati istri dari Hiroki itu jika saja istrinya tidak menggenggam tangannya sebagai isyarat untuk diam.


"Nyonya, kami tidak bisa memutuskan sekarang juga. Biar bagaimanapun Darren dan Keiko yang menjalaninya. Kami hanya tidak ingin mereka berdua terpaksa menerima perjodohan mereka." Millie mencoba memberikan pengertian. Inginnya ia menegaskan saat ini juga, akan tetapi ia mencoba mengerti niat baik mereka.


"Putriku tidak terpaksa. Justru dia ingin sekali dekat dengan Darren." Michiko begitu antusias. "Untuk pertama kalinya putri kami ingin dekat dengan lawan jenisnya selain dengan Ken," imbuhnya.


Millie tersenyum menanggapi. Ia bisa melihat pancaran mata Keiko yang begitu teduh dan sepertinya tidak keberatan dengan perjodohannya.


"Aku akan bicara dengan Darren. Karena itu kalian bisa menikmati hidangan yang kami sediakan terlebih dulu." Millie menawarkan beberapa hidangan yang terjadi di atas meja, seperti cookies, maccaron dan makanan ringan lainnya.


"Terima kasih banyak, Nyonya." Michiko mulai mengambil minuman orange juice. Begitu pun dengan yang lainnya, yang mulai meneguk minuman masing-masing.


Sementara Millie undur diri sejenak untuk berbicara dengan Darren. Meninggalkan Jack yang terpaksa harus meladeni Brian dan sesekali menimpali perkataan pria itu.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Darren dari layar laptopnya. Pagi ini ia memang tidak ke perusahaan, lantaran ada tamu yang akan berkunjung. Meski enggan, ia harus tetap menghormati tamu dari Jepang tersebut.


"Der, boleh Mommy masuk?" Millie menyembulkan kepalanya di balik pintu ruangan kerja yang sedikit terbuka.


"Masuk saja, Mom."


Begitu melesat masuk, Millie segera membenamkan tubuhnya di sofa.


"Hm, Keiko dan kedua orang tuanya sudah datang. Apa kau tidak ingin menemui mereka?" Sebenarnya Millie sudah mengetahui apa yang dirasakan oleh putranya itu. Hanya saja ia ingin putra yang berbicara dengan tegas kepada Keiko serta Nyonya dan Tuan Oda. Jika disimpulkan, ia merasa bahwa Michiko memiliki sifat keras kepala dan akan melakukan apapun demi kebahagiaan putrinya, meski menggunakan cara yang memaksa sekalipun.


Darren menghembuskan napas kasar. Lalu menatap Sang Mommy. "Aku sudah pernah menolaknya, Mom. Apa itu tidak cukup untuk dijadikan sebagai jawaban?"


"Demi Mom, aku akan menemui mereka." Ya, setidaknya ia bisa menjaga nama baik Keluarga Hamilton dan tentunya agar Mommy-nya itu tidak merasa bersalah terhadap wanita yang bernama Keiko itu. Mommy-nya memiliki hati yang lembut, jika sebelumnya akan menolak secara tegas niat baik mereka, akan tetapi Darren bisa melihat pertimbangan di dalam manik mata teduh milik Mommy-nya.


"Baguslah. Setidaknya kau harus tegas jika memang tidak ingin terlibat perjodohan dengan Keiko." Saran Millie dijawab anggukan kepala oleh Darren.


Keduanya segera keluar dari ruangan kerja. Dan sosok Darren yang tinggi dengan tubuh tegap itu menjadi pusat perhatian Keiko. Jika bisa diutarakan dengan kata-kata, ia sungguh merindukan pria itu. Hanya saja ia memang tidak bisa mengungkapnya tanpa hubungan yang jelas.


"Maaf, aku tidak tau jika kalian sudah datang. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Darren baru saja membenamkan tubuhnya di sofa, ia memberitahu alasannya tidak menyambut mereka dari awal.


"Tidak masalah. Kami juga baru saja datang." Michiko menjawab dengan ramah, mengingat pria muda itu merupakan sosok yang disukai oleh putrinya.


Melihat Darren yang kini sudah berada di hadapannya membuat Keiko mencuri pandang ke arah pria itu.


"Lihatlah, kalian berdua begitu cocok." Michiko membelah keheningan yang sempat melingkupi.


Hiroki dan Brian yang sudah terbiasa dengan sikap Michiko hanya tersenyum menanggapi. Berbeda dengan Millie dan Jack yang menyamarkan senyuman. Tidak dengan Darren yang tetap mempertahankan wajah datarnya.


***


Setelah perbincangan cukup serius itu berlangsung. Darren diberikan kesempatan untuk bersama dengan Keiko. Padahal ia sudah menolak dengan berdalih tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Akan tetapi baik Michiko dan Millie, memaksa mereka untuk berbicara berdua saja. Tetapi sejak tadi hanya keheningan yang Darren ciptakan, ia begitu enggan menanggapi setiap pertanyaan yang dilayangkan oleh Keiko.


"Maafkan sikap Mama. Dia memang seperti itu." Keiko membuka suara terlebih dahulu, berharap suasana akan berubah mencair dan pria itu tidak lagi dingin padanya.


"Tidak masalah Nona. Aku tidak terlalu memikirkannya." Darren menyahut acuh. Hal itu serupa jika ia tidak peduli sikap ibu dari Keiko yang terbilang terlalu berlebihan.


Keiko kembali menunduk. Entahlah, ia sudah mencoba untuk membuat Darren agar nyaman dengannya. Namun nampaknya pria itu benar-benar enggan bersamanya.


"Der, Mom perlu bicara denganmu sebentar saja." Mommy Millie sudah menghampiri Darren serta Keiko di halaman, tetapi tujuannya adalah putranya. "Hm Keiko, Bibi perlu bicara dengan Darren. Apa kau tidak keberatan menunggu disini sebentar."


"Baik Bibi, aku bisa menunggu." Keiko memberikan jawaban dengan seulas senyum. Ah, terlihat sangat manis dan cantik. Sayangnya Darren tidak begitu tertarik.


Kemudian Darren mengikuti langkah Mommy Millie, menjauh dari posisi Keiko, agar mereka dapat berbicara dengan bebas.


"Der, sebaiknya kau mengajak Keiko untuk makan siang diluar." Perkataan Mommy Millie tentu saja mendapatkan penolakan dari tatapan mata Darren. "Hanya untuk kali ini saja. Kau perlu mencoba untuk mengenal Keiko lebih dekat. Jika memang kau benar-benar tidak menyukai Keiko, kau bisa mengatakan kepada kedua orang tuanya dan jelaskan dengan baik. Dengan begitu Mommy bisa menghadapi mereka tanpa rasa bersalah."


Darren diam dalam seperkian detik. Dari cara bicara Mommy-nya, ia dapat menyimpulkan sesuatu. "Apa Mom menyukainya?" tanyanya memastikan.


Mendengar pertanyaan Darren, Mommy Millie menarik sudut bibirnya. "Siapa yang tidak menyukai wanita cantik seperti Keiko, dia terlihat sangat lembut. Tetapi semua kembali padamu Der. Mommy hanya ingin yang terbaik untuk putra Mommy. Mommy dan Daddy tidak akan memaksamu, meskipun kami mencoba untuk mempertimbangkannya, tetapi jika kau tidak menyukainya, kau berhak untuk menolak." Inilah sosok yang selalu dikagumi oleh Darren. Mommy-nya itu selalu berpikir tidak hanya dari sudut pandangnya saja, tetapi juga mencoba melihat dari sudut pandang kedua orang tua Keiko. Mereka sama-sama ingin melakukan dan memberikan yang terbaik untuk putra dan putri mereka.


"Aku akan mencobanya. Tapi aku sendiri tidak begitu yakin karena-"


"Karena apa?" tanya Mommy Millie bingung sebab Darren tiba-tiba saja menggantungkan kalimatnya.


"Tidak apa, Mom. Sebaiknya Mom kembali menemani mereka."


Mommy Millie mengangguk. "Baiklah." Lalu segera berlalu meninggalkan Darren, kembali menuju ruang tamu.


Entahlah, aku hanya terpikirkan satu wanita saja. Shitt! Sepertinya ada yang salah dengan diriku.


Darren memandangi punggung Mommy-nya sembari membatin.


To be continue


Darren



Keiko



Btw jangan hujat visual Keiko ya soalnya ini bias Yoona dari jaman jebot 😂😂


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...