
Warning 21+
Meskipun baru pertama kali menyentuh wanita, Austin sudah nampak ahli menjelajahi setiap inci tubuh Licia. Mulai dari wajah, bibir dan leher sang istri menjadi sasaran sapuan bibirnya untuk disesap. Bagaikan menyesap nikotin yang memabukkan dan membuat candu.
Tangan Austin bergerak aktif menarik simpul bathrobe, lalu menyingkap pada bagian bahu, hingga bahu Licia terekspose. Sapuan lidahnya semakin turun kebawah dengan telapak tangan yang meremass salah satu buah dada Licia.
Lenguhan kecil lolos dari bibir gadis itu. Sebagai seorang gadis yang tidak pernah disentuh oleh pria manapun, membuat tubuhnya seperti disengat oleh aliran listrik bertegangan tinggi. Bahkan untuk bergerak pun terasa begitu kaku.
Austin tersenyum bahagia tanpa mengakhiri cumbuannya. Tanpa disadari oleh Licia jika disekitar dada gadis itu sudah di penuhi oleh tanda kemerahan dan hal itu tentu saja membuat Austin menyunggingkan senyum puas lantaran melihat hasil karyanya yang nampak kontras dengan tubuh putih mulus sang istri.
Licia merona malu, ia ingin menarik kembali bathrobe yang masih menggantung di lengannya hingga mengekspose bagian dadanya yang bulat dan padat. Tidak terlalu besar, tetapi bagi Austin cukup pas digenggamnya beberapa detik yang lalu.
"Ja-jangan melihatku seperti itu." Bagaimana Licia tidak malu jika Austin menatapnya begitu intens. Terlebih buah dadanya dipandangi dengan tatapan yang sulit diartikan.
Austin tersenyum. "Kenapa, hm? Apa kau tidak menyukainya?" Sebenarnya Austin mengerti jika Licia merasa canggung dan malu terhadapnya. Akan tetapi ia ingin gadis itu terbiasa, sebab mereka sudah menjadi suami istri dan kapanpun dirinya menginginkan, tentu ia akan menerkam saat itu juga.
Licia menggeleng. "Bukan seperti itu. A-aku hanya malu, karena ini adalah pertama kalinya seseorang melihat tubuhku."
Terdapat senyum tipis yang terselip rasa kebanggaan saat mendengar perkataan Licia. Austin juga tahu jelas jika selama ini Licia tidak pernah memiliki hubungan dengan pria lain, selain dirinya. Dan mampu menjaga diri diantara teman-teman pria saat di universitas maupun di perusahaan tempat sang istri bekerja.
Diusapnya wajah Licia yang masih menyisakan rona kemerahan. "Dan sekarang kau harus mulai terbiasa tubuhmu dilihat olehku. Hanya olehku, mengerti hm?" Menekankan perkataannya yang mengandung arti jika Licia hanya miliknya, tentu saja tubuhnya hanya boleh dilihat olehnya.
Mengangguk mengerti. Itu yang dapat Licia lakukan. Karena gadis itu seolah sedang terhipnotis oleh pesona suaminya.
Austin menarik kedua sudut bibirnya. Senang sekali melihat Licia yang selalu patuh padanya. Bertunangan selama hampir dua tahun jarang sekali bertengkar. Licia selalu berusaha mengerti dirinya dan ia sadari itu, sehingga melakukan hal yang sama.
Kemudian ditariknya bahu Licia agar mendekat padanya, sebelum kemudian menggendong tubuh istrinya itu menuju ranjang dan menidurkannya dengan lembut. Austin menyingkap bathrobe yang masih membalut tubuh Licia meski tidak menutupi bagian dada istrinya. Dada yang menggiurkan hingga membuat Austin tidak tahan untuk tidak menyentuhnya.
Licia bergerak gelisah ketika telapak tangan Austin menggenggam salah satu dadanya, sebelum pada akhir mengeluh pelan. Tak ingin membuang waktu lagi, Austin menyambar bibir dan melumatt habis dengan tangan yang meremass salah satu dada Licia. Puas berciuman, bibir Austin menyapu ke leher hingga berhenti saat mencapai dua dada dengan pucuk yang berwarna kemerahan.
Mengusapnya sebentar, membuat puncuk kemerahan itu kembali menegang. Tak kuasa Licia menahan rangsangan yang diterimanya, sehingga ia meloloskan desahaan.
Austin tersenyum smirk, lalu segera melahap satu buah dada Licia. "Aku suka menjadi bayi besar seperti ini." Sempat-sempatnya ia bergumam dan menikmati benda kenyal yang berada di dalam mulutnya. Menghisap dan bahkan memainkan di dalam mulutnya.
Licia memperhatikan Austin yang tengah rakus menghisap buah dadanya, sedangkan satu tangannya tengah meremass dada kanannya. "Eeughhh..." Gadis itu kembali melenguh. Meski masih menyesuaikan rasa geli sekaligus nikmat yang bercampur. Pandai sekali suaminya itu merangsangg hingga ia benar-benar menikmati dengan mata yang sesekali terpejam.
Menjauhkan mulutnya dari dada Licia, Austin menatap Licia dengan sorot mata berkabut gairah. "Kau menyukainya, hm?"
Licia mengangguk lemah. "Ya..." Jujur saja, ia benar-benar terbuai akan sensasi yang baru pertama kali dirasakannya. Nikmat!
Senang dengan respons alami sang istri, bibir Austin semakin turun ke bawah. Mengecup dan menjilatinya hingga meninggalkan jejak basah. Membuat sang empunya menggelinjang kegelian, tetapi mendesahkan napasnya berat.
Mendongakkan wajah setelah puas bermain-main disekitar perut, lalu menekuk kedua kaki Licia dan membuka lebar paha istrinya.
"As, apa yang akan kau lakukan?" Licia sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu.
Namun Austin tidak menjawab, posisi wajahnya saat ini sudah tepat berada di depan inti milik Licia. Benar-benar indah dan menggiurkan, sedikit basah karena cairan alaminya keluar saat ia berhasil merangsangg.
Tanpa merasa ragu dan jijik, Austin membenamkan wajahnya di sela kedua paha Licia.
"As... aahhh..." Bagaimana Licia tidak mendesahh, Austin sedang bermain di inti miliknya. Menjilati dan bahkan menghisap klitorissnyaa tanpa rasa jijik. "Aahhh... ahhhh.. As... cukup... a-ku tidak tahan...."
Namun Austin tidak mengindahkan rintihan nikmat Licia. Ia justru menekan kepalanya, menjilati dan menghisap lebih kuat lagi. Dan tangannya pun tak tinggal diam, satu jemarinya bermain juga di bawah sana, melakukan gerakan memutar dan sesekali memasukkan satu jemarinya seiring gerakan lidahnya yang menyapu di area inti.
Gadis itu menggelinjang hebat, tubuhnya bahkan bergetar tak karuan. Untuk melampiaskan rasa nikmat yang baru pertama kali dirasakannya, kedua tangan Licia meremass sprei dengan kuat.
"***... aku tidak tahan lagi, aku ingin buang air kecil... aahhh..."
Saat mendengarnya, Austin semakin liar menghisap. Ia tahu jika Licia akan sampai pada pelepasannya, namun istrinya itu mengartikan lain dengan mengatakan ingin buang air kecil.
"Aaahhhh.... As....." Benar saja, beberapa detik kemudian, tubuh Licia bergetar bersamaan dengan pelepasan pertamanya.
Tidak jijik, Austin menyedott cairan pelepasan yang keluar dari inti sang istri. Satu kata yang bisa ia jelaskan rasa cairan yang baru pertama kali ia rasakan. Manis yang bercampur rasa asin!
Napas Licia tak beraturan. Gila! Benar-benar gila! Apa yang baru saja dirasakannya benar-benar nikmat. Pantas saja diluar sana banyak pasangan yang ketagihan berhubungan sekss.
Austin menjauhkan wajahnya dari inti Licia, ia mengusap sekitar bibirnya yang basah. Ditatapnya intens wajah Licia yang memerah dengan napas terengah-engah. Sungguh pemandangan yang indah menurutnya. Penampilan Licia yang berantakan, bercak kemerahan nyaris memenuhi tubuh Licia yang seputih susu.
"Permainan yang sebenarnya baru akan dimulai, Baby." Austin tersenyum nakal. Ia menarik tali simpul bathrobe, melepaskan penghalang tubuhnya itu dan menghempaskannya dengan asal.
Seketika mata Licia membulat sempurna. Bagian atas tubuh Austin sudah biasa ia lihat, karena mereka sering berenang bersama. Namun bagian bawah Austin yang panjang berurat itu baru pertama kali ia lihat.
"Besar sekali." Tanpa sadar gadis itu terkesima. Apa ukuran yang seperti milik suaminya menjadi idaman para wanita? Tentu saja, Licia bahkan pernah secara tidak sengaja mendengar percakapan dua wanita yang membicarakan tentang ukuran pusaka seorang pria yang memuaskan.
Astaga. Licia tidak habis pikir? Apa di hadapannya ini adalah Austin, suaminya?
"As, kau benar-benar mesum." Licia membuang pandangannya ke arah lain. Lalu beranjak untuk duduk. Jujur saja ia penasaran dengan milik suaminya itu. Biarkan saja ia menjadi wanita yang tidak tahu malu, ia melakukannya pada suaminya sendiri.
"Aku ingin mencoba menyentuhnya." Pandangan Licia menunggu persetujuan dari suaminya.
Austin tertegun awalnya. Tidak menyangka jika Licia menjadi begitu berani, sebelum kemudian mengangguk. Lagi pula ia sudah berkata jika tubuhnya hanya milik istrinya itu.
Licia mengangguk, ia melepaskan bathrobe yang ternyata masih terpaut pada tubuhnya. Membuang bathrobe tersebut di bawah ranjang. Sebelum kemudian mendekatkan wajahnya pada milik Austin yang sudah sangat tegang.
"Euughh..." Austin melenguh saat jemari lentik Licia menyentuh miliknya dan perlahan memaju-mundurkan gerakan tangannya. Mata Austin sampai dibuatin terpejam akibat permainan tangan istrinya. "Licia... Baby.... ahhhh...." Dan ia merasakan miliknya berada di lembah yang basah. Saat membuka mata dan menunduk, Austin mendapati Licia tengah mengulum miliknya.
"Siapa yang mengajarimu, hm?" Austin tidak menyangka jika Licia bisa bertindak nakal dan menjadi agresif.
Gadis itu tidak merespons. Ia menikmati milik Austin yang berada di dalam mulutnya. Dari mana ia mempelajarinya? Tentu saja dari film biru yang ia tonton selama ini dan ternyata sungguh bermanfaat. Lihatlah bibir Austin yang tidak berhenti mengerang. Licia sangat menikmati wajah bergairah suaminya. Semakin cepat ia memaju-mundurkan kepalanya. Namun tiba-tiba saja Austin menahan kepalanya.
"Sudah cukup, Baby," ujarnya. Ia tidak ingin keluar di dalam mulut sang istri. "Berbaringlah," imbuhnya kemudian.
Mau tidak mau Licia melepaskan milik Austin dari mulutnya. Ia segera berbaring dengan posisi yang sungguh menggoda dan membuat gairah Austin kian memuncak.
Sialan! Austin benar-benar tidak tahan lagi. Ia segera menekuk kedua kaki Licia. Memposisikan kejantanannya pada inti sang istri.
"Ini akan sedikit terasa sakit, Baby." Austin memperingati lebih dulu agar Licia tidak terlalu terkejut.
Licia mengangguk saja. Ia sudah tahu sebelumnya tetapi belum tahu rasa sakitnya seperti apa. Saat kejantanan Austin bergesekan dengan miliknya, membuat tubuh Licia kembali berdesir.
Dengan perlahan, Austin menerobos masuk inti Licia, membuat gadis itu memekik dan mencengkram kuat kedua Austin.
"Sakiitt..." rintihnya bersamaan dengan air mata yang menetes tanpa sadar.
Jemari Austin menghapusnya. "Setelah ini tidak akan sakit lagi," ucapnya menenangkan. Licia hanya mengangguk lemah, ia membiarkan Austin kembali mendorong miliknya menjadi dalam lagi, hingga kemudian berhasil membobol selaput darah dan milik Austin terbenam di dalam sana. Hangat! Austin merasakan jika ada cairan yang mengalir di permukaan miliknya. Entah apa itu, tetapi Austin sangat yakin jika itu adalah darah. Dengan lembut Austin bergerak, maju mundur agar milik Licia menyesuaikan terlebih dahulu dan setelahnya ia mendapati raut wajah Licia yang menjadi lebih rileks.
Austin menuntun tangan Licia untuk memeluk lehernya. Setelah itu, via membiarkan istrinya untuk berekspresi apapun. Meringis dan bahkan memejamkan mata singkat karena rasa nikmat. Itulah yang ia tangkap dari wajah gadis yang sepenuhnya sudah menjadi miliknya.
Semakin lama gerakan pinggul Austin semakin cepat. Membuat Licia mendesahh frustasi karena tidak dapat menjabarkan rasa nikmatnya.
"Aahhh.... Sayang...."
"Apa, hm?" Menyahut singkat. Bahkan sangking gemasnya Austin menyambar bibir Licia dan mengulumnya dengan liar.
Gairah Austin benar-benar menggebu-gebu, sehingga ia semakin dalam menghujam. Saat tautan bibir mereka terlepas, Licia kembali mendesahh.
"As, Sayang.... hhmm... A-aku ingin keluar."
"Bersama-sama, Baby." Sebelum pelepasan mereka datang, Austin melengkungkan punggungnya dan semakin liar menyentak pinggulnya. Milik Licia semakin menjepit miliknya, membuat Austin mengeram nikmat.
"Aahhh... Baby...."
"Aahhhh.... Sayang...."
Teriakan mereka melengking bersamaan dengan pelepasan yang sempurna. Keduanya baru saja saling memuaskan dengan penuh cinta.
Austin mengecup kening Licia dengan penuh perasaan. "Aku mencintaimu. Terima kasih."
"Sama-sama. Aku juga mencintaimu." Licia membalas dengan disertai senyuman.
Keduanya saling menempelkan hidung. Dan mengecup bibir satu sama lain. Saat ini Austin akan membiarkan Licia untuk beristirahat sejenak, sebelum nanti dirinya dirinya kembali menggempur istrinya itu hingga pagi menjelang.
See you next bonus chapter
Yoona gak tau bab ini lolos atau enggak.. Semoga lolos review ya 😄
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...