
Mike memang memasang wajah datar. Bukan karena tidak senang akan lamaran Nathan yang tiba-tiba. Akan tetapi ia harus memutuskan dengan baik-baik, karena menyangkut kebahagiaan adiknya.
"Nath, kau sudah tau bagaimana keadaan Mei saat itu. Bahkan kau sendiri yang menjaganya selama aku tidak ada. Kau juga tau apa penyebab dirinya menjadi seperti itu. Karena itu apa kau yakin dengan lamaranmu ini?" Ya, Mike tidak ingin adiknya itu kecewa, meski ia sendiri menaruh harapan besar kepada Nathan.
"Saya sangat yakin, Tuan." Nathan merespons cepat. Ia sadar apa yang dicemaskan oleh Tuannya. "Saya sangat tau apa yang menyebabkan Nona Mei menjadi seperti itu. Dan saya menerimanya, saya tidak memandang masa lalu, karena yang saya inginkan adalah bersama Nona Mei dan membahagiakan wanita yang saya cintai." Memang selama ini tidak sekalipun Nathan mempermasalahkan masa lalu Meisha yang pernah menjadi korban pemerkosaan. Baginya, wanita itu adalah separuh napasnya dan ia hanya menginginkan wanita itu saja di dalam hidupnya.
Meskipun mendengar jawaban yang memuaskan, akan tetapi Mike tetap memasang wajah datar, hingga membuat Elie menjadi cemas jika suaminya akan menolak Nathan.
Namun dugaannya salah, Mike tiba-tiba saja tersenyum. "Aku menerima lamaranmu, Nath. Selain kau adalah asisten kepercayaanku, kau adalah pria yang baik dan aku percaya Mei akan bahagia jika hidup bersamamu."
Ah. Lega sekali rasanya. Hingga Nathan menghembuskan napas yang membuatnya sesak sejak tadi. Bahkan ia nyaris berteriak jika saja tidak sedang menjaga wibawanya di hadapan calon kakak iparnya.
"Syukurlah. Aku sangat senang mendengarnya." Bahkan Elie berseru senang saat mendengar jawaban Mike yang menerima lamaran Nathan. "Kalau begitu jangan menundanya, Nath. Kau harus cepat melamar Mei sekarang juga!"
"Eh, sekarang juga Nyonya?" Tentu Nathan mendadak gugup. Benarkah sekarang? Bahkan ia sendiri belum mempersiapkan apapun untuk melamar Meisha. Hanya cincin yang selalu ia bawa kemanapun dirinya pergi. Seolah yakin jika Meisha akan menerimanya. "Kalau begitu saya akan melamar Nona Mei di hadapan Tuan dan Nyonya Jhonson."
Mike mengangguk tanda setuju. "Semoga berhasil," serunya memberikan semangat. Walaupun ia sendiri sangat yakin jika Meisha akan menerima Nathan.
Nathan yang mendapatkan dua dukungan kuat sekaligus menjadi begitu semangat. Setelah berpamitan, ia segera berlalu untuk menemui Meisha dan kedua orang tua wanita itu.
Benar saja, suasana menjadi begitu heboh lantaran Nathan benar-benar melamar Meisha di hadapan Matthew dan Aprille. Bahkan dihadapan Mommy Elleana dan Xavier.
Pria itu berharap-harap cemas akan jawaban kedua orang tua dari wanita yang dicintainya.
"Kami menyerahkan keputusan pada putri kami. Jika Mei menerimamu untuk menjadi pendampingnya. Maka sebagai orang tua, kami akan mendukung kebahagiaan kalian." Perkataan Daddy Matthew begitu bijak. Lagi pula siapa yang akan menolak untuk bermenantukan pria seperti Nathan yang begitu sabar menjaga putri mereka selama ini.
Nathan belum dapat bernapas lega selama belum mendapatkan jawaban yang pasti. Sehingga ia menatap Meisha yang duduk bersisian dengan Mommy Aprille. Wanita itu menundukkan kepalanya sebelum pada akhirnya memberanikan diri menatap Nathan. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia dibuat kesal oleh Nathan, akan tetapi pria itu mampu meluluhkan hatinya dengan tindakannya yang tidak disangka-sangka.
"A-aku..." Demi apapun, Meisha begitu gugup. Sehingga Mommy Aprille menggenggam tangan putrinya itu untuk memberikan keberanian. Hingga kemudian Meisha menarik napas, sebelum akhirnya ia menjawab, "Aku menerimanya."
"Apa?" Nathan ingin memastikan jika ia tidak salah mendengar.
"Aku menerimamu dan ingin hidup bersamamu. Seperti Kak Mike yang sudah bahagia dan Kak Elie, aku juga ingin hidup bersama pria yang mencintaiku dan juga yang aku cintai," jawabnya menegaskan dengan tatapan dalam tertuju pada Nathan.
"Yeess!!!" Pada akhirnya Nathan lepas kendali. Ia berseru senang seperti seseorang yang baru saja menang lotre. Semua keluarga yang menyaksikan pun bersorak gembira dan saling memberikan ucapan selamat.
"Lihatlah, dia sangat gentleman dengan melamar wanita yang dicintainya di hadapan kedua orang tuanya. Tidak seperti seseorang yang membawa kabur putriku dan menikahinya tanpa meminta restu padaku terlebih dahulu!" ujar Daddy Xavier menyindir telak Mike yang tentu merasakan jika perkataan ayah mertuanya itu untuk dirinya.
Alih-alih tersinggung, Mike justru tergelak. Mau bagaimana lagi, saat itu ia tidak dapat menahan perasaannya dan juga tidak ingin kehilangan Elie.
"Sudahlah, tidak baik menjadi pria yang pendendam!" seru Daddy Zayn mewakilkan apa yang ingin diucapkan oleh Mommy Elleana.
"Cih, tidak baik jadi pendendam." Daddy Xavier mengulangi perkataan Daddy Zayn. "Lalu kau sendiri bagaimana? Bukankah beberapa hari yang lalu, kau memusuhiku karena putraku membuat putrimu menangis, heh?!" Perkataan menohok Daddy Xavier membuat Zayn menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jika diingat lagi, memang ia yang terlalu menggebu-gebu mendatangi kediaman Romanov dan membuat mereka nyaris berkelahi jika saja tidak segera dipisahkan.
Daddy Xavier berdecih. "Kenapa hanya satu? Aku ingin dua atau lebih." Namun bukan Xavier namanya jika tidak menyulitkan Zayn.
Astaga, diberi hati justru minta jantung. Daddy Zayn benar-benar menahan geram menghadapi pria itu.
Melihat reaksi kesal Daddy Zayn justru menjadi alasan mereka semua tergelak geli. Ada-ada saja perdebatan mereka yang tiada pernah ada habisnya.
"Sayang, kau jangan seperti itu jika sudah tua nanti," bisik Veronica tepat di telinga Darren kala menyaksikan perdebatan dua pria yang sudah tidak lagi muda itu.
"Lalu aku harus seperti apa, hm?" Darren menyahuti sang kekasih dengan bersedekap.
"Tentu kau harus selalu mencintaiku dan menjadikan aku ratu di hatimu selamanya," cicit Veronica bergelayut manja di lengan Darren.
Perkataan Veronica membuat Darren merasa geli sekaligus terheran. Ada saja kalimat kekasihnya yang membuatnya terkekeh. Tetapi ia mencintai wanita itu dengan segala tingkahnya.
Darren kembali menyahuti. "Hanya kau satu-satunya wanita yang kucintai selamanya."
Tersentuh? Tentu saja. Veronica bahkan nyaris terbang ke angkasa jika saja tidak berpegang dengan tangan Darren.
Dan jika saat ini mereka tengah berbahagia, berbeda dengan seorang gadis yang mengasingkan diri di sudut. Gadis itu turut bahagia dengan suasana yang baru saja terjadi, hanya saja saat ini ia sedang merindukan seseorang. Sehingga ia hanya menatap layar ponselnya yang begitu banyak menyimpan foto kebersamaan mereka.
"Licia kemarilah, kita akan berpesta barbeque." Freya tiba-tiba saja datang dan menarik tangan teman baiknya itu. Meski enggan dan karena dipaksa, pada akhirnya Licia beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti Freya dan bergabung dengan yang lain.
Suasana yang begitu menyenangkan, sehingga tawa yang menggemparkan itu tertangkap jelas di panggilan video yang sedang terhubung.
"Kau lihat sendiri bagaimana suasana disini. Apa kau masih tidak ingin kembali, hm?" ucap Arthur pada seseorang yang terhubung dengan panggilan video. Sejak tadi ia mengarahkan kamera belakang hanya untuk menunjukkan suasana yang terjadi selama mereka liburan di Hawai.
"Tidak. Belum saatnya aku kembali." Seseorang diseberang sana menjawab perkataan Arthur. "Ah, sudah dulu. Klienku sudah datang."
"Apa kabar, Tuan? Bagaimana suasana di Bali menurut anda?"
Arthur mengernyit tidak mengerti ketika suara asing yang merupakan klien perusahaan mereka berbicara dalam bahasa Indonesia. Kemudian Arthur menggeleng karena panggilan video mereka belum terputus, sehingga dirinya yang memutuskan sambungan video call.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...