The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Akan Menjadi Ipar



"Tuan, izinkan saya yang menjaga Nona Meisha."


Tubuh Mikel nyaris terjingkat saat terkejut mendengar perkataan Nathan yang tiba-tiba di sela-sela mereka sarapan bersama. Bahkan makanan yang berhasil dikunyah itu gagal meluncur sempurna sehingga membuatnya tersedak. Lantas Mikel segera meraih gelas air putih dan meneguknya hingga kandas.


"Apa yang sedang kau bicarakan Nath?" Mikel melayangkan tatapan penuh tanda tanya. Ia belum dapat mencerna dengan baik apa yang baru saja ia dengar dari mulut asistennya itu.


Nathan diam-diam menarik napas dalam. Entah mengapa keberaniannya sejak tadi ia kumpulkan mendadak lenyap begitu saja saat di tatap begitu tajam oleh tuannya.


"Hem begini tuan, bukankah dokter menyarankan agar kita tidak harus memperlakukan Nona Meisha seperti orang sakit. Karena itu saya ingin menjaga Nona Meisha, membawa Nona Meisha ke tempat-tempat baru dengan suasana yang nyaman." Akhirnya Nathan berhasil menyampaikan niatnya itu yang sejak malam tadi terus menghantui dirinya.


Mikel memperhatikan raut wajah Nathan, tidak terdapat lelucon disana. Yang ada hanya sorot mata yang penuh keseriusan. "Apa kau yakin dengan keputusanmu Nath? Kau tau bukan tidak mudah menghadapi Mei, dia bisa histeris kapan saja. Aku hanya tidak ingin menyusahkanmu. Apalagi jika terjadi sesuatu dengan Mei, aku akan sangat menyalahkanmu Nath."


"Saya yakin tuan. Dan saya akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang buruk dengan Nona Meisha." Nathan menjawab mantap. Memang sejak awal melihat Nona Meisha, ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin sekali menjaga wanita rapuh itu.


Mikel terdiam sejenak, menimbang permintaan Nathan. Tentunya ia harus memikirkan hal tersebut, sebab menjaga Meisha adalah perkara yang cukup sikut. Jared dan Amber saja sering kali kewalahan menghadapi Meisha jika tengah histeris, dan justru asistennya itu menawarkan diri untuk menjaga Meisha.


"Baiklah...." jawab Mikel pada akhirnya. Tidak ada salahnya memberikan kesempatan Nathan untuk menjaga adiknya itu. Mungkin dengan adanya Nathan, Meisha perlahan-lahan akan berangsur pulih. Yang ia perhatikan selama ini dari asistennya itu, Nathan benar-benar pria lembut dan penuh kesabaran. Mungkin di tangan Nathan, Meisha akan merasakan kenyamanan. "Amber akan membantumu jika kau kesulitan mengahadapi Mei," lanjutnya.


"Baik Tuan. Kalau begitu saya akan membawa Nona Meisha turun ke meja makan agar sarapan bersama dengan Tuan." Nathan pamit undur diri dari sana, usai mengakhiri sarapannya.


Mikel hanya mengangguk saja, ia tidak yakin jika Nathan dapat membujuk Meisha, karena sebelumnya berbagai cara sudah ia lakukan agar adiknya itu mau sarapan bersama dengannya di meja makan. Akan tetapi Meisha menggeleng dengan kuat dan nyaris histeris. Mikel menyerah, ia tidak ingin memaksa adiknya yang dapat memicu guncangan kembali.


Kedua mata Mikel berkaca-kaca saat mendapati Meisha merespons apapun yang di katakan Nathan yang tidak pernah ditunjukkan adiknya itu kepada dirinya. Meisha menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh Nathan, meski Meisha lebih banyak menolak dan menggeleng.


"Nona, setelah ini saya akan membawa Nona berjalan-jalan. Karena itu Nona harus menurut dengan Amber karena Amber akan membantu Nona berganti pakaian," ujar Nathan lembut. Ia baru saja membantu Nona Meisha sarapan yang memang cukup sulit membujuk. Tetapi ia tidak menyerah, terbukti Nona Meisha mau menurut dengan perkataannya.


"Amber, bantu Mei ke kamarnya dan ganti pakaiannya dengan pakaian yang nyaman. Jangan memberikan Mei aksesoris yang berlebihan," perintah Mikel kepada Amber yang sejak tadi juga berada di antara mereka memperhatikan Nona Meisha yang benar-benar menunjukkan sedikit kemajuan.


Mikel beranjak berdiri, saat ini ia sudah rapi dengan setelan jasnya. Siang ini ia harus datang ke perusahaan tanpa Nathan, membiarkan asistennya itu cuti selama beberapa hari. "Hubungi aku setiap satu jam sekali. Pastikan Mei baik-baik saja. Jika dia mulai tidak nyaman, sebaiknya kau pergi dari sana jangan menunggu sampai Mei histeris." Mikel begitu cerewet jika menyangkut tentang Meisha. Sebab itu ia menginginkan yang terbaik, meski beberapa tahun yang lalu, ia tidak selalu berada di samping adiknya itu.


"Baik Tuan." Nathan mengangguk hingga memperhatikan tuannya yang sudah berlalu. Sorot matanya kemudian mengedar ke sekeliling, dimana terdapat beberapa pria bertubuh tegap yang ia yakini adalah anak buah Mikel. Nathan hanya akan mengikuti apa yang dikatakan oleh tuannya itu, membiarkan mereka berjaga selama berada di luar.


***


Begitu menyelesaikan pekerjaan yang tertunda selama beberapa hari, Mikel bergegas keluar dari ruangannya, hingga langkahnya meninggalkan lobby perusahaan menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan. Tanpa supir pribadi, Mikel menancapkan gas menuju rumah sakit. Sore ini ia harus menemui wanitanya, sudah dua hari tidak melihat wanita itu membuatnya di landa kerinduan.


Decitan suara pedal rem terdengar melengking lantaran Mikel begitu tidak sabar memarkirkan mobilnya di antara mobil lainnya yang berbaris rapi di parkiran rumah sakit. Ia turun dari mobil dan melangkah panjang membelah lobby rumah sakit yang nampak padat. Memang ia datang bertepatan dengan jam kunjungan pasien sehingga banyak yang berlalu-lalang.


Suara benturan langkah yang menapaki lantai lorong rumah sakit menyita ekor mata Mikel melirik ke arah asal suara. Disusul langkahnya yang terpaksa dihentikan begitu mendapati suara itu tidaklah asing, terlebih kini ia melihat pemilik suara tersebut.


Mikel menatap dalam pasangan suami istri setengah baya yang selalu terlihat mesra dimanapun dan kapanpun. Kedua pasangan setengah baya itu mengingatkan akan kedua orang tuanya, mereka benar-benar nampak mirip bahkan mereka bersahabat sebelumnya. Entah bagaimana reaksi mereka jika mengetahui kedua sahabat mereka sudah tiada di dunia.


Pasangan suami istri setengah baya itu tidak lain ialah Xavier dan Elleana. Kedua mata Mikel yang berkaca-kaca itu tidak berpindah sedetik pun dari keduanya, sorot matanya itu penuh dengan kerinduan yang mendalam. Melihat mereka aja seolah ia tengah melihat kedua orang tuanya.


"Ehem...." Mikel terlonjak kaget ketika suara deheman menyentakkan telinganya. Ia memutar arah tubuhnya dan mendapati Arthur sudah berdiri di belakangnya.


"Elie sudah baik-baik saja." Tanpa Mikel memberitahukan keberadaan disana, Arthur sudah menebaknya terlebih dahulu sehingga ia memberitahukan kondisi adiknya hari ini. "Meskipun aku tidak menyukaimu tapi aku harus tetap mengucapkan terima kasih padamu, karena berkatmu adikku selamat." Meski terkesan dingin tetapi Arthur benar-benar menyampaikan rasa terima kasihnya dengan tulus.


"Itu sudah menjadi kewajibanku untuk melindunginya. Kau tidak perlu mengucapkan terima kasih padaku," sahut Mikel tanpa ekspresi sama seperti Arthur.


Mendengar ucapan Mikel, Arthur mendecakan lidahnya. Kewajiban? Apa pria itu sudah mengklaim jika Elie adalah miliknya, pikirnya.


"Elie adalah adikku, aku yang berkewajiban untuk melindungi dan menjaganya. Jadi berhentilah membuang-buang waktu dan tenagamu untuk sesuatu yang bukan menjadi urusanmu!"


Mikel berdecih di dalam hati, Arthur benar-benar tidak berubah dan selalu melontarkan perkataan pedas dan tajam.


"Tunggu saja, tidak lama lagi kita akan menjadi ipar." Mengabaikan tatapan tajam Arthur, Mikel menyematkan senyuman. Terlebih wajah ketidaksukaan Arthur padanya nampak begitu kentara sehingga membuatnya ingin sekali melihat Arthur kesal lebih dari ini.


"Kau.....?"


"Ar, kenapa berbicara dengan temanmu disini?" Suara Mommy Elleana menggantungkan kalimat Arthur, sehingga Arthur harus menelan kembali umpatan yang baru saja akan ia layangkan kepada Mikel.


Mommy Elleana tersenyum, ia mengira jika putranya tidak sengaja bertemu dengan temannya. Sehingga ia datang menghampiri, berniat mempersilahkan masuk ke dalam ruangan. Mata Elleana menemui pria yang masih memunggunginya itu.


Sementara tubuh Mikel sudah terlihat menegang saat mendengar suara lembut itu. Bukan karena terkejut, melainkan ia belum siap untuk bertemu dengan Mommy Elleana dan terlebih jika wanita setengah baya itu dapat mengenali dirinya, meski beberapa bagian wajahnya nampak berubah.


To be continue


Babang Arthur



...Terima kasih dukungan kalian selama ini 🤗❤️...


...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...