
Terdengar suara musik yang menggema memenuhi seisi penthouse. Lantunan lagu Justin Bieber yang berjudul Baby berputar entah sudah yang keberapa kalinya. Pemuda-pemuda Lion Boys nampaknya lebih suka menghabiskan waktu dengan bergurau atau menari dengan musik random. Tetapi tidak dengan Liam, pemuda itu sangat menyukai berbagai lagu dari penyanyi Justin Bieber. Seperti saat ini, Liam begitu semangat bernyanyi, menggoda Gavin yang tengah fokus memainkan ponselnya. Sudah diperingatkan oleh Gavin agar temannya itu diam, akan tetapi Liam yang memiliki jiwa jahil yang tinggi, tidak pedulikan seruan Gavin.
"Shut up you jerk!!" umpat Gavin geram. Pasalnya sejak tadi Liam tidak ingin mendengarkan protesnya dan justru semakin meningkatkan volume suaranya.
Liam terkekeh, ia mengangkat bahunya lalu kembali bernyanyi tanpa menghiraukan wajah Gavin yang tertekuk dua kali lipat.
Karena Liam tidak ingin berhenti bernyanyi, maka jalan keluarnya adalah Gavin beranjak dan segera berlalu dari sana, setidaknya mencari tempat yang tidak bising dengan suara Liam yang sungguh menjijikan di dengar.
"Diam bodoh!" Elden datang dan tangannya melayang menepuk kepala belakang Liam. "Suaramu lebih jelek dari penyanyi aslinya!" sambungnya mengejek.
"Sialan! Justru jika suaraku bagus, aku akan menjadi penyanyi terkenal," sahut Liam membela diri. Jangan salahkan dirinya yang tidak memiliki suara yang bagus, salahkan saja Daddy Daniel yang hanya mementingkan penampilan ketimbang suara yang merdu dan indah.
"Tidak akan ada yang mendengar lagumu. Berhenti berhalusinasi Lim." Elden menyahut acuh.
"Ck...." Liam mendecakan lidahnya. "Ini hanya seandainya bro.... Seandainya, bukan berhalusinasi." Liam menekankan ucapannya.
Kedua alis Elden semakin berkerut. "Lalu apa bedanya?" Tidak menghiraukan Liam, tangan Elden menyambar remote untuk mematikan musik yang disukai Liam tersebut. Sebelum kemudian memeriksa laptop yang berada di meja ruang tamu. Lalu mulai membuka notifikasi group setelah berhasil membenamkan tubuhnya di sofa. "Shiitt!" umpatnya kemudian.
Mendengar umpatan Elden, Liam menolehkan kepala, lalu mendudukkan tubuhnya di samping Elden. "Ada apa?" tanyanya penasaran.
"Suara musikmu terlalu keras." Elden meruntuki Liam yang selalu mendengarkan musik dengan volume yang menggelegar, tetapi Liam tetap acuh seakan tidak bersalah. "Lihatlah, ada pekerjaan dari pria tanpa ekspresi."
"Der??" Liam memastikan bahwa pria tanpa ekspresi yang dimaksud Elden adalah Darren.
"Hem...." sahutnya berdehem. Lalu membaca isi pesan itu. "Kita perlu meretas CCTV di Four Season Hotel London, Lim," katanya kemudian setelah mengetahui isi pesan tersebut adalah sebuah pekerjaan yang penting.
"For what?" tanyanya ingin tau.
"Mencari informasi seorang wanita yang berada di CCTV Four Season Hotel London."
Mendengar alasan mereka harus meretas CCTV di hotel tersebut, kening Liam berkerut dalam. "Sejak kapan Der peduli dengan wanita. Wow, ini benar-benar kemajuan."
Elden mengedikkan bahu tidak ingin tau. "Yang jelas ada kaitannya dengan Bos Ar," sahutnya. Sudah pasti mereka mengetahui jika apapun yang diperintahkan oleh Darren, sudah pasti bermula dari Bos Arthur.
"Baiklah, biar aku lihat dulu." Liam mengambil alih laptop dari Elden. Ia kemudian mulai menyambungkan sinyal pada CCTV yang akan ia retas.
Elden menunggu Liam dengan tenang. Jika sedang bekerja Liam akan berubah menjadi mood serius.
"Ada pekerjaan apa?" Suara Gavin yang baru bergabung dan mendudukkan tubuh di sofa single mengalihkan perhatian Elden, tetapi tidak dengan Liam yang tetap fokus.
"Meretas CCTV di Four Season Hotel London." Elden menyahut. Gavin hanya mengangguk saja.
"Holly Shittt!!" Hingga seruan Liam membuat Gavin serta Elden saling bersitatap. "Wanita cantik dan seksi, pantas saja Bos Ar ingin mencari tau informasi tentangnya." Liam berdecak kagum begitu mengetahui wanita yang ingin diselidiki adalah seorang wanita yang sangat cantik serta seksi.
"Kondisikan matamu!" Elden lagi-lagi menepuk kepala bagian belakang Liam. Hingga membuat Liam mengaduh, sementara Gavin terkekeh-kekeh.
"Ck, kalian merusak kesenanganku!" gerutu Liam disertai decakan kesal.
"Jangan membuang waktu Lim! Kau lihat, Der sudah mengirim pesan satu jam yang lalu." Elden mengingatkan Liam yang selalu bermain-main dan terlalu mengulur waktu.
"Kepalamu akan dipenggal jika terlambat mencari informasi tentang wanita itu, Lim!" sambar Gavin menakuti.
Liam mengangguk. "Jika kepalaku di penggal, maka kepala kalian juga akan di penggal. Jangan lupa jika kita satu paket!" ujarnya dengan nada mengancam.
"Kau saja, bodoh!" Gavin tentunya tidak ingin kehilangan kepalanya. Dan Elden yang malas menanggapi hanya memperhatikan layar laptop yang bergerak kesana-kemari.
Gavin pun turut serius, dan memperhatikan Liam yang lihai meretas berbagai rekaman CCTV. Kemampuannya serta Elden memang tidak seahli Liam, tetapi mereka juga mampu meretas berbagai sistem perusahaan.
Mata Liam menyipit begitu sudah mendapati informasi wanita itu. Ia bahkan berhasil meretas CCTV di lorong hotel tempat wanita itu menginap.
"Helena Bonham, putri satu-satunya Tuan Jorge Bonham," gumamnya.
"Wow, dia putri keluarga Bonham rupanya." Elden berseru tidak percaya.
"Bukankah Tuan Bonham sudah menikah lagi dengan seorang janda cantik?" timpal Gavin bertanya.
Siapa yang tidak mengetahui Keluarga Bonham, meskipun perusahaan Bonham tidak begitu besar tetapi sepak terjangnya sudah mendunia.
Ketiganya kemudian saling pandang, lalu mengangkat kedua bahunya acuh. "Bukan urusan kita!" Liam berujar mengingatkan. Mereka memang tidak pedulikan tentang kehidupan orang lain.
Kemudian segera mengirimkan informasi yang sudah di dapatkan kepada Darren.
"Siapa wanita itu?" Suara Austin mengalihkan perhatian ketiganya. Kemudian berjalan menghampiri ketiga temannya diikuti oleh Devano. Mereka baru saja dari universitas dan Devano turut menemani Austin yang tengah sibuk menyusun skripsi.
"Entahlah, kita hanya di perintahkan menyelidikinya." Gavin menyahut dengan menolehkan kepalanya.
Austin mengangguk, lalu membenamkan tubuhnya di sofa bersamaan dengan Darren.
"Wanita itu terlihat tidak asing. Jika aku tidak salah, dia pernah beberapa kali di wawancarai." Devano membuka suara lantaran tidak asing dengan wanita tersebut.
"Hem, Helena Bonham," sambar Elden membenarkan.
"What?!!" Austin nampak tidak percaya. "Jadi Kak Ar tertarik dengan wanita itu?" tanyanya memastikan. Karena sejauh ini belum pernah ia mendengar kakaknya mencari informasi mengenai seorang wanita.
"Jangan samakan kakakku denganmu, Jerk!" seru Austin tidak terima. Kakaknya bukan pria seperti itu, yang hanya mengandalkan napsu saja.
"Hahaha.... Baiklah... Baiklah...." Liam tergelak, merasa bergidik di tatap tajam oleh Austin.
Pandangan mereka kemudian beralih pada Devano yang tengah mengulas senyum sembari memainkan ponselnya.
"Hei Dev, jika kau memiliki wanita, kenalkan kepada kami!" kata Elden tersenyum, kedua alisnya naik turun nampak menggoda.
"Shittt! Aku tidak memiliki wanita!" bantah Devano. Ia kemudian meletakkan ponselnya di atas meja.
"Lalu dengan siapa kau berkirim pesan jika bukan dengan kekasihmu?" Kali ini Gavin ikut bertanya, ia pun penasaran.
"Temanku," jawabnya seadanya.
"Teman tapi mesra bukan?" sambar Liam terkekeh.
"Jangan samakan aku denganmu, bodoh!" sahut Devano mendengkus kesal.
"Hahahaha....." Melihat reaksi Devano yang kesal, mengundang gelak tawa keempatnya.
***
Malam harinya, Arthur serta Darren sudah tiba di Istanbul setelah mengudara selama 4 jam dan perjalanan darat selama 30 menit. Istanbul lebih cepat dua jam dari London, sehingga di Istanbul menunjukkan pukul 8 malam, sementara di London masih pukul 6 sore. Dan malam ini mereka sudah berada di Raffles Istanbul Hotel, salah satu hotel terbaik di Negara Timur Tengah tersebut.
"Der, apa kau sudah mendapatkan informasi dari mereka?" Baru saja Arthur menjatuhkan tubuhnya di sofa, sudah menanyakan informasi mengenai wanita di lift.
"Sebentar, aku akan mengeceknya." Darren kemudian merogoh ponsel di dalam saku celananya. Sejak mendarat di Bandar Udara Internasional Ataturk, ia belum menyentuh ponselnya.
Darren yang duduk di kursi makan, berhadapan dengan sofa yang di duduki Arthur tengah membaca pesan Group Black Lion.
"Helena Bonham putri satu-satunya dari Jorge Bonham," ucapnya memberitahu. "Selama dua tahun menetap di Paris sebagai designer terkenal disana. Usianya 26 tahun dan dia memiliki adik tiri bernama Caroline Bonham. Lebih suka menghabiskan waktu dengan bekerja dan traveling. Dan makanan kesukaannya adalah-"
"Stop Der!" Tangan Arthur menginterupsi. Ia jengah mendengar laporan yang dibacakan oleh Darren adalah informasi yang tidak penting. "Aku tidak peduli tentang hobby atau makanan kesukaannya. Aku hanya ingin tau kenapa dia sampai mengusik Elie."
Darren mengangguk mengerti, lalu ia mulai membaca kembali laporan tersebut. Keningnya berkerut dalam saat mendapati informasi mengenai kedekatan wanita itu dengan seorang pengusaha yang tentu tidak asing. "Ehm, selama dua tahun ini, Helena Bonham dekat dengan seorang pria."
"Siapa?" tanya Arthur mendesak tidak sabar.
"Mikel Jhonson."
Mendengar nama seorang pria yang tidak asing di pendengarannya, sontak membuat Arthur menatap Darren. "Mikel Jhonson pemilik MJ Corp?" tanyanya memastikan.
"Benar...."
Arthur seketika terdiam nampak berpikir, terlihat dari kerutan dalam pada keningnya. "Cari tau tentang Mikel Jhonson!"
"Baiklah....." Darren mengangguk pasrah.
"Dan buatkan jadwalku bertemu dengannya!" katanya kemudian. Namun Darren tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Arthur dengan tatapan sulit diartikan. "Ada apa?" tentu mengundang tanda tanya Arthur.
"Tidak apa-apa. Aku akan buatkan jadwalmu untuk bertemu dengannya." Entahlah apa yang sedang direncakan oleh Arthur, Darren sekalipun tidak bisa membaca isi pikiran teman sekaligus atasannya itu.
To be continue
Babang Arthur
Biar kalian nggak bingung wkwk
Elden : Babang Nico
Gavin : Babang Keil
Liam : Babang Daniel
Devano : Babang Edward.
Kalau Austin nggak perlu dikasih tau pasti udah tau dongs anak siapa wkwk ðŸ¤ðŸ˜‚
Yang berkenan bisa mampir juga ke novel adik Yoona yang keceh ini ya 🤗🤗
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...