The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bonus Chapter (Alasan Pergi)



Keesokan harinya, Austin benar-benar kembali datang ke Kediaman Scott. Hal yang sudah menjadi pemandangan biasa jika pria itu datang seorang diri. Tetapi kali ini berbeda, sebab Austin membawa Daddy Xavier serta Bastian. Entah apa tujuannya, hanya Daddy Xavier yang tidak mengetahuinya dan pria tua yang masih tampan itu hanya mengikuti kemana putranya itu membawa dirinya.


Namun keningnya berkerut begitu dalam saat mereka berada di pelataran Kediaman Scott.


"Son, untuk apa kau membawaku kemari?" Daddy Xavier menatap penuh tanda tanya. Sebab ketika mengajak dirinya, putranya itu tidak mengatakan apapun.


"Kau akan mengetahuinya nanti, Dad. Saat ini aku membutuhkan Daddy dan Bas sebagai saksi," sahut Austin tanpa menghentikan langkah.


"Heh saksi? Untuk apa? Apa kau melakukan kesalahan?" Dan Daddy Xavier terus saja mencerca putranya itu.


Austin menghela napas, lalu menghentikan langkah dan menatap Daddy-nya. "Dad, sudah kukatakan nanti kau akan tau. Sekarang lebih baik Daddy diam dan ikut denganku. Jika tidak, Paman Zayn akan semakin menyulitkanku."


"Apa? Jadi pria tua itu menyulitkanmu?!" Sepanjang apapun Austin berkata, hanya kalimat 'Paman Zayn menyulitkannya' yang dicerna baik oleh Daddy Xavier. "Kurang ajar! Biar kuberi dia pelajaran!" Karena tidak terima putra bungsunya sengaja dipermainkan, Daddy Xavier melintasi Austin dan Bastian. Jika sebelumnya ia terlihat malas, kali ini begitu menggebu-gebu dalam langkahnya.


Hanya melihatnya saja, Austin sudah dapat membayangkan apa yang akan terjadi di dalam sana. Sudah pasti Daddy-nya akan kembali berseteru dengan Paman Zayn. Namun mau bagaimana lagi, ia membutuhkan Daddy-nya untuk menjadi saksi penting, karena kakaknya Arthur tidak bisa membantunya dan justru melimpahkan semua padanya.


Austin kembali melangkah untuk mengutarakan tujuannya datang ke Mansion Paman Zayn dan Bastian yang setia mengekori. Langkah mereka terhenti ketika sudah berada di ruang tamu. Dan terlihat Daddy Xavier dengan Paman Zayn yang seperti bersitegang.


Benar bukan? Baru saja dikhawatirkan, sudah benar terjadi. Austin segera melangkah mendekat.


"Apa satu hari saja kalian tidak bisa untuk tidak bertengkar?!" Terdengar suara Austin yang dingin, membuat Daddy Xavier dan Daddy Zayn menoleh bersamaan. "Hanya kali ini saja, tolong kalian dengarkan aku, aku ingin bicara dengan kalian. Dan ini sangat penting untukku."


Daddy Xavier hendak bersuara, akan tetapi Austin sudah lebih dulu menyela. "Dad, please."


Melihat wajah penuh permohonan putranya, Xavier menghela napas. Kali ini ia harus menekan egonya dan membantu putra bungsunya itu. Biar bagaimanapun ia harus memikirkan tubuh Austin yang sudah cukup lelah lantaran selama satu tahun ini berjuang keras melebarkan sayapnya dan bahkan membawa keuntungan bagi perusahaan hingga ke manca negara selain Eropa dan Amerika.


"Dengar, kita harus mendengarkan putraku. Karena itu untuk kali ini tutup mulutmu dan jangan menyulitkannya!" Dan setelah mengatakan hal itu, Xavier segera melangkah menuju halaman.


Zayn hanya mendecakkan lidah. Kenapa Xavier yang seolah pemilik Mansionnya? Namun pada akhirnya Zayn hanya menurut meskipun harus menggerutu kesal.


***


Kini keempat pria sudah berada di halaman, mereka duduk saling berhadapan. Austin duduk berhadapan dengan Zayn serta Xavier.


"Paman, aku tau jika Paman kecewa padaku karena aku sudah menyakiti putrimu. Tapi sungguh, aku tidak pernah bermaksud seperti itu." Akhirnya selama hening beberapa saat, Austin menyerukan suaranya.


"Tapi-"


"Diamlah, sebaiknya kau dengarkan putraku sampai selesai bicara." Xavier menegur Zayn yang ingin memprotes putranya. Oh tentu saja ia tidak akan membiarkan Zayn menyulitkan putranya lagi.


Zayn menghunuskan tatapan tajam. Ia sungguh kesal dengan Xavier, entah kenapa ayah dan anak itu selalu membuatnya sakit kepala. "Lanjutkan!" Akhirnya Zayn hanya bisa menekan kekesalannya. Mungkin memang tidak ada salahnya jika ia mendengarkan penjelasan dari sisi Austin.


Austin mengangguk. Lalu memberikan kode pada Bastian melalui isyarat mata. Bastian yang mengerti memberikan anggukan kecil, lalu mengeluarkan sesuatu yang tidak lain adalah alat perekam suara dan segera memberikan benda itu kepada tuan mudanya.


Sebelum menekan tombol play, Austin menatap Paman Zayn. "Paman, dengarkan baik-baik suara siapa yang berada di dalam rekaman ini."


Zayn tidak bereaksi, tetapi ia terlihat tidak sabar ingin segera mendengar suara di dalam rekaman tersebut.


"Aku ingin putriku mendapatkan yang terbaik, Roy."


"Kalau begitu kau tidak perlu memikirkan lamaran yang datang untuk Licia. Biarkan putrimu menentukan pilihannya sendiri."


Zayn tertegun kala mendengar suara dirinya dengan Roy di dalam rekaman tersebut. Dan itu artinya Austin menyelipkan alat perekam di Mansion miliknya.


"Sejak kapan kau menempatkan alat perekam untuk memantauku, heh?!" Zayn merasa tidak terima karena Austin diam-diam meletakkan alat perekam di Mansionnya. Dan jika tidak salah ingat, percakapan itu saat dirinya bersama dengan Roy di halaman.


Seperti dugaan sebelumnya jika Paman Zayn tidak akan terima, tetapi tatapan Austin begitu santai seolah perbuatannya hanyalah masalah kecil.


"Bukan untuk memantau Paman. Lebih tepatnya memantau Licia," sahut Austin jujur dan tidak berniat menutupi. "Alat perekam itu aku dan Jac yang memasangnya untuk memantau Licia saat menyadari perubahannya karena bajingan yang bernama Maxime itu. Tapi ternyata Jac lupa untuk melepaskannya sehingga saat aku menyambungkan dengan laptop, aku tidak sengaja mendengar percakapan Paman Zayn dengan Paman Roy."


Mendengar penuturan Austin, wajah Zayn yang semula menegang perlahan mulai melembut. Jadi Austin memang tidak berniat memantau dirinya? Dan seingatnya, Jacob memang mengatakan pernah memasang alat perekam di berbagai sudut dan salah satunya di halaman.


"Sudah kukatakan, dengarkan putraku sampai selesai bicara. Jika dia sudah selesai, maka kau boleh memprotesnya atau bahkan memarahinya." Lagi-lagi Xavier menegur Zayn. Ia akan memberikan kesempatan untuk Austin menjelaskan. Karena jujur saja ia tidak tahu apa yang sedang direncakan oleh putra bungsunya itu.


Zayn tidak menanggapinya, ia justru mengadu ketajaman mata dengan Austin. Kembali Austin menekan tombol play, tidak pedulikan tatapan tajam Paman Zayn padanya.


"Kuperhatikan Licia begitu dekat dengan As. Apa kau tidak menjodohkan saja putrimu dengan As? Kita juga sangat mengenal baik Keluarga Romanov, jadi tidak ada salahnya jika Licia bersama dengannya. Lagi pula kau sudah menolak lamaran Tuan Steiner. Jika kau mengatakan Licia sudah dijodohkan, maka Tuan Steiner tidak akan memaksa untuk menjodohkan Licia dengan putranya yang bernama Griffin."


Tidak ada sahutan dari Zayn di dalam rekaman tersebut, hanya terdengar helaan napas sesaat sebelum terdengar suara Zayn kembali.


"Mungkin jika itu Ar, aku tidak akan berpikir dua kali."


"Apa maksudmu? Kau ingin menjodohkan Licia dengan Ar?" Sepertinya Roy terdengar tidak terima. "Zayn, Ar sudah menikah dan bahkan sudah memiliki dua bayi!"


"Sssttt Roy, kau ini bisa diam tidak, heh?! Apa aku mengatakan jika aku ingin menjodohkan Licia dengan Ar? Tidak. Aku tidak berpikiran sempit seperti itu!"


"Lalu, apa?"


"Ar sangat berkompeten sama seperti Vier. Apapun yang dilakukannya akan mendapatkan hasil yang memuaskan, seperti menjalankan perusahaan menjadi lebih berkembang dan As belum memiliki semua kemampuan itu. Aku akan membiarkannya mendekati Licia jika dia bisa menunjukkan perkembangannya di dunia bisnis. Kau tau Roy, tidak jarang pebisnis yang membandingkan Ar dengan As."


"Ck, sejak kapan seorang Zayn memikirkan pandangan orang lain?"


"Entahlah Roy, aku tidak membenci As ataupun Ar. Mereka berdua adalah pria hebat dari keturunan Romanov."


Tit. Austin mematikan rekaman suara yang berdurasi dua puluh menit itu.


Xavier sempat tertegun mendengar percakapan antara Zayn dengan Roy. Dengan tidak lain, pria menyebalkan itu meremehkan putra bungsunya. Ingin menghajar Zayn, akan tetapi ia memikirkan Austin yang pasti sudah memiliki rencana.


Sedangkan Zayn, pria setengah baya itu sedari diam hingga rekaman suaranya selesai diputar. Ia yang menyandarkan punggung pada sandaran kursi, segera menegakan tubuhnya tanpa menyurutkan tatapannya pada Austin.


"Baiklah, sekarang aku ingin bertanya, apa alasanmu pergi meninggalkan London karena percakapanku dengan Roy?"


See you next bonus chapter


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...