
Mikel mengetuk-ngetuk meja dengan irama ketukan yang terdengar gelisah. Ia beberapa kali melihat ke arah pintu, menunggu anak buah yang ia tugaskan untuk mencari harta benda peninggalan Keluarga Jhonson. Dan tidak berselang lama, salah satu anak buah yang di tunggunya pun datang bergopoh-gopoh.
"Bos, kami sudah mencarinya tapi tidak menemukan goa yang ada di dalam peta itu."
Mikel terlihat mengetatkan rahangnya begitu mendengar laporan dari anak buahnya tersebut. "Apa kalian sudah cari dengan benar?!" Rasanya Mikel tidak terima begitu saja jika mereka gagal menemukan goa yang tergambar di lukisan tersebut.
"Sangat yakin. Kami sudah mencari di sekitar bukit dan pegunungan tetapi tidak menemukan ciri-ciri goa itu."
"Arrghhhh, damn!" Mikel menghempas barang-barang yang berada di atas meja hingga menjadi berhamburan di lantai. "Kemana lagi aku harus mencari petunjuk itu? Jangan sampai Todd menemukannya lebih dulu." Rasanya kepala Mikel nyaris pecah, ia memikirkan teka-teki sebuah peta yang didapatkan dari gedung toko buku milik Kakek Mateo. Tetapi anehnya ia tidak menemukan Kakek Mateo disana dan seisi di dalam bangunan itu sudah di porak-porandakan oleh seseorang.
"Kami minta maaf karena belum menemukan goa itu, Bos." Anak buah tersebut memberanikan diri membuka suara disaat bosnya tengah diliputi amarah, ia merasa sangat bersalah kepada bosnya karena gagal menjalankan tugas.
Mikel mendongak, sehingga wajah anak buah yang sedikit ketakutan itu memenuhi penglihatannya. "Tidak masalah, kau pergilah."
Anak buah tersebut mengangguk lalu segera keluar dari ruangan. Mikel memastikan jika tidak akan ada lagi yang mengganggunya, sehingga ia mencoba untuk menghubungi Sid.
"Sid, bagaimana hasilnya?" serunya begitu sambungan telepon diangkat seseorang di seberang sana.
"Mikel, aku benar-benar tidak bisa mencari keberadaan Mateo. Dia seolah hilang di telan bumi!" Dan jawaban Sid semakin membuat Mikel mendesah panjang, menahan amarahnya yang tertahan.
"Baiklah, hubungi aku jika sudah menemukan keberadaannya."
"Hem tentu saja," sahut Sid. "Kau jangan cemas, aku akan selalu membantumu." Sid mengerti akan kegelisahan yang dirasakan oleh Mikel, Mateo adalah satu-satunya orang yang akan memberikan mereka penunjuk dimana harta benda peninggalan Keluarga Jhonson.
"Ya, terima kasih Sid." Tidak ada percakapan kembali dan Mikel segera menutup panggilannya.
Mikel mendesahkan napas panjang di udara usai meletakan ponselnya di atas meja. Ia berdiri menghadap jendela besar, menatap keluar yang menyuguhkan pemandangan Kota Madrid. Sudah satu bulan lebih ia mencari keberadaan Mateo, tetapi tidak kunjung menemukan keberadaan pria tua itu. Tujuannya datang ke belanda tidak membuahkan hasil, tetapi ia mendapatkan informasi yang sangat penting jika ternyata selama ini Daddy Matthew menyimpan baik harta benda peninggalan Keluarga Jhonson.
Pendengaran Mikel terusik ketika langkah kaki menyelinap masuk. "Aku harus mencari dimana lagi, Paman?"
Pria berusia lebih tua dari Mikel itu hanya berdiam diri di belakang Mikel. "Tuan Muda tenang saja, cepat atau lambat kita akan menemukan keberadaan Tuan Mateo."
Ya, Josh. Begitu berhasil menyelamatkan Josh di Amerika, ia selalu bersama dengan Paman Josh, kaki tangan kepercayaan Matthew yang sudah sangat berjasa padanya serta Meisha.
Mikel tidak menjawab. Entahlah, ia ingin semua cepat berakhir dan segera membalaskan dendamnya kepada Todd.
"Sebaiknya kita segera kembali ke Inggris. Perusahaan dan Nona Meisha masih membutuhkan Tuan Muda." Josh tidak ingin mematahkan semangat Mikel. Ia mengerti jika semua yang dialami oleh Mikel begitu berat, sebab itu selama ini ia berusaha tetap hidup untuk menemani putra dari Tuannya yang sudah tiada.
Mendengar penuturan Josh, Mikel memejamkan singkat kedua matanya. Membenarkan apa yang dikatakan oleh Pamannya itu.
***
Sementara di tempat lain, seharian penuh ini Arthur menyibukkan diri di depan layar laptop. Sejak tadi Helena berusaha mengajak berbicara suaminya itu, akan tetapi Arthur kembali dalam mood diam, bahkan menguarkan aura dingin sehingga Helena merasakan udara sekitarnya terasa membekukan. Helena tak berpaling memandangi Arthur yang serius dengan pekerjaannya. Bahkan keberadaannya sejak tadi diabaikan oleh suaminya itu.
"Ada apa dengannya?" Helena mengerucutkan bibirnya, ia merasakan keanehan pada diri Arthur. Sejak kemarin pria itu mendiamkan dirinya, atau mungkin hanya perasaannya saja? pikirnya.
"Ah, aku lapar sekali." Ia mengaduh kelaparan dengan volume keras agar Arthur mendengarnya. Wanita itu bahkan memegangi perutnya yang berselancar minta segera diisi. Ekor matanya kemudian melirik menemui Arthur yang masih tidak menggubris perkataannya. Jangankan menanggapi, menoleh saja tidak. Sungguh aneh bukan? Biasanya, pria itu akan mendekati dan menawarinya makan.
Apa dia marah karena pertemuanku dengan Mikel?
Sungguh, sejak tadi pikiran itu menggelayuti isi otaknya. Menerka penyebab yang membuat Arthur mengabaikan dirinya.
Karena kesal keberadaannya diabaikan, Helena beranjak dari tempat duduknya, ia menghentakkan kaki disertai wajah yang masam, sebelum kemudian meninggalkan ruangan menuju dapur, berharap akan menemukan makanan apa saja disana.
Sosok Helena yang sudah lenyap di balik pintu, Arthur baru saja bereaksi. Pria itu melirik pintu yang meninggalkan jejak-jejak bayangan Helena.
Arthur kemudian menyadarkan punggung pada sandaran kursi, kemudian mendesahkan napasnya ke udara. Sejak kemarin emosinya memang tidak stabil dan ia tidak ingin meledak-ledak di hadapan Helena.
Suara pecahan di lantai bawah menyentakkan telinga Arthur. Pikirannya tertuju pada Helena, tanpa menunggu lama ia segera beranjak berdiri dan berlari menghampiri Helena.
"Tuan, maafkan saya karena tidak sengaja menjatuhkan piring." Maid yang terlihat lebih tua itu mengucapkan permintaan maafnya karena telah ceroboh.
"Jika kau tidak ingin bekerja denganku lagi, silahkan pergi dari sini!" teriak Arthur dengan ledakan emosi yang tidak dapat ditahannya lagi.
"Ti-tidak Tuan, saya masih ingin berkerja dengan Tuan." Maid tersebut tertakut-takut saat menyahuti perkataan Arthur, sebab baru kali ini melihat tuannya semarah itu.
"Sebaiknya kalian pergilah. Bekerja yang benar!" seru Arthur.
Sementara Helena yang menyaksikan kemarahan Arthur hanya mengintip dari balik dinding dapur tanpa berani mendekati. Tetapi ia merasa kasihan kepada maid yang baru saja terkena amarah oleh Arthur.
"Ar...." Sosok Helena muncul dari balik dinding dan menyita perhatian Arthur yang segera menatap wanita itu. "Kasihan dia jika kau memarahinya seperti itu."
"Aku hanya mendisiplinkannya dan siapapun yang bekerja denganku." Suara Arthur yang menyahut tidak terdengar ramah di pendengaran Helena.
"Tapi itu hanya kesalahan kecil Ar," kata Helena menjelaskan.
"Kesalahan kecil akan menjadi besar jika berlangsung terus menerus. Kau mengerti?!"
Helena mendengkus tidak terima. "Jika kau marah padaku, jangan melampiaskannya kepada siapapun. Marahi saja aku!"
"Untuk apa aku memarahimu?" Dan Arthur justru berkelit.
"Sejak kemarin kau mendiamiku. Kau tidak menjawab saat aku mengajakmu bicara. Dan kau seperti itu setelah kita kembali dari pusat kota. Apa karena aku bertemu dan berbicara dengan Mikel. Tapi aku tidak berbicara apapun dengannya!" Ya, itulah dugaan Helena. Sudah pasti Arthur marah kepadanya karena pertemuannya dengan Mikel yang tidak disengaja.
"Aku tidak marah padamu. Aku hanya tidak suka dengannya!" bantah Arthur.
"Kau tidak suka dengannya karena dia mendekati adikmu?" tanya Helena mendelik memastikan.
"Itu salah satunya," sahutnya. "Dengar, jangan bicara dengannya lagi jika kalian bertemu!" imbuhnya tak terbantah.
Helena semakin tidak mengerti, ia gagal mencerna maksud dari Arthur menyuruhnya untuk tidak saling berbicara jika bertemu dengan Mikel.
"Sejak dulu aku tidak dekat dengannya. Bahkan dia begitu tidak peduli padaku, kebersamaan kami tidak seperti yang kalian pikirkan. Hubungan kami terjalin karena saling menguntungkan saja!"
Kening Arthur berkerut dalam, ia mencoba menelaah ucapan dan tidak menelan bulat-bulat perkataan Helena.
"Kau selalu berburuk sangka padaku atau pun kepada Mikel!" serunya kesal. "Kenapa kau selalu seperti ini?" Helena memandangi Arthur yang juga menatapnya dirinya dalam diam.
Arthur memang tengah meredam kemarahannya, karena itu tidak menimpali apa yang diucapkan oleh Helena.
"Dengarkan aku, kau satu-satunya pria yang bersamaku. Kau tau, aku mencintaimu. Jadi tenanglah, jangan membuatku menjadi gila!" seru Helena meninggikan suaranya. Bahkan tidak sadar jika kedua matanya mengembun, memupuk air mata yang siap ditumpahkan.
Arthur tertegun selama beberapa saat mendengar pengakuan Helena. Kemarahannya mendadak menyurut disusul wajahnya yang perlahan melunak.
"Kau tau, ini pertama kalinya kau mengatakan bahwa kau mencintaiku."
To be continue
Babang Mikel
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...