The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bonus Chapter (Happy Engagement)



Meninggalkan para orang tua yang sempat bersitegang, kini Devano sudah berada di lantai tiga menunggu kedatangan Austin yang baru saja mengabari dirinya bahwa sepupunya itu akan segera turun. Pun dengan Freya yang mendapati Licia berada di balkon lantai empat.


"Astaga Licia, sejak tadi aku mencarimu, ternyata kau berada disini." Freya gegas menghampiri Licia. Ia sudah mengitari seluruh ruangan yang ada di dalam bangunan untuk mencari keberadaan teman baiknya itu, yang ternyata berada di balkon.


Licia tidak menyahut, terlihat garis kerutan pada bibirnya dan gurat ketegangan di wajah cantiknya itu. Tentu membuat Freya menautkan kedua alisnya.


"Hei, ada apa denganmu? Kenapa wajahmu sedikit pucat?" Mendadak Freya menjadi panik, lantas ia mencoba untuk memeriksa suhu tubuh Licia dengan menyentuh kening temannya itu. "Kenapa dingin?" tanyanya heran. Ia sempat mengira jika Licia sedang tidak sehat, akan tetapi suhu tubuh tidak panas dan bahkan terasa dingin di telapak tangannya.


"A-aku... aku sangat gugup, Frey." Akhirnya Licia mengeluarkan suara, meski terdengar sedikit bergetar.


"Kau gugup?" Freya nyaris tak percaya. Pasalnya Licia tidak pernah seperti ini. Bahkan saat sidang skripsi dan mendapatkan dosen pembimbing yang cukup killer, gadis itu tidak merasakan gugup.


Licia mengangguk pelan. "Entahlah, aku juga tidak mengerti."


Freya terdiam sesaat, lalu menggenggam kedua tangan Licia. "Tarik napas dalam-dalam dan keluarkan secara perlahan."


Gadis itu kemudian mengikuti instruksi Freya. Menghembuskan napas dalam dan membuangnya secara perlahan. Meski kegugupannya belum hilang sepenuhnya, akan tetapi cukup membuatnya sedikit lebih tenang.


"Aku sudah merasa lebih baik. Sebaiknya kita turun kebawah. Kau mencariku karena acaranya akan segera dimulai, bukan?" ucap Licia yang paham mengapa temannya itu mencari dirinya. Lalu menarik tangan Freya agar mengikuti langkahnya.


"Benar, aku mencarimu kesana-kemari. Karena itu, sekarang kakiku sedikit terasa pegal," cicit Freya mengeluh di sela-sela mereka berjalan. Saat ini ia tengah menggunakan high heels, sehingga membuat kakinya terasa kram.


"Iya... iyaa... maafkan aku." Freya malas menanggapi, tetapi ia tetap mengutarakan permintaan maaf. Karena memang tidak bermaksud membuat Freya mencari dirinya kesana-kemari. Ia hanya ingin menghirup udara segar untuk menghilangkan kegugupannya.


Disisi Lain Devano mendapati sosok Austin tengah menuruni tangga. Ia yang menunggu dengan menyandarkan punggungnya pada dinding segera menegakkan tubuhnya kembali.


"Kau terlihat seperti pengantin pria, As." Devano mengejek. Sebab penampilan Austin memang seperti pengantin pria yang mengenakan tuxedo lengkap dengan dasi kupu-kupu.


Austin mendecakkan senyuman. Devano tidak salah mengatakan hal itu, sebab ia memang sudah seperti pengantin pria. Akan tetapi ia lebih memiliki mengabaikan ejekan sepupunya itu.


"Aku semakin tampan, bukan?" Dan yang ditanyakan justru ketampanannya. Austin membenarkan jas yang dikenakannya itu.


Devano berdecak malas, akan tetapi detik kemudian mengangguk. "Kau selalu tampan," sahutnya mengiyakan saja. "Sudahlah, acara akan segera dimulai. Licia pasti sudah menunggu."


"Baiklah."


Dan keduanya beriringan menuruni lift menuju ballroom. Untuk mencapai ballroom, Austin harus menuruni tangga seperti yang sudah ditentukan sebelumnya. Sebagai pameran utama, Austin dan Licia memang harus menuruni tangga bersama-sama.


Terdengar seruan suara MC pria yang mengumumkan jika acara akan segera dimulai. Sontak saja para tamu undangan dipersilahkan untuk duduk ditempat masing-masing yang sebelumnya sudah ditentukan. Meja paling depan diperuntukkan untuk keluarga dan meja selanjutnya untuk para tamu undangan yang memiliki hubungan dekat dengan Keluarga Romanov dan Keluarga Scott.


Devano dan Freya segera menyingkir dari sana dan melintasi tangga lain untuk segera mencapai ballroom. Karena pusat perhatian para keluarga dan seluruh tamu undangan tertuju pada dua tangga yang akan menampakkan sepasang kekasih yang menuruni tangga berbeda, namun akan bertemu di tengah.


Mendengar nama mereka disebutkan, Austin dan Licia segera maju beberapa langkah. Dan keduanya dapat melihat satu sama lain di seberang tangga yang berbeda. Sebelum kemudian saling melemparkan senyum.


Licia mengangguk kala melihat bibir Austin bergerak dan seperti mengatakan 'kau sudah siap?'. Lantas keduanya bersama-sama melangkah menuruni tangga. Seketika gemuruh tepuk tangan menggema di dalam ballroom, lantaran yang ditunggu-tunggu sudah saling menampakkan diri.


Austin mengulurkan tangan kirinya saat meraka sudah bertemu di tengah. Licia menerima uluran tangan Austin dan tangan keduanya kini saling bertaut dan hal itu semakin menambah gemuruh tepuk tangan dari para tamu undangan. Kedua pasangan itu segera menuruni tangga bersama-sama. Baik Austin dan Licia melangkah dengan berhati-hati lantaran sisi kanan dan kiri mereka terdapat banyak lilin.


Para tamu dibuat terpana dengan penampilan keduanya. Austin yang mengenakan tuxedo hitam semakin menambah ketampanan pria itu. Sedangkan Licia dengan gaun merahnya memukau para pria yang nyaris tersedak air liur mereka sendiri. Cantik, anggun dan seksi, itulah gambaran sosok Licia saat ini dengan rambut yang terurai. Terlebih gaun panjangnya itu terbelah cukup panjang hingga menampakkan paha putih mulusnya.


"Ck, apa dia sengaja memilihkan gaun seksi untuk putriku?" Seorang pria setengah baya terlihat mendecakkan lidahnya lantaran melihat gaun putrinya yang terbelah panjang itu.


Sang istri tentu mendengarnya, ia menepuk tangan suaminya yang seakan memprotes gaun yang dikenakan oleh putri mereka.


"Jangan memikirkan gaunnya. Lihatlah, putri kita terlihat sangat cantik." Berbeda dengan Mommy Angela yang biasa saja mendapati gaun sang putri yang terlihat begitu seksi. Zayn justru baru saja melayangkan protesnya.


"Tapi kau lihatlah, kaki dan paha putri kita menjadi konsumsi mereka." Zayn kemudian menunjukkan arah pandangnya pada pemuda-pemuda yang menatap penuh damba sosok putrinya. "Apa perlu kubuat mata mereka menjadi buta, heh?" cetusnya sinis dengan tatapan tajam yang diarahkan pada pemuda-pemuda disana. Namun tiba-tiba saja Zayn meringis saat mendapati cubitan pada pahanya. Dan pelakunya adalah sang istri, yang tentu saja tidak mungkin terkena semburan darinya.


"Kau menyakitiku Sayang," keluhnya lembut. Tidak mungkin marah, sebab yang menyakitinya adalah istri tercinta.


"Sebaiknya kau diam saja, Zayn dan jangan membuat masalah. Ingat, hari ini adalah hari pertunangan putri kita, kau harus bisa menahan dirimu." Mommy Angela memberikan peringatan. Sebab jika sudah berkata demikian, ia khawatir jika suaminya itu benar-benar merealisasikan perkataannya.


Zayn menghembuskan napas panjang, sebelum kemudian mengangguk. "Baiklah, hari ini aku akan menjadi suami yang penurut."


Karena mendapat pujian, tentu saja Zayn merasa sangat senang. Seperti pemuda belasan tahun yang tengah kasmaran. Namun senyumnya itu mendadak menyurut ketika tidak sengaja bertemu pandang dengan Xavier.


Lama saling mengadu ketajaman mata, keduanya segera membuang muka. Dan hal itu hanya disadari oleh putra-putra mereka, Jacob dan Arthur. Keduanya hanya menggeleng.


MC pria baru saja selesai memberikan sambutan. Dan ia meminta perwakilan dari masing-masing pasangan tersebut untuk segera maju.


Xavier segera beranjak berdiri dan membenarkan jas yang dikenakan, sebelum kemudian melangkah maju. Hal yang serupa dilakukan oleh Zayn, pria itu melangkah setelah Xavier lebih dulu berada di depannya.


Seolah tidak memiliki masalah apapun, keduanya mengulas senyum pada Austin dan Licia. Karena MC memberikan dua mikrofon pada Xavier dan Zayn, mau tidak mau mereka berdiri bersisian.


Xavier berdehem sebelum membuka suaranya. "Selamat sore semuanya. Terima kasih untuk kalian yang sudah hadir. Sebagi ayah dari Austin Kendrick Romanov, tentunya aku merasa senang untuk mereka dan berharap kedepannya mereka dapat kejenjang yang lebih serius lagi."


"Ya, aku juga setuju. Sebagai ayah dari Jolicia Adeline Scott, aku juga merasakan hal yang sama." Tiba-tiba saja Zayn menimpali, membuat Xavier melirik sinis ke arah Zayn.


"Heh, apa kau tidak memiliki pendirian, heh?! Kenapa mengikuti perkataanku?!" Xavier merasa tidak terima dan ia baru saja melakukan telepati.


"Diam kau! Kau pikir aku peduli?!"


Keduanya kembali bersiteru melalui telepati. Menyadari hal tersebut, Austin bergerak maju untuk menengahi. Lalu berbisik,


"Dad.... Paman.... Apa kalian tidak bisa menundanya sampai acara selesai? Lihatlah, kalian menjadi pusat perhatian."


Baik Xavier dan dan Zayn meluruskan pandangan dan tertegun mendapati para undangan menatap heran kepada mereka.


"Ah, maaf. Kami sudah terbiasa seperti ini," ujar Xavier menjelaskan.


"Benar. Jangan terlalu dibawa serius jika kalian ingin keluar hidup-hidup dari sini!"


Bodoh!


Xavier mengumpati Zayn yang berkata demikian. Ingin rasanya ia menendang bokong pria itu karena berani mengancam para tamu.


"Dia hanya bercanda." Xavier meluruskan.


"Ya, aku bercanda." Zayn membenarkan dengan tersenyum tanpa dosa. Padahal perkataanya itu sukses membuat para tamu merasa gugup sekaligus ketar-ketir.


"Hahahaha...." Suara tawa MC seketika mencairkan suasana. "Ternyata Tuan Scott sangat humoris."


Suasana yang sebelumnya menegang kini kembali riuh. Beberapa tamu undangan tergelak, tetapi sebagian masih merasa gugup. Sedangkan para anggota keluarga hanya menggelengkan kepala, tak terkecuali Licia dan Austin.


Sang MC kemudian mempersilahkan kedua kepala keluarga itu untuk kembali ketempat duduk masing-masing, karena saat ini sudah waktunya untuk pertukaran cincin. Mempersilahkan Austin dan Licia untuk maju, dan tak lama Kimberly serta Greisy berjalan mendekat dengan membawa baki yang berbeda. di atas baki tersebut terdapat cincin berlian yang akan dipasangkan dijari Austin dan Licia.


Austin mengambil cincin berlian tersebut, lalu mengadahkan telapak tangannya. Lantas Licia segera meletakan tangannya di atas telapak tangan Austin. Pria itu tersenyum manis, lalu menyematkan cincin di jari manis Licia. Setelahnya Licia melakukan hal yang sama, menyematkan cincin di jari manis Austin.


Kimberly dan Greisy kembali ketempat semula bertepatan dengan suara tepuk tangan kembali bergemuruh. Mereka merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua pasangan kekasih itu. Hingga Austin membawa Licia mendekat ke arahnya dan melabuhkan kecupan di kening gadis itu. Sontak saja perlakuan manis Austin mengundang riuh para tamu undangan dan para keluarga. Namun berbeda dengan Zayn yang justru memasang wajah masam, seperti tidak rela jika putrinya di cium oleh pemuda lain. Padahal tanpa sepengetahuannya, Austin sudah sering kali mencium Licia, tidak hanya dikening tetapi juga dibibir. (Note: Dan kalian jangan bocor ya, jangan bilang bang Zayn lho wkwk 😅)


Setelahnya, para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang tersedia. Sebagian para tamu undangan mengucapakan selamat pada Licia dan Austin.


Perusahaan DIOBA, FKY, MKMK, AM dan Black Sapote serta para tamu undangan dari Asia lainnya yang turut diundang oleh Austin mulai berbaris untuk memberikan ucapan selamat. Meski belum lama berkerjasama dengan Romanov Group, para pengusaha dari Asia tersebut bersikap sangat baik dan hangat. (Note: Perusahaan para readers ya asal jangan dateng buat jadi pelakor ya wkwk 😂)


See you next bonus chapter


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...