
BUG!!
Mereka semua terperangah tidak percaya saat melihat Carmela jatuh tersungkur akibat hantaman di wajahnya. Nyonya Sandler begitu panik dan segera membantu calon menantunya itu berdiri.
"Kenapa kau memukul calon menantuku?!" Nyonya Sandler tidak terima saat wanita tidak tau diri itu melukai calon menantunya. Tatapannya melayang tajam disertai desis kesal.
"Jika ucapan tidak bisa membuatnya berhenti menghina, maka satu-satunya cara adalah membungkamnya, Nyonya." Ya, Aurelie baru melayangkan tinjunya tepat di pipi kiri wanita itu. Benar bukan, seketika Carmela terbungkam tidak lagi menghina dirinya serta kedua orang tuanya. Kini ia tidak peduli lagi akan citranya. Tidak peduli dengan karirnya di perusahaan kecil itu.
Nyonya dan Tuan Sandler nampak geram, kedua pasangan paruh baya itu baru saja membantu Carmela berdiri. "Dasar wanita gila!" Dan Nyonya Sandler memaki Elie yang nampak tenang usai meninju calon menantunya itu. Berbeda dengan Tuan Sandler yang tidak bisa berbuat apapun, karena tidak ingin menyinggung Tuan Mikel yang akan berimbas pada kerjasama perusahaan Sandler Company dengan MJ Corp.
"Menantu anda yang gila!" Aurelie balas memaki. Jika sebelumnya ia mencoba untuk menghormati seseorang yang usianya jauh lebih tua, tetapi kali ini ia tidak memandang usia dan status. Sebab tidak perlu menghormati seseorang yang memang tidak pantas untuk dihormati.
"Kau...!" Sungguh demi apapun, ingin sekali Nyonya Sandler menarik rambut Elie hingga terlepas dari kulit kepalanya. Namun saat melihat tatapan Mikel kepadanya, tangannya hanya menggantung di udara. "Brandon, kenapa diam saja?! Lihatlah, wanita itu sudah melukai menantuku!" Akhirnya Nyonya Sandler melampiaskan kekesalannya kepada putra satu-satunya itu.
Brandon menjambak rambutnya frustasi. Kenapa menjadi seperti ini? Ia bingung harus berpihak kepada siapa. Lagi pula yang salah memang tunangannya karena tidak bisa menjaga perkataannya. Namun tidak mungkin ia memojokkan Carmela di depan kedua orang tuanya.
"Carmel sayang...." Akhirnya Brandon hanya bisa mendekati Carmela dengan raut wajah yang dibuat secemas mungkin. "Kau baik-baik saja?" tanyanya kemudian menangkup wajah tunangannya.
"Apa kau tidak lihat wajahku terluka seperti ini," sahutnya manja dan menunjuk sudut bibirnya yang memar. "Kau harus membalasnya untukku!" katanya dengan mata yang berkaca-kaca penuh harap. Ya, Carmela ingin Brandon membalas apa yang baru saja Elie lakukan kepadanya. Dengan begitu ia akan merasa puas. Namun seperti Brandon enggan, nampak di wajahnya yang mengguratkan penolakan.
"Brandon, turuti saja apa yang dikatakan Carmel." Dan Nyonya Sandler berbisik, menekan putranya agar menuruti perkataan calon menantunya itu.
Brandon menghela napas kasar. Memutar tubuhnya menghadap Elie dan Mikel. Kemudian maju satu langkah hingga mengikis jarak mereka.
"Elie, kenapa kau memukulnya?"
Mendengar perkataan Brandon, Aurelie berdecak sinis, tangannya bersedekap. "Dia memang pantas dipukul karena sudah menghinaku dan kedua orang tuaku."
"Tapi tidak seharusnya kau memukulnya!" Suara Brandon semakin meninggi, sehingga Mikel mendelik tajam, bersiap untuk menghajar pria itu jika sampai menyentuh wanitanya.
"Lalu apa kau ingin menggantikannya heh?" ujarnya menantang Brandon. "Kemarilah, kebetulan sekali aku ingin menghajar seseorang!"
Dan sikap Elie yang jauh dari kata lembut serta sopan itu mengundang decakan kesal bagi keluarga Sandler dan Keluarga Born. Namun Elie tidak peduli akan pandangan mereka.
"Dasar wanita tidak tau diri!" teriak Carmela. "Tuan Mikel seharusnya tidak bersama dengan wanita tidak tau diri sepertimu. Kau tidak hanya bar-bar tetapi juga menggunakan tubuhmu untuk memikat pria-pria diluar sana!" Perkataan Carmela kian melantur, wanita itu sudah terlalu tersulut emosi hingga tidak bisa mengendalikan dirinya. Bahkan sejak tadi Tuan Alan Born menahan rasa malu melihat kelakuan putrinya. Ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya di sisi paha kiri dan kanannya.
"Seharusnya kau bercermin Nona Carmela. Bukankah kau yang menggunakan tubuhmu untuk menggoda Brandon!" ujar Aurelie tersenyum sinis.
Brandon terkesiap, ia menolehkan kepala ke arah mantan kekasihnya. Entah dari mana Elie mengetahuinya.
"Kau...!!" Carmela mengeram, ia melangkah maju mendekati Aurelie. "Dasar wanita jalaang. Apa aku perlu memberikan bukti kau bersama seorang pria di hotel kepada Tuan Mikel?!" pungkasnya. Lalu pandangannya beralih kepada Mikel. "Tuan seharusnya bisa melihatnya sendiri di dalam foto ini adalah wanita ini." Carmela menunjukkan foto yang sejak tadi di genggamnya itu kepada Mikel yang menatapnya dengan tajam, nampak sudah lusuh dan meninggalkan lipatan-lipatan kasar di foto tersebut. Namun Mikel tidak berniat untuk mengambil foto tersebut dari tangan Carmela.
"Aku tidak perlu melihatnya karena aku percaya padanya." Tegas dan penuh keyakinan, sorot mata itulah yang terpancar dalam, hingga mampu membungkam mulut Carmela.
Melihat calon menantunya yang sepertinya akan semakin bertindak lebih dari ini, Nyonya Sandler segera mendekati dan merangkul pundak Carmela. "Sudah Carmel, tidak perlu membuang tenagamu. Kau sudah berusaha memberitahunya tetapi dianya saja yang bodoh karena mudah tertipu oleh wanita jalaang itu."
"Nyonya Sandler...!!" Mikel membentak tidak terima. Urat-urat di lehernya bahkan nampak menonjol. Berani-beraninya wanita tua itu mengatai dirinya bodoh. Dan Tuan Sandler meruntuki kebodohan istrinya yang berbicara seperti itu kepada Tuan Mikel.
Aurelie tersenyum masam. "Sudahlah, kau tidak perlu membuang tenagamu untuk berbicara dengan mereka. Di dalam otak mereka hanya ada uang dan harta. Lagi pula foto itu hanya rekayasa saja, aku tidak pernah berada di dalam hotel dengan seorang pria," ujarnya menjelaskan. Entah di percaya atau tidak, Aurelie tidak peduli. "Aku hanya pernah ke hotel saat bersama Ar dan As," lanjutannya dalam hati. Tanpa sadar tangan Aurelie melingkar di lengan Mikel, jarak mereka pun begitu dekat. Sehingga semua mata yang memandang membenarkan jika mereka memiliki hubungan khusus. Tidak terkecuali Mandy yang sejak tadi berdiri di belakang Elie serta Mikel berusaha mempertahankan kesadarannya.
Kedua sudut bibir Mikel membentuk senyuman. Kejadian ini membuat wanita itu melunak padanya, bahkan ia menggenggam erat punggung tangan Aurelie yang melingkar di lengannya dan wanitanya itu tidak menepisnya.
"Rekayasa kau bilang?!" pekik Carmela tidak menyerah begitu saja. "Lalu bagaimana dengan video ini? Kau pasti tidak akan bisa mengelaknya lagi." Lalu sebuah layar monitor yang sebelumnya menampilkan nama Carmela serta Brandon, berubah menjadi video yang berputar. Semua mata tertuju pada layar besar itu, menampilkan sosok Aurelie yang berjalan ke dalam hotel bersama seorang pria. Hanya saja punggung tegap pria itu yang tertangkap oleh kamera.
"Bukankah ini dirimu Elie?" Carmela menyunggingkan senyum kepuasan. Foto sebelumnya memang hanya rekayasa saja, tetapi tidak dengan video yang ia simpan dari sebuah situs tanpa nama.
Namun alih-alih terkejut atau menampakkan wajah pucat karena mendapati foto dirinya bersama dengan seorang pria, Aurelie hanya mendesah kasar. Benar dugaannya jika kedatangannya bersama Arthur dan Austin saat makan malam kala itu di abadikan entah oleh siapa. Hanya saja di foto itu tidak terdapat Austin karena adiknya itu berada di toilet.
Melihat Aurelie yang terbungkam seketika, menambah senyum kepuasan yang kian menghiasi wajah Carmela. "Kau lihat Tuan Mikel, wanitamu ini benar-benar seorang jalaang. Dia-"
Setidaknya Aurelie merasa lega karena Mikel lebih dulu memberitahukan jika pria di dalam video itu adalah dirinya. Ia belum siap jika jati dirinya terbongkar lebih cepat, dan hal itu akan mengubah pandangan siapa saja terhadap dirinya dalam sekejap, termasuk Keluarga Sandler.
Carmela sudah kehabisan kata-kata. Bahkan ia juga sudah kehilangan wajahnya di hadapan keluarga Sandler dan Keluarga Born.
Mereka yang sibuk dengan asumsi masing-masing baru tersadar jika video itu sudah hilang dan alamat situsnya tidak bisa di akses kembali. Seorang pelayan wanita menghampiri Carmela dan berbisik memberitahu jika video itu sudah diblokir.
Samar-samar Aurelie dapat mendengar ucapan yang dibisikkan oleh pelayan itu. Ia tersenyum tipis.
Pasti Kak Ar sudah memblokir semua video. Itu artinya aku harus menjelaskan hubunganku dengan Mikel.
"Hufftttt...." Terdengar helaan napas panjang dari bibir Aurelie, hingga membuat Mikel menoleh ke arahnya. Namun pandangan Aurelie tertuju kepada Carmela serta Nyonya Sandler. "Kalau begitu terima kasih untuk sambutannya. Aku harap setelah ini hari kalian menyenangkan," ucapnya melesatkan senyum tipis dan penuh arti.
Ya, besar kemungkinan kakak kembarnya Arthur serta adik-adiknya sudah pasti akan bertindak. Belum lagi pria posesif di sisinya itu. Aurelie kemudian menarik tangannya dari lengan Mikel, hingga ditatap tidak suka oleh pria itu. Namun Aurelie hanya acuh lalu menyapukan pandangannya kepada satu-persatu kedua keluarga yang akan menjadi satu itu, sebelum kemudian memutar arah tubuhnya.
"Ayo Mandy, kita pergi dari sini!" Aurelie lantas menarik paksa Mandy yang masih berat untuk melangkah. Apa yang baru saja terjadi benar-benar tidak pernah terbayangkan olehnya. Aurelie berani meninju wajah putri dari pemilik perusahaan dan kenyataan lain adalah ada pria yang mengakui Elie sebagai wanitanya. Benar-benar tidak mudah dicerna hanya sekali dengar saja, pikirnya.
"Jadi kau benar-benar sudah tidak peduli dengan karirmu?! Aku bisa saja mengeluarkanmu dari perusahaanku!" seru Carmela mendesis. Dadanya naik turun karena begitu emosi. Ia harus segera mengeluarkan wanita itu dari perusahaannya untuk memberikan pelajaran kepada wanita tidak tau diri itu.
"Lakukan saja sesuka hatimu!" Lelah, sungguh lelah. Aurelie ingin segera mengakhiri perdebatan mereka yang tidak berujung itu. Sebelum kemudian melesat pergi meninggalkan Mikel yang masih bertahan pada posisinya. Sedangkan Brandon menatap kecewa karena mantan kekasihnya tidak sedikitpun memandang dirinya.
Carmela salah menduga jika Elie akan meraung-raung tidak terima dan memohon untuk tidak mengeluarkannya. Tetapi lihatlah, wanita itu tidak peduli dan pergi begitu saja.
"Sialll.....!!!" umpatnya kesal.
"Tuan Sandler." Suara Mikel terdengar begitu menyeramkan bagi Tuan Sandler. Tubuh pria itu benar-benar membeku, bahkan untuk mendongak menatap pria muda itu saja tidak mampu.
"Saya benar-benar minta maaf atas kelakuan istri dan calon menantu saya, Tuan." Hanya itu yang bisa dilakukan oleh Tuan Sandler. Antara malu dan juga kecewa tentunya. Tetapi ia tidak bisa berbuat apapun jika istrinya sudah bertindak seperti itu.
"Kalian memang perlu meminta maaf kepada Elie, bukan kepadaku!" ujarnya sengit. "Dan mulai detik ini MJ Corp membatalkan kerja sama dengan Sandler Company dan perusahaan Glory Ent!" Glory Ent perusahaan entertainment yang diwariskan kepada Carmela Born.
Semua orang hanya bisa membisu, tentu saja itu merupakan sesuatu yang merugikan. Karena gagal mendapatkan kerja sama dengan perusahaan MJ Corp.
Mikel segera berlalu dari sana begitu urusan membatalkan kerja sama antar perusahaan sudah selesai. Tuan Sandler nampak syok, pun dengan Nyonya Sandler. Bahkan tubuh wanita tua itu merosot ke lantai. Carmela hanya bisa diam membatu. Sudah dapat dipastikan jika Daddy-nya Alan Born akan marah besar kepadanya. Ya, itulah hasil dari perbuatan mereka.
Sementara diluar gedung hotel, Mandy menggandeng tangan Elie, banyak pertanyaan yang ingin ia utarakan kepada Elie. Akan tetapi ia masih menahan diri ketika melihat Elie yang nampak diam.
"Kau tau Mandy, aku bisa menahan jika mereka menghinaku. Tapi aku tidak bisa menahan diri jika wanita itu menghina kedua orang tuaku," tuturnya lirih. Dan Mandy hanya mendengarkan dalam diam, meskipun selama ini ia tidak mengetahui wajah kedua orang tua Elie. Sebagai seorang anak ia pun pasti tidak akan terima jika kedua orang tuanya yang telah tiada dihina oleh orang-orang diluar sana.
Grep
Tubuh Aurelie terhuyung ke dalam dekapan seseorang ketika lengannya di tarik secara tiba-tiba. Hingga matanya nyaris mencelos keluar begitu menyadari jika pria yang tengah mendekapnya menggenggam sebuah senjata api.
To be continue
Babang Mikel
Elie
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...