The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Kau Adalah Milikku



"Siapa yang bajingan, hm?" Suara yang masih terasa hangat di ingatannya itu sejenak mengalihkan perhatian Aurelie.


"Kau...."


Belum sempat menghilangkan keterkejutannya, pergelangan tangan Aurelie lebih dulu di tarik oleh pria itu ke dalam salah satu ruangan.


Bruk


Dan Aurelie terpekik kaget ketika pria itu memerangkap tubuhnya sehingga kini berada di dalam kungkungan pria bertubuh kekar, tepat di balik pintu yang baru saja tertutup rapat.


"Kau.... Kenapa kau menarikku kesini?" Aurelie memprotes apa yang baru saja dilakukan pria mesum itu. Bagaimana jika ada yang melihatnya di tarik oleh Presdir MJ Corp ke dalam ruangan. Sorot mata Aurelie hanya mampu memelototi pria berwajah tampan yang tengah mengulas senyum tipis kepadanya.


"Tentu saja karena aku merindukanmu Sweetheart." Masih dengan seulas senyumnya, ia menjawab lembut.


"Hentikan memanggilku seperti itu, Tuan Mikel!" Rasanya sungguh menggelikan ketika panggilan itu selalu disematkan untuknya. Terlebih pria yang memanggilnya mesra seperti itu adalah pria yang sudah memiliki kekasih.


"Kenapa hm?" tanyanya mengikis jarak wajah mereka, sehingga keduanya dapat merasakan deru napas yang menyapu wajah mereka masing-masing. "Sudah kukatakan untuk tidak memanggilku Tuan. Apa aku perlu menghukummu agar kau selalu ingat apa yang tidak kusukai?"


Glek


Tatapan Mikel yang dalam itu mampu menghujam ke jantungnya. Lembut namun penuh ketegasan di dalam manik mata hijau hazel tersebut. Aurelie segera tersadar, tidak ingin menatap terlalu lama manik mata yang ternyata mampu menghipnotis dirinya.


"Me-menyingkirlah. Kau benar-benar membuatku merasa sesak!" Aurelie berusaha mendorong dada Mikel dengan sekuat tenaga, akan tetapi tubuh Mikel semakin terasa berat. Bahkan seperti ingin menimpah tubuhnya, hingga hidung mereka pun nyaris bersentuhan.


"Kenapa kau tidak menjawab teleponku tadi malam? Apa kau lupa jika kita adalah sepasang kekasih, hm?" Mikel semakin mendekatkan wajahnya, hingga akhirnya hidung mereka bersentuhan. Bahkan pria itu menggesek-gesek hidung mereka.


Kening Aurelie berkerut diiringi kedua alis yang saling bertaut. "Telepon?" ulangnya. Kemudian mencoba memutar ingatannya. Bibirnya sedikit terbuka, menandakan jika wanita itu teringat akan nomor tidak dikenal yang terus-menerus menghubungi nomor ponselnya. "Jadi itu kau?" tanyanya baru mengetahui penelepon yang sebenarnya tidak lain ialah Mikel. Tentu saja ia tidak menjawab panggilan dari siapapun karena ia sedang tidak ingin di ganggu.


"Ehm, benar." Mikel mengangguk mengiyakan. "Kenapa tidak menjawab teleponku, hm?" tanyanya mengulangi pertanyaannya yang tidak dijawab oleh wanitanya. Punggung jemari Mikel sudah menari-nari di wajah Aurelie.


Entah kenapa sentuhan jemari Mikel pada wajahnya membuat seluruh tubuhnya berdesir hebat. Bahkan rasanya seperti lupa caranya untuk bernapas. Sehingga untuk sesaat Aurelie menikmati sentuhan lembut itu, perlahan ia dapat merasakan jika pria di hadapannya memiliki cinta yang besar untuknya. Tetapi ada keraguan terbesar yang mengganggu dirinya, yaitu sebuah fakta jika Mikel sudah memiliki seorang kekasih yang sangat cantik.


"Aku tidak perlu memberitahu kenapa aku tidak menjawab teleponmu. Aku bukan kekasihmu," katanya menekankan. Hingga membuat pergerakan jemari Mikel terhenti di rahang Aurelie.


"Kau kekasihku... milikku, Sweetheart. Apa perlu aku ingatkan tentang ciuman kita kemarin, hm?" Mikel menggoda Aurelie dengan mengingatkan akan ciuman yang sempat di tolak oleh wanitanya namun perlahan dinikmati.


Bola mata Aurelie melebar nyaris keluar dari wadahnya tatkala diingatkan dengan ciuman mereka. Namun perlahan wajahnya datar kembali. "Jangan bicara omong kosong!" serunya. Sembari menepis tangan Mikel dari wajahnya. Lalu mendorong tubuh pria itu namun tetap saja gagal.


"Aku tidak bicara omong kosong. Aku tidak pernah main-main dengan perkataanku. Jika aku sudah menginginkan seorang wanita, maka aku akan berusaha keras untuk mendapatkannya, sekalipun wanita itu mendorongku sangat jauh." Sorot mata Mikel kembali menghujam penuh cinta, meskipun wanita itu tidak mempercayainya.


Aurelie tercenung seketika, ia meraba ingatannya dikala ucapan Mikel seperti dejavu untuknya.


Aku tidak peduli kau mendorongku sangat jauh. Aku akan tetap berusaha keras mendapatkanmu, Elie.


Elie, suatu saat kau pasti akan menerimaku. Aku yakin itu.


Elie...


Elie...


"Elie...??" Kedua tangan Mikel menangkup rahang Aurelie ketika wanitanya itu terdiam dengan tatapan yang nampak kosong.


Aurelie terkesiap. Jantungnya berdetak lebih cepat tatkala masa lalunya bersama dengan Michael kembali terlintas. Entah kenapa jika bersama dengan Mikel, ia selalu merasakan dejavu dan bahkan jika di dengarkan dengan seksama, suara Mikel sangat menyerupai suara Michael.


Aurelie bergeming, ia masih dilanda perasaan yang membingungkan. Benarkah karena perasaan bersalahnya terhadap Michael dilimpahkan kepada Mikel, sehingga ia membiarkan saja pria itu melakukan sesuka hatinya.


"A-aku baik-baik saja." Suara Aurelie yang terdengar lemah, lantas tidak membuat Mikel percaya begitu saja.


"Jangan berbohong Sweetheart. Aku tau jika ada yang sedang mengganggu pikiranmu." Pandangan Mikel selalu saja terisi penuh oleh wanitanya sehingga apapun kebiasaan wanita itu, ia bisa mengetahuinya. Katakanlah Mikel begitu berlebihan menginginkan Aurelie, karena faktanya wanita itu yang menjadi sumber kekuatannya selama ini.


Sejenak mata Aurelie terpejam, kemudian mendesahkan napasnya dengan kasar. "Dengar Mikel, kau tidak tau apapun tentangku, jadi jangan asal menebak," bibirnya mencebik. Merasa kali ini Mikel benar-benar membuatnya jengah.


Alih-alih tersinggung, Mikel justru menanggapinya dengan seulas senyuman. "Bagaimana jika aku memang benar-benar mengetahui semua tentangmu Sweetheart?" Kemudian jemari tangannya kembali menyusuri rahang Aurelie.


Aurelie berdecak mendengarnya. "Itu tidak mungkin," sahutnya yakin. "Bahkan sampai saat ini tidak ada yang mengetahui identitasku yang sebenarnya," sambungnya dalam hati.


"Perlu aku buktikan, hm?" ujarnya tersenyum.


Aurelie menepis kembali tangan Mikel lalu menggeleng cepat. "Tidak perlu. Lagi pula bukankah kau sedang di tunggu kekasihmu? Sebaiknya kau kembali temui wanita itu!" tandasnya.


Dan kali ini perkataan Aurelie sukses membuat Mikel bingung, keningnya itu berkerut dalam. "Kekasih?"


"Benar, kekasih! Bukankah sebelumnya kau bersama dengan kekasihmu. Lalu kenapa menahanku disini?!" serunya mendengkus kesal.


Wajah Mikel yang semula bingung, kini nampak menarik kedua sudut bibirnya. "Apa kau cemburu hm?" Bukan tanpa alasan Mikel bertanya demikian, karena saat ini terlihat jelas ketidaksukaan wanita itu.


"Apa kau sudah gila?!" Aurelie membentak. "Untuk apa aku cemburu?!" imbuhnya kemudian mengelak. Entahlah, ia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya.


Semakin mengelak, semakin nampak jelas kerutan di kening wanita tersebut. Aurelie sendiri tidak tau apa yang tengah dirasakannya saat ini. Apa benar jika ia cemburu?


Dan Mikel terkekeh gemas, tangannya menyelinap di leher Aurelie, lalu menahannya. "Dengar Sweetheart, dia bukan kekasihku. Karena kekasihku hanya dirimu. Perlu kau ingat itu!" pungkasnya menekankan. Tangan lainnya menyusuri pinggul Aurelie hingga tubuh mereka tidak berjarak.


Antara percaya atau tidak, Aurelie tidak bergeming. Ia masih ragu dengan ucapan pria yang belum lama ia kenal. "Jika dia benar kekasihmu, aku juga tidak peduli. Lagi pula aku bukan kekasih-"


Sebelum Aurelie menyelesaikan kalimatnya, bibirnya lebih dulu dibungkam oleh bibir Mikel. "Dengar Sweetheart, jangan katakan jika kau bukan kekasihku. Karena sampai kapanpun kau adalah milikku dan aku juga milikmu," bisik Mikel setelah ciuman mereka terlepas. Entah kenapa ucapan yang terkesan penuh paksaan itu justru membuat wanita itu merasa nyaman.


"A-aku harus pergi. Mandy pasti mencariku." Nampaknya Aurelie sudah sedikit menjinak.


"Baiklah...." Mikel mengizinkan. Ia pun sudah terlalu lama meninggalkan Nathan dengan Helena.


Tubuh Mikel berangsur menjauh. Ia kemudian menuntun wanitanya agar menjauhi pintu. Sebelum kemudian menggandeng tangan Aurelie keluar dari ruangan bersama-sama. Kali ini tidak ada penolakan dari Aurelie, entah kenapa perlakuan Mikel telah berhasil melunakkan dirinya.


"Nanti aku akan meneleponmu. Jadi kau harus menjawabnya." Telapak tangan Mikel mendarat di puncak kepala Aurelie, lalu mengusapnya dengan lembut.


"Ehm...." Namun ternyata Aurelie masih malas menanggapinya. Ia memutar tubuhnya segera berlalu dari pandangan Mikel yang masih menatap punggungnya.


Dan tanpa di sadari, sejak mereka masuk ke dalam ruangan yang sama, seseorang diam-diam memperhatikan dengan perasaan penuh amarah.


To be continue


Babang Mikel



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...