
Seluruh keluarga menyambut suka cita kelahiran baby twins. Sedari tadi Mommy Elleana tak hentinya menangis bahagia lantaran kini sudah menjadi seorang grandma dan suaminya sudah menjadi seorang grandpa. Waktu benar-benar berlalu begitu cepat, padahal dua puluh sembilan tahun yang lalu ia baru melahirkan Arthur dan Elie. Tetapi kini keduanya sudah menempuh kebahagiaan masing-masing. Beberapa bulan ke depan putrinya Elie juga akan melahirkan baby twins. Saat ini keluarga Romanov benar-benar dilimpahkan kebahagiaan usai melewati banyak masalah yang datang silih berganti.
Mommy Elleana tak mengalihkan pandangannya dari Elie yang duduk bersama Mike di ruang tamu, lalu bergantian menatap Arthur yang berada di dalam kamar. Ruangan perawatan Helena begitu luas dan memiliki banyak sekat. Salah satunya terdapat ruang tamu untuk menunggu pasien.
Arthur, pria itu begitu setia menunggu Helena yang belum sadarkan diri. Ia mengambil duduk di kursi, bersisian dengan ranjang dan pandangannya dibiarkan tidak lepas menatap wajah pucat sang istri.
Merasakan ada pergerakan pada jemari Helena yang digenggamnya, Arthur beranjak berdiri dengan antuasias. Ia mengusap wajah istrinya itu, agar merasakan sentuhannya dan pada akhirnya membuka mata. Benar saja beberapa detik kemudian, perlahan kedua mata Helena terbuka.
Helena mengerjapkan mata berulang kali guna untuk meraba cahaya yang menyilaukan. Saat menolehkan kepala, ia mendapati Arthur berada di sisinya.
"Hai...." Suara bariton Arthur menyapa Helena. Wanita itu tersenyum, akhirnya ia dapat mendengar suara suaminya lagi.
"Hai..." Wanita itu balas menyapa dengan seulas senyum. "Ssshhh...." Lalu tiba-tiba meringis saat merasakan nyeri yang teramat pada bagian bawah perutnya. Dan ketika menyentuh perutnya, Helena terkejut mendapati perutnya sudah rata. "Kedua bayi kita...." Ia menjadi panik seketika, menggenggam erat tangan Arthur.
"Apa yang terjadi dengan mereka..." lirihnya begitu takut jika kedua baby mereka tidak dapat diselamatkan.
Merasakan kepanikan istrinya, Arthur mengusap rambut Helena. "Tidak apa-apa. Mereka baik-baik saja, kau sudah melahirkan mereka. Terima kasih." Lalu melabuhkan kecupan di kening Helena. Tiada kata yang mampu menafsirkan perasaannya saat ini. Ia memiliki istri yang begitu sangat ia cintai dan kini memiliki kedua baby yang memiliki paras perpaduan antara dirinya dengan istrinya.
Helena sempat terperangah selama beberapa saat. Melahirkan? Ia tidak menyangka jika akan melahirkan disaat usia kandungannya masih 37 Minggu.
"Be-benarkah mereka baik-baik saja?" tanya Helena memastikan. Ia masih meragu, sebab belum melihat dengan mata kepalanya sendiri keadaan kedua babynya.
Arthur mengangguk. "Bayi pertama kita laki-laki dan yang kedua perempuan," tuturnya memberitahu jenis kelamin baby mereka. Pasalnya sejak melakukan pemeriksaan USG baik Helena dan Arthur tidak memikirkan jenis kelamin. Apapun jenis kelamin kedua bayi mereka, mereka akan menerima dengan bahagia dan merawat dengan baik hingga beranjak dewasa.
Helena mengembangkan senyumnya. Tentu ia merasa bahagia mendengarnya. Tidak terasa waktu cepat sekali berlalu dan kini ia sudah menjadi seorang Mommy.
"Aku ingin melihat mereka." Ya, Helena tidak sabar ingin melihat baby twins.
"Mereka masih berada di ruang NICU dan kau harus tau jika mereka memiliki warna mata yang sama denganmu." Arthur begitu antusias menceritakan kemiripan antara baby twins dengan Helena.
"Benarkah?" Semakin tidak sabar saja dirinya yang ingin segera bertemu dengan baby twins.
Arthur kembali mengangguk. "Hm, matanya mirip denganmu dan selebihnya mirip denganku," ucapnya dengan kekehan kecil.
"Ck, kau ini." Helena menepuk pelan lengan Arthur tetapi ia meringis karena pergerakannya itu membuat rasa sakitnya kembali menjalar.
"Jangan banyak bergerak." Arthur memberikan usapan lembut di kepala Helena.
Helena memejamkan singkat kedua matanya. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Apa yang dilakukannya itu tentu saja diperhatikan oleh Arthur.
"Ada apa, hm? Apa sangat sakit?" Ia mendadak panik. Jika istrinya itu terus merasakan kesakitan tentu saja ia harus protes pada Dokter Liza.
Helena menggeleng, menenangkan Arthur yang panik karenanya. "Tidak begitu sakit. Aku hanya merasa semua ini seperti mimpi." Arthur hanya diam mendengarkan istrinya bicara. "Kemarin aku sangat takut jika tidak bisa bertemu denganmu lagi. Dan.... dia...." Helena ragu untuk mengatakan pada Arthur apa yang dikatakan oleh pria yang bernama Vasco itu.
"Ada apa? Apa yang bajingan itu lakukan padamu?!" Wajah lembut Arthur seketika menegang saat membahas Vasco.
Helena mengusap rahang Arthur, hingga kembali membuat wajah suaminya melunak. "Tidak. Dia tidak melakukan apapun padaku. Dia hanya mengancam akan membunuh bayi kita."
"Sialan!" Arthur mengumpat dalam hati. "Hanya itu? Dia tidak melukaimu, hm?" Entah, sebenarnya ia merasa ragu. Sebab Vasco tidak mungkin melewatkan seorang wanita cantik begitu saja. Tetapi ia bersyukur jika bajingan itu tidak melakukan hal yang buruk terhadap istrinya.
"Ya, dia hanya mengancam saja." Perkataan Helena membuat Arthur tidak lagi memikirkan bajingan itu. Hanya saja ia masih tidak terima perkataan Vasco yang ingin membunuh baby twins mereka.
Suara kehebohan di dalam ruang tamu membuat Helena dan Arthur menghentikan percakapan mereka.
"Wah, mereka benar-benar tampan dan cantik."
"Iya, lihat matanya mirip sekali dengan Helen."
"Hai jagoan. Kenalkan, aku adalah aunty Elie."
Seruan itu terdengar jelas di telinga Helena dan Arthur.
"Honey, apa perawat sudah membawa baby twins kemari?" tanya Helena memastikan sekaligus penasaran dengan kehebohan yang terjadi.
"Aku akan melihatnya." Dan untuk memastikannya, Arthur segera melangkah keluar dari kamar menuju ruang tamu. Saat dari dekat suara mereka begitu menghebohkan seisi ruangan.
"Maaf Tuan, kami ingin membawa baby twins ke dalam tapi keluarga Tuan...." Salah satu perawat tertakut-takut saat mendapati Arthur dengan wajah datarnya menatap mereka satu persatu.
"Tidak apa-apa," sahut Arthur tidak mempermasalahkannya. "Tolong periksa istriku, dia sudah sadar."
"Ah, kalau begitu saya akan memanggil Dokter Liza." Salah satu perawat bergegas pergi dari ruang perawatan untuk memanggil Dokter Liza.
Arthur mendekati Mommy Elleana yang begitu nampak antusias menggendong putrinya. Sedangkan Daddy Xavier menggendong putranya.
"Mom.... Dad... istriku sudah sadar dan dia ingin bertemu dengan baby twins." Perkataan Arthur membuat mereka semua menoleh.
"Benarkah?" seru Mommy Elleana nampak begitu lega mendengarnya. "Kalau begitu aku ingin melihat menantuku." Mommy Elleana memberikan cucu perempuannya itu kepada Arthur.
Arthur menggendongnya dengan kaku hingga membuat gelak tawa mereka menggelegar.
"Son, gendonglah seperti ini." Daddy Xavier memberitahu caranya menggendong seorang baby.
"Selamat untukmu, Ar. Kau benar-benar sudah menjadi seorang ayah." Mike berjalan mendekat dan memberikan ucapan selamat.
"Ya, terima kasih." Arthur menjawab dengan datar.
Dan mereka semua kembali mengucapkan selamat untuk Arthur. Hingga Dokter Liza datang ke dalam ruangan, kehebohan tersebut mereda sejenak. Dokter Liza memeriksa keadaan Helena usai Mommy Elleana berhenti mengecupi seluruh wajah menantunya itu karena telah memberikan kebahagiaan yang tak terbatas untuk mereka.
Setelah mengatakan jika keadaan Helena baik-baik saja, Dokter Liza memberitahu jika Helena harus memberikan ASI pada baby twins. Para pria harus menunggu di ruang tamu kembali, kecuali Arthur. Karena pria itu harus tahu bagaimana caranya baby twins mereka bisa minum susu dari sumbernya dengan bibir yang begitu mungil.
Meski sedikit sakit dan perih, Helena tetap membiarkan baby perempuannya menyusu. Sesekali ia mengusap wajah mungil putrinya.
Setelah edukasi sudah diberikan, Dokter Liza beserta dua perawat wanita segera pamit undur diri.
"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk baby twins?" tanya Mommy Elleana penasaran sembari menggendong cucu laki-lakinya.
Arthur dan Helena sejenak saling pandang. Kemudian keduanya mengangguk.
"Ace dan Lyora. Ace Xander Romanov, dia akan menjadi pria yang tegas dan menjadi pelindung bagi Keluarga Romanov. Dan Lyora Blair Romanov akan selalu menjadi cahaya di Keluarga Romanov," sahut Arthur lantang.
Semuanya yang mendengar begitu terpukau dengan arti nama baby twins. Tentu mereka sangat setuju dengan nama baby twins.
Suasana begitu membahagiakan, sehingga membuat siapapun yang berada disana turut merasa bahagia. Termasuk seorang gadis yang sejak tadi ingin sekali menggendong baby twins.
"Licia, kemarilah. Kau ingin menggendong baby, bukan?" Helena sejak tadi sudah memperhatikan Licia, sehingga ia menawarkan gadis itu untuk menggendong Baby Ace yang baru selesai diberikan ASI.
"Apa boleh?" cicit Licia ragu-ragu.
"Tentu saja boleh. Kau juga harus mulai belajar mengendong baby," seloroh Elie tanpa maksud apapun. Namun sukses membuat wajah Licia bersemu merah.
Karena sudah diizinkan tentu saja Licia tidak lagi menahan dirinya. Dengan perlahan gadis itu mengambil alih Baby Ace dari gendongan Helena.
"Tampan sekali," seru Licia terpesona. Siapa yang tidak terpukau dengan ketampanan dan kecantikan baby twins, semua yang sudah menggendong turut mengatakan hal demikian.
"Setelah dewasa nanti kau bisa membuatnya. Katakan pada Daddy-mu agar mengizinkanmu menikah muda." Lagi-lagi Elie berbicara asal. Semenjak hamil, Elie memang selalu ingin mengutarakan apapun yang ada di dalam pikirannya.
"Astaga Elie. Kau ini...." Mommy Elleana menggelengkan kepala. "Zayn sangat posesif, mana mungkin membiarkan putrinya menikah muda," sambungnya. Sebab sifat Zayn dengan suaminya Xavier hampir sama. Mommy Angela hanya menanggapinya dengan tawa renyah.
"Siapa? siapa yang akan menikah?" Tiba-tiba saja Daddy Zayn masuk dan menyambar percakapan mereka.
"Istrimu akan menikah lagi," sahut Daddy Xavier asal. Ia sudah bergabung lebih dulu beberapa menit yang lalu.
"Hah?!" Tentu saja Zayn terperangah. Mana mungkin istrinya menikah lagi, karena istrinya itu begitu mencintai dirinya. "Istriku tidak akan bisa meninggalkanku. Aku satu-satunya pria yang bisa membawanya terbang saat di ranjang."
"Astaga, Zayn!" Mommy Angela sontak memekik. Suaminya itu bicara vulgar di depan putri mereka yang masih polos.
Licia terkekeh. "Daddy memang seperti itu, Mom."
"Heh, tua-tua keladi," seru Daddy Xavier mencibir.
"Lalu kau apa, hah?" Daddy Zayn tidak terima. "Apa menurutmu, kau masih muda, begitu? Lihatlah rambutmu mulai berubah warna menjadi putih!"
"Cih, rambutmu juga sudah berwarna putih melebihi rambutku!" balas Daddy Xavier tidak ingin kalah.
Daddy Zayn membusungkan dadanya, menantang. "Dari mana kau tau, heh? Apa kau menghitung rambutku?!"
"Bercerminlah wahai pria tua." Alih-alih menjawab, Daddy-nya Xavier semakin mengejek Daddy Zayn.
Daddy Zayn geram, tetapi Mommy Angela mengusap lengannya. "Sudah.... sudah... kasihan baby twins jika mendengar pertengkaran kalian."
Daddy Zayn tidak bisa memprotes. Ia harus mengalah. Ya, yang waras harus mengalah, pikirnya.
"Mom, aku pergi sebentar." Austin yang baru saja memasuki kamar berbisik di belakang telinga Mommy Elleana.
"Hm, jangan terlalu jauh." Mommy Elleana masih tidak mengizinkan putra bungsunya itu untuk berpergian terlalu jauh.
"Hm..." Austin berdehem, lalu berpamitan dan tanpa sengaja bersitatap dengan Licia yang masih menggendong Baby Ace.
Licia mengulas senyum, namun dibalas acuh oleh Austin. Sehingga membuat gadis itu menatap kecewa dengan senyuman yang menyurut. Pria itu pergi begitu saja tanpa menyapanya, padahal sedari pagi mereka berada di ruangan yang sama, akan tetapi Austin selalu menghindari kontak mata dengannya.
To be continue
Btw makasih yang udah nyumbang nama buat baby twins 🤗
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...