The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Menjadi Sopir Pribadi?



Disepanjang perjalanan Austin tidak banyak bicara. Tatapannya hanya lurus ke depan, hingga membuat Licia terheran. Pasalnya tadi pagi Austin masih banyak bicara dan bahkan bergurau padanya. Lalu apa ini? Austin mendiamkannya sedari tadi. Dan pada saat menunggu dirinya di depan gedung Oxford University, pria itu hanya melemparkan senyum padanya.


Licia menghela napas. Tidak. Ia tidak tahan lagi dan harus memancing Austin agar ingin berbicara padanya seperti pagi tadi. Kemudian terbesit sebuah ide di kepalanya, Licia mengambil botol minuman miliknya, lalu meneguknya perlahan. Namun tiba-tiba saja tersedak hingga membuat gadis itu terbatuk-batuk.


Lantas perhatian Austin teralihkan dari kemudi. Pria itu akhirnya menatap Licia sekilas, lalu segera menepikan mobilnya di tepi jalan.


"Kau baik-baik saja? Kenapa tidak bilang jika kau sedang minum, aku bisa mengurangi kecepatan supaya kau tidak tersedak seperti ini." Tangan besarnya berulang kali menepuk-nepuk punggung Licia, agar gadis itu merasa lebih baik.


Licia masih terbatuk-batuk. Niat hati ingin berpura-pura tersedak, tetapi dirinya justru benar-benar tersedak. Apa ini yang dinamakan senjata makan tuan?


"A-aku baik-baik saja, As," sahut gadis itu setelah batuknya sudah mereda.


"Apa benar sudah baik-baik saja?" Austin masih tidak yakin, karena itu telapak tangannya masih memberikan usapan di punggung Licia.


"Iya, aku sudah baik-baik saja," ucapnya meyakinkan. "Sekarang biarkan aku minum dulu, aku masih sangat haus."


Austin yang mengerti segera menjauhkan punggung tangannya dari punggung Licia agar gadis itu kembali bersandar.


Licia melanjutkan minumnya. Ia lakukan dengan sangat perlahan, sebab khawatir akan kembali tersedak.


"Sudah?" tanya Austin memastikan saat Licia mulai ingin menutup botol air mineral itu.


Licia mengangguk. "Sebaiknya jalankan lagi mobilnya. Jika orang lain melihat mobil berhenti tiba-tiba di pinggir jalan seperti ini, orang yang melihatnya akan berpikir jika kita sedang melakukan yang tidak-tidak."


Mendengar perkataan Licia, bibir Austin melengkung tipis. Ia nyaris saja tergelak. "Memangnya kita melakukan apa? Bukankah kita tidak melakukan apapun."


Ah, Licia meruntuki kebodohannya. Ia merasa terjebak dengan perkataannya sendiri.


"Hm... itu...." Ia menggigit bibir bawahnya, tiba-tiba saja merasa gugup. "Kita memang tidak melakukan yang tidak-tidak. Memangnya apa yang bisa kita lakukan di dalam mobil. Kau ini, ishhh!" Kemudian menepuk-nepuk lengan Austin. "Cepat jalankan mobilnya. Aku sudah ingin cepat sampai Mansion." Gadis itu tak menatap Austin, ia memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Lantaran merasa sangat malu.


Austin terkekeh. Kemudian kembali memegang kemudi dan melajukan mobilnya. Tidak seperti beberapa menit lalu yang menampilkan aura suram, kini Austin nampak lebih manusiawi. Garis tipis disudut bibir pria itu kembali ditebarkan.


Ekor mata Licia menyelinap dan memperhatikan Austin. "Dia ini kenapa? Tadi saja wajahnya terlihat sangat horor, tapi sekarang tersenyum seperti itu," batinnya terheran.


Tidak berselang lama, mobil Austin sudah memasuki pelataran Mansion Keluarga Scott. Dan ketika memarkirkan mobilnya, Daddy Zayn berdiri disana seolah sedang menunggu kedatangan mereka. Tangannya dilipat di depan dada, Daddy Zayn menunggu hingga keduanya turun dari mobil.


"Daddy?" Kening Licia bertautan bingung lantaran mendapati Daddy-nya berdiri disana. Tidak biasanya saat dirinya pulang, Daddy-nya itu menunggunya.


"Paman, apa kabar?" Austin berbasa-basi menanyakan kabar Paman Zayn saat turun dari mobil.


"Hm, baik," jawabnya singkat. Kedua matanya menyorot tajam dan hanya tertuju pada Austin. "Apa kau menjemput Licia di kampusnya?"


Austin mengangguk. "Benar Paman."


"Oh, apa kau tidak memiliki pekerjaan lagi, jadi begitu senggang menjemput putriku," ujar Paman Zayn kembali. Entah hanya sekedar bertanya atau sengaja menyindir.


"Daddy....!" Licia mulai memprotes Daddy-nya itu.


"Kebetulan hari ini tidak ada banyak pekerjaan."


"Tidak Paman. Romanov Group masih berjaya, bahkan untuk tujuh turunan tidak akan habis."


Paman Zayn berdecih. "Cih, kau angkuh seperti Daddy-mu!"


Alih-alih tersinggung, Austin justru terkekeh. Ia sudah biasa menghadapi sikap Paman Zayn yang sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Daddy-nya. Sedangkan sedari tadi Licia memelototi Daddy Zayn agar tidak asal bicara, gadis itu rupanya sedang memperingati Daddy-nya. Namun bukan Zayn namanya jika pedulikan peringatan orang lain, meski putrinya sendiri.


"Kalau begitu kau pulanglah, tugasmu sudah selesai," ucap Paman Zayn santai, lalu menepuk-nepuk pundak Austin. "Terima kasih kau sudah menjadi sopir pribadi putriku, jadi aku tidak perlu mengeluarkan uang," selorohnya.


"Astaga Daddy! Kenapa bicara seperti itu?!" Licia tak tahan lagi, ia menegur Daddy Zayn kembali.


"Memangnya kenapa? Daddy hanya bicara jujur saja," sahutnya menjelaskan kepala putrinya yang tengah kesal itu. "Benar bukan?" lanjutnya kepada Austin, mencari pembenaran.


Austin mengulas senyum. "Paman tidak salah, biar bagaimanapun aku yang suka rela mengantarkan putri Paman."


Perkataan Austin sukses membuat wajah Licia menyembulkan rona kemerahan.


Berbeda dengan Daddy Zayn yang membuang pandangannya ke bawah lalu bergumam, "Cih, berpura-pura baik." Yang tentu saja hanya dirinya sendiri yang dapat mendengarnya.


"Kalau begitu aku pulang dulu, Paman." Austin berpamitan, ia memang tidak bisa berlama-lama berada di Mansion Paman Zayn.


"Ya, memang seharusnya kau cepat pulang. Jika tidak, Daddy-mu akan datang kemari mencarimu," cetus Paman Zayn mengayunkan kedua tangannya seolah sedang mengusir seekor lalat.


Austin kembali menanggapi dengan senyuman. Sudah terbiasa menghadapi Paman Zayn yang selalu mencibir. Lalu pandangannya berpindah pada Licia.


"Licia, aku pulang dulu," pamitnya.


Licia mengangguk. "Hm, berhati-hatilah."


Setelahnya Austin segera memasuki mobil, ia menekan klakson, lalu segera meninggalkan kediaman Keluarga Scott.


"Ayo masuk, dia sudah pergi. Kenapa masih disini?!" Daddy Zayn mengapit leher Licia, ia benar-benar gemas dengan putrinya itu karena masih memperhatikan mobil Austin yang sudah menjauh.


"Iish Daddy, lepaskan." Licia mencoba menghempaskan lengan Daddy Zayn yang melingkar di lehernya. Namun Daddy-nya itu justru semakin menekannya, sehingga membuat Licia memekik. "Mommy....!" pekiknya dan berteriak saat sudah berada di dalam ruang tamu. Ia berharap Mommy-nya mendengar teriakannya dan akan menyelamatkannya.


Daddy Zayn buru-buru membekap mulut Licia. Putrinya sudah pasti sengaja berteriak agar dirinya menjadi kambing hitam. Sejak memiliki dua anak, istrinya itu selalu membela mereka dan ia yang harus selalu mengalah. Menyebalkan bukan? Tetapi bagaimanapun putra dan putrinya adalah bagian dari dirinya dan juga dunianya selain sang istri tercinta.


To be continue


Ayo vote sebanyak-banyaknya ya hihi 🤭


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...