
Sore harinya, Helena serta Elie berada di Churchill Bar & Terrace Restauran yang berada di Pusat Kota London. Elie memiliki janji temu dengan Veronica dan meminta Helena untuk menemaninya. Tidak mudah mengajak Helena bersamanya, Elie harus mengeluarkan seribu jurus rayuan agar Arthur mengizinkan. Dan dengan bujuk rayu Helena, pada akhirnya Arthur hanya bisa mengizinkan, dengan catatan harus dikawal oleh beberapa bodyguard. Arthur hanya mengantar mereka dan akan menjemput kembali setelah dari perusahaan.
"Helen, kau harus makan yang banyak. Lihatlah, kau terlihat sedikit lebih kurus." Elie meletakkan beberapa macam makanan ke atas piring Helena.
"Sudah cukup, Elie. Berat badanku memang seperti ini, aku tidak akan bisa gemuk."
"Benarkah?" Elie sulit mempercayainya. Benarkah ada seseorang yang makan banyak tetapi tidak dapat gemuk. Berbeda dengan dirinya yang mudah sekali bertambah berat badannya ketika makan berlebihan. "Aku iri denganmu. Aku harus menjaga pola makanku, karena berat badanku mudah sekali naik." Elie memasukkan makanan ke dalam mulutnya di sela-sela wanita itu menggerutu.
Helena terkekeh mendengarnya. "Kau tidak gemuk, Elie. Tubuhmu benar-benar ideal untuk seorang model."
"Terima kasih kakak ipar. Mulutmu benar-benar manis sekali," sahut Elie mencibir. Padahal jika dibanding dengan dirinya, tubuh Helena lebih bagus bak gitar spanyol.
Melihat Elie kesal dan tidak percaya diri seperti itu, Helena terkekeh-kekeh. "Sudahlah, habiskan saja makanannya."
"Hm...." Dengan hentakan tangannya, Elie kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Maaf, aku sedikit terlambat. Jadwal pemotretanku lebih lama dari yang seharusnya." Veronica yang baru saja datang membenamkan tubuhnya di salah satu kursi yang tersedia. Ia menceritakan alasannya datang terlambat.
Helena dan Elie menoleh ke arah Veronica, wanita itu terengah-engah dan menyambar juice milik Elie.
"Apa kau habis berlari dari lokasi pemotretan, Vero?" tanya Elie. Rasanya kedatangan Veronica lebih membuatnya tertarik ketimbang makanannya yang kini sudah diabaikan olehnya.
"Tentu saja tidak, kau pikir aku wanita super yang bisa datang dari lokasi pemotretan sampai ke restauran ini!" cetusnya kesal. "Aku naik taksi dan berlari dari depan. Sungguh melelahkan hari ini." Veronica mengipasi wajahnya dengan tangannya. Wajahnya terlihat guratan kelelahan tetapi masih menyempatkan waktu untuk bertemu dengan teman baiknya. Kemudian pandangannya beralih pada sosok wanita yang meski pertemuan pertama mereka, tetapi Veronica tahu siapa wanita yang duduk di hadapannya itu.
"Hai, kau pasti Helena?" tanyanya kemudian dengan antusias.
Helena mengulas senyum sebagai tanggapannya. "Benar. Panggil saja Helen."
Veronica mengangguk. "Kalau begitu kau bisa memanggilku Vero sama seperti Elie," katanya dan diiyakan oleh Helena. "Akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Aku banyak mendengar tentangmu dari Elie, kau seorang designer sekaligus istri dari Tuan Arthur. Aku benar-benar tidak pernah menduga akan bertemu dengan istri dari pria gunung es."
Elie menepuk lengan Veronica hingga membuat wanita itu mengaduh. "Kau keterlaluan Vero, kau bicara seperti itu di depanku dan juga istrinya."
Veronica memamerkan deretan gigi putihnya. "Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bisa menjaga mulutku." Dan meruntuki kesalahannya yang selalu saja berbicara sesuka hati.
"Tidak ada yang salah dengan perkataan Vero. Kakakmu memang pria gunung es, Elie." Helena tentu tidak bisa menampik, karena yang dikatakan oleh Veronica benar adanya.
"Tapi dia sudah dicairkan olehmu, Helen," seru Elie mengingatkan. "Kau berhasil menaklukkan kakakku yang dingin dan keras kepala itu."
Ketiganya saling pandang, lalu terkekeh bersama karena mereka membicarakan pria yang sama. Sehingga membuat pria itu yang berada di perusahaan tiba-tiba hidungnya merasa gatal.
"Apa kau ingin aku pesankan makanan, Vero?" tanya Helena memastikan.
"Tidak perlu. Aku baru saja makan satu jam yang lalu," sahut Veronica diiringi gelengan kepala. Sebelum pemotretan benar-benar selesai, ia mencuri waktu untuk mengisi perutnya.
"Kalau begitu, ambillah. Ini untukmu dan ini untuk Mandy." Elie memberikan dua paper bag cukup besar kepada Veronica yang segera disambut oleh wanita itu. "Berikan kepada Mandy, aku tidak sempat bertemu dengannya."
"Apa ini?" tanyanya sembari merogoh isi paper bag miliknya. "Wah, cantik sekali." Kedua mata Veronica berbinar ketika mendapatkan sebuah gaun mewah. "Ini benar-benar untukku?" Lalu bertanya memastikan jika gaun tersebut benar-benar diberikan untuknya.
"Benar, gaun itu milikmu. Gaun itu berwarna senada dengan gaun milik Keluarga. Kau dan Mandy harus memakainya di pesta resepsi pernikahanku dan Helen minggu depan," seru Elie menjelaskan.
Mendengar hal itu, mata Veronica melebar sempurna. "Kalian benar-benar akan mengadakan resepsi bersama?" Wanita itu tidak terkejut mengenai pernikahan Elie karena sebelumnya Elie sudah memberitahukan kepadanya dan tentu saja ia sudah syok kemarin.
Helena dan Elie mengangguk serempak. "Aku sudah meminta cuti beberapa hari untukmu dan Mandy," lanjut Elie.
"Cuti?" Kedua alis Veronica bertaut dalam. "Memangnya dimana kalian akan mengadakan pesta resepsi?" Setau dirinya jika hanya menghadirkan undangan pernikahan tidak perlu mengambil cuti.
Helena serta Elie saling pandang lalu melemparkan senyum dan kembali menatap Veronica. "Rahasia," sahutnya serentak, membuat Veronica mendengkus kesal karena mereka masih merahasiakan lokasi pesta pernikahan.
"Undanganmu akan kuberikan nanti. Kau dan Mandy harus datang ke Mansion. Kita akan berangkat bersama," kata Elie dan dijawab anggukan kepala oleh Veronica.
"Elie... Vero, aku ingin ke toilet sebentar." Perkataan Helena menyita perhatian Elie serta Veronica.
"Aku akan menemanimu." Elie sudah beranjak berdiri.
"Tidak perlu, Elie. Kau tunggu disini saja bersama Vero. Aku hanya sebentar," sahut Helena menolak. Lagi pula ia hanya sebentar dan menurutnya tidak perlu ditemani.
Elie mengangguk. "Baiklah." Kemudian kembali duduk.
Helena segera melangkah meninggalkan meja, ia mengayunkan langkah menuju toilet yang berada cukup jauh dari lorong. Dan selama di dalam toilet, Helena memandangi dirinya di cermin, memutar tubuhnya untuk memastikan penampilannya seperti semula. Hingga kemudian ia segera keluar dari toilet dan melewati beberapa meja untuk mencapai mejanya yang masih berada di ujung.
Namun seseorang tiba-tiba saja menyenggol bahunya saat berjalan. Helena mengaduh dan memusatkan pandangannya ke arah wanita yang menyenggol bahunya. Helena sadar jika wanita itu sengaja, sebab ia sudah berusaha untuk menyingkir dan membiarkan wanita itu untuk berjalan lebih dulu.
"Hei, Nona. Sepertinya kau perlu minta maaf padaku." Helena bukanlah wanita yang mudah diam saja jika seseorang ingin menindasnya.
Wanita itu menoleh, ia berdecak sinis dan menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Kenapa aku harus minta maaf padamu?"
"Benarkah? Tapi aku tidak merasa sudah menyenggol bahumu. Kau saja yang tidak berjalan dengan benar." Wanita itu tersenyum meremehkan, enggan untuk meminta maaf karena ia merasa tidak salah.
"Aku sudah berjalan dengan benar, bahkan aku sudah berusaha menyingkir, tapi kau-" Helena menggantungkan kalimatnya, ia baru paham jika wanita itu hanya ingin mengganggunya.
"Apa? Aku apa?" Wanita itu justru menantang Helena untuk melanjutkan perkataannya.
Helena menghembuskan napas panjang. Rasanya percuma saja bicara dengan wanita seperti itu. "Sudahlah lupakan saja. Aku sedang malas meladeni wanita tidak waras sepertimu!" Helena berbalik badan. Sungguh ia malas berurusan dengan wanita seperti itu.
"Hei, kau.... sialan!" Wanita itu menarik lengan Helena, tidak membiarkan Helena pergi begitu saja. "Kau bilang aku tidak waras?!" serunya tidak terima. "Seharusnya keu bercermin siapa yang tidak waras. Wanita tidak waras sepertimu untuk apa kau datang ke restauran mewah seperti ini. Seharusnya tempatmu di rumah sakit jiwa!"
Tangan Helena terkepal. Siapa sebenarnya wanita yang berusaha mencari masalah dengannya. Padahal sebelumnya hanya mempermasalahkan wanita itu yang menyenggol bahunya.
PLAK!
Wanita itu menyentuh pipinya yang nyeri ketika sebuah tamparan mendarat di pipi kirinya. "Kurang ajar! Kau menamparku, hah?!" Wanita itu tidak terima dan hendak membalas serangan Helena. Tetapi salah satu temannya datang menghampiri.
"Joli, ada apa? Kenapa dia menamparmu?" tanyanya. Dan saat ini mereka sudah menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung lain, terutama dua teman wanita yang bernama Joli itu.
"Wanita tidak waras ini sudah menamparku!" Joli menyahut dengan tatapan nyalang mengarah pada Helena.
"Kau....." Teman Joli tersebut tentu geram. "Kenapa kau mencari masalah dengan temanku? Benar apa yang dikatakan oleh Carol, kau sudah tidak waras. Seharusnya tempatmu tidak disini!" Teriakan itu mengguncang seisi restauran. Beberapa pengunjung saling berbisik dan menatap Helena tidak percaya.
Sedari tadi Helena berusaha meredam amarahnya. Mereka mengatakan bahwa dirinya tidak waras di hadapan banyak orang. "Aku tidak waras! Kalian yang tidak waras berani mencari masalah denganku!" Helena balas berteriak.
"Memangnya kau siapa? Kau hanya wanita tidak waras yang sudah mengaku menjadi istri dari Tuan Arthur, pewaris Keluarga Romanov. Kau pikir pira tampan dan kaya raya sepertinya mau menikahi wanita tidak waras sepertimu!" seru Joli. Ia memandang penuh meremehkan. Jika Pewaris Keluarga Romanov menikah, tentunya tidak dengan wanita gila di hadapan itu, pikirnya.
Helena berdecak. Sepertinya mereka mengetahui sesuatu mengenai pernikahannya dengan Arthur. Tetapi sungguh, ia tidak mengenal mereka. Dan mengingat salah satu dari mereka sempat menyebut nama Carol, Helena menebak jika mereka adalah teman-teman Caroline, adik tirinya.
"Kau akan-"
"Helen?" Perkataan Helena menggantung ketika suara Elie menyela dan menghampiri dirinya dengan cemas, disusul oleh Veronica di belakangnya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya memastikan keadaan Helena.
"Aku baik-baik saja." Helena menjawab disertai seulas senyum.
Tetapi Elie tidak percaya begitu saja. Ia geram dan tidak terima. Karena Helena tidak kunjung kembali dari toilet, ia menjadi cemas dan memutuskan menyusul bersama Veronica. Kemudian mereka mendengar dari beberapa pengunjung yang lain jika ada seorang wanita tidak waras yang sedang bertengkar. Dan ia tidak menyangka jika wanita yang dimaksud beberapa pengunjung adalah Helena.
"Sebaiknya kalian segera pergi dari sini sebelum menyesal!" ujar Elie memperingatkan keduanya.
"Ck, memangnya kau siapa? Apa kau teman dari wanita tidak waras ini?!" Joli tidak takut dengan peringatan Elie, ia menunjuk wajah Helena, wanita yang tidak waras menurutnya. Sungguh ia membenci wanita itu tanpa alasan.
"Jaga bicaramu!" Elie tidak terima. "Kau akan menyesal karena sudah berani menghinanya!" Ia sangat yakin jika nasib kedua wanita itu tidak lama lagi akan berakhir buruk.
"Aku tidak takut padamu! Kau sama sepertinya tidak waras. Wanita-wanita seperti kalian tidak pantas makan di tempat mewah seperti ini! Kalian lebih pantas mengemis di jalan, haha!" Joli mentertawakan Helena dan Elie yang justru membuat temannya itu ikut mentertawakan.
Elie meradang. Berani-beraninya mereka menghina dirinya serta Helena. "Kau....!!"
"Siapapun yang berani menghina istri dan adikku, mereka akan berakhir menyedihkan!"
Deg
Semua yang berada di dalam sana terkesiap dan menoleh serempak ke arah sumber suara yang terdengar dingin. Ketiga pria berjalan menghampiri dengan tatapan tajam.
Elie membuang napasnya kasar. Jika ketiga pria itu sudah bertindak, maka tamatlah riwayat kedua wanita itu.
To be continue
Helena
Elie
Veronica
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...