
Beberapa hari kemudian, Licia sudah diperbolehkan pulang. Kesehatan gadis itu sudah membaik, tetapi minggu depan harus mengontrol kesehatannya kembali. Dokter Oscar benar-benar menjadi dokter terbaik dirumah sakit tersebut, karena setiap pasiennya berakhir dengan kesembuhan.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil. Daddy Zayn menjemput Licia dirumah sakit tanpa Mommy Angela dan Jacob. Tetapi selalu dijaga oleh beberapa anak buah.
"Dad, ada apa dengan wajahmu?" Licia memperhatikan wajah Daddy Zayn yang sedang fokus menyetir. Nampak heran sekaligus penasaran mendapati sudut bibir Daddy-nya yang sedikit lebam.
"Ah, ini." Daddy Zayn menunjuk sudut bibirnya yang dimaksud oleh putrinya itu.
Licia mengangguk. "Apa Daddy baru saja berkelahi?"
Daddy Zayn terkekeh. "Tidak. Hanya saja seseorang memiliki dendam."
Mendengar kata 'dendam' Licia menjadi panik. Ia teringat akan dendam yang dimiliki oleh Paman Maxime yang memiliki dendam pada Daddy-nya. Ia cemas jika musuh diluar sana kembali mengincar mereka.
Mengerti akan kegelisahan putrinya itu, Daddy Zayn mengusap kepala Licia. "Tenang saja. Ini bukan apa-apa. Pukulan ini di dapat dari Paman Vier."
Hah?
Kegelisahan Licia berubah menjadi rasa tidak percaya. Paman Vier memukul Daddy-nya? Tapi kenapa?
"Kenapa Paman Vier memukul Daddy? Apa kalian ada masalah?" tanyanya memastikan sekaligus penasaran.
Daddy Zayn mengangkat bahunya. Ia malas menjelaskan, akan tetapi Licia merengek padanya.
"Daddy, jangan membuatku penasaran." Sembari menggoyangkan lengan Daddy-nya yang tengah mengendalikan stir kemudi.
"Iya, baiklah." Sahutan Daddy Zayn membuat Licia berhenti merengek. "Kau masih ingat jika Daddy pernah memukul As?" ujarnya menjelaskan kejadian beberapa hari yang lalu saat dirinya memukul Austin. Licia mengangguk sebagai jawaban jika dirinya masih mengingat kejadian saat di rumah sakit itu.
Daddy Zayn terkekeh. Ia justru merasa geli jika mengingat kejadian tadi pagi. Mobilnya yang baru saja keluar dari gerbang, tiba-tiba dihalangi oleh sebuah mobil mewah yang berhenti secara mendadak di depan mobilnya. Pengemudi mobil itu segera turun dari mobil dan ternyata pengemudi itu tidak lain adalah Xavier. Lantas ia segera turun dari mobil untuk menanyakan penjelasan, kenapa pria itu menghentikan mobilnya.
Namun alih-alih mendapatkan jawaban, Xavier justru melayangkan satu pukulan tepat di wajahnya.
"Pukulan dariku adalah balasan karena kau sudah memukul putraku!" Setelah tujuannya tercapai, Xavier segera berlalu pergi. Tujuannya memang hanya ingin melayangkan pukulan seperti yang dilakukan oleh Zayn pada putranya, Austin.
Apa yang dilakukan Xavier membuat Zayn tercengang selama beberapa saat. Benar-benar tidak habis pikir dengan Xavier yang selalu mengejutkan dirinya. Ia pikir selama beberapa hari ini Xavier tidak mengetahui apa yang ia perbuat pada Austin, akan tetapi Xavier justru menunggu waktu yang tepat seperti hari ini. Sungguh sial!
Mendengar cerita dari Daddy-nya membuat tawa Licia meledak. Bagaimana tidak, Daddy-nya dan Paman Vier sudah tua tetapi sikap mereka tidak berubah. Terkadang akur dan terkadang seperti menjadi musuh besar.
"Dia menyebalkan, bukan?" Daddy Zayn mengeluhkan sikap Xavier pada putrinya itu. "Jika dia menjadi ayah mertuamu, kau harus banyak-banyak bersabar. Tapi Daddy tidak akan tinggal diam jika dia berani menindasmu."
Hah? Apa Licia salah mendengar? Apa yang baru saja dikatakan oleh Daddy-nya? Ayah mertua? Maksudnya Daddy-nya itu baru saja memperingati dirinya? Begitukah?
Wajah Licia tiba-tiba saja memanas. Entah kenapa hatinya menghangat saat Daddy-nya mengatakan jika Paman Vier 'menjadi ayah mertua'. Astaga, ada apa dengan jantungnya? Seperti ingin melompat keluar.
"Bukan begitu." Licia mengelak. Ia malu karena kedapati wajahnya yang memerah. Terlebih ia memang memikirkan perkataan Daddy-nya. "Ak-aku..." Baru saja ingin menjelaskan, mobil mereka sudah tiba di pelataran Mansion. Terlihat Mommy Angela yang berdiri tidak jauh, menunggu kedatangannya.
Daddy Zayn segera keluar dari mobil. salah satu anak buah sigap membukakan pintu untuk Nona muda mereka.
"Selamat datang kembali, Nona." Mereka kompak memberikan sambutan atas kepulangan dan kesembuhan Nona muda mereka.
"Terima kasih." Licia tersenyum haru. Memiliki banyak anak buah yang sudah seperti keluarga, tentu saja membuatnya senang. Terlebih mereka sangat perhatian dan rela bertaruh nyawa untuk keluarganya.
"Sayang..." Mommy Angela gegas menghampiri, lalu memeluk Licia. "Akhirnya kau pulang. Mommy sangat merindukanmu." Sembari mengelus surai panjang putrinya.
"Aku juga merindukanmu, Mom," sahutnya mengeratkan pelukan mereka. Kemudian setelah puas, keduanya saling menguraikan pelukan.
"Mommy benar-benar minta maaf karena tidak bisa menjagamu dirumah sakit." Terpancar rasa bersalah pada bola mata Mommy Angela. Beberapa hari ini kesehatannya menurun sehingga ia tidak bisa menjaga putrinya di rumah sakit. Jacob dan Zayn harus bergantian berjaga di rumah sakit.
Licia tersenyum, menenangkan Mommy-nya dari rasa bersalah. "Tidak apa-apa Mom. Yang terpenting saat ini Mommy sudah pulih. Nanti malam aku ingin tidur dengan Mommy."
Mendengar permintaan putrinya, senyum Mommy Angela terbit. "Dengan senang hati. Banyak yang ingin Mommy bicarakan denganmu. Tapi sebaiknya kita masuk lebih dulu, Mommy sudah menyiapkan makanan untukmu," ucapnya sambil menggandeng tangan Licia.
Licia mengangguk senang. Lalu mengikuti langkah Mommy Angela masuk ke dalam Mansion. Berbeda dengan ibu dan anak itu yang nampak ceria, seorang pria tua memasang wajah kecut lantaran merasa abaikan. Sejak tadi dirinya berada di sisi mobil, tetapi istrinya itu seperti tidak menghiraukan dirinya. Apa karena begitu rindu dengan putrinya, sehingga melupakan suaminya yang setiap malam selalu menghangatkan ranjang. Dan apa tadi yang baru saja ia dengar? Nanti malam istrinya itu akan tidur bersama Licia, yang berarti akan meninggalkannya di atas ranjang yang dingin? Baru membayangkan tidur seorang diri saja sudah membuat tubuhnya menggigil.
"Ada apa, Dad?" Wajah Jacob tepat berada di hadapan Daddy Zayn. Sehingga sukses membuat pria yang sudah tidak muda lagi itu terjingkat kaget.
"Kau ingin membuat Daddy-mu terkena serangan jantung, heh?!" sembur Daddy Zayn kesal.
"Salah sendiri kenapa sejak tadi kupanggil tapi Daddy hanya diam saja. Kupikir kau terkena penyakit, Dad."
"Kurang ajar! Kau menyumpahi Daddy terkena penyakit, hah!" Daddy Zayn murka. Kenapa ia memiliki anak durjana seperti Jacob? Karena kesal, pada akhirnya Daddy Zayn memilih masuk ke dalam Mansion, meninggalkan Jacob begitu saja.
Jacob terkekeh geli. Daddy-nya itu sedang sensitif rupanya. Apa tadi malam Mommy-nya itu tidak memberikan jatah? Pikirannya mendadak menjadi liar. Meskipun tidak pernah melakukan hubungan sekss, tetapi melakukan hubungan suami istri bukan yang tabu baginya.
To be continue
Btw Yoona udah berusaha crazy up ya, jangan lupa vote sebanyak-banyaknya wkwk
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...