The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Salah Memilih Lawan



Mini cafe selalu menjadi tempat persinggahan Lion Boys beserta Dragon Boys di saat waktu pelajaran tengah kosong. Mereka menikmati beberapa pesanan yang sudah tersaji di atas meja, canda gurau selalu menjadi topik utama jika mereka sedang berkumpul.


Namun perhatian mereka tersita sejenak kepada kelompok Tiger yang lagi-lagi menindas di area sekitar universitas. Tetapi tidak dengan Jacob yang masih bertahan memperhatikan tindakan penindasan tersebut. Namun sesaat kemudian ia mengangkat kedua bahunya acuh, bukan urusan dirinya, pikirnya. Hal tersebut memang sudah menjadi kebiasaan kelompok Tiger menindas seseorang.


"Hei, cantik. Kenapa kalian selalu berdua saja? Apa perlu kami temani?"


"Benar. Kami sedang free, bergabunglah dengan pria-pria tampan seperti kami."


Dua pemuda Geng Tiger seakan melupakan jika mereka tengah menggoda adik-adik dari Lion Boys serta Dragon Boys yang tidak lain ialah Jolicia dan Freya.


Kedua gadis itu nampak acuh disertai tatapan sinis yang dilayangkan secara terang-terangan.


"Hei, apa kalian lupa siapa mereka?" ujar salah satu anggota Geng Tiger. "Mereka berdua adalah adik-adik dari Lion Boys dan Dragon Boys. Kalian akan dihabisi jika berani menggoda mereka."


"Ck, sudahlah. Mereka tidak melihat." Dan dengan angkuhnya ia tidak menghiraukan peringatan temannya itu.


Tanpa di sadari oleh mereka, sejak tadi Jacob sudah menatap ke arah mereka di balik kaca transparan cafe. Jacob menghabiskan botol soda miliknya, sebelum kemudian beranjak berdiri.


"Rupanya mereka cari mati!" gumam Jacob kesal.


"Hei Jac, tunggu kami!" seru Albern. Sedari tadi ia mengikuti arah pandang Jacob, sehingga sudah paham apa yang membuat Jacob nampak berkilat marah seperti itu. Albern kemudian menarik bahu Beryl agar mengikuti langkahnya.


Berbeda dengan Lion Boys, mereka diam memperhatikan terlebih dahulu. Sebelum kemudian saat mendapati sosok Jolicia dan juga Freya yang sepertinya tidak dibiarkan berlalu dari sana oleh Geng Tiger. Lantas mereka pun tidak tinggal diam, pergi dari cafe menyusul Jacob, Beryl dan Albern. Menyisakan Austin yang tidak ingin beranjak dari tempat duduknya, ia membiarkan yang lain untuk mengurus Geng Tiger dan tetap fokus pada skripsinya yang sudah dikerjakan hampir 50%.


Grep


Jacob menyambar kerah pakaian salah satu dari mereka, hingga kemudian menarik paksa dan membawanya ke tempat yang lebih sunyi. Lion Boys melakukan hal yang sama, mendorong anggota Geng Tiger satu persatu dari sana.


Mereka telah salah mencari masalah, karena dua gadis itu tentunya memiliki arti yang penting bagi Jacob serta yang lainnya. Melihat para pemuda yang saling berseteru itu membuat Jolicia dan Freya menghembuskan napas panjang, pasalnya lagi-lagi ada keributan yang terjadi.


"Sebaiknya kita pergi dari sini, Frey." Jolicia menyahut lengan Freya dan menariknya. Langkahnya tertuju pada cafe, dimana terdapat Austin disana.


"Licia, bagaimana ini. Mereka pasti berkelahi lagi." Tidak habis pikir dengan para pemuda itu yang selalu menyelesaikan masalah dengan adu kekuatan fisik.


"Sudahlah Frey, biarkan saja. Salah mereka sendiri mencari masalah," sahut Jolicia.


"Tapi bagaimana jika sampai Cody melaporkan hal ini kepada ayahnya? Mereka bisa saja di skors." Kecemasan nampak terpatri di wajah Freya, karena teman-temannya berurusan dengan Cody Ayhner, keluarga pria itu masih kerabat dekat keluarga pemilik dari universitas tempat mereka menimba ilmu.


"Sudahlah Frey, tidak akan ada yang terjadi dengan mereka. Kau tidak perlu-"


"Ada apa ini?" Devano yang baru saja datang menghentikan kalimat Jolicia. Ia menatap bingung pada keduanya yang hanya berdiri saja di depan cafe. "Frey, ada apa?" tanyanya kemudian kepada Freya penuh desakan.


Pada akhirnya Freya menceritakan apa yang terjadi kepada Devano. Sehingga membuat Devano pun merasa kesal. "Aku akan kesana."


"Tidak perlu kak." Namun Freya menahan lengan Devano. Lagi pula teman-teman yang lain sudah mengurus Geng Tiger.


"Mereka perlu diberikan pelajaran Frey." Nyaris saja Devano menepis lengan Freya.


Melihat berdebatan kecil kakak beradik itu, Jolicia mengedikkan bahu. Ia lantas masuk ke dalam cafe dan duduk di kursi tepat di hadapan Austin.


"Kau sedang apa As?" tanyanya menumpu dagu pada salah satu telapak tangannya, memperhatikan wajah Austin yang semakin tampan jika sedang dalam mood serius.


"Jangan mengajakku bicara, Licia. Aku sedang tidak ingin di ganggu," sahut Austin tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.


Jolicia berdecih, ia paham apa yang membuat Austin begitu serius menatap layar laptopnya. Sehingga ia tidak ingin mengganggu pemuda di hadapannya itu, dan hanya mencicipi makanan yang masih tersisa banyak di atas meja.


Namun tiba-tiba saja suara sirine polisi dan dua mobil polisi sejenak menjadi pusat perhatian di depan cafe. Termasuk perhatian Devano serta Freya yang masih berada di depan Cafe. Mereka begitu tertegun dengan kedatangan polisi yang tergesa-gesa masuk ke dalam cafe.


Rekasi Jolicia sama terkejutnya, ia menolehkan pandangan kepada sosok tiga polisi yang justru mendekat ke arah mereka.


"Apa kau yang bernama Austin?" tanya salah satu polisi setengah baya yang sejak awal menyoroti Austin.


Mendengar namanya disebut, ekor mata Austin melirik ke arah sumber suara. Ia tidak tau apa yang membuat ketiga polisi itu mencari dirinya. Austin kemudian menyimpan file tersebut agar tidak hilang, sebelum kemudian menutup layar laptopnya.


"Kami mendapatkan laporan jika kau telah menyerang seseorang. Karena itu kau harus ikut dengan kami dan bisa menjelaskannya di kantor kepolisian."


What??


Jolicia bahkan menganga saat mendengar perkataan polisi tersebut. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Kenapa mereka ingin membawa As? pikirnya.


"Sir, kau pasti salah menerima laporan. Untuk apa kalian ingin membawa As?" Jolicia tidak terima jika ketiga polisi itu membawa Austin begitu saja.


"Sebaiknya Nona jangan menghalangi kami. Kami hanya melakukan tugas."


"Tapi...."


Berbeda dengan Jolicia, Austin menanggapi dengan santai. Bahkan ia menyunggingkan senyum, karena ia sudah paham kenapa polisi-polisi itu ingin menangkap dirinya.


"Jadi kalian hanya melakukan tugas?" ujar Austin. "Kalau begitu aku akan ikut dengan kalian."


"As...." Mata Jolicia membelalak, ia tidak percaya jika Austin akan dengan mudah menurut.


"Aku bisa mengatasinya Licia. Tenang saja," sahutnya menenangkan.


Ketiga polisi tersebut saling pandang. "Kami tidak memiliki waktu, sebaiknya cepat kau ikut dengan kami!"


"Tidak perlu menyentuhku!" Austin menepis tangan satu polisi yang ingin meringkus dirinya. "Aku bisa jalan sendiri." Dan kemudian Austin melangkah lebih dulu, meninggalkan barang-barangnya disana yang sudah pasti akan dijaga dan dibawa oleh teman-temannya yang lain.


"As...?" Devano berjalan mendekati As, namun langkahnya di hadang oleh dua polisi tersebut. "Kenapa kalian menangkapnya, heh?" serunya tidak terima.


"Untuk apa membawa Kak As? kalian tidak berhak melakukannya!" sambar Freya. Karena ia juga mengenal kakak sepupunya itu, yang tidak akan sampai melibatkan diri dari polisi.


"Kami hanya melakukan tugas. Jadi sebaiknya kalian berdua segera menyingkir." Kedua polisi itu mendorong Devano serta Freya, membuat Devano tidak bisa membantah karena yang ia hadapi adalah tiga anggota kepolisian.


"Damn it!" umpatnya menyugar rambut dengan kasar saat melihat mobil polisi sudah berlalu dengan membawa Austin. Beruntung di sana tidak ada mahasiswa-mahasiswi yang berlalu lalang, sehingga tidak banyak banyak yang memperhatikan polisi membawa Austin. Jika tidak, sudah pasti Austin akan menjadi topik hangat di kampus.


***


"Pakailah pakaian ini!" Polisi tersebut memberikan satu pakaian tahanan kepada Austin, terkesan sangat tidak sopan karena dilempar begitu saja.


Austin hanya menatap pakaian berwarna orange tersebut tanpa berniat untuk mengambilnya.


"Pakai dan setelah ini kau masuk ke dalam sel!" serunya kembali.


Percuma saja Austin membela diri, karena sedari tadi ketiga polisi itu hanya menyudutkan dirinya. Sehingga mau tidak mau Austin mengenakan pakaian itu. Polisi tersebut tersenyum puas, ia lalu menarik tangan Austin agar mengikuti langkahnya.


"Masuklah ke dalam." Lalu mendorong Austin masuk ke dalam sel tahanan.


Austin tidak terima, ia menggebrak dinding di sekitarnya. Ternyata ada yang ingin bermain-main dengannya, dan ia yakin jika ketiga polisi itu bukan untuk mendengarkan penjelasannya, melainkan memenjarakan dirinya.


"Mereka sudah salah memilih lawan."


Wajah Austin yang merah padam itu mengukir senyum penuh arti. Tentu, ia akan mengikuti permainan mereka.


To be continue


Austin



...Jangan lupa dukungan kalian ya.. untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...