
"Selama ini aku menyembunyikan mereka.... aku...." Kakek Mateo menyentuh dadanya yang tiba-tiba menjadi sesak. Namun Kakek Mateo berusaha menyelesaikan kalimatnya dan berkata, "Mereka hidup dengan baik di desa dan selalu menangisi kepergianmu dan Mei." Suara Kakek Mateo tercekat di tenggorokan, ia mencoba menarik napas dalam. "Rasanya aku senang sekali mengetahui jika kalian masih hidup dan sekarang aku bisa pergi dengan tenang." Kemudian ia mendekatkan bibirnya di telinga Mikel, membisikkan sesuatu yang membuat Mikel terpaku sejenak. Hingga pergerakan Kakek Mateo melemah dan napas yang beraturan itu perlahan terhenti. Kakek Mateo menghembuskan napas terakhirnya dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Kakek?" Tubuh Mikel mendadak melemas. Ia menopang tubuh Kakek Mateo yang ringan dengan tangan yang bergetar. "Bangunlah, jangan seperti ini!" Mikel berteriak sembari mengguncang tubuh Kakek Mateo dan teriakannya itu mengundang perhatian semua yang berada disana, tak terkecuali Sid yang tidak berhenti memberikan pukulan di wajah serta tubuh Todd.
Sid segera melangkah mendekati Mikel untuk melihat kondisi Kakek Mateo. "Mikel, ada apa dengannya?" tanyanya memastikan.
"Dia pergi Sid. Dia benar-benar meninggalkanku tanpa bertemu dengan Mei lebih dulu." Bahu Mikel bergetar, rasanya ia tidak sanggup jika mengingat perjuangan Kakek Mateo yang selama ini sudah menjaga dan melindungi kedua orang tuanya.
Sid menepuk-nepuk bahu Mikel, menyalurkan kekuatan melalui tepukannya itu. "Ini yang terbaik. Setidaknya Mateo sudah bertemu denganmu. Tapi apa dia sudah memberitahu dimana keberadaan orang tuamu?"
Duar!
Baru saja Mikel hendak menyahuti perkataan Sid, suara letupan menyita perhatian mereka dan segera menoleh ke arah sumber suara. Mikel tertegun dan beranjak berdiri, kabut tebal setelah suara ledakan itu memenuhi ruangan tersebut.
Menyadari jika ada sesuatu yang aneh, Mikel menyapukan pandangannya ke sekitar. "Shiittt!!!" Dan ia mengumpat ketika menyadari jika Todd sudah tidak berada di sana. "Dia melarikan diri Sid. Todd keparat itu melarikan diri lagi!"
"Hah, keparat sialan!" Sid pun meradang, ia melangkah panjang mendekati sudut ruangan. Setahu dirinya Todd berada disana dan ia meninggalkannya begitu saja tanpa curiga jika pria tua itu akan melarikan diri disaat keadaannya sudah benar-benar sekarat.
"Aku harus mencarinya! Aku tidak akan membiarkannya hidup!" Emosi Mikel kembali tersulut, ia mencoba melangkah namun di tahan oleh Sid.
"Tunggu, sepertinya aku mendengar suara mobil yang mendekat," ucapnya memberitahu apa yang ia dengar.
"Aku tidak peduli! Aku harus menemukan Todd!" Mikel menepis tangan Sid dan mendorong bahu temannya itu hingga Sid terhuyung ke belakang.
Sid hanya menghela napas panjang. Jika Mikel sudah seperti itu, maka akan sulit ditenangkan. Kemudian Sid meminta Josh untuk membawa tubuh Kakek Mateo. Kaki Josh melangkah dengan bergetar, ia sedari tadi mendengarkan dan memperhatikan Mikel serta Kakek Mateo. Ia pun menitikkan air matanya, sebab mendengar jika Matthew dan Aprille benar-benar masih hidup.
Mikel menyusuri lorong, ia memperlebar langkah dengan jejak emosinya yang menggema di sekitarnya. Namun seseorang tiba-tiba saja menahan dan menarik bahunya.
"Sudah kukatakan jangan menghalangiku Sid!" Mikel menepis tangan kokoh dari pundaknya.
"Diam! Kau benar-benar bodoh! Jangan hanya memikirkan emosimu tapi pikirkanlah juga keselamatanmu dan yang lainnya!"
Bibir Mikel terbungkam rapat, ia mengurungkan umpatannya setelah mengetahui sosok pria di hadapannya itu.
"Ar, Todd melarikan diri. Aku harus menemukannya dan membuatnya menderita seumur hidupnya." Suara Mikel melemah, ia begitu nanar menatap Arthur yang entah bagaimana sudah berada di tempat tersebut.
"Aku mengerti. Kau bisa mencarinya lagi, tapi kau dan yang lainnya harus segera pergi dari sini. Aku sudah menyiapkan mobil untuk kalian. Pergilah sebelum Pasukan Spetsnaz menemukanmu disini!"
"Pasukan Spetsnaz?" Mikel tertegun mendengarnya. Lagi-lagi pasukan tersebut datang mengacaukan.
"Hm, segeralah pergi dari sini. Aku dan Pier yang akan mengurus mereka."
"Kau yakin bisa mengurusnya?" Entahlah Mikel tidak begitu yakin jika Arthur dapat menangani Pasukan Spetsnaz yang dikenal tidak akan membiarkan targetnya lolos dari genggamannya.
"Kau tenang saja, Pier adalah seorang kepala pasukan SWAT. Jadi tidak ada alasan Pasukan Spetsnaz untuk mencurigaiku," ujar Arthur memberitahukan sosok Pier yang tidak lain ialah pasukan kepolisian khusus yang umumnya dinamakan SWAT (Special Weapons And Tactics), kesatuan penegak hukum yang bersenjatakan seperti militer dan taktik khusus operasi-operasi berisiko tinggi yang berada diluar kemampuan polisi berseragam biasa.
Mikel menghembuskan napas dengan berat. Sebenarnya ia begitu enggan meninggalkan tempat ini sebelum menemukan Todd. "Baiklah, aku akan pergi dari sini. Tapi pastikan jika kau akan baik-baik saja!" putusnya pada akhirnya.
Sebagai jawabannya Arthur hanya mengangguk disertai deheman. Mikel segera melesat keluar dari sana. Mencari keberadaan Sid, Josh serta para anak buah. Beruntung Arthur membantunya, sehingga ia serta yang lain dapat melarikan diri dari sana dan menghindari Pasukan Spetsnaz yang menyebalkan itu.
***
Setelah memastikan Mikel dan yang lainnya meninggalkan tempat tersebut, Arthur menghampiri Darren dan Pier yang menunggu di sisi mobil. Bertepatan dengan segerombolan Pasukan Spetsnaz yang datang dan siap mengepung tempat tersebut.
Arthur dan Sean saling bersilang pandang, namun memancarkan aura yang begitu dingin. Sean mengerahkan seluruh pasukannya untuk menggeledah tempat tersebut dan menangkap siapapun yang berada di dalam. Melihat pasukannya sudah saling menyebar ke dalam bangunan tua itu, Sean menghampiri Arthur.
"Sedang apa kau disini?" tanyanya tertuju kepada Arthur dan kemudian ekor matanya melirik pria berseragam polisi khusus, yang tidak lain ialah Pier.
"Kami ingin menemukan siapa dalang yang menyerang kami beberapa hari yang lalu. Atas bantuan Tuan Pier, kami menemukan persembunyian kelompok itu. Tapi saat datang kemari, kami tidak menemukan siapapun." Bukan Arthur yang menjawab, melainkan Darren. Sebab Arthur begitu malas untuk menjelaskannya kepada Sean.
Kedua mata Sean mendelik, ia terusik dengan penuturan Darren yang datang untuk menemukan keberadaan kelompok berbahaya Mocro Mafia.
"Kalian tidak tau kelompok seperti apa yang akan kalian hadapi. Mereka bukan kelompok biasa, mereka adalah Mocro Mafia yang terkenal dengan tindakan kriminal yang tinggi," ucapnya menjelaskan tanpa tahu jika sebenarnya mereka sudah mengetahui segalanya mengenai Mocro Mafia. "Biarkan hal ini menjadi urusanku dan pasukanku. Lebih baik kalian pergilah dari sini dan jangan melibatkan diri untuk menangkap mereka!" Dari perkataannya, Sean menegaskan jika Mocro Mafia hanya bisa ditangani oleh pasukan khusus seperti timnya. Mocro Mafia adalah penjahat kelas kakap yang sulit sekali dihadapi, selalu licin bagai belut yang mampu meloloskan diri dari siapapun.
Pier tiba-tiba terkekeh mendengarnya, sehingga perhatian Sean tersita padanya. "Aku adalah pasukan dari tim SWAT. Aku juga bisa mengurus hal seperti ini. Lagi pula aku membawa anggota timku yang lain."
"Tapi ini bukan wilayahmu!" seru Sean dengan suara meninggi.
Mendengar penjelasan Pier, Sean tidak mampu lagi untuk menimpali. Pria itu hanya menggerakkan ekor matanya ke arah lain ketika seluruh pasukannya berjalan mendekat.
"Letnan, tidak ada siapapun di dalam. Sepertinya mereka sudah melarikan diri. Tapi kami menemukan banyak noda darah di lantai, seperti baru saja terjadi pertarungan senjata api di dalam."
Mendengar laporan dari satu anak buahnya, Sean mengangguk. "Kalau begitu cari petunjuk dan berpencar. Aku yakin jika mereka masih tidak berada jauh dari sini."
"Baik Letnan." Lalu pria itu segera berlalu menjalankan perintah. Dan Sean kembali memusatkan pandangannya kepada ketiganya.
Baru saja Sean ingin mengeluarkan suaranya, Arthur sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Berbeda dengan Darren yang mengangguk, memberikan salam hormat. Sebelum kemudian menyusul masuk ke dalam mobil.
"Kami pergi dan kabari aku jika kau sudah menemukan mereka. Akan kuberikan pelajaran karena mereka sudah berani-beraninya menyerang temanku." Pier bertindak seolah akrab dengan Sean. Ia bahkan menepuk-nepuk bahu Sean yang tegap, sebelum kemudian segera masuk ke dalam mobil.
Sean menghela napas panjang, menghadapi Arthur memang sangat sulit. Dan ia tentu tidak berhak mencurigai Arthur, sebab tidak memiliki bukti apapun. Terlebih selama beberapa hari ini memantau pria itu, tidak sekalipun ia menemukan tindak kejahatan yang dilakukan oleh pria itu.
Sepertinya aku sudah salah paham padanya, batinnya sembari memperhatikan mobil-mobil yang berlalu pergi dari sana.
***
Keesokan harinya, Mikel berlutut di pusara Paman Mateo setelah tadi malam tiba di Amsterdam. Mereka memutuskan memakamkan Kakek Mateo, seperti keinginan Kakak Mateo terdahulu ketika mereka selalu melalui hari bersama. Kakek Mateo selalu mengatakan jika ia tiada suatu saat nanti, ia hanya ingin di makamkan di samping pusara istrinya yang sudah puluhan tahun meninggalkannya.
Berulang kali Mikel terlihat menyeka sudut matanya yang basah, teringat kebersamaannya dengan Kakek Mateo. Meskipun saat itu ia sudah memiliki Kakek Gustavo, tetapi Mikel lebih dekat dengan sahabat kakeknya itu. Kakek Mateo tidak memiliki seorang anak pun, karena istrinya divonis mengidap penyakit yang mematikan setelah lima tahun menikah. Sehingga Kakek Mateo memutuskan tidak menikah lagi setelah kepergian istri tercintanya. Dan Kakek Mateo tidak merasa kesepian karena sejak dulu ia sudah menganggap Matthew sebagai putranya. Terlebih Kakek Gustavo tidak mempermasalahkannya jika Matthew di angkat sebagai anak oleh sahabatnya sendiri.
"Sebaiknya kau segera pergi dari sini. Aku sudah menyiapkan pesawat keberangkatanmu ke Georgia." Seorang pria yang berdiri di belakang Mikel sedikit membungkuk dan menepuk bahu Mikel. Tidak lupa tangan kanan kepercayaannya selalu berada di belakangnya.
Mikel mendongak dan ia segera berdiri. "Terima kasih Ar. Kau sudah banyak membantuku."
"Hm, bawa kembali Paman Matthew dan Bibi Aprille. Kedua orang tuaku pasti akan menangis saat melihat mereka masih hidup." Arthur masih merahasiakan kedua orang Matthew yang masih hidup kepada kedua orang tuanya. Sebab dirinya pun baru mengetahui satu hari sebelumnya.
Mikel mengangguk. Ia pun tidak sabar ingin menemui kedua orang tuanya. Sebagai salam perpisahan mereka, Mikel memeluk Arthur yang segera dibalas pelukan oleh pria itu.
"Nath...." Setelah pelukan mereka terurai, Mikel memanggil Nathan. Membuat asistennya itu berjalan mendekat. Saat dikabarkan mengenai kematian Kakek Mateo, Nathan segera terbang menuju Amsterdam dan menitipkan untuk menjaga Meisha kepada Amber dan Jared.
"Ada apa Tuan?" tanya Nathan bersiap siaga akan apapun perintah yang diberikan oleh tuannya itu.
"Jaga Mei sampai aku kembali membawa kedua orang tuaku."
"Baik Tuan, saya akan menjaga Nona Mei dengan baik." Nathan mengangguk paham.
"Dan jika perusahaan membutuhkan tanda tanganku, kau bisa menyuruh Laura untuk mengirimnya ke Mansion. Setelah aku kembali, aku akan menandatanganinya," sambung Mikel.
"Tidak perlu mencemaskan perusahaan. Saya sudah mengurus jadwal Tuan selama satu minggu ke depan."
"Baiklah, kau memang selalu bisa diandalkan." Jujur saja Mikel selalu bangga memiliki asisten seperti Nathan. Selain baik dan tampan, Nathan bisa menenangkan Meisha dan begitu sabar menghadapi adiknya itu.
Nathan hanya mengangguk tetapi ia tersipu malu ketika untuk pertama kalinya mendengar atasannya memuji dirinya.
"Baiklah, aku pergi dulu." Mikel kemudian pamit kepada Arthur, Darren serta Nathan. Ia tidak melibatkan Sid dalam pemakaman Kakek Mateo, sebab menugaskan Sid untuk memantau keberadaan Todd yang masih belum ditemukan keberadaannya.
Mikel segera berlalu, ia pergi bersama dengan Josh yang merupakan tangan kanan Matthew. Rupanya tidak hanya Mikel yang begitu antusias bertemu dengan kedua orang tuanya. Josh diam-diam menangis dan begitu tidak sabar ingin bertemu dengan Tuan dan Nyonya Jhonson.
To be continue
Udah lama kan nggak liat babang Nathan ðŸ¤
Babang Sean
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...