The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Harus Merasakan Kehilangan



Di dalam ruangan minim pencahayaan, seorang pria tengah menahan geram ketika menyaksikan orang suruhannya yang ia tugaskan untuk mengawasi kediaman mewah itu ditangkap dan dihajar habis-habisan. Melalui kamera CCTV yang terpasang di berbagai tempat, dengan jelas ia menyaksikan bagaimana Austin menghajar anak buahnya itu dibantu dengan pria paruh baya yang entah datang dari mana.


BRAK!


Pria itu menghancurkan barang-barang di dalam kamarnya. Ia tidak terima jika rencananya sudah diketahui oleh mereka, padahal hanya sebentar lagi ia berhasil membuat wanitanya pergi dari sana.


"Arrggghh, BRENGSEK! Dia selalu saja mengganggu rencanaku!" Ia menarik kasar rambutnya, nampak sekali jika ia sedang menahan amarah. Kemudian pandangannya tertuju pada setiap barisan foto-foto yang terpanjang di dinding. Foto seorang gadis cantik memenuhi seluruh ruangannya.


Diraihnya satu foto gadis itu, menatap dalam dengan kekehan kecil. "Licia sayang, tunggu sebentar lagi. Aku pasti akan membawamu pergi dari tempat terkutuk itu."


Ya, Maxime Eduardo. Pria itu sangat menggilai Licia, putri dari seorang keluarga kaya raya. Sejak di senior high school ia menyimpan rasa untuk gadis itu. Tetapi sialnya, gadis itu sangat sulit di dekati, sebab Jacob selalu mencari cara agar Licia berjaga jarak dengannya. Hal itu justru tidak membuatnya menyerah, ia semakin gencar mendekati Licia dan Dewi Fortuna seperti berpihak padanya. Saat itu ia menyelamatkan Licia yang tengah di ganggu oleh sekelompok berandalan, tentu ia marah menyaksikan hal itu. Sehingga tanpa berpikir panjang ia membabi buta menghajar para berandalan itu. Sejak itulah ia dekat dengan Licia, gadis itu tidak lagi menghindar dan menerima ajakannya untuk berteman. Awalnya ia sangat senang, akan tetapi setiap kali ia melihat kedekatan Licia dengan pria lain, ia begitu marah tidak terima, sehingga apapun dilakukan untuk menyingkirkan pria yang berada di sekitar Licia. Namun sial, ia sangat sulit menyingkirkan Jacob dan kawanannya. Bahkan ia mengetahui jika Licia memiliki teman dekat yang merupakan putra kedua dari keluarga nomor satu di Eropa. Hal itu semakin membuatnya sulit menyingkirkan pria yang ternyata bernama Austin Kendrick Romanov. Hingga selama itu pula ia berperan menjadi teman yang baik untuk Licia, sekaligus mencari cara untuk menyingkirkan Austin dari sisi Licia. Namun pada saat itu harapannya pupus, sebab Licia melanjutkan pendidikannya di Oxford University, sehingga ia semakin sulit untuk bertemu dengan gadis itu.


"Maxi, mau sampai kapan kau seperti ini terus? Sebentar lagi kau akan masuk universitas dan menggantikanku mengurus perusahaan."


Pening dan frustasi. Itulah yang Maxime rasakan, tetapi ayahnya sama sekali tidak mengerti dirinya. Ia terlahir dari keluarga sederhana. Ayahnya memiliki perusahaan makanan yang tidak begitu diminati sebagian penduduk di Los Angeles.


BRAK


Maxime menggebrak meja makan. Saat ini ia tengah sarapan, akan tetapi Daddy-nya selalu membahas masalah yang sama.


"Cukup Dad. Sudah kukatakan berulang kali, aku tidak ingin mengurus perusahaan kecil yang tidak menguntungkan sama sekali!" Habislah sudah kesabaran Maxime. Selama ini ia sudah bersikap sangat patuh dan menjadi yang mereka inginkan. Tetapi apa? Mereka bahkan tidak bisa mendaftarkan pendidikannya di Oxford University dan saat ini ia hanya bisa masuk ke universitas kecil yang tidak terkenal.


Mendengar perkataan putra semata wayangnya, ayah dari Maxime murka, sehingga ia menampar wajah putra kurang ajarnya itu. Tamparan yang cukup keras, sebab mampu membuat wajah Maxime berpaling dan meninggalkan bekas yang teramat merah.


"Jaga bicaramu! Apa kau pernah berpikir dari mana selama ini aku menghidupimu dan membayar uang sekolah sampai kau menyelesaikan sekolahmu, hah!" Napasnya memburu tidak teratur. Selama ini ia sudah cukup sabar dengan sikap putranya yang tidak tahu berterima kasih. Meski perusahaan kecil, akan tetapi dari keuntungan perusahaan yang ia dirikan, mereka mampu menjalani kehidupan yang sederhana. Apapun tercukupi meskipun tidak memiliki rumah mewah seperti pemilik perusahaan besar lainnya.


Maxime tertawa sumbang. Hanya sebatas itu saja ayahnya sudah membanggakan diri. "Jika perusahaan yang kau dirikan itu menguntungkan banyak uang, seharusnya kau bisa membuatku masuk ke Oxford University. Tapi apa, kalian hanya bisa mendaftarkanku di universitas kecil yang tidak terkenal."


Telapak tangan ayah Maxime memutih sebab ia genggam dengan begitu erat. Menyalurkan rasa amarah yang mendalam disana. Hingga kemudian ia kembali ingin melayangkan pukulannya.


"Cukup Andy!" Namun teriakan wanita paruh baya yang buru-buru datang menghampiri menghentikan pergerakan tangan ayah Maxime yang menggantung di udara. "Kalian selalu saja bertengkar, apa kalian tidak lelah hah?!" Ya, wanita parah baya itu adalah ibu dari Maxime.


"Lebih baik kalian habiskan makanannya, setelah ini membantuku menanam buah dan sayuran. Lebih baik bekerja untuk menghasilkan uang dari pada bertengkar setiap hari." Jengah, sungguh jengah. Suami dan putranya tidak pernah saling bersikap hangat. Setiap hari ia selalu disuguhkan pertengkaran. Sedih sudah pasti, tetapi keduanya begitu keras kepala.


Maxime yang masih diliputi amarah tidak mengindahkan perkataan ibunya. "Aku tidak berselera lagi. Lebih baik aku pergi!" Kemudian Maxime melangkahkan kaki dari ruangan makan, meninggalkan kedua orang tuanya yang hanya bisa menghela napas berat.


"Kau lihat, itulah putra yang kau banggakan. Dia tidak pernah pedulikan kedua orang tuanya dan hanya bermain-main dengan teman-temannya." Andy, ayah Maxime pun pergi dari ruangan makan. Dirinya pun kehilangan selera makan, bahkan kehilangan selera untuk melanjutkan hidupnya. Sebab putra semata wayangnya sama sekali tidak dapat diandalkan.


Selama itu Maxime tidak pernah kembali ke rumahnya. Meskipun ia berkuliah tetapi ia lebih memilih untuk menumpang hidup bersama temannya. Hingga suatu hari ia tidak sengaja bertemu dengan Pamannya yang sudah lama tidak ia jumpai. Perkelahian itu berakhir dengan dirinya sebagai pemenangnya dan adik dari ayahnya itu meminta Maxime agar bekerja dengannya.


"Maxi, kau akan mendapatkan banyak uang jika bekerja denganku dan kau bisa membeli apa saja yang kau inginkan." Paman Demon menawarkan sesuatu yang begitu menggiurkan.


"Termasuk meninggalkan Los Angeles dan menetap di London?" Mata Maxime tentu berbinar. Ia benar-benar tidak sabar ingin menemui pujaan hatinya yang sudah menetap di London. Sudah enam bulan ia tidak bertemu dengan pujaan hatinya.


"Apa aku ingin pindah ke London?"


"Ya, aku ingin bertemu dengan pujaan hatiku." Hanya mengingat wajah cantik Licia saja sudah membuatnya berbinar.


"Baiklah, aku setuju. Dua tahun aku akan bekerja keras dan setelah itu membawanya pergi bersamaku."


"Hahaha...." Paman Demon menepuk-nepuk bahu Maxime. "Aku menyukai semangatmu."


Sejak saat itu, Maxime bekerja dengan Demon dan menjadi anak buah kepercayaan. Ternyata sang paman adalah mantan seorang dokter dan saat ini menjadi ketua Mafia. Uang yang dihasilkan sangat banyak, dengan menjual organ tubuh manusia, merampok dan menjual anak-anak sangat menguntungkan. Hanya beberapa hari saja, Maxime mampu mengumpulkan uang yang tidak sedikit. Dan ia memutuskan untuk kembali ke rumah, sebab ia mendapatkan kabar jika ayahnya jatuh sakit. Mau tidak mau ia pulang ke rumah yang selama ini menampungnya.


"Aku akan membiayai kalian. Tapi setelah ini jangan pernah menghubungiku." Sembari meletakkan uang di atas meja ruang tamu.


Ibu Maxime tentu terkejut melihat uang di dalam tas dengan jumlah yang tidak sedikit.


"Da-dari mana kau mendapatkan uang sebanyak ini, Maxi?" Sebagai seorang ibu, tentu ia harus tahu dari mana putranya menghasilkan banyak uang dalam waktu singkat.


"Kau tidak perlu tau darimana aku mendapatkannya. Yang terpenting saat ini dan seterusnya aku tidak akan menyusahkan kalian lagi." Setelah mengatakan hal demikian, Maxime hendak melangkah pergi namun di tahan oleh ibunya.


"Jangan pergi, Maxi. Kau harus jelaskan dari mana uang ini."


"Cih..!" Maxime mendorong kasar tubuh ibunya. "Jangan menghalangiku. Kau tidak perlu tau apapun yang aku lakukan diluar sana."


"Maxi, tunggu!" Ibu Maxime tidak terima, ia bermaksud menghentikan putranya yang ingin pergi. Hingga ia mengejar dan tidak sadar sudah berada di tepi jalan raya, akan tetapi Maxime dengan sengaja menulikan pendengarannya.


Ibu Maxime yang ingin menyeberang tidak melihat sekitarnya sehingga ketika ia berlari ke tengah jalan raya, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menghantamnya. Maxime yang melihat kecelakaan di depan matanya terguncang sejenak. Ia melihat bagaimana ibunya terpelanting di jalan dengan bersimbah darah.


Sejak kejadian itu, hubungannya dengan ayahnya semakin tidak berjalan dengan baik. Setiap hari hanya pertengkaran yang ada, dan disaat Maxime mulai jengah ia benar-benar memutuskan hubungannya dengan Andy. Ia tidak ingin menyandang nama Eduardo lagi. Tetapi Andy tidak menyerah, ia masuk ke dalam mobil dan terjadilah pertengkaran di dalam mobil saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Maxime kehilangan keseimbangan, ia membanting stir ke kanan sehingga dampak dari kecelakaan itu yang terluka parah adalah Andy, ayahnya. Andy dinyatakan meninggal dalam kecelakaan. Dan Maxime terbebas dari tuduhan kelalaian dalam berkendara. Ia memiliki uang, sudah pasti dapat membeli kuasa hukum yang ingin menjeratnya. Di tahun yang sama, ia kehilangan kedua orang tuanya hanya dalam kurun waktu dua bulan saja.


BRAK!


Lamunan Maxime membuyar dan ia tersentak kaget ketika pintu ruangannya terbuka dengan kasar. Sosok pamannya berdiri menjulang di ambang pintu.


"Anak buah Jasper menghabisi anak buahku. Lakukan rencana selanjutnya!" Alih-alih menyapa, Demon justru memberikan perintah.


"Tapi Paman, Licia sedang tidak sadarkan diri." Maxime menjadi ragu dengan rencana mereka.


"Aku tidak mau tau, Jasper harus merasakan kehilangan seseorang yang berarti di dalam hidupnya." Kedua mata Demon memancarkan percikan dendam yang mendalam. "Karena dia dan Red Dragon aku gagal mendapatkan uang puluhan milyar dan juga kehilangan istriku untuk selamanya!" Ya, Demon sangat membenci Jasper beserta keturunan pria itu. Sangat benci hingga ke tulang-tulangnya.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...