
Alunan merdu mengiringi langkah demi langkah Licia. Tak lama kemudian beberapa penari balet terlihat keluar dan menari memutari sang pengantin. Diikuti oleh bridesmaids yang tidak lain adalah Freya, Kimberly, Greisy, serta Livy dan di belakang mereka terdapat kedua orang tua mempelai.
Dengan langkah pasti menuju calon suaminya, tangan Licia yang tengah menggenggam sebuket bunga rose putih terlihat bergetar. Namun saat bersitatap dengan Austin yang berada di atas tangga membuat getaran pada tangannya menguap, sebab tatapan Austin yang teduh itu mampu menenangkan dirinya.
Austin memang menyadari kegugupan yang tengah dilanda calon istrinya itu, sehingga dengan sengaja mengunci tatapan Licia dari kejauhan, menyalurkan ketenangan untuk gadis itu agar tetap tenang hingga langkah mereka akan bertemu.
Satu langkah... dua langkah... hingga langkah ketiga, Austin berhasil menuruni tangga, tangannya terulur menengadah agar diberikannya tangan Licia diatas telapak tangannya. Gadis itu tersenyum lembut disusul dengan gerakan tangan yang terulur, meletakkannya tepat diatas telapak tangan Austin.
Austin menggapainya, menggenggam tangan mungil itu dan perlahan membawa calon istrinya kesisinya. Kedua calon pengantin itu menatap ke arah Daddy Xavier dan Daddy Zayn bersamaan. Dengan langkah tegas dan sangat berwibawa, kedua pria paruh baya yang seringkali bersitegang itu melangkah bersama menghampiri putra dan putri mereka.
Terpulas senyuman dibibir Daddy Xavier dan juga Daddy Zayn. Seolah mereka melupakan ketegangan yang sebelumnya sempat terjadi.
"Kutitipkan putriku padamu. Aku membesarkannya dengan mengerahkan seluruh hatiku. Jadi jaga putriku dengan mengerahkan semua hatimu dan bahkan nyawamu." Daddy Zayn melontarkan perkataan yang begitu mengharukan, sekaligus juga cukup menyebalkan karena terkesan memaksa. Tetapi hal itu tidak dipermasalahkan okeh Austin.
Dan dengan mata yang berkaca-kaca Daddy Zayn menepuk-nepuk bahu kanan Austin. Berat, sungguh berat melepaskan putri yang ia besarkan dengan sepenuh hati dan harus diserahkan kepala pria yang merupakan putra dari Xavier. Dan harapan yang besar agar pria itu mampu memberikan kebahagiaan yang belum sempat ia berikan kepada putri tercintanya.
Austin mengangguk. Pasti, ia akan selalu menjaga Licia. Bahkan akan selalu mencintai wanita itu. "Aku akan menjaganya dengan baik seperti Paman menjaganya selama ini. Dan aku juga akan selalu mencintanya," ucapnya lantang tanpa keraguan.
Daddy Zayn mengangguk. Bolehkah saat ini ia menangis? Namun ia harus menjaga wibawanya, sehingga setenang mungkin ia menyembunyikan air matanya dengan segera menyeka sudut matanya yang basah.
Setelah Daddy Zayn, kini Daddy Xavier yang akan bicara pada Austin. Tetapi sebelum itu, ia memperhatikan Licia yang berada di hadapannya, kemudian berkata, "Kau akan menjadi putriku. Jadi aku percayakan As padamu. Ingatkan dia jika melakukan kesalahan, tetapi jangan pernah meninggalkannya."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Daddy Xavier membuat Licia mengangguk dengan membendung air matanya. Sungguh, ia sangat terharu.
"Dan untukmu, As." Tatapan Daddy Xavier pun beralih pada putra bungsunya, Austin. "Kau sudah mengambil Licia dari ayahnya, jadi sudah sepantasnya kau yang menggantikannya menjaga putrinya. Jika suatu hari nanti istrimu berbuat salah dan tersesat, kau hanya perlu menasihatinya. Jangan sampai melukai hatinya, terlebih fisiknya. Kau harus ingat jika di Keluarga Romanov selalu memuliakan wanita."
Sungguh sebuah nasehat yang bijaksana. Hingga mampu membungkam semua yang mendengar, tak terkecuali Zayn sendiri. Ia sempat tertegun sesaat lantaran tak disangka-sangka jika pria tua itu mampu memberikan nasehat yang sudah pasti menguntungkan putrinya.
"Aku akan selalu mengingatnya, Dad. Terima kasih." Austin tersenyum penuh haru. Inilah sosok Daddy-nya yang selalu menjadi panutan dirinya bahkan kakaknya Arthur. Meski terkesan kejam dan sadis saat berhadapan dengan para musuh, Daddy-nya akan selalu meratukan Mommy-nya. Karena itu dirinya pun akan melakukan hal yang sama.
Daddy Xavier menarik kedua sudut bibirnya, lalu menepuk bahu Austin. Sebelum kemudian menyingkir dari posisinya, disusul Daddy Zayn setelah menatap lama Licia dan Austin bergantian. Come on, mereka berdua hanya menikah, bukan pergi ke medan perang. Mengapa sorot mata Daddy Zayn seolah berat melepaskan? Entahlah.
Setelah momen mengharu biru, Austin menuntun Licia untuk menaiki tangga. Diatas sudah terdapat pendeta yang menunggu kedua calon mempelai tersebut. Ekor gaun pengantin Licia nyaris memenuhi undakan tangga, sungguh nampak indah bagaikan seekor burung merak.
Setelah berada di hadapan pendeta, pendeta tersebut mulai menuntun pasangan pengantin itu untuk saling mengucapkan janji suci. Hanya dalam waktu singkat, Austin dan Licia berhasil saling mengucapkan janji suci pernikahan, yaitu saling setia, menyayangi, mencintai, dan mengasihi hingga maut memisahkan.
Janji yang baru saja diikrarkan di hadapan pendeta serta para saksi dan pada tamu undangan, akhirnya pendeta meresmikan mereka sebagai pasangan suami dan istri. Seketika suara tepuk tangan bergemuruh di udara ketika pengucapan janji suci itu berjalan dengan lancar.
Freya dan Kimberly menaiki beberapa anak tangga dengan masing-masing membawa baki yang diatasnya terdapat cincin berlian. Sebelum memasangkan cincin di jari manis gadis yang sudah menjadi istrinya itu, Austin mengambil alih buket bunga rose dari tangan Licia dan memberikannya kepada Freya. Lalu segera menyematkan cincin di jari manis Licia. Kini kedua tangan Licia terdapat dua cincin pernikahan dan juga cincin pertunangan mereka. Setelah cincin berlian itu terpasang sempurna, bergantian dengan Licia yang menyematkan cincin di jari Austin.
Setelah pemasangan cincin selesai dan Freya serta Kimberly kembali ke tempat semula, Licia dan Austin saling menatap dalam penuh cinta. Sebelum kemudian keduanya kembali menghadap pendeta. Dan pendeta tersebut segera mengucapkan rapalan doa untuk kedua mempelai dan kemudian melakukan pemberkatan.
Sorak dari anggota keluarga dibawah sana membuat Austin terpaksa menghentikan ciuman mereka.
"Kau bisa melanjutkannya nanti, As. Ingat, disini ada kami yang tidak memiliki pasangan!" teriak Liam berkelakar. Tidak memiliki pasangan? Hanyalah dusta, sebab Liam selalu memiliki kekasih lebih dari satu. Wajar saja karena pria itu playboy seperti Daddy Daniel.
Semua nampak mentertawakan Liam, terutama Lion Boys dan Dragon Boys yang sudah mengetahui tabiat Liam yang selalu berganti-ganti wanita.
Wajah Austin nampak santai usai ditertawakan, berbeda dengan Licia yang menunduk malu dengan wajah merah padam. Dan disalah satu kursi, Daddy Zayn memasang wajah murung, putrinya sudah dewasa dan bahkan sudah menjadi seorang istri. Sehingga ia menekan emosi yang sempat melanda saat melihat putrinya berciuman.
Setelah meninggalkan altar, Licia berada di lantai atas untuk melemparkan buket bunga rose putih. Di bawah sana sudah terdapat sebagian para tamu undangan yang berkerumun antusias untuk menggapai buket bunga rose putih yang akan dilemparkan oleh kedua pengantin.
"Three... two..." Suara teriakan para tamu menggema di dalam sana. "One...!" Seruan mereka kemudian membuat Licia dan Austin kompak melemparkan buket rose putih tersebut. Siapapun yang mendapatkannya akan segera menyusul mereka.
Hap!
Semua nampak kecewa ketiga gagal menggapai bunga tersebut. Berbeda dengan seorang pria yang justru terperangah karena ternyata buket bunga rose putih itu terjatuh tepat ke arahnya dan bahkan kini berada di atas telapak tangannya.
"Damn it!!" serunya. Dan segera melemparkan bunga tersebut kepada seseorang disisinya. "Untukmu saja Dev. Aku belum siap menikah."
Devano jelas menolak. Ia pun demikian, sehingga tidak ingin mengambil bunga itu dari tangan Jacob. "Kau pikir aku sudah siap, heh?!" serunya mendengkus kesal.
"Arrggh...!!!" Jacob kesal dan memberikan secara paksa bunga itu kepada Liam. Biarkan pria playboy itu saja yang lebih dulu menikah, pikirnya.
Liam menggerutu kesal, niat hati ingin memaki, tetapi Jacob sudah lebih dulu berlalu.
"Hahaha kau simpan saja bunga itu, Lim. Jika perlu hari ini juga kau melamar gadis yang ada disini," ujar Elden tertawa, sungguh puas sekali ia menyaksikan Liam yang tak berdaya.
"Fuckiiing youuu!!!" Jelas Liam tidak terima. Ia mengumpati Elden berulang kali.
See you next bonus chapter
Anggaplah kalian ada di tengah-tengah pada tamu undangan lainnya ya. Ngumpul mau ambil bunga eh malah gak dapet wkwk 😂
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...