The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bonus Chapter (Nathan & Meisha)



Satu bulan setelah acara pertunangan Austin dengan Licia. Kini Keluarga Jhonson yang sedang menyambut kebahagiaan, pasalnya satu minggu yang akan datang adalah hari pernikahan putri dari Matthew Jhonson dengan Aprille Jhonson, yang tidak lain ialah adik dari Mike Jhonson.


Satu tahun yang lalu Nathan resmi melamar Meisha ketika mereka sedang berlibur di Hawai. Tanpa rencana dan tanpa di duga, Nathan menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Meisha sebagai miliknya. Lamaran pria itu diterima hingga hubungan mereka semakin dekat dan menuju jenjang pernikahan.


Siang ini Nathan menjemput Meisha di Athenaeum Hotel, dimana di dalam hotel tersebut terdapat Spa. Wanita itu selalu datang bersama dengan kakak iparnya, Elie. Setelah beberapa hari tidak bertemu karena pekerjaan yang menumpuk, Nathan menyempatkan waktu untuk memenuhi permintaan Meisha untuk melakukan piknik hanya berdua saja. Sebab mereka tidak akan bertemu selama satu minggu. Karena sebagai asisten dari Mike Jhonson, Nathan selalu mengerjakan pekerjaan dengan baik serta cekatan, sehingga ia dibiarkan pulang lebih awal. Meskipun minggu depan statusnya akan berubah menjadi adik ipar, Nathan tidak ingin berlaku semena-mena. Pada dasarnya ia mencintai pekerjaannya dan menghormati Mike sebagai sosok yang begitu berjasa untuknya di masa lalu.


Bahu tegap Nathan ditepuk oleh seorang wanita cantik, lantas pria itu mendongakan kepala dan mendapati calon istrinya itu tengah memasang wajah sendu.


"Maafkan aku, kau pasti menunggu lama," ucap Meisha tergambar raut wajah bersalah.


Nathan tersenyum tipis disusul gerakan pria itu yang bangkit berdiri dari sofa. "Tidak. Aku baru menunggu sepuluh menit yang lalu."


Meisha mengangguk. Syukurlah jika kekasihnya itu tidak lama menunggu dirinya.


"Kak Elie masih berada di dalam, jadi kita segera pergi saja," katanya sembari merangkul lengan Nathan.


"Baiklah." Nathan mengangguk. Keduanya lalu melangkah keluar dari hotel dan masuk ke dalam mobil menuju tempat yang dituju.


Primrose Hill adalah bukit yang berada di tengah kota. Siapapun yang datang dapat melihat pemandangan Kota London dari atas Primrose Hill. Saat sudah mencapai bukit, Nathan membentangkan alas tikar di atas rerumputan. Setelahnya Meisha meletakkan keranjang yang berisi dengan beraneka macam makanan, buah serta minuman.


Wanita itu menata maccaron, croissant hingga sushi tuna di atas piring kecil, lalu meletakkan dua botol minuman bersoda di atas tikar dan Nathan sigap membantu dengan menata buah-buahan seperti strawberry dan blueberry.


Nathan menepuk-nepuk ruang disisinya agar Meisha mendekat padanya, sontak saja wanita itu mendudukkan tubuhnya di dekat Nathan.


"Ini, makanlah." Pria itu menyodorkan sushi tuna di depan mulut Meisha.


Meisha membuka mulutnya, membiarkan Nathan menyuapi dirinya hingga dilakukan berulang kali. Pun sebaliknya, Meisha menyuapi Nathan. Tidak ada kecanggungan diantara keduanya, Meisha bersikap apa adanya di depan Nathan. Dan pria itu selalu memperlakukannya dengan baik sehingga membuatnya nyaman. Mereka menikmati pemandangan sore hari, duduk saling bersandar menunggu senja. Sesekali Nathan mengecupi bibir Meisha, tidak menghiraukan sekitar. Sebab pengunjung yang lain melakukan hal yang sama terhadap pasangan mereka masing-masing, seolah hanya ada mereka saja disana.


***


Satu minggu kemudian


Pernikahan Nathan dan Meisha digelar di Battersea Park yang berlokasi di Wandsworth, South West London. Nuansa putih dengan bunga mawar putih serta bunga anggrek ungu memenuhi area park. Wedding Garden adalah tema pernikahan Nathan Fillion dengan Meisha Jhonson.


Beberapa jam lagi acara sakral akan segera dimulai. Seluruh keluarga sudah bersiap-siap dengan merias diri masing-masing. Arthur dan Helena menggendong putra putri mereka, lalu memasuki mobil. Mereka akan bertemu di lokasi dengan seluruh anggota keluarga.


Setibanya di lokasi pernikahan, Arthur dan Helena berpapasan dengan Darren serta Veronica. Pasangan kekasih yang akan segera menyusul ke jenjang pernikahan itu saling menautkan jemari mereka.


"Lyo, astaga. Kau lucu sekali." Seperti biasa, Veronica akan heboh jika sudah bertemu dengan baby twins. Ia bahkan mencubit gemas pipi baby Lyo yang berada di gendongan Helena, hingga sempat mendapatkan tatapan maut dari Arthur. "Ah maaf, aku hanya gemas dengan mereka," cicitnya menjauhkan tangan dari baby Lyo. Selalu saja ia bergidik ngeri dengan tatapan Arthur yang seolah mematikan.


Tidak hanya Veronica saja, Arthur memang melarang siapapun itu mencubit wajah baby twins. Sungguh posesif bukan?


Helena terkekeh. Hal yang biasa terjadi jika Veronica bertemu dengan baby twins dan suaminya itu selalu melayangkan tatapan tajam alih-alih bersuara.


"Kalian hanya berdua saja?" tanya Helena kemudian.


Veronica dan Darren kompak saling mengangguk. "Memangnya dengan siapa lagi? Tidak mungkin dengan baby kami, Darren saja belum menghamiliku."


Mendengar jawaban absurd dari Veronica membuat Darren menutup mulut kekasihnya itu.


"Jangan dengarkan Vero. Dia selalu asal jika berbicara." Darren mencoba meluruskan. Ia sudah terbiasa dengan setiap perkataan kekasihnya itu. Hanya saja jangan di depan Arthur, teman sekaligus atasannya itu akan semakin memasang wajah datar.


Veronica menyingkirkan telapak tangan Darren dari mulutnya, lalu bersedekap. "Bukankah memang benar?" ucapnya mendelik pada Darren. "Bahkan kita sudah mengulanginya lagi tapi kau masih gagal membuatku hamil."


Astaga. Darren sungguh gemas terhadap kekasihnya yang selalu bicara secara terang-terangan. Jika saja itu adalah wanita lain sudah pasti ia akan mencekiknya. Sialnya wanita itu adalah kekasihnya sendiri dan juga wanita yang ia cintai.


"Aku dan Vero akan masuk lebih dulu." Merangkul bahu Veronica, Darren menarik kekasihnya itu agar mengikuti langkahnya. Demi apapun Darren akan membungkam bibir Veronica dengan bibirnya jika wanita itu kembali mengatakan hal yang tidak-tidak di hadapan yang lainnya.


Helena masih tertawa kecil. Sejak dulu hingga kini, Veronica tidak pernah berubah.


"Vero sangat lucu untuk Darren yang sedikit kaku," ucapnya saat tawa sudah menyurut. Menurutnya Veronica adalah wanita spesial yang memang sengaja ditakdirkan untuk menjadi pendamping Darren yang berwajah datar serta kaki itu.


"Hem..." Arthur menjawab dengan deheman disertai bahu yang terangkat. Ia tidak mengambil pusing. Tangannya yang bebas itu merangkul bahu Helena dan menuntun istrinya itu untuk masuk ke dalam.


Di dalam sana sudah terlihat beberapa tamu undangan yang datang. Helena serta Arthur segera berbaur dengan tamu undangan yang lainnya. Sementara Elie dan Mike sudah datang lebih awal, wanita itu menemani adik iparnya berias. Elie keluar dari ruangan terlebih dahulu, baru beberapa langkah, ia berpapasan dengan Licia, Austin, Elden, Gavin, Liam dan Devano serta Dean.


"Kalian masuklah, sepertinya Helen dan Kak Ar sudah datang," ucapnya mempersilahkan.


Mereka mengangguk-angguk serentak. Namun tiba-tiba saja pandangan Licia mengedar kesana-kemari mencari keberadaan baby twins.


"Kak Elie, dimana baby twins?" Ya, Licia merindukan Baby Lucy dan Baby Axton. Lebih tepatnya ia ingin mencium dan mencubit kedua pipi baby twins.


"Mereka bersama granpa dan granny," sahut Elie. Sejak tadi Mommy Aprille dan Daddy Matthew sibuk memperkenalkan kedua cucu mereka terhadap teman-teman mereka.


"Kalau begitu aku akan melihat mereka lebih dulu." Begitu diangguki oleh Elie, Licia segera masuk ke dalam. Tak lama para pria menyusul langkah Licia bersama Elie. Gadis itu sempat tertegun takjub dengan dekorasi hingga pemandangan disana.


"Hei, tutup mulutmu." Gavin bahkan meledek Licia yang sedang menganga itu.


"Sialan!" desis Licia merasa tidak terima. Gadis itu menepuk punggung Gavin. Sejak Austin menceritakan semua permasalahan yang terjadi dengan Gavin, Licia menjadi tahu penyebab perkelahian kedua pria itu. Serta perkataan Gavin yang memicu pertengkaran, pasalnya Gavin tidak memprovokasi Austin untuk menjauh, justru pria itu menahan kepergian Austin setelah berhasil mengungkapkan perasaannya terhadap Licia. Gavin yang menyadari perasaan Licia berusaha untuk menahan Austin agar tetap stay di London. Hanya saja Austin bersikeras dengan keputusannya. Bukan tidak memikirkan perasaan Licia, hanya saja ia ingin membuktikan jika dirinya pantas berdiri disisi gadis itu. Keduanya begitu keras kepala hingga pada akhirnya terlibat perkelahian.


Gavin hanya terkekeh-kekeh sambil berlalu pergi. Hingga kemudian Austin merangkul bahu Licia.


"Apa kau juga ingin yang seperti ini?" tanyanya setelah mengitari pandangan pada sekitar.


"Heh, yang seperti ini? Maksudmu?" Sepertinya gadis itu gagal mencerna perkataan Austin.


"Pernikahan kita." Austin memperjelas maksud perkataannya.


"Ehm...." Licia tengah berpikir, beberapa detik kemudian mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tau. Lihat nanti saja."


Ya, Licia belum terpikirkan dekorasi seperti apa untuk pernikahan mereka kelak. Lagi pula pernikahan mereka masih sangat lama. Keduanya memang sepakat untuk tidak terburu-buru.


See you next bonus chapter


Nathan & Meisha



Yang berkenan cuss mampir ke novel teman Yoona ya 🤗



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...