
Brakk
Seorang anggota kepolisian kembali menggebrak meja tatkala tidak puas akan jawaban yang diberikan oleh Austin. Bagaimana tidak, Austin di tuntut untuk mempertanggungjawabkan sesuatu yang tidak ia lakukan.
"Cepat katakan bahwa kau telah melecehkannya!" serunya penuh desakan.
Austin kembali berdecih, pria yang menjabat sebagai polisi itu justru hanya akan semakin menjatuhkan martabatnya sendiri karena telah memaksa seseorang untuk mengakui sesuatu yang tidak di lakukan.
"Sudah ku katakan aku tidak melecehkannya. Lagi pula wanita itu bukan tipeku." Sungguh, Austin benar-benar tidak merasa takut ataupun merasa bergetar saat berada dalam situasi tersudut.
"Jika dia bukan tipemu, kenapa kau ingin mengganggunya?!" tanyanya mempertegas kalimat tersebut.
"Hahaha...." Austin tertawa sumbang. Harus dengan cara apa lagi ia memberitahu jika dirinya tidak mengganggu, terlebih melecehkannya. "Apa dia ingin aku benar-benar melecehkannya? Jika memang seperti itu, bawalah wanita itu datang kemari. Akan aku tunjukkan pelecehan yang sesungguhnya."
Brak
"Kurang ajar. Kau tidak berhak memerintah kami! Seharusnya kau berterima kasih karena kami masih berikan kesempatan bicara. Jika tidak, maka anak buah kami akan menghajarmu!" bentaknya kesal.
"Dan kalian juga tidak berhak mengaturku atau memerintahku!" Austin balas membentak. Jika yang berada di hadapannya adalah Arthur, mungkin ia akan menurut. Tetapi lain halnya dengan polisi tidak tau diri di hadapannya itu, untuk apa menghormati mereka yang tidak juga tidak bisa menghormati orang lain, sekalipun seorang tahanan.
"Heh, rupanya kau benar-benar ingin diberikan pelajaran." Dan salah satu dari mereka beranjak berdiri, menyoroti Austin dengan tatapan remeh.
"Dengar anak muda, kau berurusan dengan anggota polisi, seharusnya kau bersikapi lebih sopan kepada kami," sambar polisi lainnya.
Austin terkesan sangat acuh, ia bahkan tidak mendengarkan kedua polisi yang berbicara padanya itu dan membuang pandangan ke arah lain, memperhatikan sudut ruangan yang nampak kecil, mungkin saja ruangan ini digunakan untuk mengintrogasi tahanan mereka.
"Bagaiman cara kedua orang tuamu mendidikmu, heh!"
Brak
Tidak terima ketika kedua polisi itu membawa nama kedua orang tuanya. Austin meradang hingga menggebrak meja. "Cara mendidik orang tuaku bukan urusanmu!"
"Ceh, lihatlah kau begitu arogan. Aku penasaran siapa kedua orang tuamu yang sudah melahirkan putra sepertimu." Kedua polisi itu berpikir jika nasib pemuda itu sungguh sial karena harus berurusan dengan Keluarga Terpandang.
"Siapa orang tuaku tidak penting untuk kalian ketahui. Karena jika kalian mengetahuinya, maka kalian akan berlutut di bawah kakiku." Austin melayangkan senyum, senyum mengejek.
Kedua polisi itu saling bersitatap, sebelum kemudian tergelak bersama. "Kau terlalu banyak bermimpi. Kau pikir bisa membuat kami bertekuk lutut? Tidak akan!"
"Kau yang seharusnya berlutut dan membuat permohonan maaf karena sudah melecehkan seorang wanita."
"Kalau begitu aku akan beritahu sesuatu yang menarik," ucap Austin.
"Apa??" Kedua polisi itu menyahut serentak.
"Aku tidak melecehkannya, hanya memotong rambutnya dengan gunting. Dan tidak hanya itu saja, aku juga menghajar pria berengsek itu. Kalian tau bagaimana wajahnya yang bodoh itu memohon ampun?" Austin tergelak seorang diri. Ya, ia sadar betul apa yang dibicarakan. Ia mengakui perbuatannya yang melakukan hal tersebut, tetapi bukan melecehkan atau hampir memperkosa wanita itu seperti yang dituduhkan.
"Kurang ajar! Tidak hanya melecehkan, kau bahkan menyiksanya!" seru polisi tersebut. Apapun fakta yang dikatakan Austin, mereka tidak ingin peduli dan tetap bersikukuh menahan dan mendesak pemuda itu harus mengakui seperti yang mereka katakan.
"Hahaha.... kalian benar-benar membuatku geli. Bagaimana mungkin ada polisi seperti kalian." Tawa Austin kembali memecah, tidak pedulikan beberapa pasang mata yang menatap penuh amarah padanya.
"Sepertinya kami harus membuatmu menyesal karena telah mempermainkan anggota polisi seperti kami."
"Benar. Dia harus menerima akibat perbuatannya yang tidak sopan," ujarnya menarik sudut bibirnya penuh dengan tatapan meremehkan. "Hei kalian berdua, cepat pegangi dia, kita harus cepat membuat rekaman pengakuan dari mulutnya," sambungnya kepada rekan yang lain.
Kedua polisi yang lain yang turut berjaga disana segera menyambar lengan kanan dan kiri Austin.
"Buat dia berlutut!" perintahnya kepada dua bawahannya tersebut.
Benar saja kedua pria itu menendang kaki Austin agar berlutut akan tetapi gagal karena Austin berhasil mempertahankan tubuhnya. Hingga detik kemudian, Austin menepis kedua tangan polisi yang mencengkramnya dengan kuat.
Bugh
Bugh
Tanpa berpikir panjang, Austin meninju wajah keduanya, hingga kedua polisi itu menghantam dinding.
"Dengar, sampai kapanpun aku tidak akan berlutut dan mengakui kesalahan yang tidak kulakukan!" seru Austin meradang. Sedari tadi ia sudah mengeram emosi, tetapi salah mereka yang masih saja berusaha ingin memaksanya.
"Keparat!"
Ya, mereka tidak terima. Terlebih jika mereka tidak bisa melakukan tugasnya agar pemuda itu mengakui seperti yang sudah direncanakan.
"Kau....!" Salah satu dari polisi itu mengambil senjata miliknya dan menodongkannya tepat ke arah Austin. Meski terkejut Austin masih nampak tenang, jika polisi itu benar-benar ingin menembak dirinya, maka yang harus ia lakukan adalah menghindar dan merebut senjata itu, pikirnya.
"Jika saja kau menurut sejak tadi, maka aku tidak perlu mengeluarkan pistol ini."
"Dan jika kau berani menembaknya, maka peluru senjataku ini yang akan lebih dulu menembus kepalamu!"
Terkejut?
Ya, ketiga polisi yang lainnya terkejut akan kedatangan Arthur bersama dengan Darren. Arthur tidak menjauhkan senjatanya dari kepala polisi tersebut sebelum polisi itu menjauhkan senjatanya dari Austin terlebih dahulu.
Keempat polisi tidak dapat berbuat apapun, pasalnya tidak hanya Arthur, tetapi Darren juga menodongkan senjata ke arah mereka.
"K-kau siapa?" tanya salah satu dari mereka. Pada akhirnya polisi tersebut menjatuhkan senjatanya.
"Kau bertanya siapa aku? Apa kau berpikir aku akan datang ke tempat seperti ini jika tidak ada kepentingan dengan kalian, heh?!" pungkasnya melirik singkat ke arah Austin. "Berbaliklah dan lihat siapa aku!" ujarnya kemudian.
Sontak saja mereka membalikkan tubuhnya dan terkejut mendapati sosok pria yang tentu sangat mereka kenal.
"Tu-tuan Arthur?"
"Yes, it's me. Kalian terkejut heh?" sahut Arthur dingin.
"Ke-kenapa pria seperti anda bisa berada disini?" tanya salah satu dari mereka dan cukup mewakili pertanyaan rekan polisi yang lain.
"Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan kepada adikku?!"
"Adik?" Mereka menyahut serentak.
"Benar, Austin Kendrick Romanov adalah adikku dan kalian ingin menahannya?" seru Arthur. Siapapun tidak akan terima jika adiknya diperlakukan semena-mena meski oleh seorang anggota kepolisian sekalipun.
"Tu-tuan kami hanya melakukan tugas kami."
"Benar tuan. Adik anda sudah melecehkan seorang wanita."
"Mereka berbohong! Mereka ingin aku mengakui kesalahan yang tidak kulakukan kak," sela Austin mengadu. Bahkan tatapannya seolah mengejek keempat polisi matang itu.
"Apa yang kau katakan As?" Arthur yang penasaran apa motif para polisi tersebut yang ingin menahan Austin, menuntun jawaban segera.
Austin kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi bahwa ia benar-benar tidak melecehkan siapapun. Kata demi kata ia sampaikan diiringi wajah yang memelas, sehingga membuat keempat polisi itu hanya dapat tertunduk. Arthur tidak terkejut, karena ia pun sudah mengetahui apa yang Austin bersama para anak buahnya saat itu.
"Ck, kalian menyalahgunakan jabatan kalian," ujar Arthur dengan mata yang menajam.
"Bukan seperti itu. Kami hanya menerima laporan dan juga sudah melihat bukti itu."
"Tunjukkan padaku bukti yang kalian dapatkan!" Tentu Arthur tidak bodoh. Jika mereka benar-benar memiliki bukti, ia harus melihatnya sendiri.
"Emm....." Dan mereka hanya bisa saling pandang sehingga nampak bodoh.
"Kalian pikir aku bodoh dan percaya begitu saja!" hardik Arthur. "Sebaiknya kalian katakan kepada seseorang yang menyuruh kalian untuk tidak bermain-main dengan Keluarga Romanov. Jika tidak, bukan hanya orang itu saja yang akan ku habisi. Tapi tempat ini juga akan aku hancurkan!" Entah ancaman itu berarti atau tidak, Arthur tidak peduli. Karena apapun yang ia katakan akan ia buktikan.
"Maafkan kami Tuan Arthur. Kami tidak akan mengulanginya lagi." Namun nasi sudah menjadi bubur. Bagaimana pun mereka memohon, Arthur tidak mengindahkan seruan mereka dan tetap pada keputusannya.
"Der... As... kita pergi dari sini," ucapnya kepada Darren serta Austin. Lalu perhatiannya kembali berpusat kepada keempat polisi secara bergantian. "Jika seseorang berani mengusik Keluarga Romanov, maka dia tidak akan berakhir dengan mudah."
Tubuh mereka seolah limbung bersamaan ketika mendengar penuturan Arthur yang sudah berlalu dari sana diikuti oleh Austin dan Darren. Setelah membuat masalah, mereka masih tidak ingin meminta maaf kepada Austin. Sebab itu Arthur benar-benar tidak akan membiarkan mereka dengan mudah, ada harga yang harus di bayar oleh mereka.
Begitu berada di halaman gedung kekepolisian, terdengar alarm kebakaran di gedung lantai tiga. Membuat beberapa polisi berhamburan keluar dan sebagian dari mereka berusaha untuk memadamkan api. Tidak hanya di dalam gedung, bahkan di lahan parkiran dimana sebuah bom rakitan yang meledak rendah menghancurkan beberapa mobil disana.
Darren dan Austin menatap bangunan yang sebagian sudah dilahap oleh api. Lalu beralih pada halaman parkir yang juga nampak kacau oleh ledakan kecil tersebut.
"Apa kau yang melakukan Der?" bisik Austin kepada Darren. Jika Darren yang melakukannya, sudah pasti atas perintah Arthur.
"Bukan." Darren menggeleng. "Tapi mereka yang melakukannya," lanjutnya. Darren kemudian menunjukkan keberadaan mereka yang menunggu di dalam mobil tanpa atap.
Berbeda dengan Arthur yang tetap melangkah menuju mobilnya, tidak lupa menyematkan senyuman lantaran menyaksikan apa yang sudah dilakukan oleh para adik-adiknya itu.
Austin menyunggingkan senyum kepada teman-temannya yang tidak lain adalah Elden, Gavin, dan Liam. Begitu mendengar jika Austin di tangkap, mereka segera meluncur hingga timbul ide untuk memberikan pelajaran kepada para polisi-polisi tersebut. Sebab ada harga yang harus dibayar jika mengusik Black Lion.
To be continue
Babang Arthur
...Jangan lupa dukungan kalian ya.. untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...