The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bertemu Kembali



Seorang pria menyesap wine miliknya di salah satu lounge yang tersedia, ia tidak begitu mendengarkan pembicaraan seseorang di hadapannya. Sedari tadi perhatiannya justru tersita pada wanita paruh baya masih nampak cantik itu. Memperhatikan gerak-gerik wanita paruh baya tersebut, hingga kemudian lenyap di balik dinding toilet. Selang beberapa menit, wanita paruh baya itu kembali melangkah menuju tempat duduknya yang berada di ujung. Ia harus melewati beberapa tamu undangan yang masih berlalu lalang, hingga tidak sengaja seorang pria bertubuh tambun menyenggolnya dan ia kehilangan keseimbangan.


Posisi duduk pria itu yang tidak jauh dari posisi wanita paruh baya tersebut, lantas segera beranjak dan menangkapnya hingga terbebas dari benturan lantai yang dingin.


"Ah ya Tuhan, hampir saja aku terjatuh. Terima kasih banyak kau sudah menolongku." Wanita paruh baya tersebut tersenyum lembut, ia dibantu oleh seorang pria muda yang tampan untuk berdiri dengan benar. "Padahal aku tidak menggunakan high heels yang tinggi, tapi masih tidak bisa menjaga keseimbangan," lanjutnya terkekeh karena kecerobohannya berjalan hingga harus bertabrakan dengan pria bertubuh tambun.


Pria itu tidak menjawab, hanya diam memperhatikan lekat wajah wanita paruh baya di hadapannya. Wanita paruh baya tersebut menyadari jika pria muda di hadapannya hanya memperhatikan dirinya, ia kemudian menyentuh wajahnya yang terdapat satu garis kerutan kasar.


"A-apa ada sesuatu di wajahku?" tanyanya memastikan. Tidak mungkin bukan, jika pria muda dan tampan itu terpesona padanya, pikirnya.


"Bagaimana kabar Aunty Angela?" Tanpa menjawab pertanyaan wanita paruh baya di hadapannya. Ia menanyakan kabar wanita yang ia panggil Aunty itu. "Kau hidup dengan baik bersama keluargamu, aku turut senang melihatnya," imbuhnya.


Kening Angela berkerut dalam. Ia merasa tidak mengenali sosok pria di hadapannya, tetapi sepertinya pria itu mengenali dirinya sehingga memanggilnya 'Aunty Angela'.


"Kabarku sangat baik. Tapi kenapa kau mengetahui namaku? Apa kau mengenalku?" Bingung, itulah yang tergambar di wajah Angela.


Pria itu mengulas senyum tipis, nyaris tidak nampak. "Aku tidak mungkin melupakan dan membuatmu hampir kehilangan suamimu karena perbuatan ayahku."


Mendengar penuturan pria di hadapannya, Angela mulai berpikir keras, ia mencoba menggali ingatannya yang puluhan tahun terkubur seiring berjalannya waktu.


"Sean?" Angela mencoba menebak. Entah benar atau tidak, tetapi pria itu mirip seperti Sean kecil, putra dari Mario Thomas, seorang Laksamana Madya, Pasukan Khusus Angkatan Laut.


"Benar. Akhirnya setelah sekian lama aku bisa bertemu lagi dengan Aunty." Sean menjawab dengan tenang. Setidaknya wanita paruh baya itu masih mengingat dirinya dan itu sudah cukup baginya.


Angela menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Antara percaya dan tidak percaya, sosok anak kecil yang beberapa tahun lalu, kini sudah tumbuh dewasa dan sangat tampan.


"Sean, kau sudah tubuh sebesar ini. Aku.... aku benar-benar tidak pernah menduga jika akan bertemu denganmu lagi." Angela berpikir jika kala itu adalah pertemuan terakhir dirinya dengan Sean. Terakhir yang ia ketahui dari Samuel jika Sean kembali ke Rusia bersama dengan ayahnya yang harus menerima hukuman selama beberapa tahun disana. "A-apa kau selama ini hidup dengan baik?" Ia ragu-ragu menanyakan hal demikian, tetapi mengingat bagaimana Mario saat itu, ia cemas jika Sean tidak diurus dengan baik.


"Aku hidup dengan baik. Terima kasih Aunty sudah mengkhawatirkanku." Sean menyimpan rasa senangnya hanya untuk dirinya sendiri ketika Angela masih sama seperti dulu, mencemaskan dirinya. Meski hanya pertemuan singkat tetapi begitu berkesan karena ia kehilangan sosok ibu sejak ia di lahirkan.


Wajah Angela berubah mendung, ia bisa melihat kesedihan di balik wajah tegas dan tubuh tegap pria itu.


"Aku hanya ingin menyapamu saja Aunty, tidak memiliki maksud lain." Sean tidak enak hati jika Angela berpikir yang berlebihan mengenai pertemuan mereka. "Kalau begitu aku permisi dulu." Sean menunduk berpamitan, ia berputar memunggungi Angela.


"Sean, aku sedari tadi mencarimu." Dan seorang pria setengah baya menghalangi jalan Sean, nampak pria itu menghembuskan napas lega ketika sudah mendapati Sean.


"Aku hanya ke toilet Paman, tidak perlu menyusuliku." Sean menjawab dengan datar. Ia tidak ingin Pamannya itu melihat dirinya berbicara dengan Aunty Angela.


Namun tanpa disadari oleh Sean, Angela sudah melihat pria yang berdiri di hadapan Sean. Wanita setengah baya itu mengenali sosok pria yang di panggil Paman oleh Sean.


"Angel?"


Nampaknya percuma saja menghalangi mereka bertemu. Mereka berada di atas kapal yang sama, sudah pasti akan bertemu meski tidak disengaja seperti ini.


"Vin?" Angela reflek bergerak mundur. Kenapa bisa Vin berada disini? Apa pria itu salah satu tamu undangan Elleana atau dari pihak Jhonson? Ia sudah bertemu dengan Samuel dan berbicara singkat. Tetapi tidak menduga jika Vin pun menghadiri undangan.


"Kau tidak perlu takut padaku." Ya, Vin menyadari setitik ketakutan pada wajah Angela. Tetapi sungguh, ia tidak berniat jahat. "Aku minta maaf atas kejadian di masa lalu. Aku berharap kau bisa melupakan kesalahan diriku dan yang Mario lakukan padamu."


"Paman, sudahlah. Sebaiknya Paman kembali saja, jangan tinggalkan Bia seorang diri di tempat asing seperti ini." Sean menyela, ia hanya tidak ingin membuat Aunty Angela semakin tidak nyaman karena masa lalu mereka.


Vin tidak menjawab, ia pun membenarkan perkataan Sean. Terlebih ia mendapati wajah Angela yang tidak nyaman.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkan masa lalu. Aku hanya-"


"Daddy?" Suara seorang gadis berlari kecil menghampiri Vin. "Astaga, aku mencarimu kesana kemari, ternyata Daddy berada disini dengan Kak Sean."


"Ada apa, hm?" tanya Vin lembut kepada gadis itu.


Angela terpaku, memperhatikan interaksi Vin dengan gadis cantik yang memanggil Vin dengan sebutan Daddy.


"Mommy baru saja meneleponku, dia ingin bicara denganmu. Sebaiknya Daddy segera menelepon Mommy jika tidak ingin membuat Mommy marah." Bibir gadis itu mengerucut ketika memberitahukan tujuannya mencari keberadaan Daddy-nya.


"Ah, nanti Daddy akan menelepon Mommy-mu. Sekarang ada yang harus aku kenalkan kepadamu." Vin kemudian merangkul pundak putrinya itu. "Angel, kenalkan ini Bianca, putriku." Vin memperkenalkan putrinya kepada Angela, sehingga membuat Angela terkesiap.


"Putrimu?" ulang Angela memastikan pendengarannya.


"Ya, putriku. Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku berada disini dan menghadiri undangan pernikahan Keluarga Romanov. Perusahan keluarga istriku bekerja sama dengan Romanov Group. Aku datang mewakili istriku yang tidak bisa datang karena harus merawat putra kami yang sedang sakit."


Angela dibuat lebih terkesiap lagi dengan penuturan Vin. Ternyata pria itu sudah menikah dan memiliki seorang putri dan putra.


"Bibi cantik sekali. Apa Bibi teman dari Mommy?" tanya Bianca polos. Karena ia tidak pernah bertemu dengan Angela selama ini.


"Tidak Bia, Bibi ini teman dekat Nyonya Elleana." Bukan Angela yang menjawab, melainkan Vin. "Kau harus sopan dan jangan bertanya yang tidak perlu," imbuhnya mengingatkan. Vin hanya tidak ingin membuat Angela terganggu dengan pertanyaan putrinya.


Bianca mengangguk mengerti. Ia tidak kembali melayangkan pertanyaan, karena takut salah berbicara dan mempermalukan Daddy-nya.


Jika ada seseorang yang dapat berubah, jawabannya adalah banyak sekali seseorang yang mampu berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi di antara milyaran manusia di muka bumi. Salah satunya adalah Zayn, suaminya. Dan kini ia melihat lagi seseorang yang berubah 180 derajat.


"Sayang, kenapa lama sekali? Sejak tadi aku cemas mencarimu." Zayn datang dan merangkul pinggang Angela. Ia belum menyadari seseorang yang berbicara dengan istrinya. "Kau tau tidak, aku bisa membunuh siapapun yang berani mengganggumu."


Angela tersenyum kikuk, kenapa Zayn berbicara seperti itu? Padahal tidak ada yang sedang mengganggunya.


"Zayn, aku baik-baik saja, tidak ada yang menggangguku," sahutnya menjelaskan.


Zayn mengangguk. Ia menoleh ke sekitar dan tertegun mendapati sosok yang tidak asing tentunya. Sudah 21 tahun berlalu, kini ia kembali dipertemukan dengan rival di masa lalunya.


"Kau masih saja tidak berubah, melindungi istrimu dari siapapun." Bukan sebuah ejekan, hanya saja Zayn menganggap perkataan Vin demikian.


"Siapapun bisa saja mengganggu dan menginginkan istriku." Zayn menaikkan sudut bibirnya dengan sinis. Dan perkataannya itu telak menyindir Vin yang di masa lalu menginginkan istrinya.


Alih-alih tersinggung, Vin justru tersenyum. "Kau benar. Karena sampai saat ini kau berhasil menjaga istrimu dengan baik."


Tiba-tiba saja suasana menjadi tegang. Angela mengusap lengan tangan Zayn. Sean pun menghela napas kasar, meruntuki Pamannya yang berbicara seperti itu.


"Paman, sebaiknya kita pergi dari sini."


"Tidak Sean. Ini waktunya yang tepat untuk meluruskan semuanya." Vin menolak Sean yang mengajaknya meninggalkan Angela serta Zayn. Sean nampak geram, tidak dengan Bianca yang bingung karena tidak tahu apapun. "Aku minta maaf untuk yang di masa lalu. Aku sudah melupakan kejadian di masa lalu dan menjalani kehidupan yang bahagia seperti kalian. Tapi tidak dengan Mario, dia mendapatkan hukumannya."


"Paman sudahlah, tidak perlu membicarakan yang sudah berlalu." Sean kembali mencegah Pamannya. Sungguh, ia tidak ingin memperkeruh suasana yang tengah berbahagia disini.


"Tidak Sean. Biarkan mereka mengetahuinya, selama ini kau selalu menutupi semuanya dan menanggung kesalahan Mario." Vin berhasil membuat bungkam mulut Sean. Sebenarnya bisa saja Sean menyeret paksa Pamannya, tenaganya lebih kuat dari Sang Paman, hanya saja ia tidak ingin membuat keributan di acara pernikahan Keluarga Romanov.


"Mario sudah menanggung akibat dari perbuatannya. 10 tahun yang lalu, dia tewas di medan perang. Karena itu mari lupakan semuanya." Terkesan tidak tahu malu, tetapi Vin hanya ingin hidup dengan damai di masa tuanya.


Perkataan Vin membuat Angela serta Zayn terkejut. Pandangan Zayn kemudian berpindah pada sosok Sean. Jadi pria muda dan gagah di hadapanku ini adalah putra dari pria keparat itu? batinnya. Tidak di pungkiri jika Zayn mengakui ketampanan dan kegagahan tubuh Sean.


Angela menatap iba kepada Sean. Pantas saja ia melihat kesedihan di balik pancaran mata Sean, ternyata Mario sudah tiada.


"Kita pergi Paman." Sean sudah sangat kesal. Ia meninggikan suaranya kepada Pamannya itu. "Nyonya dan Tuan Scott, aku minta maaf mewakili Pamanku. Kalian tidak perlu memikirkan perkataan Paman Vin, tetaplah seperti ini yang tidak saling mengenal." Sean kemudian menunduk, ia menarik Paman Vin pergi dari sana. Akhirnya Vin mengalah, padahal ia hanya ingin menegaskan jika dirinya tidak sama seperti 21 tahun yang lalu. Ia sudah berubah dan berbahagia dengan kehidupannya. Sedangkan Bianca yang sedari tadi diam memperhatikan pun mengikuti langkah Daddy serta kakak sepupunya itu.


Angela dan Zayn hanya melihat punggung mereka yang semakin menjauh. Ternyata kehidupan mereka setelah kejadian 21 tahun yang lalu seperti itu. Jujur saja Zayn tidak pernah menduga, karena ia pun menutup akses mengenai Keluarga Thomas.


"Zayn, kita kembali. Elle dan Vier pasti mencari kita." Angela menyadarkan Zayn dengan mengusap bahu suaminya itu.


"Hm...." Zayn hanya berdehem. Moodnya berubah ketika bertemu dengan dua orang di masa lalu.


"Sudah, jangan dipikirkan. Semua hanya masa lalu." Angela dapat merasakan emosi Zayn yang tidak stabil. Ia hanya tidak ingin kehadiran Vin dan Sean mempengaruhi Zayn.


"Tidak. Aku sudah melupakan semuanya. Tapi jika pria sialan itu berani mengganggumu seperti 21 tahun yang lalu. Aku akan menghancurkannya!" Meski sudah tidak terganggu dengan kehadiran mereka, tetapi Zayn harus tetap waspada pada kemungkinan-kemungkinan yang akan datang.


"Iya, aku mengerti. Sudah, ayo kita kembali kesana." Angela mengapit lengan Zayn, lalu mereka berjalan bersama menuju Elleana dan Vier berada.


To be continue


Sean Gelael Thomas



Yoona sengaja menyelipkan masa depan dari ketiga Novel Yoona yang sebelumnya, karena tujuan novel The Billionare Mafia, kelanjutan kehidupan mereka setelahnya. Yang lupa siapa Vin dan Sean bisa baca ulang Tawanan Bos Mafia 🤗


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...