
Pandangan Helena tertuju pada Sungai Thames yang membentang luas di bawah sana. Raut wajahnya tidak menampakkan kesedihan seperti sebelumnya, wanita itu nampak lebih bebas seolah tidak memiliki beban lagi.
"Jika kau ingin marah, marahlah. Aku akan mendengarkan semuanya." Suara Helena memecah keheningan yang terjadi beberapa saat. Baik dirinya serta pria yang ia ketahui bernama Arthur itu hanya berdiam diri menatap hamparan sungai tersebut.
Ketika tidak ada sahutan dari Arthur, Helena lantas menoleh, ia berdecih karena pria itu begitu dingin dan tidak ingin menyahuti ucapannya. Helena kemudian mengalihkan perhatiannya dari Arthur dan kembali menatap Sungai Thames dan mengedarkannya hingga terhenti pada Tower Bridge.
"Aku membencinya. Apa kau tau, aku membencinya karena banyak orang yang begitu mencintainya. Teman-temannya, Mikel dan bahkan.... kau." Helena sontak menoleh, menatap wajah pria yang masih menatap lurus ke depan. Hingga detik itu juga Arthur menolehkan kepala, membuat pandangan mereka kini saling bertemu. Untuk sesaat keduanya saling pandang, sebelum kemudian Arthur memutuskan kontak mata terlebih dahulu.
"Aku tidak tau hubunganmu dengan wanita yang bernama Elie, sehingga kau selalu mengawasiku demi dirinya."
Ya, Helena sudah mengetahui semuanya, ia bahkan harus menyewa seseorang untuk mengetahui siapa yang selama ini selalu mengikuti kemanapun dirinya pergi. Dan ia cukup terkejut karena mereka adalah orang-orang suruhan pria yang bernama Arthur Kennard Romanov, pria yang cukup berpengaruh di Eropa. Meski tidak mendapatkan respons dari Arthur, Helena tetap bersuara. Di dengar atau tidak, ia tidak peduli karena saat ini ia hanya ingin mengeluarkan apa yang ia rasakan.
"Aku benar-benar tidak berniat jahat padanya, apalagi mencelakainya. Saat itu aku memang marah sehingga selalu berusaha mencari masalah dengannya. Tapi Mikel.... dia tidak percaya padaku." Helena tersenyum getir saat mengingat perkataan Mikel yang begitu menghujam jantungnya.
Tidak terasa air matanya kembali meluruh, padahal sudah sekuat tenaga ia menahannya. Buru-buru Helena menyeka air mata di sudut matanya sebelum Arthur menyadarinya. Tetapi dugaannya salah karena Arthur memang sudah menyadarinya sejak tadi.
Arthur berdecak, tetap meluruskan pandangan ke arah hamparan Sungai Thames. "Aku tidak tau apapun tentang cinta karena aku tidak pernah merasakannya. Tapi yang aku tau, jika pria itu mencintaimu, dia tidak akan membiarkanmu merendahkan dirimu sendiri." Arthur kemudian memutar arah tubuhnya menghadap Helena. "Lihatlah, kau terlihat menyedihkan karena menginginkan pria yang tidak pernah melihatmu," imbuhnya. Perkataan Arthur terdengar begitu menusuk, sehingga membuat Helena terperangah tidak percaya.
"Kau?" Helena menggeleng disertai decakan lidah. "Kau benar-benar bermulut pedas. Seharusnya kau menghiburku dengan kata-kata yang manis, tapi kau justru...." Ck, Helena bahkan tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Arthur karena sikapnya bahkan lebih menyebalkan dari Mikel.
Arthur mempertahankan raut wajah yang datar, bahkan ia tetap acuh ketika wanita itu melayangkan protesnya. "Kau salah jika mengira aku akan menghiburmu dengan kata-kata manis," ucapnya.
Helena tidak menjawab, wanita itu justru membuang napas panjang. Seolah tengah menghembuskan beban yang selalu mendekap erat hingga membuatnya begitu sesak berkepanjangan.
"Aku memang menyebalkan seperti yang mereka katakan." Ingatan Helena berputar pada kejadian-kejadian di masa lalu, dimana ia selalu berusaha mencari masalah hanya untuk mencari perhatian Mikel. Akan tetapi pria itu tetap saja mengacuhkan dirinya.
"But I'm only human. And I bleed when I fall down... I'm only human (Tapi aku hanya manusia biasa. Dan aku berdarah saat aku terjatuh.... aku hanya manusia biasa)."
Kening Arthur berkerut ketika mendengar Helena justru bernyanyi. Namun ia tidak mengganggunya, melainkan membiarkan wanita itu meneruskan nyanyiannya.
And I crash and I break down (dan aku hancur dan remuk)
Your words in my head (kata-katamu terngiang di kepalaku)
Knives in my heart (bak pisau di hatiku)
You build me up and then I fall apart (kau kuatkan aku lalu aku hancur berkeping)
Cause I'm only human (sebab aku hanya manusia biasa)
Kepala Helena menengadah, membiarkan angin menerpa wajahnya. Ingatan beberapa tahun silam terlintas, ketika Sang Mommy masih hidup. Ia harus menguatkan Mommy-nya disaat terluka, tetapi....
"Mom, jangan tinggalkan Helen sendiri. Kenapa Mommy melakukan ini? Kenapa Mommy tega meninggalkan Helen?"
Di ingatannya kala itu Helena mendekap Mommy-nya yang sudah tidak bernyawa. Dan ia tidak bisa melakukan apapun, hanya menangis dan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak cukup kuat menguatkan Mommy-nya akibat perselingkuhan yang dilakukan oleh Daddy-nya.
Seketika Helena membuka matanya, napasnya sedikit terengah-engah seolah kejadian itu seperti baru terjadi kemarin. Padahal sudah tiga tahun berlalu, akan tetapi ia tidak bisa melupakannya.
Arthur memperhatikan dengan heran ketika mendapati wajah Helena menjadi menegang. Ia ingin bertanya tetapi entahlah, ia merasa bukan urusannya.
"Apa kau pernah melihat seseorang yang kau cintai mengakhiri hidupnya di hadapanmu?" Entah apa yang dipikirkan, Helena tiba-tiba melayangkan pertanyaan seperti itu kepada Arthur.
Semakin dalam kerutan di kening Arthur. Pertanyaan itu semakin tidak jelas dan membuatnya semakin bingung. "Tidak pernah," sahutnya. Arthur tetap menjawab meskipun tidak mengerti pertanyaan wanita itu.
"Kalau begitu kau jangan sampai merasakannya. Karena itu akan sangat menyakitkan." Mata bening Helena nampak polos, seolah memberitahukan hal yang begitu menyakitkan yang di alaminya. "Dan jika uang bisa mengembalikan seseorang yang sudah tiada, maka aku akan menukarkan seluruh harta yang kumiliki demi bisa bersamanya."
Arthur benar-benar dibuat terheran, wanita di sampingnya itu selalu menunjukkan ekspresi wajah yang berubah-rubah.
"Haaaahhh......" Terdengar hembusan napas dari bibir Helena. Wanita itu nampak sudah lebih baik karena seseorang rela menemaninya, meski ia tahu jika pria di sampingnya itu membencinya. "Kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih sudah menghiburku." Helena tersenyum sembari melampirkan tas di pundaknya. Entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu, ia menyematkan senyum termanisnya untuk Arthur
Di saat langkahnya semakin menjauh, Helena menarik sudut bibirnya. Namun sesaat kemudian air matanya meluruh kembali dan demi tuhan ia tidak bisa membendungnya lebih lama. Helena terisak dalam diam, hingga pada akhirnya suara dering ponsel menyentakkan telinganya. Dan membuatnya harus merogoh ponsel di dalam tasnya, tetapi saat melihat nama yang tertera di layar ponsel dan belanja nampak enggan untuk menjawabnya.
Namun Helena menggulir tombol hijau. Ia harus menjawab, sebab sudah berulang kali ia mengabaikan panggilan dari seseorang itu.
"Ada apa?" tanya Helena begitu menempelkan ponsel pada daun telinganya.
"Kau benar-benar mengabaikan panggilan dariku?" Suara bariton di sebrang sana terdengar begitu rendah.
"Maaf, sejak kemarin aku sibuk," sahut Helena.
"Baiklah aku mengerti, lagi pula aku hanya ingin mengingatkanmu agar tidak melupakan obatmu. Kau tau bukan jika kau lupa meminumnya satu hari saja, kau akan-"
"Aku tau." Helena menyela. "Karena aku pasienmu yang patuh, setiap hari aku meminum obatku, jadi jangan mencemaskanku."
"Baguslah."
"Hem, sudah dulu." Helena kemudian memutuskan telepon secara sepihak, ia tidak ingin berlama-lama menjawab panggilan itu. Karena menurutnya, dokter yang menanganinya itu selalu dapat mengetahui kapan dirinya berbohong.
****
"Karena dia telah mempermalukanku. Dia juga sudah membuat tunanganku tidak peduli padaku belakangan ini. Tunanganku adalah mantan kekasihnya dan aku ingin memberinya pelajaran karena berani-beraninya bermain-main dengan putri dari keluarga Born."
"Bagaimana? Apa kau mau bekerjasama denganku untuk menyingkirkannya?" tanyanya kembali.
"Tawaran yang menarik tapi sayangnya aku harus menolaknya."
"Tapi kenapa? Bukankah kau juga membencinya sama sepertiku?"
"Benar, aku memang membencinya tapi bukan berarti aku akan bekerjasama denganmu. Aku memiliki caraku sendiri, jadi aku tidak ingin terlibat dengan rencanamu."
"Kau akan menyesal jika menolak bekerjasama denganku." Suara Carmela terdengar marah dan tidak terima.
"Mungkin tapi setidaknya aku tidak akan begitu dibenci oleh Mikel. Sebaiknya kau juga hentikanlah, apa kau tidak lelah mengganggu wanita itu?" Helena menyarankan agar Carmela menghentikan rencananya karena menurutnya akan sia-sia saja.
"Kau tidak perlu menesehatiku!"
"Ck, baiklah terserah kau saja. Aku pergi dulu, senang bisa berkenalan denganmu."
Saat sudah tiba di parkiran rumah sakit, Arthur tidak bergegas ke masuk ke dalam sana. Ia justru menggenggam alat perekam yang sudah berulang kali ia dengarkan isi rekaman tersebut, rekaman di saat Helena dan Carmela bertemu. Saat itu anak buahnya yang selalu mengawasi Helena memberitahukan padanya jika kedua wanita itu saling bertemu. Sehingga Arthur memerintahkan anak buahnya itu untuk meminta kepada pelayan agar meletakkan sebuah benda rekaman yang serupa dengan magnet sehingga mampu menempel pada benda apapun, termasuk di bawah meja. Dan pelayan itu menempelkan benda yang mampu merekam percakapan Helena dengan Carmela di bawah meja saat mengantarkan pesanan untuk kedua wanita itu.
Arthur tercenung dan hanya menatap benda kecil itu dengan seksama. Entah apa yang dipikirkan olehnya, hanya ia sendiri yang mengetahuinya.
"Apa aku sudah salah menilainya?" gumamnya.
To be continue
Helena
...Yoona gak pernah lupa ingetin kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...
...Follow instagram Yoona yah, supaya bisa lihat cuplikan video-video mereka 🤗...