
Sang fajar sudah menyingsing memancarkan cahayanya pada seisi bumi. Malam yang panjang sepertinya tidak membuat seorang wanita cantik mengeluh kelelahan, ia dan suaminya sudah bangun seperti biasa. Ya, Elie tengah mematut penampilannya di depan cermin dengan dress berwarna maroon berbahan rajut yang menonjolkan lekukan tubuhnya. Rambut pirangnya yang bergelombang menggantung di atas bahunya yang sedikit terbuka. Dan kini tengah memeriksa tanda di sekitar leher serta dadanya hingga ia berulang kali menyamarkan kissmark yang diberikan Mike sebagai jejak kepemilikan pria itu dengan menggunakan foundation miliknya.
"Mike, sebenarnya berapa banyak kau membuatnya. Lihatlah, aku menemukannya lagi." Bibir Elie mencebik, ia kembali menemukan tanda kissmark pada bahu kiri bagian belakang. Sepintas dari depan tidak terlihat, tetapi ia memutar tubuhnya di depan cermin, hingga tanda merah itu terlihat jelas. Elie kembali meraih foundation lalu membalurkannya pada bagian yang merah dengan ibu jarinya.
Mike yang tegah memeriksa ponselnya, bersandar pada sandaran sofa menoleh ke arah sang istri yang nampak kesal akibat ulahnya itu.
"Entahlah, aku tidak menghitungnya. Aku bisa membuatnya lagi jika kau menginginkannya Sweetheart." Wajah Mike tersenyum menggoda. Ia tahu bagaimana istrinya itu mengeluh padanya sejak mandi bersama pagi tadi. Dan dengan jahilnya ia justru menawarkan membuat kissmark kembali.
"Tidak!" seru Elie menolak dengan cepat. "Aku kesulitan menutupi semua tanda merah ini dan kau ingin menambahnya lagi."
Mike terkekeh, ia meletakkan ponselnya dengan asal di atas sofa lalu beranjak berdiri menghampiri istrinya. Sangat menyenangkan baginya menggoda istrinya di pagi hari. "Kalau begitu tidak perlu di tutupi, biar semua orang tau jika Aurelie Cassandra Jhonson adalah istri dari Michael Jhonson." Kedua tangannya melingkar di perut istrinya itu.
"Jhonson?" Elie mengening, ia bahkan lupa jika marganya kini sudah berganti nama suaminya.
"Benar, apa kau lupa, hm?" Bibir Mike mencuri kecupan di pipi Elie.
Kekehan Elie membuktikan jika wanita itu memang benar-benar lupa jika telah menyandang status menjadi Nyonya Jhonson.
"Atau jangan-jangan kau akan lupa jika kau sudah menikah dan membiarkan pria lain mendekatimu." Membayangkan hal itu saja sudah membuat wajah Mike kesal dan tertekuk berkali-kali lipat.
"Jangan bicara sembarangan. Aku tidak mungkin lupa jika sudah menikah dan memiliki suami tampan sepertimu." Elie berbalik badan, menghadap suaminya yang sudah memasang wajah kesal. Ia menghadiahkan kecupan di bibir Mike untuk merayu pria itu. "Jangan marah, aku tidak benar-benar melakukannya, bukan?"
Mike terdiam. Ia mengulas senyum samar yang hanya ia sendiri yang menyadarinya. "Kau harus membujukku agar tidak marah."
"Bagaimana caranya?" Kedua mata Elie mengerjap polos.
Mike menuntun kedua tangan Elie dan melingkarkan di lehernya. "Sekarang kau sudah tau harus apa, hm?" katanya sembari tersenyum penuh arti.
"Mike...." Elie buru-buru menarik kedua tangannya dari leher Mike. Ia tahu apa yang diinginkan suaminya itu. "Semalam kau sudah membuatku kelelahan dan tadi pagi kau juga sudah melakukannya dua kali di kamar mandi. Aku tidak ingin lagi, pinggangku bisa patah." Ia memunggungi Mike, melirik suaminya itu melalui pantulan cermin. "Lagi pula kita memiliki janji dengan Kak Ar dan Helen. Jangan membuat mereka menunggu. Jika tidak hhhmmpphhh-"
Belum sempat Elie menyelesaikan kalimatnya, Mike lebih dulu menarik pinggul Elie lalu membungkam bibir istrinya itu dengan bibirnya. Tangannya menahan tengkuk leher Elie ketika wanita itu berusaha memberontak dan memukul dadanya. Namun sekeras apapun Elie mendorong tubuh Mike, ia tetap tidak bisa melepaskan belitan bibir suaminya yang liar. Hingga pada akhirnya Elie pasrah, ia membalas pagutan bibir Mike. Pria itu tersenyum penuh kemenangan saat istrinya tidak lagi memberontak. Ia semakin memperdalam ciuman mereka, saling menghisap lidah hingga ke dalam rongga mulut masing-masing. Mike kemudian menggiring tubuh Elie menuju ranjang tanpa melepaskan ciuman. Menjatuhkan tubuh Elie ke atas ranjang dan memberikan sentuhan-sentuhan kecil pada titik sensitif Elie.
Elie yang sudah terpancing gairah hanya pasrah ketika tangan Mike menyingkap dress hingga dan membelai paha Elie yang tertekuk. Apa yang di lakukan Mike membuat Elie mengeluhkan desahannya. Tangan pria itu berhasil menekan bagian intinya yang sudah lembab. Dan dalam sekali sentakan saja, kain segitiga yang membungkus bagian bawah wanita itu terlepas dan bahkan terkoyak, dicampakkannya begitu saja di atas lantai. Satu jemari Mike menerobos masuk dengan perlahan.
"Euugghhh....." Tubuh Elie bergetar, suara desahaannya yang lolos semakin membakar gairah Mike, sehingga pria itu mengobrak-abrik lebih cepat lagi lubang inti kenikmatan sang istri.
Hingga kini keduanya larut dalam gairah dan melakukan penyatuan untuk kesekian kalinya. Pakaian yang terkoyak di atas lantai membuktikan seberapa brutal permainan mereka. Bahkan kini Mike sudah memompa milik Elie dari belakang. Senjata Mike yang besar menyesakkan bagian bawahnya, sesak dan sungguh nikmat. Dua dada yang menggantung sempurna itu tidak lepas dari remasaan tangan Mike dan tidak membiarkan menganggur begitu saja. Hingga mereka mencapai puncak bersama diiringi erangan panjang.
***
Wajah Elie nampak masam ketika mereka kini sudah berada di dalam mobil. Ia yang kesal kepada Mike karena suaminya itu terus menghujaminya tanpa henti, membuat mereka datang terlambat dari janji pertemuannya dengan Arthur dan Helena. Tenaganya pun nyaris terkuras banyak, padahal ia sudah sarapan cukup banyak.
Mike menyadari kekesalan Elie. Namun alih-alih merasa bersalah, ia justru menikmati wajah Elie yang menggemaskan menurutnya.
"Sudah sampai Sweetheart. Apa kau ingin tetap disini dan mengulangi sesi percintaan kita di dalam mobil?" Lagi-lagi Mike menggoda Elie. Wanita itu menolehkan kepala dan memelototi Mike.
"Dasar maniak. Aku baru tahu ternyata kau benar-benar mesum." Setelah mengatakan hal itu, Elie segera turun dari mobil. Ia tidak peduli apakah Mike akan tersinggung dengan ucapannya atau tidak. Biarlah, salahkan saja pria itu karena membuatnya kesulitan berjalan.
Mike tergelak di dalam mobil, ia pun segera turun dari mobil dan menyusul langkah Elie yang perlahan menjauh.
Langkah Elie yang tergesa-gesa dan tidak seimbang itu membuatnya nyaris terjungkal, namun seseorang segera menahan pinggul Elie.
"JAUHKAN TANGANMU DARI ISTRIKU!" Mike berteriak, ia segera menarik Elie ke dalam dekapannya. Ia melayangkan tatapan tajam kepada pria asing yang baru saja menyentuh istrinya.
"Aku hanya menahan istrimu agar tidak terjatuh. Seharusnya kau berterima kasih padaku." Pria asing itu tersenyum remeh, seperti mengibarkan bendera perang.
"Persetan!" Mike tidak peduli, ia segera membawa Elie meninggalkan pria asing itu.
"Mike, sudahlah. Jangan marah-marah seperti itu. Lihatlah, kau menjadi tidak tampan lagi." Kekesalan Elie menguap begitu saja ketika melihat Mike terlihat marah. Ia tidak ingin suaminya dalam keadaan emosi saat menemui Arthur dan Helena.
Elie terkekeh. "Karena itu kau harus selalu tersenyum agar semakin tampan." Mike benar-benar tersenyum, senyum yang hanya di tunjukkan di hadapan istrinya. Langkah mereka mengayun memasuki sebuah butik yang terkenal di Pusat Kota London yang mendesain pakaian wanita dan pakaian pria.
Di dalam sana terlihat Arthur yang membantu Helena memilih beberapa pakaian pesta dan sudah lima pakaian pesta yang sudah dicoba oleh Helena, tetapi semua ditolak oleh Arthur, kelimanya terlalu terbuka dan memperlihatkan punggung mulus istrinya, bahkan belahan pada bagian paha terlalu panjang. Padahal Helena sudah mengatakan jika dirinya tidak memerlukan pakaian apapun lagi karena ia sudah meminta asistennya Christy untuk membawakan beberapa gaun pesta dan beberapa gaun pengantin untuk resepsi pernikahan mereka yang akan digelar satu Minggu mendatang.
"Honey, aku sudah lelah mencoba semua gaun ini. Semua ditolak olehmu karena terlalu terbuka." Bibir Helena mencebik. Ia jengah harus mencoba gaun lainnya lagi.
Elie dan Mike yang baru saja bergabung terkekeh bersama. "Lebih baik kau mengurung Helen di dalam kamar saja Ar," ujar Mike mengejek. Ia paham jika Arthur tidak akan mengizinkan tubuh Helena di puja oleh pria-pria di luar sana. Karena ia pun akan melakukan hal sama kepada Elie.
"Aku tidak memerlukan pendapatmu!" cetus Arthur melirik ke arah Mike tidak bersahabat.
Elie memutar bola matanya malas. Kedua pria itu tidak bisa akur jika sedang bersama. "Helen, biar aku membantumu memilih dress untuk kita." Elie mendorong tubuh Helena menjauh dari kedua pria posesif itu, meninggalkan Mike dan Arthur yang hanya memperhatikan istri mereka.
"Apa kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Mike membuka percakapan.
"Hm, Asisten Helen sudah berada di perjalanan. Helen ingin menggunakan beberapa rancangan gaun pengantin untuknya dan Elie."
"Hm, rancangan Helen tidak perlu diragukan lagi. Rancangannya sudah sangat terkenal di Paris."
Mendengar ucapan Mike yang seperti memuji Helena, Arthur menoleh dan menatap dingin. "Jangan memuji istriku!" serunya tidak terima.
Mike menghela napas. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Ah, apa kau ingin mendengar perkataanku yang menjelekkan rancangan Helen? Kalau begitu rancangan Helen sangat buruk, aku ingin mengganti gaun pengantin istriku dengan rancangan desainer terkenal lainnya. Aku rasa Elie akan lebih cocok mengenakan gaun pengantin dan gaun pesta dari Chanel."
BUGH
Arthur menendang kaki Mike, namun Mike berhasil menghindar. "Berani-beraninya kau menjelekkan rancangan Helen!"
"Ck, aku memuji salah dan menjelekannya juga salah. Terserah kau saja Ar, lebih baik aku menemui Elie saja." Mike lebih memilih berlalu pergi. Bisa kehilangan kendali jika ia meladeni iparnya itu.
Selesai memilih beberapa pakaian, keempat pasangan suami istri itu memutuskan makan siang di sebuah resort pinggir pantai. Arthur memperhatikan Helena yang tertawa lepas bersama Elie. Dadanya dibiarkan terekspose tanpa pakaian karena hanya ada istri serta adiknya saja.
"Ar, cepat atau lambat Helen akan tau semuanya. Lebih baik kau memberitahu tentang ibunya dari mulutmu sendiri." Mike menyesap The Ruby Rose Cocktail, minuman beralkohol yang terbilang sangat mahal.
"Aku berencana memberitahunya setelah selesai pesta pernikahan. Aku tidak ingin membebaninya dengan masalah yang sudah berlalu, tapi pria tua itu sengaja ingin menyerangku." Arthur mendengkus kesal, ia pun menyesap minuman beralkohol yang sama seperti Mike.
"Hm, semoga saja Helen tidak terpengaruh oleh Jorge. Sejak dulu aku tidak menyukainya, dia dan istrinya selalu mencari masalah dengan Helen."
"Aku tau dan kali ini aku yang akan melindunginya," sahut Arthur menegaskan.
"Apa kau sudah tau tentang hubunganku dengannya?" Mike bertanya memastikan. Sebab Arthur tidak akan sesantai ini jika belum mengetahui mengenai hubungannya dengan Helena di masa lalu.
"Hmmm....." Arthur menjawab dengan deheman. Apapun yang terjadi antara Helena dengan Mike di masa lalu, ia tidak pedulikan lagi. Karena mereka akan selalu bersama apapun yang terjadi.
To be continue
Babang Arthur
Helena
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...