The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Tidak Akan Melepaskan Pablo!



Sid sebagai pemimpin memberikan aba-aba untuk menyerang. Terlihat dengan jelas dari tempat mereka bersembunyi jika Pablo berada di salah satu bangunan tua yang berdiri kokoh. Tanpa membuang waktu, mereka segera menghampiri. Sid berdiri paling depan dengan menggenggam senjata mereka masing-masing, hingga kemudian mereka memasuki ruangan dan membuat Pablo serta para anak buah terkejut.


"Arrghh.... siall!" Pablo mengumpat. Padahal dirinya berniat melarikan diri, akan tetapi kalah cepat dari mereka.


Sid berteriak, memberikan perintah para anak buah untuk menembak. Mereka serentak menemaniku Pablo dan anak buah, kini anak buah Loz Zetas yang berbeda ketua itu saling memuntahkan peluru padahal sebelumnya mereka berjuang bersama-sama melawan musuh-musuh. Tetapi karena visi dan misi mereka tidak sejalan sehingga mereka memutuskan untuk mengikuti Mikel dan yang lainnya tetap menjadi pengikut Pablo.


Pablo tidak tinggal diam begitu saja, ia mengerahkan seluruh anak buah untuk membalas serangan. Dan sialnya hanya tersisa sedikit anak buah Loz Zetas, sementara sejak tadi ia berusaha menghubungi Todd agar membantunya, namun sepertinya ia baru menyadari jika Todd mengkhianati dirinya dan membiarkan dirinya menjadi kambing hitam seorang diri.


Merasa dirinya sudah tidak lagi aman, Pablo berusaha berlindung di balik tubuh para anak buah yang terdiri tegap dengan mengacungkan senjata dan memuntahkan peluru tanpa henti. Tanpa ia sadari jika Arthur dan Mikel sudah berada di sekitar Markas. Menuruni beberapa anak tangga dengan menggenggam senjata masing-masing dan meluncurkan peluru kepada anak buah Loz Zetas yang berjaga diluar. Darren serta Josh melakukan hal yang sama, menembaki musuh yang berusaha menyerang mereka.


Pablo masih mengerahkan tenaga, menembak dan bersembunyi pada pilar. Namun naasnya peluru dari arah berlawanan berdatangan, Pablo melihat ke arah peluru itu berasal. Kedua matanya membeliak terlebih dua anak buah yang melindunginya tekena hantaman peluru di perut mereka.


"Siall! Kalian benar-benar tidak berguna!" Pablo mendorong dua anak buah. Tidak ada pilihan lain selain menghadapi mereka. Beberapa anak buah Pablo sudah dilumpuhkan sehingga membuat pria itu panik mendapati anak buah yang tersisa sedikit saja. "Sialaaan Todd! Kau benar-benar ingin menjadikanku sebagai umpan!" Rasanya ia menyesali kebodohannya yang menerima kerja sama mereka, tanpa bisa menebak apa yang sebenarnya pria itu rencanakan. Ia yang diliputi oleh amarah karena Sid serta Mikel mengkhianati dirinya, menerima bantuan Todd begitu saja, tanpa mengenal karakter pria tua yang juga sangat licik.


Karena terlalu tidak fokus, Pablo tidak mampu menghindari satu peluru yang melesat dan menghantam perutnya. Ia terpekik kaget dan reflek menyentuh darah yang bercucuran keluar.


"Aarrggghh, keparat sialan!"


Dua anak buah yang juga tekena peluru di bagian perut mereka segera menyusul langkah Pablo dan berlindung di lantai dua. Meringkuk di balik dinding untuk menghindari serangan. Dan Pablo segera meraih granat ciptaannya dan melemparkan ke bawah, dimana anak buah Mikel berdiri disana sembari melancarkan peluru mereka.


Duarrr!


Mereka berhasil menghindari granat yang meledak tersebut dengan berhamburan keluar. Dan Pablo kembali melemparkan granat susulan, ia tertawa sinis melihat musuh-musuh berhamburan keluar. Karena tidak lagi melihat musuh-musuh bertebaran disana, Pablo tergelak penuh kepuasan. Hanya dengan beberapa granat saja sudah membuat musuh-musuhnya itu ketakutan.


Namun seketika tawanya lenyap begitu menyadari jika terdapat pistol yang mengacung tepat di belakang kepalanya. Ia melirik bayangan tubuh tegap yang menjulang tinggi, bahkan anak buah yang sudah terluka itu meringsut ketakutan akan sosok Mikel yang sudah siap memuntahkan peluru. Sementara Arthur lebih memilih mengamati dari lantai bawah. Dengan jelas dapat melihat sosok Mikel dan Pablo karena dinding berlapis kaca. Wajah Pablo nampak panik namun pria itu mampu menjaga ekspresinya.


"Kau ingin membunuhku? Kalau begitu bunuhlah aku sekarang juga!" Pablo menantang, ia sudah parah jika memang harus berakhir di tangan Mikel. Terlebih kini ia sudah terluka cukup parah.


Mikel menyeringai, ia memang ingin melenyapkan Pablo, tetapi tidak ingin dilakukan saat ini. Ia ingin bermain-main dengan Pablo terlebih dahulu untuk membalas kekesalannya selama ini karena pria itu selalu memerintahkan dirinya yang bertentangan dengan kata hatinya.


"Tidak kusangka kau bersedia menyerahkan nyawamu. Kalau begitu aku tidak akan melepaskanmu kali ini!" Mikel sengaja menakut-nakuti Pablo, rasanya kesenangan sendiri ketika melihat pria yang selama ini selalu memerintah dan bersikap angkuh begitu tidak berdaya.


Pablo menelan salivanya dengan susah payah, ia bisa merasakan jika Mikel tengah menarik pelatuknya. Namun ia tidak bisa berbuat apapun, menyerang pun percuma karena tubuhnya sudah menggigil karena luka tembak yang bersarang diperutnya.


***


Sementara di lokasi yang sama, seorang pria baru saja menggeledah setiap bangunan yang menjadi markas Mocro Mafia yang selama ini sudah sangat meresahkan. Namun ia tidak menemukan apapun dan segera bergegas keluar, bertepatan dengan satu anggotanya yang datang menghampiri untuk melaporkan sesuatu.


"Letnan, sepertinya mereka berada di bangunan yang berada di Utara."


"Kalau begitu tunggu apalagi, kepung mereka dan jangan biarkan siapapun diantara mereka melarikan diri!" ujarnya memberi perintah dan segera laksanakan oleh pasukannya. Sebelum kemudian ia menuruni tangga menyusul beberapa para pasukan yang sudah bersiap menyerang dengan bersenjatakan masing-masing.


Mereka mengamati sekitar, terlihat beberapa kelompok yang berhamburan keluar dan bahkan saling terlibat baku hantam. Kemudian mengangguk serentak dan dua di antara mereka memuntahkan peluru di udara. Sontak saja membuat dua kubu berbeda itu saling menghentikan aksi pukul memukul tersebut.


Langkah tegas seseorang baru saja menyelinap masuk di pendengaran Arthur. Ia tidak menoleh, melainkan membiarkan langkah itu semakin mendekati dirinya, sementara tangannya sudah mengayun, memberikan isyarat kepada Mikel untuk segera pergi dari sana saat ini juga.


Awalnya Mikel tidak menghiraukannya, ia tidak mungkin meninggalkan Arthur. Namun sorot mata Arthur berusaha untuk meyakinkan Mikel jika dirinya akan baik-baik saja. Mikel terpaksa mengiyakan, ia menyeret kerah pakaian Pablo dan membawa bersamanya. Tidak pedulikan Pablo yang terluka itu.


"Singkirkan senjatamu! Kau tidak akan bisa melarikan diri lagi. Kami sudah mengepung tempat ini!" Pria tegap berseragam pasukan khusus itu berusaha bernegosiasi dengan pria di hadapannya. Ia tahu jika kali ini targetnya tidak mudah untuk dihadapi.


Melihat pergerakan tangan yang sedang menggenggam senjata itu hendak mengayun, pria berseragam tersebut mengeluarkan senjatanya, lalu menodongkannya ke arah Arthur, bertepatan dengan Arthur yang segera membalikkan tubuhnya dan menodongkan senjata tepat di hadapan pria pasukan khusus tersebut.


"Kau....??!" Namun keduanya dibuat terkejut dan terperangah, karena mereka saling mengenali.


"Sedang apa kau disini?" tanya pria itu dengan rasa keterkejutannya yang belum memudar. Keduanya kompak menyingkirkan senjata dari hadapan mereka.


"Dan kau, apa yang kau lakukan disini?!" Arthur balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan pria itu lebih dulu.


"Keberadaanku sudah jelas, karena ingin menangkap sindikat kriminal Mocro Mafia." Ya, ia dan pasukannya memang bertugas menangkap kelompok kriminal yang sudah sangat meresahkan dan selama ini selalu dapat melarikan diri dari pantauannya.


Arthur tidak menyahut, ia sudah mendengar jika Mocro Mafia dalam kejaran pasukan kemiliteran, tetapi ia tidak menduga jika pasukan tersebut adalah pasukan dari pria yang memiliki kerabat dengannya.


"Apa kau akan percaya jika aku menjelaskannya?" kata Arthur santai.


"Kau memang harus menjelaskannya." Pria itu menyilangkan tangan di depan dada setelah menyembunyikan kembali senjata yang di dalam kantung senjata api yang menggantung di pinggangnya. "Tetapi tidak disini, kau harus menjelaskannya di kantorku," sambungnya menatap dengan penuh selidik. Curiga? Tentu saja, sebab Arthur yang ia ketahui tidak ingin melibatkan diri dalam kelompok seperti Mocro, justru berada di wilayah tersebut.


"Sean Gelael Thomas!" seru Arthur tidak bersahabat, dengan menyebutkan nama lengkap pria di hadapannya itu. "Aku tidak memiliki waktu untuk menjelaskannya di kantormu. Jika kau mencurigaiku, kau bisa mengikutiku selama berada di Rusia. Aku datang kesini karena memiliki urusan bisnis, tapi justru aku di serang tiba-tiba!" imbuhnya berdusta. Beberapa pasukan yang berdiri di belakang pria bernama Sean itu terperangah. Baru kali ini mereka melihat atasan mereka diperlakukan seperti itu dan hanya diam saja.


Tangan Arthur kemudian menepuk bahu Sean. "Catat laporanku! Sebagai atasan dari pasukan khusus seharusnya kau bisa menangkap mereka!" sambungnya. Lalu Arthur melengos pergi begitu saja. Ia menghampiri Darren yang ternyata sudah sedari tadi berdiri di ambang pintu.


Sean hanya memandangi kepergian Arthur bersama kaki tangannya itu. Sejak dulu hubungan mereka memang tidak begitu dekat. Terlebih Paman Xavier yang memang tidak menyukai Mario sejak insiden Sang Daddy yang menculik istri dari Zayn J. Scott yang merupakan teman baik dari Paman Xavier. Meskipun Paman Samuel sudah menjadi bagian dari Keluarga Romanov, tetapi tetap saja tidak membuat hubungan mereka membaik.


To be continue


Babang Sean



Btw kalian masih ingat Sean nggak? Anak dari Mario yang menculik Angela istri babang Zayn 🤭🤭


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...