
Kenzo berusaha mencerna perkataan sang ayah. Jika ayahnya itu sudah berkata demikian, itu artinya Keiko sudah berbicara kepada Ojisan Hiroki dan ayahnya.
"Pa, jangan bicara omong kosong. Kei tidak mungkin ingin memiliki kekasih yang kaku seperti Darren," candanya diiringi tawa. Kenzo berusaha menutupi kegusaran yang ia rasakan.
"Papa tidak bicara omong kosong, Ken. Kei sangat menyukai Darren dan tidak ada salahnya jika Darren membuka hati untuk Kei," ujar Paman Brian serius menatap Kenzo dan Darren bergantian.
Kenzo mengusap wajahnya, ia tidak menyangka jika ayahnya benar-benar serius dengan perkataannya. Ia tahu jika ayahnya itu sangat menyayangi Keiko dan tidak membedakan antara Kairi dengan teman baiknya itu.
"Bagaimana Der, apa kau bersedia mempertimbangkan Kei? Jika kau bersedia, Paman akan mengatakan kepada Mommy-mu untuk memperjelas hubungan kalian." Paman Brian memberitahu tanpa keraguan. Ia hanya ingin melihat semua putra dan putrinya bahagia, meskipun Keiko hanya putri dari teman baiknya tetapi ia sangat menyayangi Keiko seperti dirinya menyayangi Kairi.
Kenzo begitu malas berdebat dengan sang ayah. Ia bangkit berdiri dan memilih pergi dari halaman. Hingga Darren menatap punggung tegap Kenzo yang menghilang di balik dinding. Lalu pandangannya beralih pada Paman Brian.
"Paman, aku sangat menghargai niat baik Paman. Dan aku tidak menduga jika wanita itu, hm maaf maksudku Nona Keiko menginginkanku menjadi kekasihnya tetapi aku tidak bisa mempertimbangkan keinginan Paman."
Mendengar jawaban Darren, Paman Brian nampak kecewa. Tidak mungkin Darren menolak Keiko karena alasan tidak cantik bukan? Keiko adalah gadis tercantik di Kota Yokohama dan sudah terbukti wanita itu menjadi model terbaik dari negeri sakura.
"Kenapa? Bukankah kau tidak memiliki kekasih?" tanyanya memastikan.
"Benar, aku memang tidak memiliki kekasih, tapi aku sedang dekat dengan satu wanita. Jadi Paman tidak perlu repot mencarikan wanita untukku karena aku bisa memilih wanitaku sendiri!" ujar Darren tegas dan menekankan perkataannya. Berharap penjelasannya mengenai dirinya yang sedang dekat dengan wanita lain membuat Paman Brian mengerti. "Besok aku akan kembali ke London, karena sudah terlalu lama aku meninggalkan pekerjaanku," lanjutnya.
"Baiklah, Paman mengerti." Paman Brian mengiyakan dan berusaha untuk mengerti. Ia tidak ingin egois dengan memaksa Darren, hanya saja ia memikirkan perasaan Keiko yang mungkin akan sangat kecewa.
***
Di belahan benua Eropa, Veronica baru saja menyelesaikan acara mandinya. Kemarin ia baru saja mengalami kejadian yang mengerikan, dimana dua pria mengikutinya. Bukan pertama kalinya ia diikuti, tetapi tetap saja ia merasa sangat ketakutan. Jika saja Larry tidak datang menjemputnya, mungkin ia masih terjebak disana.
Suara bel apartemen mengalihkan perhatiannya, wanita itu buru-buru berpakaian untuk melihat siapa tamu yang datang ke apartemennya.
"Larry?" Veronica tidak terkejut dengan kedatangan temannya. Tadi malam Larry memang mengirimkan pesan, memberitahu jika akan datang. "Masuklah," katanya kemudian mempersilahkan pria itu untuk masuk.
Larry meletakkan kantung plastik di atas meja tamu. Sebelum ke apartemen Veronica, ia memang menyempatkan waktu untuk singgah ke minimarket.
"Bagaimana? Apa kau masih merasa takut?" tanya Larry begitu melabuhkan tubuhnya di sofa. Pria itu memang datang untuk memastikan keadaan temannya.
"Tidak. Aku sudah merasa lebih baik," sahut Veronica bergabung dengan Larry dan duduk bersisian dengan pria itu. "Tapi aku masih penasaran siapa tiga pria yang menghajar dua penguntit itu." Sejak tadi malam Veronica memikirkan tiga pria yang secara tidak langsung telah menyelamatkannya. Dengan masih berpikir, Veronica menerima kaleng soda yang sudah dibukakan terlebih dahulu oleh Larry, lalu meneguk secara perlahan. "Apa aku memiliki penjaga rahasia, Larry?" serunya menerka. Entah benar atau tidak, Veronica hanya menebak asal saja.
Larry terkekeh usai menegak minuman soda miliknya. "Jadi kau berpikir kau memiliki pelindung rahasia? Atau mungkin secret admire, begitu?" Dan sebagai jawabannya, Veronica mengangguk.
Larry nampak berpikir kemudian berkata, "Ya, bisa saja kau benar-benar memiliki secret admire. Lagi pula kau sangat beruntung, kau selalu terhindar dari bahaya bahkan kau bisa lebih dulu pergi dari pria berengsek seperti Cade."
"Jangan mengatakan seperti itu ditempat terbuka. Cade memiliki kekuasaan dan akan membuat orang seperti kita di bawah kendalinya. Apa kau tidak ingat dia pernah memerintahkan suruhannya untuk memukulimu?" Veronica mengingatkan Larry akan kejadian di masa lalu, dimana saat hubungan mereka berjalan satu bulan, Cade tidak menyukai kedekatannya dengan Larry. Padahal mereka berteman sudah sejak lama. Elie dan Larry adalah teman baiknya di Glory Ent, meskipun Larry adalah teman kecil dari Carmela, tetapi pria itu tidak memilki pikiran yang licik seperti wanita ular itu.
"Apa mungkin dua penguntit itu suruhan mantan kekasihmu?" Larry mengutarakan kecurigaannya. Bukan tanpa alasan, sebab Cade bisa melakukan apapun dengan kekuasaan yang pria itu miliki.
Veronica mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tau, sudah lama aku tidak mendengar tentangnya."
"Tapi tetap saja kau harus tetap waspada, Vero. Bagaimana jika dia melakukan sesuatu yang buruk padamu?" Sebagai teman baik dari wanita di hadapannya itu, Larry tentu terlihat cemas.
"Ya, kau benar. Apa sebaiknya aku menyewa jasa bodyguard saja?" kata Veronica meminta pendapat.
"Aku setuju," saru Larry. "Lagi pula agar kejadian kemarin tidak terulang lagi."
Larry terkekeh, meletakkan kaleng soda yang sudah habis isinya di atas meja. "Jangan dipikirkan, kau bisa meminjam uangku untuk membayar bodyguard."
Mendengar ucapan Larry, kedua mata Veronica menyipit tajam. "Jika aku tidak bisa mengembalikan uangmu, kau pasti akan menuntutku!"
Tawa Larry seketika pecah. "Astaga Vero, yang benar saja. Apa kau pikir aku pria yang perhitungan seperti itu?" ucapnya di sela-sela tawanya.
"Ya, bisa saja. Antara menuntutku atau kau mengancamku untuk menikah denganmu."
"Hahahaha...." Larry tidak bisa menahan tawanya yang menggelar. Veronica memang selalu bicara apa adanya tanpa dibuat-buat dan ia sudah terbiasa mendengar perkataan temannya itu. "Apa jika aku memintamu menikah denganku, kau bersedia?"
"Tentu saja....."
Tawa Larry seketika menyurut, ia tertegun mendengar jawaban Veronica. "Kau bicara apa?"
"Maksudku, tentu saja aku menolak." Dan kali ini tawa Veronica yang menggelegar. Terlebih mendapati raut wajah Larry yang kesal. "Lagi pula aku sudah menyukai pria lain dan aku tidak ingin bersama dengan pria yang masa lalunya belum selesai."
"Maksudmu?" Larry mencoba mencerna. Memangnya masa lalu siapa yang belum selesai? pikirnya.
"Kau dan Vallen. Kau bersama dengannya, tetapi sebenarnya kau masih belum bisa melupakan Elie," cebiknya mencibir. Veronica tahu benar perasaan Larry kepada teman baiknya Elie. Hanya saja tanpa mengatakan secara langsung, Elie sudah menolak mentah-mentah dengan menjaga jarak.
Larry menjadi gelagapan. Sampai saat ini ia memang belum bisa melupakan Elie. Wanita yang ia kira hanya wanita biasa, tetapi ternyata wanita luar biasa. Terlahir dari keluarga terkaya di Eropa tetapi lebih memilih merahasiakan identitas sebenarnya. Itu yang membuatnya semakin mengagumi sosok Elie.
"Sudahlah, aku sudah melupakannya," kilahnya menghindari kontak mata dengan Veronica. "Elie sangat cocok dengan Tuan Mikel, mereka pasangan yang terlahir dari keluarga kaya. Siapapun tidak akan bisa bersaing dengan Tuan Mikel." Tentu Larry sadar diri siapa dirinya. Tidak sebanding jika dibandingkan dengan Mikel Jhonson.
Veronica mengangguk, membenarkan. "Kau benar. Kau dengan Tuan Mikel bagaikan langit dan bumi. Tuan Mikel bisa memberikan bintang di langit untuk Elie, sedangkan kau mungkin hanya akan memberikan permen berbentuk bintang seharga seratus dollar saja."
"Astaga Vero, bibirmu itu perlu diapakan, hm?" Larry sungguh gemas dengan Veronica yang menurutnya selalu blak-blakan.
"Hehehe sepertinya bibirku ini perlu dicium oleh pangeran berkuda-ku," sahut Veronica. Wanita itu benar-benar berkhayal akan sosok pangeran berkuda putih menghampiri dirinya lalu mencium mesra bibirnya.
"Ck, kau terlalu berkhayal," sungut Larry berdecak kesal.
"Tidak, aku tidak berkhayal," sergahnya cepat. "Lihat saja Larry, aku pasti bisa menaklukkannya, aku pasti akan membuat pria lemari es itu mencium bibirku."
"Astaga, kau ini bicara apa sih?" Larry semakin kesal dengan Veronica yang berbicara tidak jelas.
Sedangkan wanita itu tersenyum-senyum seorang diri, ia sedang memikirkan pria-nya. Sudah hampir satu minggu tidak melihat Darren, sehingga membuat kerinduannya semakin mengembang.
To be continue
Veronica
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...