The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Menggali Lubang Kematian



Gedung berlantai lima menjadi pusat perhatian Elie yang tengah mendongak menatap dengan penuh tanda tanya. Ia sudah berada di lokasi sesuai permintaan si penelepon ketika memintanya untuk datang ke The Clermont Hotel, Inggris Raya.


Awalnya Elie menolak untuk datang, namun ketika gambar Veronica di kirimkan padanya, mau tidak mau ia harus datang agar wanita itu tidak mempermalukan Veronica yang masih bekerja di naungan Glory Ent. Elie harus rela pergi diam-diam dari para bodyguard-nya dan mengelabui mereka dengan pergi ke supermarket. Di sanalah pelariannya di mulai dan berhasil melahirkan diri dari pantauan para bodyguard.


"Kak Ar pasti sangat marah padaku," gumamnya mendesaah berat. Tetapi sudah kepalang tiba di tempat tujuan, tidak mungkin ia pergi dari sana. Semua karena Veronica, andai saja temannya itu tidak keras kepala dengan bertahan di Glory Ent. Mungkin mereka tidak akan kembali berurusan dengan wanita ular itu. Padahal berulang kali Elie sudah meminta temannya itu untuk pindah agensi dan ikut bersamanya dengan Mandy. Akan tetapi Veronica menolak dengan alasan tidak ingin terlalu banyak merepotkan dirinya.


Elie mendesahkan napasnya ke udara, ia melangkah memasuki hotel tersebut. Hotel bintang empat itu sering kali menjadi tempat penyelenggaraan acara setiap ada perayaan di Glory Ent. Langkah Elie kemudian menaiki tangga menuju ballroom hotel yang berada di lantai dua. Tidak membutuhkan waktu lama, Elie telah sampai di dalam ballroom. Pandangannya mengedar mencari sosok Veronica, tetapi tidak menemukannya dimanapun.


"Wah, lihatlah siapa ini yang datang." Sekumpulan tiga wanita cantik dan seksi menghampiri dan nyaris mengepung Elie.


Elie jengah, ia memutar bola matanya malas. Mereka adalah teman-teman dekat Carmela, sudah pasti akan mencari masalah dengannya.


"Aku mencari Vero, dimana dia?" Mata Elie masih mengitari setiap sudut ruangan, berharap menemukan keberadaan temannya itu.


"Kenapa kau mencari Veronica? Dia sedang bersenang-senang. Lebih baik temui Carmel, dia sudah menunggumu sedari tadi." Salah satu wanita berambut pirang lurus sebahu menanggapi, ia kemudian mengaitkan tangannya di lengan Elie dan menarik wanita itu menuju posisi Carmela berada.


Elie sebenarnya enggan, akan tetapi ia tidak ingin mencari keributan dan mengundang perhatian mereka semua.


"Carmel, tamu spesial kita sudah sampai." Suara wanita yang menggandeng lengan Elie menyita perhatian Carmela yang tengah bercakap riang dengan suami tercinta.


Carmela nampak menyambut dengan senyum penuh sejuta makna, berbeda dengan Brandon yang terkejut mendapati mantan kekasihnya berada di pesta.


"Carmel, kau mengundangnya?" Brandon berbisik di belakang telinga Carmela, namun bisikannya itu masih dapat di dengar oleh Elie dan yang lainnya.


"Iya, aku mengundangnya. Kita harus berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Apalagi Elie adalah wanita yang spesial di hatimu... upss maaf, maksudku yang pernah menjadi spesial di hatimu." Carmela menangkup rahang Brandon, lalu mengecup bibir suaminya itu dengan sensual. Mau tidak mau Brandon membalas ciuman Carmela di depan teman-teman Carmela dan juga Elie. Ekor mata Carmela bergerak ke arah Elie, ingin melihat reaksi wanita itu ketika dirinya berciuman dengan Brandon.


Namun nampaknya Elie tidak tertarik, ia bahkan jengah berada di tengah-tengah mereka. Sebenarnya untuk apa Carmela menginginkannya datang ke pesta mereka? pikirnya.


Carmela melepaskan ciuman mereka, ia sedikit kesal karena Elie nampak biasa saja. "Sayang, kita harus memberitahu Elie jika aku sedang hamil. Dia pasti sangat senang. Bukankah begitu Elie?" Carmela tersenyum, senyum palsu yang menjijikan di mata Elie.


"Kau hamil?" Elie berpura-pura terkejut. "Kalau begitu selamat untuk kalian berdua." Dan respons yang diberikan oleh Elie semakin membuat Carmela geram. Padahal ia berharap Elie akan sedih atau berseru tidak terima. Hal itu yang ia bayangkan, sebab itu dirinya mengundang Elie dengan alasan Veronica.


"Terima kasih." Carmela tersenyum kecut. Namun ia tidak akan melepaskan Elie begitu saja sebelum benar-benar mempermalukan wanita itu. Wanita yang masih tersimpan di hati Brandon hingga sampai hari ini.


Ya, Elie begitu spesial di hati Brandon, tidak jarang setiap terlelap suaminya itu memimpikan Elie dan memanggil nama wanita itu. Membuat dirinya meradang, karena meski sudah memiliki Brandon dan mengandung benih pria itu, Brandon tetap saja tidak dapat melupakan Elie.


"Sayang, acaranya akan dimulai." Nyonya Sandler yang tidak lain ialah ibu dari Brandon menghampiri menantu dan putranya. Ia menatap sinis kepada Elie, wanita yang sangat dibencinya itu. "Jangan mengurusi wanita tidak tau diri ini! Saat ini pasti dia iri denganmu dan ingin menggantikanmu menjadi istri Brandon."


Astaga, jika pria di dunia ini hanya ada Brandon, aku tidak akan sudi menikah dengannya dan memiliki mertua sepertimu, batin Elie mencibir Nyonya Sandler.


"Baik Mom." Carmela mengangguk, lalu melingkarkan tangan di lengan Brandon. "Ayo sayang, kita mulai acaranya." Brandon hanya pasrah ketika Carmela menariknya menjauh dari Elie, ia menoleh dan masih mencuri pandang pada sosok Elie yang terlihat lebih dewasa dan anggun setelah sekian lama mereka tidak berjumpa.


Pengumuman mengenai kehamilan Carmela menjadi topik hangat di dalam pesta tersebut. Mereka semua turut bahagia dan mengucapkan selamat kepada Brandon serta Carmela.


"Kalian silahkan menikmati pestanya dan dipersilahkan juga yang ingin berdansa," seru Carmela kepada semua tamu undangan. Berdansa dengan pria random turut menjadi list utama di pestanya. Tentu ia memiliki niatan terselubung. Langkah Carmela menjauhi Brandon dan menghampiri teman-temannya. "Kalian lakukan tugas kalian," bisiknya kepada ketiga teman-temannya itu. Ketiganya mengangguk serentak, lalu menjauh dari sana.


***


Elie merasa asing di tempat pesta seperti ini, ia tidak memiliki teman-teman yang begitu dekat dengannya. Hanya sebagian dari mereka yang menyapa dirinya, selebihnya mereka memilih acuh dan tidak peduli padanya. Elie masih mencari keberadaan Veronica yang entah berada dimana. Sudah tiga puluh menit berlalu, tetapi masih belum menemukan Veronica. Tidak mungkin Carmela membohongi dirinya, sebab yang di dalam gambar tersebut adalah Veronica dengan ketiga wanita yang merupakan teman-teman Carmela. Gaun mereka pun nampak serupa, itu sebabnya Elie bertambah yakin jika Veronica berada di hotel ini.


"Nona, maukah berdansa denganku?" Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri Elie.


"Tidak, sebaiknya berdansa denganku saja." Dan pria lainnya sudah berdiri di sisi Elie dan mengajak wanita itu untuk berdansa dengannya.


"Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin berdansa." Elie menolak halus, masih tidak ingin menimbulkan keributan.


"Tapi Nona, kau hanya sendirian saja sedari tadi. Biarkan salah satu di antara kami menemanimu." Dengan lancang, pria rambut pirang merangkul pinggang Elie, sontak Elie menyingkirkan tangan pria itu dan meringsut menjauh.


"Sudah kukatakan aku tidak ingin berdansa, kalian menyingkirlah dan cari wanita yang bisa kalian ajak dansa atau minum bersama!" Sungguh Elie ingin sekali menghajar dua pria yang begitu memaksa dirinya, jika saja tidak ingat dirinya berada di sebuah pesta.


"Hei, untuk apa kalian memperebutkan wanita sepertinya?! Dia hanya wanita miskin yang tidak jelas asal usulnya." Lagi-lagi wanita berambut pirang lurus sebahu menghampiri Elie dan menghinanya.


"Tutup mulutmu!" Jika sedari tadi Elie bisa menahan geraman emosinya, tetapi tidak ketika kedua orang tuanya menjadi sebuah hinaan untuk mereka. "Jangan pernah menghina kedua orang tuaku jika tidak ingin menyesal!"


"Haha lihatlah, dia sangat cantik saat marah." Kedua pria itu menikmati kemarahan di wajah Elie. Elie mengitari seluruh tamu di dalam ballroom, kini dirinya menjadi bahkan olokan dan bahan tertawaan mereka semua.


"Memangnya siapa yang takut dengan ancamanmu, Nona!" cibir pria lainnya itu.


Jadi ini tujuan Carmela mengundangku karena ingin mempermalukanku? batin Elie.


"Dia ini wanita yang tergila-gila pada Brandon dan berharap menjadi Nyonya Sandler." Salah satu teman Carmela yang lain menimpali dengan tatapan penuh meremehkan.


"Wah, kasihan sekali dia. Apa dia sudah gila menginginkan pria seperti Brandon?"


"Mereka berbeda jauh. Wanita itu bermimpi terlalu tinggi."


"Benar-benar tidak tau malu."


Berbagai cacian dilontarkan kepada Elie, sehingga membuat Elie memejamkan singkat kedua matanya. Baginya sudah hal biasa menjadi bahan gunjingan orang-orang yang tidak menyukai dirinya.


"Carmel, apa kau sengaja mempermalukan Elie seperti ini?" Brandon menegur istrinya itu. Sejak awal ia sudah curiga ketika Elie tiba-tiba saja datang atas undangan Carmela.


"Sebaiknya kau diam saja jika tidak ingin namamu dicoret dari Pewaris Sandler." Ancaman Carmela bekerja, seketika Brandon mengatupkan rapat bibirnya dan tidak menegur istrinya kembali. Kedua orang tuanya sangat menyayangi Carmela dan selalu mengikuti keinginan Carmela, sudah pasti kedua orang tuanya akan lebih memihak istrinya itu.


Nyonya dan Tuan Sandler tersenyum puas, menikmati cara menantunya itu mempermalukan wanita tidak tahu diri seperti Elie.


"Hentikan, apa yang kalian lakukan?!"


Senyum yang bertengger di sudut bibir Carmela seketika menyurut tatkala seorang pria menangkap Elie yang di dorong begitu keras oleh salah satu temannya. "Larry?" gumamnya berdecak kesal.


Ya, Larry adalah salah satu pria yang mengagumi sosok Elie hingga saat ini. "Jangan ada yang berani-beraninya menghina Elie lebih dari ini!" serunya bernada mengancam.


Elie mendorong dada tegap Larry. "Larry, aku tidak memerlukan bantuanmu. Sebaiknya kau tidak ikut campur jika tidak ingin namamu tercemar karenaku."


"Aku tidak peduli. Mereka sudah keterlaluan dan aku tidak bisa diam saja!"


"Aku sudah terbiasa, jadi menyingkirlah!" Elie menepis kedua tangan Larry dari bahunya.


"Tapi Elie...." Larry tidak mengindahkan penolakan Elie. Sekian lama tidak berjumpa dengan wanita di hadapannya itu, tentu ia tidak akan tinggal diam dan membiarkan wanita itu dihina.


Mereka benar-benar menggali lubang kematian. Elie mendesahkan napasnya ke udara. Ia yakin sebentar lagi kakaknya akan menemukan dirinya dan pasti akan menghancurkan mereka satu per satu.


"SINGKIRKAN TANGANMU DARINYA!!"


"BAJINGAN! MENJAUHLAH DARI WANITAKU!"


Semua di dalam sana sontak menolehkan kepala ke asal suara yang tegas dan begitu dingin. Tidak hanya satu pria posesif yang datang, tetapi pria posesif lainnya turut datang.


To be continue


Elie



...Jangan bosan ya dan tetap dukung Yoona 🤗...


...like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...