
Baik Arthur dan Daddy Xavier tercengang melihat isi rekaman yang baru saja diberikan oleh Liam serta teman-temannya dari hasil meretas CCTV di ruangan bawah yang berada di Kota Luzern, Swiss. Sebuah ruangan tua yang berisi batang-batang emas dan kota kecil yang berada di kaki gunung Piatus merupakan akses menuju ruangan bawah tanah milik Keluarga Jhonson. Dan yang mengetahui tempat tersebut hanya Paman Matthew dan juga Kakek Mateo. Kini bertambah sudah yang mengetahui ruangan bawah tanah milik Keluarga Jhonson yaitu Arthur dan Daddy Xavier beserta Darren, Liam, Elden dan juga Gavin.
"Kau yakin disana tempatnya Lim?" tanya Arthur kepada Liam melalui sambungan telepon.
"Benar Bos Ar, aku tidak salah. Tempat ini persis dengan foto yang kau berikan," sahut Liam yakin.
"Baiklah." Arthur mengangguk-anggukan kepala. "Awasi tempat itu, jangan sampai ada yang mengetahuinya!" titahnya kemudian. Karena dirinya sudah diberikan kepercayaan untuk menjaga ruangan bawah tanah peninggalan Paman Matthew, tentu saja ia akan menjaga sebaik mungkin. Arthur segera mengakhiri sambungan teleponnya. Ekor matanya bergerak satu arah kepada Daddy Xavier yang nampak tercenung.
Sedari tadi memang pandangan Daddy Xavier berpusat pada setiap sudut bangunan tersebut, setiap ukirannya bukan terbuat dari bahan biasa. Pantas saja sudah bertahun-tahun lamanya tempat itu masih tetap terjaga kokoh.
"Ada apa Dad?" Suara Arthur yang bertanya itu tidak membuat Daddy Xavier langsung menjawabnya. "Dad, are you okay?" katanya lagi memastikan. Sebab Daddy Xavier tidak memberikan respon apapun.
Daddy Xavier menghembuskan napasnya ke udara dengan kasar. Menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa lalu memijat keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut. "Apalagi yang kau sembunyikan Matthew. Kau benar-benar meninggalkan teka-teki untukku dan putraku." Ternyata itu yang sedari tadi di pikirkan oleh Daddy Xavier.
Arthur dapat mendengar gumaman Sang Daddy, ia pun setuju jika Paman Matthew meninggalkan teka-teki yang sulit dipecahkan.
"Aku pasti akan memecahkan masalah ini Dad. Jadi Dad tidak perlu banyak berpikir. Pikirkan saja kesehatan Dad." Kata Arthur mengingatkan. Ia hanya tidak ingin kesehatan Daddy Xavier menurun. Jika Daddy-nya jatuh sakit, maka yang paling sedih adalah Mommy Elleana.
Mendengar penuturan putranya, Daddy Xavier mendecakan lidah. "Ck, kau seperti Mommy-mu saja," sahutnya. "Daddy-mu ini masih sangat kuat, apalagi jika bermain di atas ranjang haha." Tanpa tau malu, Daddy Xavier berkata demikian. Matanya menyipit lantaran tawanya begitu lepas.
"Hem, terserah Dad saja." Sementara Arthur menanggapi dengan datar. Daddy Xavier memang tidak bisa berharap banyak jika mengajak putra sulungnya bergurau, karena hanya akan mendapatkan respon yang datar bagaikan patung hidup.
"Son, kau terlalu dingin persis seperti Dad dulu, haha." Lagi, Xavier tergelak. Tidak pedulikan wajah Arthur yang semakin datar seperti dirinya saat muda. Bahkan saat ini Arthur mengabaikan Sang Daddy yang masih tergelak lepas. Pria itu justru kembali fokus pada layar laptop yang menampilkan rekaman CCTV di ruangan bawah tanah dengan cahaya Lampu temaram.
Tawa Daddy Xavier kemudian menyurut diikuti kepalanya yang menggeleng memperhatikan putranya yang benar-benar duplikat dirinya saat muda. "Dad penasaran siapa wanita yang akan berhasil menarik perhatianmu," gumamnya mengusap dagunya yang di tumbuhi bulu-bulu lebat. Menunggu dengan sabar, dimana sang putra akan menjadi budak cinta sama seperti dirinya.
***
Arthur berdiri di depan cermin, melepaskan pakaiannya, hingga memperlihatkan perut berototnya. Mengekspose tubuh atletis serta wajah tampannya yang selalu digilai para wanita diluar sana. Namun sayangnya Arthur begitu sulit di taklukan, sehingga sampai dirinya menginjak 27 tahun tidak ada wanita yang berhasil menarik perhatiannya. Dan Arthur menikmati kehidupan seperti itu, tanpa ada seorang wanita yang mungkin akan merepotkan dirinya. Karena jujur saja Arthur tidak suka memperumit keadaan, berhubungan dengan seorang wanita hanya akan menyita waktunya, sebab banyak wanita yang akan selalu menuntut dan merengek. Bukan tanpa alasan Arthur dapat berpikir seperti itu, selama ini ia selalu di kelilingi para wanita, Mommy Elleana, Aurelie serta adik-adik sepupunya. Dan itu membuatnya sadar betul bagaimana sifat wanita pada umumnya.
Arthur menyambar sebuah peta yang berhasil ia print di ruangan kerjanya. Ia meneliti dengan seksama dan mempelajarinya.
Ceklek
"Kak Ar..." Suara Aurelie bersamaan dengan suara pintu terbuka sebagian tidak membuat Arthur tergugah untuk menolehkan kepalanya ke arah pintu.
"Hem?" Menyahuti dengan deheman. Pandangan Arthur tidak berpindah pada selembar peta yang berada di tangannya. Mengamati rincian setiap tempat yang berada di sekitar Pegunungan Piatus.
Aurelie mendekati Arthur tanpa menutup pintu dan mengabaikan penampilan kakak kembarnya yang nyaris naked. Ia sudah banyak melihat tubuh setengah naked itu jika sedang melakukan pemotretan, meskipun tubuhnya tidak sebagus dan memiliki otot-otot perut yang tercetak dengan jelas seperti Arthur.
Seketika Arthur menoleh diikuti dengan kerutan di keningnya. "Bertanya saja, aku akan menjawab semua pertanyaanmu," sahutnya. Kemudian ia menuntun sang adik untuk duduk di sofa setelah meletakkan selembar peta di atas nakas.
"Hem, apa Kak Ar sudah menemukan keberadaan Mike?" tanyanya di selingi tatapan serius saat menunggu jawaban dari Arthur.
Sejenak kebungkaman menyergap di dalam sana. Inginnya Arthur menyimpan fakta mengenai Keluarga Jhonson. Akan tetapi cepat atau lambat, adiknya itu pasti akan mengetahui hal tersebut, jadi untuk apa menutupinya, pikirnya.
"Informasi yang aku dapatkan, mereka.... mereka sudah tewas," jawabnya seadanya.
Kerutan dalam nampak terukir di kening Aurelie. "A-apa maksud Kak Ar?" Sungguh ia ingin memastikan indera pendengarannya jika dirinya tidak salah mendengar. "Kak Ar pasti bercanda," cetusnya kemudian menganggap apa yang baru saja disampaikan oleh Arthur adalah sebuah lelucon.
"Aku tidak sedang bercanda, Elie. Sama sepertimu, aku juga tidak mempercayainya," katanya dipertegas. "Aku tidak percaya jika memang mereka terbukti tewas, karena itu aku akan mencari pembunuh mereka meskipun aku harus mencari ke ujung dunia sekalipun!" Gigi Arthur nampak bergemeletuk mengeram amarahnya saatnya ini. Ucapannya itu tidaklah main-main, sebab kilatan penuh dendam kepada musuh dalam selimut Paman Matthew seperti berkobar.
Aurelie menggeleng cepat, ia tidak ingin menelan bulat-bulat informasi yang disampaikan oleh Arthur. Sebab itu ia masih mencoba menstabilkan otaknya yang tidak dapat menerima sebuah fakta menyedihkan tersebut.
Tubuh Aurelie melemas seketika, meskipun sofa disana sudah menopang bobot tubuhnya, tetapi berita yang mengejutkan mengenai Keluarga Jhonson mampu melumpuhkan seluruh organ di dalam tubuh. "Ini tidak mungkin Kak." Dan wanita itu meracau berulang kali disertai gelengan kepalanya, bahkan wajahnya nampak memucat. Rasa bersalah menyergap dirinya ketika ia selalu saja mengusir kehadiran Michael.
"Mike, maafkan aku." Sesal tiada guna. Karena keinginannya saat itu kini sudah terjadi. Michael beserta keluarganya benar-benar pergi jauh dari kehidupannya. Aurelie tidak bisa menahan sesuatu yang gemuruh di dadanya, perlahan rasa gemuruh itu menjadi rasa sesak yang menjalar hingga tepat mengenai jantung yang kini seolah berhenti berdetak.
To be continue
Babang Arthur
Mommy Elleana (gak sempet edit jadi tua wkwk)
Segini dulu ya, Yoona lagi sakit gigi wkwk Jadi kalau ada typo harap di maklumin ya, nanti langsung Yoona revisi ðŸ¤
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...