The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Terbuai



BUGH


BUGH


Arthur melayangkan tinjunya tepat mengenai wajah kedua anak buah yang ditugaskan menjaga Elie. Namun karena kelalaian mereka, kini Arthur nampak begitu murka. Seluruh anak buah berkumpul di hall Markas dan tidak luput dari sasaran amukan Arthur.


"Bodoh, bagaimana bisa kalian kehilangan Elie?!" hardiknya dengan deru napas memburu diliputi oleh amarah. "Aku mempercayai kalian untuk menjaga adikku tapi apa yang kalian lakukan hah?! Dengan bodohnya meninggalkan Elie di dalam mobil seorang diri tanpa ada yang menjaganya. DIMANA OTAK KALIAN!!"


Kedua anak buah tersebut meringis dengan tertunduk. Jantung mereka seolah tidak tertutupi oleh kulit mereka hingga kapanpun bos muda mereka itu bisa saja mencabut jantung mereka detik itu juga.


"Bos Ar maafkan kami, kami benar-benar lalai."


Arthur tidak peduli permintaan maaf mereka, ia menarik kerah pakaian salah satu anak buahnya itu. "Dengar, jika kalian tidak bisa menemukan Elie, kupastikan nyawa kalian sebagai gantinya!"


"Kami siap menerima hukuman karena telah lalai menjaga Nona Elie."


"Benar Bos Ar, kami akan menyerahkan nyawa kami jika tidak bisa menemukan keberadaan Nona Elie," timpal salah satunya.


Akhirnya keduanya hanya bisa berjanji untuk menyerahkan nyawa mereka. Namun jauh di dasar hati, mereka berharap dapat menemukan Nona Elie dalam keadaan hidup. Sebab Bos Arthur tidak akan menghilangkan nyawa mereka saja, tetapi juga akan berimbas kepada keluarga mereka.


Arthur menghempaskan tubuh anak buahnya tersebut hingga terhuyung ke belakang. Arthur tidak pedulikan wajah beberapa anak buahnya yang sudah lebih dulu menjadi sasaran bogem mentahnya.


Pandangannya kemudian beralih kepada Darren yang nampak lebih tenang, meskipun sejujurnya pria itu teramat marah lantaran beberapa anak buah tidak becus menjalankan tugas.


"Der, jangan katakan apapun pada Daddy. Pria tua itu pasti tidak akan tinggal diam. Kondisi Mom sedang tidak baik, Daddy harus selalu berada di samping Mom." Arthur menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, ia mengusap wajahnya gusar. Beberapa anak buah sudah dikerahkan untuk mencari keberadaan Elie, tetapi belum ada yang berhasil menemukan adiknya itu.


"Baiklah, aku juga tidak ingin melihat Bibi Elle jatuh sakit lagi." Bagi Darren Mommy Elleana sudah seperti Mommy-nya juga, sebab itu ia akan patuh untuk tidak memberitahukan hilangnya Elie.


"Bos Ar....." Dua anak buah yang baru saja datang menerobos barisan para anak buah yang tengah berkumpul disana. Napas keduanya terdengar terengah-engah, tugas yang biasanya di kerjakan oleh Lion Boys kini dilimpahkan kepada mereka. Liam hanya membantu mereka meretas beberapa sistem komputer kelompok lainnya yang juga merupakan mafia-mafia yang telah menjadi musuh Black Lion.


Arthur menoleh, menatap kedua anak buah yang memang menjadi perantara Liam dan yang lainnya. "Bagaimana? Apa Lim sudah mendapatkan informasi yang ku inginkan?"


"Sudah Bos Ar, ini salinan data yang kau inginkan." Dan salah satunya menyodorkan beberapa lembar kertas yang terbungkus oleh map cokelat.


Arthur beranjak berdiri, meraih map itu lalu membukanya dengan tidak sabar, bahkan terkesan merobek map cokelat tersebut. Matanya membaca dengan seksama siapa saja yang ia curigai menyerang Elie. Sudah pasti mereka sengaja mengibarkan bendera perang.


"Loz Zetas?" Dahi Arthur nampak berkerut disertai kedua alis yang menyatu. Nama kelompok Loz Zetas sangat tidak asing baginya.


"Loz Zetas yang diketuai oleh Pablo Osvaldo tidak bisa lepas dari wanita bos. Hidupnya tidak jauh dari sekss dan alkohol, seperti yang dikatakan oleh Bos Lim, dia menginginkan wilayah Perbatasan Skotlandia."


"Faccking!" Arthur melemparkan kertas tersebut ke sembarang arah. Wajahnya yang sempat melunak kini kembali mengetat, hingga urat-urat pada lehernya nampak menonjol. "Jadi Loz Zetas yang menyerang Elie, heh?" tanyanya kemudian dengan tatapan nyalang.


"Benar Bos Ar." Mereka mengangguk serempak.


"Keparat! Mereka ingin bermain-main dengan Black Lion." Arthur mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah yang tertahan yang sejujurnya sudah berada di puncak kepala.


"Ar, kita sudah tau musuh yang menyerang Nona Elie. Apa sebaiknya kita membalasnya dengan menyerang markas mereka?" Pernyataan Darren membuat Arthur menolehkan kepala ke arahnya.


"Batalkan rapat hari ini Der dan atur kembali jadwalnya. Kita akan bersiap menyerang mereka!" ujar Arthur penuh perintah. Seharusnya dua jam yang akan datang mereka akan menghadiri rapat. Akan tetapi mencari keberadaan Elie dan membalas serangan Loz Zetas jauh lebih penting. Perusahaan untuk sementara bisa di handle oleh Sekertaris Gabriela dan CEO Bastian.


***


Sementara yang tengah dicemaskan oleh kedua pria tampan yang tidak lain ialah Arthur berserta Darren, hingga membuat Arthur murka dan menghajar para anak buah. Elie tengah dilatih kemampuannya oleh sang kekasih pujaan. Ia begitu serius menangkal serangan Mikel, meskipun pria itu tidak bersungguh-sungguh menyerang wanitanya. Sebab ia tidak tega hati melukai wajah ataupun tubuh putih mulus sang wanitanya. Padahal sebelumnya Mikel begitu semangat ingin melatih Elie, mengasah kemampuan wanitanya itu. Namun kini ia yang menjadi tidak tega hati melukai wanitanya itu seujung kuku pun.


Mikel merunduk ketika serangan Elie terarah pada kepalanya dan Elie melakukan hal yang sama ketika tangan Mikel tertuju kepada wajahnya. Napas mereka terdengar saling memburu, peluh keringat sudah membasahi wajah Elie, namun dalam pandangan Mikel, wanita itu nampak sangat seksi dengan wajah yang dipenuhi keringat. Sungguh ia tidak tahan untuk tidak mendekap wanitanya sehingga ia segera merengkuh pinggul Elie dan mendekapnya.


"Mike...." Elie terpekik. Ia yang tengah bersungguh-sungguh berlatih tentu saja berusaha memberontak. "Apa yang kau lakukan Mike? Kau sedang melatihku, kenapa memelukku seperti ini?" Elie berusaha melepaskan tangan Mikel dari pinggulnya, meskipun kesulitan lantaran kedua tangannya menggunakan sarung yang tinju.


Mikel menikmati wajah kesal Elie, karena ia menghentikan aktivitas mereka secara tiba-tiba. Bibirnya hanya terkekeh dengan menahan gemas. "Kau terlalu menggemaskan Sweetheart," sahutnya dengan kekehan yang semakin mengembang.


"Astaga, kau ini." Elie menatap jengah, selalu saja Mikel mencari kesempatan untuk memeluknya seperti ini. "Lepaskan aku. Aku berkeringat, Mike."


"Tidak apa-apa. Kau terlihat sangat seksi." Mikel menyunggingkan senyum penuh arti.


"Kau ini..." Namun Elie tidak ingin menanggapi serius perkataan Mikel. "Sudah, lepaskan aku." Masih memberontak melepaskan lilitan tangan Mikel.


"Tidak akan sebelum kau menciumku." Mikel tersenyum tipis.


Mata Elie membulat sempurna. Ada saja alasan pria itu selalu ingin mencari kesempatan.


"Tidak, kau ini selalu saja seperti itu!" seru Elie menolak. Ia menangkap tatapan Mikel yang penuh mendamba itu.


"Seperti itu bagaimana? Aku hanya menciummu saja. Aku tidak tertarik dengan wanita lain." Dan Mikel semakin merapatkan tubuh mereka. Selama ini ia hanya pernah mencium satu wanita, yaitu Elie.


"Mike....." Elie semakin risih. Entahlah, desiran hebat ketika bersentuhan dengan Mikel kembali dirasakan.


"Apa Sweetheart?" Mikel menyahut dengan senyuman. "Cepat lakukan. Aku sudah tidak sabar." Dan menuntut Elie agar segera memberikan ciuman kepadanya.


"A-aku...." Wajah Elie merona, entah kenapa ia menjadi pemalu seperti itu.


Mikel yang sudah tidak sabar, menyatukan bibirnya dengan bibir Elie. Sehingga membuat mata Elie kembali membulat penuh ketika Mikel menyambar bibirnya. Ingin Elie mendorong Mikel yang tengah menyesap dan menikmati bibirnya meski ia menolak dan tidak membalasnya. Namun sepertinya tubuhnya berkata lain, Elie seolah pasrah, membuka mulutnya untuk membalas ciuman Mikel.


Sialan. Dia benar-benar membuatku terbuai.


To be continue


Babang Arthur



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...