The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bonus Chapter (Tersenyum Nakal)



Meskipun malam kian larut, tidak menjadi penghalang mereka menikmati pesta. Terlebih pertaruhan semakin sengit karena diantara para pemuda tampan itu tidak ada yang ingin kalah maupun mengalah. Toleransi mereka terhadap alkohol tidak perlu diragukan lagi.


Sedangkan Arthur dan Mike tidak mengikuti permainan kekanak-kanakan tersebut. Lantaran mereka sudah mengurangi minum minuman beralkohol demi kesehatan jangka panjang. Kedua pria gagah itu ingin hidup lebih lama demi dapat melihat anak-anak mereka tumbuh dengan baik. Darren serta Nathan pun hanya minum beberapa gelas saja karena mereka tidak ingin berakhir mabuk, terlebih Darren harus menjaga Veronica yang tengah hamil muda.


Dentingan suara gelas kembali terdengar kala Lion Boys serta Dragon boys saling membenturkan gelas mereka masing-masing, tanda bersulang.


"Arrghh sial, aku melihat banyak kupu-kupu berterbangan disini. Club ini benar-benar payah." Sepertinya Elden sudah benar-benar mabuk. Sedari tadi pemuda itu selalu meracaukan kalimat yang tidak jelas. Padahal ia yang mengusulkan pertaruhan, tetapi ia sendiri sudah mabuk berat.


"Heh, bodoh!" Liam menepuk kepala Elden. Kedua matanya terlihat sayu karena nyaris kehilangan kesadaran. "Tidak ada kupu-kupu disini. Yang ada hanya ada peri. Kau lihat El, yang menari di bawah sana adalah peri yang sangat seksi. Mereka akan menjadi kekasihku." Tatapan mata Liam terarah pada sekumpulan wanita-wanita seksi yang menari di lantai dansa.


Gavin dan Austin melemparkan kekehan saat mendengar percakapan kedua saudaranya. Sebelumnya mereka begitu semangat akan memenangkan pertaruhan, tetapi lihatlah keduanya justru lebih dulu tumbang usai meracau dan menjatuhkan kepala mereka di atas meja. Devano, pria itu rupanya juga menyusul Liam dan Elden. Sehingga saat ini Lions Boys hanya tersisa Gavin dan Austin saja yang bertahan. Sedangkan Dragon Boys masih mampu menjaga kesadaran mereka, terutama Jacob. Pria itu memang peminum yang handal dan tidak mudah mabuk.


"Kita jangan sampai kalah, As. Pastikan rolls royce dan ferrari 458 Italy spider milik Jacob menjadi milik kita." Gavin yang tepat berada disisi Austin, menepuk-nepuk bahu teman sekaligus saudaranya yang baru saja menikahi gadis pujaan hatinya. Meski begitu, Gavin tidak menyimpan rasa sakit maupun dendam.


Austin terkekeh saja. Sadari tadi ia tidak berniat untuk mengikuti taruhan tersebut. Tetapi Jacob, pria menyebalkan itu, yang sialnya adalah kakak iparnya mengancam akan mengganggu dirinya sepanjang malam. Licik sekali pria itu ingin mengganggu malam pertamanya. Dan Austin tentu tidak akan membiarkan Jacob mengganggu. Jika perlu, ia harus mengurung Jacob di dalam kamar hotel.


"Cheers...." Kembali Jacob bersulang, namun hanya dengan Beryl. Karena Albern dan Maxwell sudah lebih dulu tumbang.


Melihat satu persatu di antara mereka sudah mulai mabuk dan bahkan tidak sadarkan diri, membuat Aiden, Bene dan Dean meringis menyaksikan pertaruhan tersebut. Sialnya mereka tidak diperbolehkan untuk bergabung, padahal usia mereka sudah memasuki usia 23 tahun. (Note : Aiden putra Roy adik Albern. Bene putra Jeff adik Beryl. Dean putra Jack adik Darren. Maxwell putra Anthony).


Gavin dan Austin melakukan hal yang sama, bersulang dan menegak minuman mereka. Kedua mata Gavin mulai berkunang-kunang.


"Damn!!" umpatnya. Namun Gavin tidak ingin kalah dari Jacob dan Beryl. Berbeda dengan Austin yang masih sadar penuh, padahal ia sudah minum cukup banyak.


"Dengar As, kau tidak akan bisa mengalahkanku." Jacob menyombongkan diri. Ia sangat yakin jika Austin tidak akan bisa mengalahkannya dalam urusan alkohol. Jika perihal kecerdasan, ia akui Austin jauh berada diatasnya. Bahkan pria yang sudah menjadi adik iparnya itu berhasil mengakuisisi dua perusahaan berbeda negara di tahun yang sama.


Austin menarik sudut bibirnya. Ia malas menanggapi Jacob. Biasanya ia akan menimpali setiap perkataan Jacob, akan tetapi untuk kali ini ia akan membiarkannya saja. Sebab dirinya memiliki rencana sendiri.


Prang


Tiba-tiba saja gelas terjatuh di bawah meja. Meski tidak hancur berkeping-keping, tetapi cukup menyita perhatian, lantaran pelakunya adalah Austin. Kepala pria itu terantuk-antuk meja.


"Astaga As, kau sudah mabuk?!" seru Gavin terheran. Pasalnya yang mereka ketahui bahwa Austin seperti Jacob, tidak akan mudah mabuk. Tetapi saat ini Austin sudah tumbang. Meski heran, Gavin tidak terlalu memusingkannya, ia melanjutkan meneguk gelas yang sudah kembali terisi penuh. Lion boys hanya ia seorang yang masih bertahan dan bahkan masih cukup menjaga kesadaran, meski sebenarnya kepalanya sudah mulai terasa berat.


Jacob terkekeh puas saat mendapati Austin sudah mulai tidak sadarkan diri. See? Ia tidak akan mudah dikalahkan, meski mereka bisa dikatakan seimbang.


Dan Beryl terlihat sudah tidak kuat meneguk minuman selanjutnya, bahkan sudah menjatuhkan kepalanya di atas meja. Lagipula siapa yang akan bertahan setelah minum dua botol Billionaire Vodka. Minuman yang berasal dari Rusia, merupakan minuman beralkohol termahal di dunia. Dibuat khusus untuk para milyarder dan satu botol harus merogoh kocek setidaknya 50 milyar. Namun bagi mereka tidak masalah mengeluarkan uang milyaran, sebab uang mereka selalu kembali dan bahkan lebih dari pengeluaran.


Tak lama setelahnya, Gavin pun menyerah. Kedua matanya sudah tak tahan lagi untuk tetap terjaga, hingga pada akhirnya pria itu pun tumbang. Dan artinya yang bertahan hanya Jacob, meski pria itu pun nyaris kehilangan kesadaran.


Dimeja yang lain, sedari tadi Licia mencemaskan Austin. Ia tahu benar jika kakaknya itu tidak akan dikalahkan dengan mudah, sehingga yang ia cemaskan terjadi. Austin, pria yang sudah berstatus suaminya itu terlihat tidak berdaya. Berbeda dengan Jacob yang masih mempertahankan kesadarannya.


"Kak Helen.. Kak Elie.. Aku akan melihat As dan membawanya ke kamar hotel," ucap Licia pada kedua wanita yang sudah resmi menjadi kakaknya itu. Helena dan Elie kompak mengangguk.


Sedangkan Arthur yang juga mendengar, segera mengarahkan pandangan pada sosok adik iparnya, kemudian berkata, "Mereka akan membantumu membawa As ke kamar hotel." Dan menggerakkan ekor matanya pada beberapa anak buah yang sejak mereka tiba sudah berada disana.


Licia mengikuti lirikan mata Arthur dan kemudian mengangguk. Tentu ia tidak akan sanggup memapah tubuh Austin seorang diri. Beranjak dari tempat duduknya, gadis itu segera menghampiri Austin.


"Lihatlah Licia, suamimu kalah dariku." Jacob terkekeh-kekeh, mentertawakan kekalahan Austin. Nampak jelas ia sudah mabuk, tetapi masih dapat mengenali sekitarnya.


Dengan bibir mengerucut kesal, Licia mencoba mengangkat lengan Austin. Dan melihat hal itu, dua anak buah segera berjalan mendekati. Dengan sigap mengambil alih Austin dari Licia. Kini Austin sudah dipapah oleh dua anak buah.


Licia menatap keduanya. "Tolong kalian bawa As menuju kamar president suite yang berada dilantai 7."


Kedua anak buah mengangguk serempak. Mereka segera melangkahkan kaki usai mempersilahkan Nona Muda mereka berjalan terlebih dahulu.


Ketika Licia dan Austin sudah berlalu pergi dari bar. Arthur dan Mike memerintahkan beberapa anak buah lainnya untuk membantu para adik-adik mereka yang mabuk berat. Dengan sigap, beberapa anak buah memapah mereka.


"Kita juga harus kembali ke kamar. Aku khawatir Lyo dan Ace mencari kita." Helena berkata pada Arthur. Suaminya itu mengangguk setuju. Meski putra putri mereka dijaga oleh Mommy Elleana dan Daddy Xavier, tidak menutup kemungkinan jika keduanya akan mencari keberadaan kedua orang tuanya yang tidak berada ditempat.


Kemudian Arthur beranjak berdiri dan segera membantu sang istri bangkit dari tempat duduknya. Sebelum berlalu, mereka saling berpamitan. Karena Elie serta Mike pun tidak ingin baby twins mereka mencari keberadaan orang tuanya.


"Kita juga harus kembali. Jo pasti akan membuat Mommy Millie dan Daddy Jack panik." Veronica pun teringat pada Baby Jo. Jika sudah mencari keberadaan dirinya, maka Baby Jo akan terus menangis.


Darren mengangguk. Ia pun tahu bagaimana putra sulung mereka itu selalu tiba-tiba menangis ditengah tidur pulasnya. Setelahnya, mereka menyusul keluar dari bar, disusul oleh Nathan dan juga Meisha. Meski kedua pasangan itu belum dikaruniai anak, keduanya juga harus kembali lantaran sudah terlalu lelah. Dan malam ini Nathan akan menggempur istrinya kembali, berharap kali ini benihnya akan tumbuh di dalam rahim sang istri.


***


Licia dan dua anak buah yang memapah tubuh Austin baru saja keluar dari lift dan mereka melangkah menyusuri lorong yang hanya terdapat tiga kamar president suite. Austin berdehem pelan, sepertinya ia tidak perlu melanjutkan sandiwaranya. Kedua mata yang terbuka secara tiba-tiba itu sontak mengejutkan kedua anak buah.


"Tuan muda sudah sadar?" tanya salah satunya.


"Hem..." Austin menyahuti dengan deheman. "Lepaskan tangan kalian berdua," bisiknya kemudian.


Karena Tuan Muda mereka sudah berkata demikian, sehingga mereka segera menjauhkan tangan mereka dari tubuh Austin.


"Kalian pergilah. Aku baik-baik saja," perintahnya kembali berbisik.


Semula mereka ragu karena cemas jika tuan muda mereka kembali tumbang. Tetapi menerima sorot tajam tuan muda mereka, sehingga membuat mereka mau tidak mau menurut saja. Tanpa kembali bersuara, keduanya segera melangkah pergi.


Selepas kepergian anak buah, Austin menarik satu sudut bibirnya. Ia memperhatikan Licia yang melangkah semakin menjauh.


"Apa dia tidak menyadari jika tidak ada orang lain dibelakangnya?" gumamnya menggeleng kepala. Masih saja gadis itu ceroboh. Dengan melangkah lebar, Austin menyusul langkah sang istri.


Entahlah, tiba-tiba saja Licia merasa aneh kala tidak mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Begitu memutar arah tubuhnya, ia terkesiap lantaran terkejut dan nyaris terjatuh jika saja Austin tidak menjangkau inggulnya.


Bagaimana gadis itu tidak terkejut saat mendapati Austin sadar dari mabuknya. Padahal jelas-jelas ia melihat suaminya itu sangat mabuk, sehingga harus dipapah oleh anak buah. Wait? Dimana mereka? Dimana dua anak buah yang sebelumnya memapah tubuh Austin? Dan situasi macam apa ini? Wajah Austin begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan pria yang berstatus suaminya itu tersenyum. Lebih tepatnya tersenyum nakal.


See you next bonus chapter


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...