
Mikel menyadari jika pelukannya terlalu erat sehingga membuat Elie berusaha menggeliat. Lantas Mikel segera melepaskan pelukannya, masih dengan tatapan dalam dan penuh cinta. Tidak ada untaian kalimat yang mampu menguraikan kebahagiaannya saat ini. Namun disisi lain, ia belum bisa merasa tenang, sebab nasib Meisha beserta Nathan masih berada di tangan Pablo.
"Sweetheart maafkan aku, aku harus pergi." Tatapan Mikel mendadak sendu. Tentu kebahagiaannya tidak sempurna jika Meisha dan Nathan tidak berada di sisinya.
"Kemana?" Rasanya Elie tidak rela jika Mikel pergi. Ia takut jika pria itu akan meninggalkannya kembali seperti sebelumnya.
"Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Aku tidak bisa menjelaskannya padamu, tapi aku berjanji akan bercerita padamu secepatnya." Mikel sudah bertekad jika dirinya akan terbuka dengan Elie mengenai keadaan Meisha. Ia sudah bisa membayangkan reaksi wanitanya itu ketika mengetahui keadaan sahabat masa kecilnya yang tidak seperti dulu lagi. Siapapun yang berada di sekitar Meisha, harus memiliki kesabaran lebih untuk menghadapi adiknya itu. Seperti Nathan yang selalu direpotkan ketika Meisha kembali histeris. Dan hal itu semakin membuat Mikel gelisah, bagaimana jika adiknya itu histeris dan Pablo akan melukainya atau terparahnya melenyapkan adiknya? Pikiran Mikel semakin gusar, sehingga nampak jelas pada penglihatan Elie.
"Maaf Sweetheart, aku harus pergi sekarang juga." Mikel mengusap lembut wajah Elie, sebelum kemudian ia segera turun dari ranjang, diikuti oleh Elie. Wanita itu tidak mungkin mencegah, terlebih saat melihat wajah Mikel yang begitu gelisah dan nampak tegang.
Mikel hendak mengayunkan langkah menuju pintu, namun langkahnya terurungkan ketika mendengar suara langkah kaki, hingga kemudian disusul dengan suara ketukan pintu.
"Nona, saya sudah membelikan pesanan Nona. Maaf jika saya lancang masuk, karena sudah satu jam saya menunggu Nona di luar, tetapi Nona tidak terlihat. Saya khawatir terjadi sesuatu dengan Nona di dalam." Ya, ia dan rekannya sudah membelikan pesanan Nona mereka, bahkan sudah sejak satu jam yang lalu. Tidak kunjung melihat Nona mereka keluar dari Villa membuat salah satu dari mereka akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam Villa, memastikan keadaan Nona mereka.
Elie yang panik mendengar suara anak buah sang kakak sudah berada di balik pintu, segera menarik Mikel menjauh dari pintu tersebut.
"Iya tunggu sebentar," ucapnya sedikit berteriak tanpa mengalihkan pandangan dari Mikel. "Kau tunggu disini, jangan keluar melalui pintu," katanya berbisik.
"Baiklah Sweetheart." Mikel berbalik berbisik, ia terkekeh kecil melihat wajah wanitanya yang mendadak panik. Padahal jika keberadaannya diketahui oleh mereka, tidak masalah baginya. Hanya saja ia tidak ingin menimbulkan masalah untuk Elie. Saat ini ia belum mendapatkan lampu hijau dari Arthur, belum tentu jika jati dirinya sudah terungkap, Arthur akan menerimanya kembali. Terlebih jika pria itu mengetahui jika kelompok mereka saling memusuhi dan bahkan ia nyaris melenyapkan adiknya.
Mikel menyandarkan punggungnya pada kusen jendela dengan menyematkan senyuman tipis ketika menyaksikan wanitanya menyembulkan kepala di balik pintu. Ia hanya mendengar ucapan terima kasih yang terucap dari bibir wanitanya dan meminta anak buah tersebut untuk kembali ke tempatnya.
Ketika Elie sudah menutup pintu kembali dan berbalik, ia tidak menemukan Mikel disana. Mata Elie tertuju pada jendela yang terbuka lebar, ia menebak jika Mikel pergi melalui jendela itu. Elie berlari kecil menuju jendela, ia melihat ke bawah, tetapi tidak menemukan Mikel di bawah sana. Tatapan Elie menjadi sendu, entah kenapa Mike yang ia kenal sebelas tahun lalu sungguh berbeda dengan Mike saat ini. Pria itu berubah menjadi pria yang pemberani, padahal sedari dulu pria itu paling takut dengan ketinggian.
"Mike, dimana pun kau berada, kau harus baik-baik saja." Hanya itu yang bisa Elie lakukan, mendoakan Mikel dari kejauhan.
Kehidupan pria itu sudah berubah total, tentu ia harus memahami keadaan Mikel yang turut berubah dari tahun ke tahun. Terlebih saat ini Mike-nya penuh dengan misteri, meski pria itu sudah menceritakan akan masa lalunya. Akan tetapi Elie menyadari jika masih banyak yang disembunyikan Mikel padanya. Namun satu hal yang ia yakini tidak pernah berubah dari dalam diri pria itu, yaitu cinta Mike yang selalu tumbuh dan bertahan. Ya, Elie bisa melihat dengan jelas pancaran cinta Mike untuk dirinya.
***
Keesokan paginya, Elie sudah harus kembali ke London. Berlama-lama di Birmingham hanya menambah kebosanannya saja. Sebab tidak ada yang bisa ia lakukan di Villa selain berdiam diri, makan pun harus sendiri dengan berbagai makanan yang berlimpah di meja makan. Ia merindukan setiap momen bersama kedua orang tuanya setiap sarapan, makan siang maupun makan malam bersama keluarga tercintanya itu.
Elie beserta beberapa anak buah sang kakak melakukan perjalanan selama dua jam. Semula tidak merasakan keanehan, anak buah yang mengemudikan mobil pun nampak tenang melajukan kecepatan kendaraan mobil yang ditumpangi oleh Nona Muda yang harus dipastikan keselamatannya. Namun tiba-tiba saja anak buah tersebut menginjak pedal rem secara mendadak ketika melihat sebuah kayu besar sudah berada di depan mobil.
"Apa yang terjadi?" tanya Elie. Tubuhnya nyaris terguncang menghantam kursi kemudi jika ia tidak menahan tubuhnya itu.
"Maaf Nona, ada kayu besar yang menghalangi jalan," ucapnya menoleh. Namun sesaat menatap rekan di sampingnya itu, keduanya berbicara melalui sorot mata masing-masing.
Elie mengangkat wajahnya sekedar untuk melihat kayu besar yang melintang di tengah jalan itu. Dan disaat yang bersamaan, anak buah tersebut menginjak pedal gas dan segera memutar arah. Dahi Elie berkerut dalam ketika tiba-tiba saja anak buah itu segera memutar arah dan berlalu dengan kecepatan tinggi.
"Nona pegangan yang kuat, biar kami yang menghadapi mereka." Rekan anak buah yang duduk di kursi bersisian dengan kemudi mencoba untuk menenangkan Nona mereka.
Benar bukan jika saat ini mereka tengah diserang. Elie sudah tidak terkejut lagi, sebab hal seperti ini bukan pertama kali terjadi padanya. Elie duduk dengan tenang meskipun berulang kali tubuhnya terguncang dan nyaris terhempas ketika anak buahnya itu menghindari serangan peluru yang bertubi-tubi dihantamkan kepada mobil mereka.
Duaarrr!
Dari arah berlawanan, sebuah bom meledak tepat di hadapan mobil yang di tumpangi Elie. Sontak saja membuat mobil mewah tersebut kehilangan keseimbangan dan menabrak pembatas jalan.
"Nona, baik-baik saja?" tanya keduanya serempak. Beruntung mereka baik-baik saja dan dapat menghindari serangan bom yang muncul secara tiba-tiba.
"Aku baik-baik saja." Meskipun terkejut, Elie bisa memahami situasinya. Tidak mungkin ia menyalahkan kedua anak buah itu.
"Kami sudah mengirim sinyal tanda bahaya. Nona di dalam mobil saja, biar kami yang menghadapi mereka."
Setelah mendapatkan anggukan dari Nona mereka, keduanya segera keluar dari mobil untuk menghadapi beberapa pria yang juga terlihat turun dari mobil. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang menggunakan motor.
Keduanya tidak gentar meski kalah jumlah, mereka yakin secepatnya para anak buah Black Lion akan berdatangan, sebab lokasi rekan-rekan mereka tidak jauh dari posisi mereka.
Elie mengamati kedua anak buah Back Lion, ia berharap-harap cemas, sebab lawan mereka berjumlah puluhan. Namun kecemasannya itu berangsur sirna ketika para pasukan anak buah Black Lion menembaki secara brutal beberapa pria yang berani-beraninya menodongkan senjata ke arah kedua rekan mereka.
Selama Black Lion terlibat baku tembak dengan musuh- musuh yang menyerangnya itu, Elie menyadari jika ada seseorang yang mendekat ke arah mobilnya. Tanpa menimbulkan suara, wanita itu berusaha keluar dan bersembunyi dengan mengitari mobil untuk menghindari seseorang itu. Melihat langkah itu semakin menjauh, Elie menghembuskan napas penuh kelegaan di udara. Namun tanpa ia sadari seseorang membekap mulutnya dari arah belakang. Sepasang mata Elie membeliak, ia berusaha meloloskan diri namun justru semakin terseret menjauh dari mobilnya.
"Diamlah, ini aku."
To be continue
Elie
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...