The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Will You Marry Me?



Dari dalam mobil mewah, seorang pria tampan mengamati wanita yang selalu di klaim sebagai miliknya. Sejak tadi menyaksikan tawa canda wanitanya dengan pemuda lain yang membuatnya tanpa sadar mencengkram kuat stir kemudi. Kekesalannya itu memuncak ketika wanitanya itu dengan ringan mengusap kepala pemuda itu dengan begitu sayang.


"Kau tidak mungkin berpaling dariku dan memilih pemuda tanggung itu, Sweetheart. Jelas-jelas aku lebih tampan dan gagah darinya. Lihatlah, dia hanya anak baru beranjak dewasa dan berusaha mendekatimu." Tiada hentinya Mike menggerutu dan membandingkan dirinya dengan pemuda yang ia akui ketampanannya, tetapi tetap saja jauh lebih tampan dirinya. "Lihat saja Sweetheart, sebentar lagi kau tidak akan bisa tertawa seperti itu dengan pria manapun."


Mike segera melepaskan seat belt yang membelit dada serta pinggangnya. Lalu hendak turun dari mobil, akan tetapi suara dering ponsel mengurungkan niatnya itu. Buru-buru Mike menyambar ponselnya yang berada di atas kursi samping, ia sedari tadi memang tengah menunggu telepon dari seseorang.


"Bagaimana Nath? Apa semuanya sudah siap?" Ya, Nathan. Yang menghubungi Mike adalah Nathan. Meskipun ia tengah berada di Kediaman Romanov, tetapi ia selalu memantau segalanya melalui anak buah mereka.


"Sudah Tuan, sebentar lagi Tuan sudah bisa datang."


"Kalau begitu kau harus berada disana sebelum aku sampai." Suara Mike terdengar lebih ceria. Entah apa yang direncanakan. Hanya ia, Nathan dan Tuhan yang mengetahui rencana mereka.


"Baiklah Tuan. Lagi pula Nona Meisha sudah terlihat merasa nyaman dengan orang-orang di sekitarnya dan sepertinya tidak masalah jika saya pergi sebentar."


"Hm, jika Mei menahanmu, kau harus bisa membuat alasan dan segera melarikan diri. Aku tidak mau tau, kau harus sampai tepat waktu!"


Terdengar helaan napas Nathan di seberang sana. "Baiklah Tuan. Saya usahakan datang tepat waktu." Tuannya tidak akan tahu jika Nathan menahan rasa gemas, pasalnya posisi dirinya saat ini lebih jauh dari lokasi, ketimbang lokasi tuannya. Sudah pasti ia akan sedikit terlambat, tetapi ia akan berusaha untuk tiba tepat waktu.


"Hm...." Setelah menjawab dengan deheman. Mike memutuskan sambungan telepon. Ia melemparkan ponsel begitu saja di kursi belakang, lalu bergegas turun dari mobil.


Langkahnya yang tegas itu cukup mewakilkan rasa kecemburuannya. Tatapan serta wajahnya memancarkan permusuhan kepada siapapun yang mencoba mendekati wanitanya. Hingga beberapa langkah lagi ia akan mencapai tempat duduk wanita yang belakangan ini berani mengabaikan telepon darinya.


"Ehem, apa seperti ini yang dilakukan wanitaku di belakangku?" Sepasang mata Mike menatap tajam, tetapi mencoba memasang wajah biasa saja, padahal di dalam hati ingin sekali ia melayangkan tinju kepada pemuda tanggung itu.


Elie dan pemuda tampan itu menoleh dan mendongak. Kedua mata Elie membeliak sempurna mendapati kekasihnya yang meninggalkannya itu sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan yang mengerikan. Berbeda dengan pemuda itu yang tidak mengenal Mike, memasang raut wajah bingung.


"Sorry, apa kau berbicara dengan kekasihku?" tanya pemuda itu sembari meneliti penampilan Mike.


What?


Tidak hanya Mike yang terkejut, bahkan Elie pun tercengang dengan ucapan pemuda yang sedari tadi bersamanya.


"Noah, jangan bicara sembarangan!" Elie menegur pria yang ternyata bernama Noah. "Kau tidak mengenalnya, sebaiknya diam saja!" Demi Tuhan, Elie harus segera membawa Mike pergi dari cafe sebelum emosi pria itu meledak. Ia bahkan sudah melihat urat-urat di tangan Mike yang menonjol karena mengepal dengan sangat kuat.


Elie segera beranjak berdiri, lalu memegang lengan Mike. "Mike, kita pergi dari sini. Jangan dengarkan dia. Dia hanya bercanda saja."


"Kau pikir aku akan melepaskannya setelah dia mengakuimu sebagai kekasihnya?" Mike menyoroti pemuda itu dengan tajam, bahkan sudah siap untuk maju melangkah, untuk mencengkram leher pemuda itu.


"Mike, hentikan!" Elie segera menahan tangan Mike. Lalu tatapannya beralih kepada Noah yang tersenyum, alih-alih merasa terancam. "Noah, sebaiknya kau saja yang pergi. Aku akan mengurusnya."


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi jika kau tidak bisa mengurusnya segera hubungi aku." Dan Noah mengerlingkan satu matanya, menggoda Elie. Sehingga hal itu semakin menyulutkan emosi Mike.


"Sialan! Kau ingin mati, heh?!" hardik Mike. Namun suaranya terbuang percuma karena Noah sudah berlalu dari sana dengan santai, meskipun mereka sudah menjadi pusat perhatian sekitar. Beruntung hanya terdapat beberapa pengunjung saja disana.


"Mike sudah. Dia memang seperti itu. Jangan dengarkan dia." Elie berusaha menenangkan.


Mendengar perkataan Elie, tatapan Mike yang menghunus tajam punggung Noah yang semakin menjauh, beralih kepada Elie. "Apa kau sangat mengenalnya? Kenapa kau tau jika dia seperti itu?" Terselip nada tidak suka, ia menuntut penjelasan kepada wanitanya. "Katakan, sejak kapan kau mengenalnya?!" Dan semakin mendesak Elie untuk segera menjawab pertanyaan.


"Aku memang sangat mengenalnya tapi kau tidak perlu cemburu. Dia hanya-" Tiba-tiba Elie menghentikan kalimatnya. Sadar jika ia dan Mike masih menjadi pusat perhatian. "Sebaiknya kita pergi dari sini." Lalu tanpa menunggu Mike mengiyakan, Elie mendorong tubuh kekasihnya itu untuk segera pergi dari sana. Meskipun Elie harus mengerahkan tenaganya mendorong tubuh Mike yang tentu saja tidak mudah.


"Dengar, Sweetheart....." Mike menghentikan langkah dan memutar arah tubuhnya ketika mereka sudah berada di sisi mobil. "Aku tidak suka kau bersama dengan pria lain dan mengabaikan telepon dariku."


Elie menghela napas panjang, lalu bersedekap. "Bukankah kau sendiri yang membiarkanku berkencan dengan pria lain? Lalu kenapa kau marah?!" Kini raut kekesalan menghiasi wajah cantik Elie.


"Benar, tapi aku tidak bersungguh-sungguh mengatakannya." Mike menjelaskan yang sebenarnya. Bahkan ia pun meruntuki perkataan bodohnya saat itu. "Dan apa kau ingat yang kukatakan bahwa aku akan membunuh siapapun yang mendekatimu?!" Mike kemudian mencengkram kedua bahu Elie. "Kau hanya milikku Sweetheart, hanya milikku. Tidak akan kubiarkan siapapun merebutmu dariku!"


Tubuh Elie terguncang ketika berulang kali Mike. mengguncang bahunya. Bibirnya mengatup rapat, ia hanya bisa menatap wajah Mike tanpa mampu bersuara apapun. bahkan ia bisa melihat wajah kekasihnya yang diliputi ketakutan. Apa begitu takutnya pria itu kehilangan dirinya?


"Mike, aku...." Perkataan Elie terjeda lantaran Mike memeluknya.


"Sudahlah, kali ini aku tidak akan mempersalahkannya. Tapi jika lain kali aku melihatmu bersama dengan pria yang lain lagi. Jangan salahkan aku jika membunuhnya." Pelukannya semakin di pererat, menunjukan jika Elie hanya miliknya.


Elie tidak memberontak, membiarkan Mike memeluknya dan menumpahkan kegundahan pria itu. Ia sadar sejak kepergian kekasihnya, ia memang mengabaikan teleponnya. Tetapi ia tidak berniat untuk berpaling dari Mike seperti yang pria itu cemaskan.


Berpelukan selama beberapa saat, Mike segera melepaskan pelukan mereka. "Ikut denganku." Sembari menggandeng Elie untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Kau akan mengetahuinya nanti."


"Tapi Mike-" Saat Elie hendak protes, bibirnya lebih dulu di bungkam oleh bibir Mike. Ciuman singkat tetapi mampu membuat Elie terpaku sejenak.


"Menurutlah, Sweetheart." Ibu jari Mike mengusap lembut sudut bibir Elie yang basah.


Elie mengangguk, sepertinya ia tidak akan pernah bisa menang melawan Mike. Dan wanita itu segera masuk ke dalam mobil ketika Mike membukakan pintu untuknya.


Di sepanjang perjalanan, Elie sungguh dibuat penasaran dengan jalanan yang berada di sekitar mereka, namun seperti yang dikatakan kekasihnya. Jika ia hanya harus menurut, hingga mobil mereka sudah tiba di tempat tujuan.


Wajahnya semakin tampak bingung memperhatikan taman dan satu bangunan yang berdiri kokoh dengan hamparan tanaman hijau. Bahkan ia terkejut mendapati Mike sudah membukakan pintu untuknya, entah sejak kapan Mike turun dari mobil. Kenapa dirinya mendadak kehilangan fokus? pikirnya.


"Mike...." Elie menuntut penjelasan pada saat sudah berada disisi mobil.


Alih-alih memberitahu, Mike justru menikmati kebingungan wanitanya dan hanya mengulas senyum. Tangannya kemudian terulur mengusap sulur rambut Elie lalu menyelipkan di belakang telinga wanitanya.


"Sweetheart, hanya kau wanita yang kuinginkan untuk menemani hari-hariku. Aku ingin wajahmu yang pertama kali kulihat ketika aku bangun tidur." Setelah mengucapkan kalimat yang mampu membuat Elie melayang, Mike menyambar bibir Elie. Dengan lembut menyesap bibir kenyal yang membuatnya begitu candu. Elie pun tidak menolak, ia membalas ciuman Mike yang semakin lama semakin menuntut. Keduanya saling melummat, menyesap dan memainkan lidah, hingga tubuh mereka mendadak panas. Sebelum menginginkan lebih, Mike segera mengakhiri ciuman mereka. Napas keduanya memburu dan saling meraup udara bebas.


Tanpa keduanya sadari, sejak tadi Nathan sudah berada di samping mereka. Namun memalingkan wajahnya. Menyelamatkan mata sucinya agar terhindar dari hidangan panas.


"Tuan... Nona, sebaiknya kalian berdua segera berganti pakaian." Masa bodo dianggap sebagai pengganggu, Nathan harus segera menyelesaikan pekerjaannya. Lagi pula semua orang sudah menunggu di dalam.


Elie menoleh dan terlihat semburat merah di wajahnya. Menduga jika Nathan telah menyaksikan dirinya berciuman dengan Mike.


"Hm, kau pergilah ke dalam Nath. Aku dan Elie akan menyusul."


"Baik." Nathan mengangguk, sebelum kemudian berlalu masuk terlebih dulu.


Mike meraih kedua tangan Elie. Wanitanya itu benar-benar nampak kebingungan dan justru terlihat menggemaskan di matanya.


"Sweetheart, will your marry me?"


Hah?


Elie terkesiap dan benar-benar terkejut dengan lamaran dadakan Mike. Wait? Apa bisa disebut lamaran sedangkan Mike saja tidak membawa cincin.


"Mike, kau...."


"Jawab saja Yes Or No." Jujur saja Mike tidak ingin mengulur waktu. Terlebih semua sudah dipersiapkan dan mereka tengah menunggu.


"Mike, apa kau bersungguh-sungguh?" Sejujurnya Elie ingin menjawab YA, tetapi ia ingin memastikan terlebih dahulu jika Mike tidak sedang mempermainkannya.


"Lupakan saja. Itu artinya kau bersedia menikah denganku. Jika kau menolak sekali pun kita tetap akan menikah." Tanpa persetujuan dan mendengar jawaban dari Elie, Mike menarik tangan wanitanya untuk masuk ke dalam.


Meskipun kebingungan, Elie tetap mengayunkan langkah, mengikuti Mike. Namun seketika otak wanita itu mulai mencerna. Menikah? Jadi Mike bersungguh-sungguh. Tapi tunggu dulu, ia baru menyadari sekitarnya, matanya seketika membulat penuh karena saat ini kakinya sudah menapak di depan gereja. Oh God, apa Mike akan menikahinya hari ini?


To be continue


Babang Mike



Elie



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...