The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Siapa Kalian?



Nathan mengantarkan Dokter James hingga ke depan pintu usai memeriksa keadaan Helena. Meski tidak terjadi guncangan yang serius, Dokter James tetap menyarankan Nathan serta yang lainnya untuk selalu memantau wanita itu. Kasus seperti Helena akan sadar dengan sendirinya, sebab masih dapat mengontrol emosi. Hanya saja terkadang halusinasi selalu dapat dirasakan penderita seperti Helena dan hal itu memiliki pemicunya. Namun Dokter James tidak menemukan indikasi lain di dalam tubuh wanita itu.


"Berikan Nona Helena obat sesuai anjuran saya. Tapi pastikan tidak dibiarkan stress dan banyak pikiran. Nona Helena menjawab semua pertanyaan saya, itu artinya keadaan Nona Helena ditimbulkan dari sesuatu seperti obat-obatan atau trauma yang mendalam." Kata Dokter James menjelaskan. Dari yang ia amati ketika memperhatikan gelagat dan sikap wanita itu, Helena nampak normal seperti wanita pada umumnya. Namun wanita itu sesekali tercenung, seperti berusaha menahan emosi yang seolah melonjak di dalam diri. Sebagai Dokter Psikolog tentu gelagat seperti itu mudah ia pahami.


"Baik, saya akan melakukan sesuai yang anda katakan." Nathan menjawab disertai anggukan paham.


"Saya permisi dulu. Sampaikan salam saya untuk Tuan Mikel," ujar Dokter James berpamitan.


"Akan saya sampaikan kepada Tuan Mikel. Terima kasih banyak, Dokter."


Dokter James mengangguk, ia segera pergi dari sana dan dijaga oleh beberapa anak buah Mikel. Setidaknya mengamankan seseorang yang memegang informasi mengenai keluarganya dari incaran musuh.


Sepeninggalnya Dokter James, Nathan memanggil Jared dan Amber untuk menjaga Meisha. Sedangkan dirinya ditugaskan oleh Mikel untuk mengawasi keadaan Helena. Punggung tangan yang mengayun di udara, hendak mengetuk pintu. Tetapi Nathan dibuat terkesiap ketika pintu itu terbuka dan menampakkan Helena yang terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya.


"Ada apa, Nath?" tanya Helena mengulas senyum tipis.


"Tidak ada apa-apa, Nona. Hanya saja ingin berpesan kepada Nona jika butuh sesuatu segera memanggil saya." Nathan mengamati wajah Helena yang berbeda dari dua jam yang lalu. Obat yang diberikan oleh Dokter James sangat ampuh sehingga mampu memulihkan keadaan Nona Helena yang sempat syok dan terguncang penuh tekanan.


Helene kembali menyematkan senyuman. Di masa lalu ia tidak terlalu pedulikan keberadaan Nathan, kini ia bisa melihat kebaikan di dalam diri pria itu. "Terima kasih. Tapi sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan."


"Katakan saja Nona, saya akan mendengarkan." Nathan adalah pendengar yang baik, mungkin saja bisa membantu meringankan beban pikiran Helena, pikirnya.


"Sebelumnya terima kasih karena Mikel dan kau sudah membawaku kemari, bahkan memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanku." Kejadian beberapa jam yang lalu di Perusahaan Bonham tidak dapat dilupakan begitu saja. Helena mengakui psikisnya yang tidak baik-baik saja mendengar sebuah kenyataan yang entah benar atau tidak. Sejujurnya ia tidak ingin menelan bulat-bulat perkataan Margareth, tetapi otak dan hatinya berbanding terbalik, sehingga menimbulkan pergolakan batin. "Saat ini tubuhku sudah baik-baik saja. Jadi aku akan pergi dari sini.'


Nathan sontak terkesiap. Tidak mungkin ia membiarkan Helena pergi dari Mansion. "Tapi Nona, Tuan Mikel pasti akan marah jika Nona pergi dari sini." Setidaknya dengan membawa nama Tuannya akan mengurungkan niat Helena untuk pergi dari Mansion.


"Aku akan menghubunginya dan aku jamin Mikel tidak akan marah karena saat ini kondisiku sudah baik-baik saja." Entahlah, sejujurnya Helena pun tidak yakin jika Mikel akan mengizinkannya. Namun mau tidak mau ia harus segera kembali ke London, mengambil barang-barang miliknya di apartemen. Sebab jadwal penerbangannya berangkat lebih awal dan akan take off malam ini.


Nathan termangu, tidak ingin segera menjawab. Ia harus menghubungi Tuan Mikel terlebih dahulu. Jika memang diizinkan, maka ia pun tidak bisa menahan Nona Helena di mansion.


"Kalau begitu saya akan menghubungi Tuan." Nathan merogoh ponselnya di dalam saku celana dan mulai menghubungi Mikel. Lama menunggu nada panggilan terhubung, yang terdengar hanyalah suara operator. "Nona, sepertinya Tuan sedang berada di pesawat dan sengaja mematikan ponselnya," ujarnya memberitahu kebiasaan Tuannya jika melakukan perjalanan jauh.


Helena tercenung mendengarnya, tidak mungkin ia menunggu Mikel selama itu, bukan hanya satu atau dua jam saja tetapi selama delapan jam. Dan ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi, sebab harus segera pergi.


"Nath, kau harus membantuku mengirim pesan kepada Mikel. Katakan padanya aku sudah baik-baik saja dan harus segera kembali ke Paris untuk mengikuti kontes Paris Fashion Week." Pada akhirnya Helena memberitahukan alasannya ingin meninggalkan Mansion, agar asisten Mikel itu tidak lebih lama menahan dirinya. "Kau jangan menghalangiku, aku tidak bisa kehilangan kesempatan untuk menyaksikan rancangan Carl Valentine di atas panggung," sambungnya penuh permohonan.


Nathan tertegun sekaligus terkesiap, tidak seharusnya Helena memohon kepadanya seperti itu. "Baiklah." Dengan berat Nathan mengiyakan. Namun sebelum itu ia harus mengirim pesan terlebih dahulu, agar pada saat turun dari pesawat, tuannya dapat membaca pesan darinya.


"Aku yang akan mengantar Nona." Dan Nathan tidak akan membiarkan Helena pulang seorang diri.


"Tidak perlu. Aku bisa naik taksi." Helena menolak cepat. Ia tidak ingin semakin merepotkan Nathan.


"Saya akan tetap mengantar Nona. Jika Nona tidak mengizinkan saya untuk mengantar, maka saya juga tidak akan membiarkan Nona pergi dari Mansion." Sedikit ancaman diperlukan agar Nona Helena tidak keras kepala.


Berkacak pinggang dan menatap kesal ke arah Nathan, Helena mengutuk pria di hadapannya itu. Ternyata membujuk Nathan sama sulitnya membujuk Mikel.


"Baiklah, kau yang boleh mengantarku." Pasrah pada akhirnya. Sebab jika membujuk Nathan akan menyita waktu lebih banyak lagi.


"Baik Nona. Kalau begitu saya akan siapkan mobil lebih dulu."


"Nath?" Panggilan Helena yang tiba-tiba itu mengurungkan Nathan yang baru saja hendak melangkah. Pria itu memutar tubuhnya kembali menghadap Helena.


"Ada apa Nona?" tanyanya.


"Hem, apa adiknya Mikel berada di Mansion ini?" Suara Helena sedikit direndahkan, bahkan ekor matanya sempat melirik ke sekitar mencari keberadaan orang lain selain dirinya dan Nathan.


"Ada. Nona Meisha sedang beristirahat."


Helena mengangguk. Selama ini ia tidak pernah berjumpa secara langsung dengan Meisha, ia hanya mengetahui wajah Meisha dalam bentuk foto. Sebab Mikel tidak mengizinkannya untuk mengenal Meisha. Selain keadaan adiknya itu yang tidak bisa ditemui oleh orang lain, Mikel pun berpikir tidak perlu mempertemukan Helena dengan Meisha.


"Apa keadaannya sudah lebih baik?" tanyanya memastikan. Setidaknya ia harus mengetahui keadaan adik Mikel. Sudah lama sekali ia tidak mendengar kabar wanita itu.


"Nona Helena bisa mendoakan Nona Meisha supaya cepat pulih." Jawaban Nathan tidak membuat Helena cukup puas. Padahal ia ingin mengetahui kondisi terbaru adik dari Mikel itu, akan tetapi sepertinya Nathan enggan menjawab. "Jika Nona penasaran bisa tanyakan langsung dengan Tuan Mikel," lanjutnya. Ya, Nathan mengerti kepedulian Helena. Tetapi ia tidak memiliki hak untuk menjawabnya, sebab tidak ingin salah berucap.


"Baiklah, biar nanti aku tanyakan kepada Mikel." Helena memaklumi Nathan dan tidak memaksakan keingintahuan dirinya, mendesak Nathan yang enggan menjawab.


***


Mobil yang dikemudikan oleh Nathan dan ditumpangi oleh Helena sudah tiba di London dengan jarak tempuh selama dua jam. Nathan segera menepikan mobilnya ketika sudah tiba di depan gedung apartement yang disinggahi oleh Helena.


"Terima kasih sudah mengantarku, Nath." Helena tersenyum simpul sembari membuka pintu mobil.


Setelah diiyakan oleh Nathan, Helena bergegas masuk ke dalam apartement. Sementara Nathan masih memperhatikan punggung wanita itu hingga lenyap dari penglihatannya. Perubahan wanita itu sempat membuatnya tidak percaya, sungguh jauh berbeda dari sikap Helena yang sebelumnya. Dan jujur saja Nathan lebih menyukai sikap wanita itu saat ini.


Di dalam apartement, Helena menyusun dua koper besar yang berjajar teratur. Ia memperhatikan sekeliling apartement yang baru dibeli beberapa bulan yang lalu. Apartement miliknya itu akan sangat ia rindukan, mengingat entah kapan ia akan kembali ke London. Banyak peristiwa yang bisa ia jadikan pelajaran dalam hidupnya. Contohnya keluarga yang berubah menjadi musuh dan orang lain yang menjadikan dirinya keluarga. Mengingat nasib buruk selalu menimpanya membuat wanita itu tersenyum kecut dan meratapi seorang diri. Namun ia harus tetap tegar demi dirinya sendiri.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Helena harus segera pergi dari sana karena jadwal pesawat penerbangannya tersisa dua jam lagi. Buru-buru Helena menarik dua koper besar miliknya, namun petugas yang sudah menunggunya di depan segera mengambil alih dan membantu membawakan koper-koper tersebut.


***


Disepanjang perjalanan, Helena merasakan kegelisahan yang tidak menentu. Tidak biasanya ia begitu berat meninggalkan London. Entah apa yang membuatnya merasa demikian.


Arthur?


Helena terhenyak ketika terlintas nama serta wajah pria itu. Apa mungkin alasannya berat meninggalkan London karena pria itu? Entahlah, ia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya. Mengenal pria itu selama beberapa bulan ini cukup membuatnya paham, ternyata berbeda dari yang ia dengar dan menurutnya tidak terlalu buruk.


Ponsel yang di genggam Helena tiba-tiba bergetar. Satu pesan nampak di layar ponselnya, sebelum kemudian membaca pesan dari Dokter Steve, dokter yang selama ini menanganinya di Paris dan merupakan teman seangkatan saat duduk di bangku universitas.


Kau sulit dihubungi, jadi aku mengirim pesan singkat padamu. Aku akan kembali ke Paris malam ini dan ternyata tidak sempat menemuimu. Semoga kau selalu baik-baik saja dan jangan lupa minum obatmu.


Kening Helena berkerut dalam, ia melupakan keberadaan Steve yang sudah beberapa hari ini berada di London. Hubungan pertemanan mereka berjalan hingga sampai saat ini dan Helena selalu menganggap Steve sebagai teman saja. Namun perhatian yang diberikan pria itu kepadanya membuatnya harus menjaga jarak dan tidak ingin memiliki kedekatan lebih.


BRAK!


Tubuh Helena terguncang ke depan dan ponsel yang di genggamnya nyaris terjatuh. Taksi yang di tumpanginya seperti menabrak sesuatu, sehingga menimbulkan benturan keras.


"Maafkan saya Nona, mobil di depan tiba-tiba saja berhenti." Supir taksi tersebut meminta maaf karena tidak sengaja membuat Helena nyaris terjungkal. "Sebaiknya Nona tunggu saja di dalam mobil. Biar saya berbicara dengan supir mobil itu," katanya kemudian.


Helena mengangguki perkataan supir taksi tersebut. Setelahnya memperhatikan supir taksi yang berusia jauh di atasnya itu mengatasi kedua pria yang tidak terima mobil mereka dihantam dari belakang. Dapat dilihat jika keduanya marah dan memaki supir taksi itu.


Tidak ingin masalahnya lebih panjang dan waktu pun sangat terbatas, Helena segera keluar dari dalam mobil untuk membantu menyelesaikan ketidaksengajaan tersebut. Namun baru saja keluar dari mobil, beberapa pria keluar dari persembunyiannya dan mengepung Helena.


"Si-siapa kalian?" Meski panik, Helena berusaha untuk tetap tenang. Pandangannya beralih pads supir taksi yang dihadang oleh kedua pria tersebut. Helena baru mengerti jika semua ini sudah direncanakan.


"Kau tidak perlu tau siapa kami!" seru salah satu dari ketiga pria di hadapan Helena. "Cepat pegangi dia!" sambungnya memerintah dua temannya.


"Jangan macam-macam!" Helena berangsur mundur, ia tidak tau mereka memiliki motif apa kepada dirinya. "Jangan mendekat!" teriaknya. Namun kedua pria itu semakin mendekat hingga berhasil menjangkau tubuh Helena yang nyaris melarikan diri.


Dua pria memegangi kedua tangan Helena, sementara satu pria berjalan mendekat dan segera menyuntikkan sesuatu pada leher wanita itu.


"Kita pergi dari sini!" Karena tugas sudah selesai, mereka bergegas meninggalkan tempat tersebut.


"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan?!" Dua pria asing turun dari sebuah taksi dan menggagalkan aksi mereka yang hendak melarikan diri.


Mereka sempat terlibat baku hantam, namun kalah jumlah dan mereka berhasil meloloskan diri, pergi dari sana.


Tubuh Helena terkulai lemah setelah cairan asing masuk ke dalam tubuhnya. Supir taksi itu bahkan membantu Helena agar tetap sadarkan diri.


"Apa yang terjadi?" Satu pria asing tersebut melangkah mendekat, ia memperhatikan wanita yang bersandar di sisi mobil. Ketika wanita itu menoleh, matanya membeliak lantaran mengenali wanita itu. "Helen?" ucapnya terkejut.


"Steve?" Helena bergumam lirih. Kenapa bisa kebetulan bertemu dengan Steve seperti ini?


"Steve, kau mengenalnya?" Sosok pria asing lainnya menepuk bahu pria yang bernama Steve itu.


"Ya, dia temanku sekaligus pasienku di Paris," sahut Steve.


"Kalau begitu tunggu apalagi, cepat bawa dia ke rumah sakit!"


Steve mengangguki perkataan teman sejawatnya tersebut. Pria itu menggendong Helena dan segera memasukkan kembali ke dalam taksi menuju rumah sakit terdekat. Ia dan temannya itu bahkan tidak pedulikan jika tujuan mereka menuju bandara. Profesi mereka yang sebagai Dokter tidak sampai hati membiarkan seseorang yang butuh pertolongan diabaikan begitu saja.


To be continue


...Semoga kalian gak bosan dukung Yoona ya 🤗...


...like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...