The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Membantumu Mengganti Pakaian



Melihat tidak ada respons dari Elie dan wanitanya itu hanya diam saja, Mikel sudah dapat menduga jika Elie kecewa kepadanya. Dan asumsinya itu semakin diperkuat ketika melihat Elie berbalik memunggungi dirinya, lalu melangkah menjauh.


"Elie...." Tangan Mikel hanya menggantung di udara. Ia bisa mengerti jika saat ini Elie tengah kecewa padanya. Sehingga ia tidak mencegah Elie yang melangkah keluar dari ruangan dan menjauhi dirinya.


Melihat punggung Elie yang sudah lenyap dari pandangan matanya, Mikel hanya mampu menundukkan pandangannya ke lantai usang yang dipijaki kakinya. Namun wajah tertunduk Mikel perlahan terangkat ketika sepasang kaki jenjang yang mengekspose bebas kaki mulusnya nampak memenuhi penglihatan Mikel.


"Sweetheart?" Mikel mengangkat wajahnya. Untuk sesaat terperangah karena tiba-tiba saja Elie kembali lagi menemui dirinya.


Tanpa bicara, Elie meraih salah satu tangan Mikel, lalu diusapnya punggung tangan pria itu yang terlihat memar kebiruan dengan menggunakan handuk yang sudah dibasahi dengan air dingin terlebih dahulu. Elie mendapatkan handuk itu dari dalam kamar Mikel, wanita itu juga terlihat membawa satu wadah yang diletakkan di atas meja yang berada di ruangan tersebut.


Mikel membiarkan Elie menyapukan handuk itu bergantian pada tangan kanan dan kirinya. Sorot matanya menjadi sendu, biasanya jika ia terluka, akan dibiarkan sepanjang hari tanpa dikompres seperti yang sedang dilakukan wanitanya itu. Apa yang dilakukan Elie hanya bisa membuatnya terharu, sebab ia seperti melihat sosok Mommy Aprille yang selalu melakukan hal itu ketika dirinya terluka di masa lalu.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Masih terfokus pada kedua punggung tangan Mikel, Elie bertanya demikian. Meskipun arah pandangnya tertuju pada punggung tangan Mikel, Elie bisa merasakan jika sedari tadi pria itu memperhatikan dirinya.


"Apa kau marah denganku, Sweetheart?" Dan Mikel menjawab pertanyaan Elie dengan pertanyaan. Sungguh Mikel tidak sabar ingin mengetahui apa yang kini dipikirkan oleh wanita itu ketika sudah mengetahui segalanya.


Elie kembali bergeming, ia hanya melanjutkan aktivitasnya tanpa merespons ataupun menatap Mikel seperti pria itu yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya darinya.


Mikel masih saja melamat-lamati wajah Elie yang terlihat serius, hingga kemudian Mikel merasakan punggung tangannya sudah merasa lebih baik.


"Sweetheart, kau pasti kecewa padaku. Maafkan aku." Memasang wajah memelas penuh penyesalan.


Elie meletakkan handuk tersebut, lalu menatap lekat wajah pria yang ia cintai itu. "Tidak. Aku tidak kecewa dan aku juga tidak marah." Dan lengkungan tipis terpatri di sudut bibir Elie. Tidak nampak kemarahan dari pancaran kedua matanya yang terus memandangi Mikel.


"Benarkah kau tidak marah dan kecewa padaku?" Kedua mata Mikel mendelik, merasa tidak percaya begitu saja jika wanitanya tidak kecewa kepadanya.


"Benar. Apa aku terlihat marah saat ini?" Elie berkacak pinggang, merasa jengah karena Mikel terus menerus mendesak dirinya. Padahal ia tidak marah maupun kecewa seperti yang Mikel pikirkan. "Kau pasti memiliki alasan kenapa melakukan itu. Jadi aku bisa memahamimu." Mendengar perkataan Elie, senyuman di sudut bibir Mikel berkembang sempurna, kemudian tangannya merengkuh pinggul Elie dan mendekapnya dengan erat.


"Kau benar-benar wanitaku yang terbaik Sweetheart."


"Sudah hentikan, Mike!" Kau membuatku tidak bisa bernapas." Berulang kali Elie menepuk-nepuk dada bidang Mikel, ia merasa kesulitan bernapas berada di dalam dekapan pria-nya itu.


"Maafkan aku Sweetheart." Mikel melepaskan pelukannya itu, hingga menangkup wajah Elie dengan gemas.


"Bicaralah. Sebenarnya apa yang terjadi? Aku bukan wanita yang bodoh, Mike. Apa kau lupa jika aku putri dari Daddy Vier? Aku tau kau pasti tidak memiliki pilihan, karena jika kau benar-benar sudah mengetahui semuanya kau pasti sudah melenyapkanku sejak lama." Yang dikatakan Elie benar, bahkan Mikel tidak bisa membantah. Sebab ia memang tidak tahu menahu mengenai silsilah keturunan dari Black Lion, sebab selama ini ia terlalu sibuk mengurus perusahaan dan melarikan diri dari Loz Zetas.


Kedua tangan Mikel sontak menjauh dari wajah Elie, pria itu menatap lekat wajah Elie, merasa percuma saja menutupi semua, sebab ia tidak bisa meremehkan wanitanya itu. "Benar, aku tidak memiliki pilihan lain. Mei dan asistenku Nathan berada di tangan Pablo. Pria keparat itu memanfaatkan kelemahanku untuk melancarkan rencananya menghancurkan Black Lion melalui diriku!"


Terkejut mendengarnya, Elie tercengang untuk sesaat. Jadi Meisha juga masih hidup? Dan pria yang ia lihat selalu mengekori Mikel juga dalam bahaya? batinnya sulit mempercayai apa yang didengarnya.


"Ja-jadi Mei masih hidup?" Elie memastikannya kembali. Dan jawaban Mikel yang mengangguk itu sudah mewakili rasa ketidakpercayaannya. Sebelumnya Mikel tidak mengatakan keseluruhannya kejadian yang menimpa Paman Matthew dan Bibi Aprille sehingga ia menyimpulkan jika Meisha juga berada di Markas yang ikut terbakar.


"Maksudmu saat ini Mei dan Nathan berada di tangan Pablo? Pria yang kau bilang ketua dari Loz Zetas?" Rasanya Elie nyaris kehilangan kata-kata mendengarnya. Itu adalah pilihan yang sulit, pantas saja ia melihat Mikel nampak sangat frustasi.


"Mei masih hidup tapi kondisinya sangat tidak baik. Dia diperkosa di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun oleh putra Pamanku yang juga terlibat dalam pembunuhan kedua orang tuaku. Sejak saat itu jiwa Mei yang terguncang, dia selalu saja berteriak histeris." Dan Elie lebih tidak mampu menguasai dirinya ketika mendengar cerita mengenai keadaan Meisha pasca kejadian wanita itu diperkosa. Bahkan Elie menutup mulutnya dengan telapak tangan disertai matanya yang sudah mengembun.


"Mei...." gumamnya. Bahkan ia tidak bisa membayangkan teman kecilnya itu harus mengalami guncangan hebat di masa muda.


Berbeda dengan Elie yang terisak-isak, Mikel justru nampak tenang sembari mengusap lembut punggung Elie, bahkan beberapa kali ia melabuhkan kecupan di puncak kepala wanitanya itu. Sedih sudah pasti, namun ia sudah bisa melewatinya selama bertahun-tahun dan karena dendam yang membara itu membuatnya bertahan selama ini.


"Sweetheart, jangan menangis." Mikel mencoba menenangkan wanitanya.


"Bagaimana aku tidak menangis. Mei yang malang harus merasakan kejadian mengerikan saat diusianya masih belia sama sepertiku," lirihnya mengisak hingga membuat gerakan telapak tangan Mikel semakin cepat bergerak naik turun di punggung Elie untuk memberikan ketenangan. "Dan saat ini Mei dan juga Nathan berada dalam bahaya, aku takut mereka terluka dan-"


"Shhttt...." Suara Mikel menghentikan kalimat Elie dengan pikiran buruknya itu. "Aku tidak akan membiarkan mereka melukai Mei dan Nathan. Mereka akan mati di tanganku sebelum berhasil melakukan hal itu." Sorot mata Mikel berubah tajam, memancarkan amarah yang tertahan.


Elie mengangguk mengiyakan, ia percaya kepada Mikel jika pria itu tidak mungkin diam tanpa bertindak. Elie kemudian menarik napas dalam untuk menghentikan isak tangisnya.


"Semoga kau bisa menyelamatkan Mei dan asisten Nathan." Suara Elie tidak begitu jelas lantaran teredam dalam isakan tangisnya namun Mikel paham apa yang diucapkan oleh wanitanya itu hingga kepalanya terlihat mengangguk.


"Kalau begitu aku harus melatihmu lagi. Bukankah sudah lama kau tidak mengasah kemampuanmu, hm?" Mikel membantu mengusap sisa cairan bening yang masih tersisa di sudut mata Elie.


Elie bergeming sesaat sebelum kemudian mengangguk membenarkan. Mana sempat ia mengasah kemampuannya, sebab ia terlalu sibuk menjalani profesinya sebagai model yang selalu berada di luar kota.


"Dari mana kau tau jika aku sudah tidak pernah lagi mengasah kemampuanku?" Tentu Elie penasaran karena Mikel seolah mengetahui apapun aktivitasnya.


Mikel menjawabnya dengan terkekeh-kekeh, mana mungkin ia memberitahu jika selama ini selalu mengawasi Elie dari kejauhan.


"Aku akan melatihmu. Ikutlah denganku." Mikel kemudian menarik pergelangan tangan Elie.


"Kau ingin membawaku kemana, Mike?" Sembari mengikuti langkah Mikel di depannya.


"Tentu saja membantumu mengganti pakaian." Mikel tersenyum nakal.


"Jangan mesum, Mike!" Elie berusaha menarik tangan yang semakin di genggam oleh Mikel.


"Aku tidak mesum. Aku hanya ingin membantumu mengganti pakaian." Masih dengan senyum penuh sejuta makna.


"Tapi-" Terlambat, Mikel sudah lebih dulu membopong tubuh Elie di pundaknya agar wanitanya itu tidak mudah memberontak dan melayangkan protes kembali.


To be continue


Elie



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...